HADAPI SIDANG TUNTUTAN, PAK SAMHUDI BANJIR DUKUNGAN

Berkobar.com - Sidang terdakwa M. Samhudi, guru SMP Raden Rahmat Balongbendo, dengan tuduhan menganiaya siswanya berlanjut di Pengadilan Negeri Sidoarjo, Kamis (14/7).

Agendanya adalah pembacaan tuntutan. Apakah guru 46 tahun itu dituntut hukuman atau dibebaskan dari semua dakwaan? Samhudi mengaku harap-harap cemas. Namun, kali ini dia lebih tenang menghadapi sidang kedelapan tersebut.

Guru Muhammad Samhudi

’’Ya, dihadapi saja sidangnya. Tidak ada persiapan apa-apa,” ujarnya kepada Jawa Pos (Fajar Group).

Dukungan orang tua, istri, dan anak-anak sudah cukup menguatkan Samhudi. “Keluarga hanya minta saya tetap sabar dan menjalaninya sesuai prosedur hukum,” imbuhnya.

Dia menyatakan, pihaknya tidak berani banyak berkomentar soal kasus tersebut. Dia khawatir terjadi salah persepsi. Terlebih, pihaknya sebagai terlapor dan pelapor sudah melakukan perdamaian di kediaman Ketua PGRI Sidoarjo Suprapto.

“Saya tidak berani berbicara muluk-muluk. Intinya satu, kami sudah damai. Sekarang tinggal menyerahkan proses hukum sebagaimana mestinya,” tuturnya.


Beberapa upaya untuk lolos dari tuntutan sudah dilakukan. Samhudi menuturkan, semua sudah ditangani kuasa hukum dari Lembaga Konsultasi dan Bantuan Hukum (LKBH) PGRI Sidoarjo.

Pada sidang nanti, Samhudi tidak membawa banyak orang. Selain keluarga yang setia mendampingi, ada beberapa wakil dari sekolah. ’’Tidak banyak. Sidang sebelumnya itu bukan kuasa saya. Mereka datang sendiri. Saya pun kaget karena banyak yang memberikan support,” ujarnya.

Ketua PGRI Sidoarjo Suprapto menyebutkan, PGRI tetap mendukung Samhudi dalam sidang lanjutan besok. Namun, dukungan tersebut tidak akan dihadiri banyak guru seperti sidang sebelumnya.

’’Agar Pak Samhudi tetap tenang, hanya beberapa perwakilan pengurus yang hadir. Sebab, ada perwakilan guru yang mendukung,” katanya.

Hal itu dilakukan karena pertemuan awal untuk perdamaian pelapor dengan terlapor sudah dilakukan. Dia berharap sidang berakhir damai. ’’Kami masih menunggu proses selanjutnya. Apa pun ending-nya, kami tetap hadir untuk mendukung,” ucapnya.

Suprapto menyebutkan, kedua pihak bertujuan baik. Setelah kasus tersebut berakhir damai, masing-masing pihak akan melakukan introspeksi. Baik guru maupun orang tua. ’’Mudah-mudahan kasus ini berdampak positif. Sebab, guru dan orang tua tidak berharap hal seperti ini terjadi,” imbuhnya.

Ketua PGRI Jatim Ichwan Sumadi menyatakan, pihaknya telah menginstruksi seluruh anggota PGRI Jatim agar tidak melakukan aksi solidaritas. Seperti berbondong-bondong mendatangi Pengadilan Negeri Sidoarjo. Instruksi tersebut disebarkan melalui WhatsApp.

’’Sudah ada perdamaian. Jika ada pergerakan PGRI, dikhawatirkan pelapor kaget. Sebab, mereka sudah beriktikad baik dengan mencabut laporan,” tuturnya.

Ichwan mengakui, Wabup Nur Ahmad Saifuddin, Ketua LKBH PGRI Gufron, dan Ketua PGRI Sidoarjo Suprapto telah menemui Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) M. Sunarto. Intinya, sidang tetap berlanjut. Namun, seluruh pihak berharap pelapor memberikan nota perdamaian.

’’Kami berharap pelapor tidak ingkar janji. Sebab, penandatanganan perdamaian tersebut dilakukan di depan banyak pihak. Termasuk Wabup dan Pak Dandim,” ujarnya.


Dia juga berharap kasus guru yang ditangkap karena berusaha mendidik murid tidak terjadi lagi. Mendikbud Anies Baswedan menyatakan, guru tidak boleh memberikan hukuman fisik.

Namun, batasan hukuman fisik sangat sulit. ’’Selama tidak berdampak negatif, tidak masalah,” katanya.

Di sisi lain, Kajari Sidoarjo M. Sunarto mengungkapkan, meski sudah ada kesepakatan damai dengan pelapor, terlapor tetap harus menjalani sidang. Sebab, prosesnya telanjur berjalan. ’’Lolos tidaknya dari hukuman bergantung sidang itu nanti,” jelasnya, Selasa (12/7).

Perkara yang menimpa Samhudi bukanlah delik aduan. Karena itu, proses hukum harus terus berjalan. Mediasi antara pelapor dan terlapor tidak serta-merta menghentikan sidang. Meski begitu, pencabutan laporan itu akan tetap dipertimbangkan.

’’Jaksa dan majelis hakim pasti menjadikannya sebagai pertimbangan,” katanya. Lantas, apa saja tuntutan yang akan dikenakan pada Samhudi pada persidangan?

Sunarto menjawab secara diplomatis. ’’Nanti bisa dilihat di persidangan apa saja tuntutannya. Menurut kami, kalau terbukti salah ya harus dituntut,” ujarnya. 

Sementara itu, Wabup Nur Ahmad Syaifuddin mengatakan, perkara yang menimpa Samhudi tersebut sebenarnya bisa dicegah. Asal, pihak sekolah bisa memfungsikan komite sekolah dengan maksimal. ”Elemen seperti komite sekolah seharusnya bisa menjadi penengah jika terjadi masalah,” jelasnya.

Nur mengungkapkan, kasus itu menunjukkan lemahnya kinerja komite sekolah. Orang-orang yang duduk di dalam lembaga tersebut tidak mampu menjalankan tugas dengan baik. Sudah seharusnya komite sekolah mampu menjalin hubungan yang erat antara pihak sekolah dan wali murid.

”Sehingga persoalan bisa segera diselesaikan. Tidak perlu masuk ke meja hijau,” terangnya.

Politikus PKB itu menambahkan, selain peran komite sekolah, ke depan pihak yang berseteru harus mengedepankan kepala dingin.

Masalah kesalahpahaman sebisanya harus diselesaikan dengan jalan kekeluargaan. Saling tuntut di pengadilan justru akan merugikan dua belah pihak. Paling tidak juga harus mengeluarkan biaya dan waktu. ”Lebih baik kekeluargaan daripada saling tuntut,” jelasnya.

Demikian informasi yang kami sampaikan seperti yang kami lansir dari news.detik.com. Semoga informasi yang kami sampaikan ini bermanfaat dan terima kasih. Untuk info terbaru lainnya silahkan kunjungi laman DISINI

0 Response to "HADAPI SIDANG TUNTUTAN, PAK SAMHUDI BANJIR DUKUNGAN"

Post a Comment