Bola Tangkas

KUMPULAN PTK MATEMATIKA SD,SMP,SMA LENGKAP TERBARU

IMPLEMENTASI KONSEP PEMBELAJARAN MODEL
R.A.N.I  TERHADAP PENGUASAAN MATERI MATEMATIKA

BAB I

PENDAHULUAN



A.   Latar Belakang Masalah Penelitian Tindakan
Keberhasilan kegiatan belajar siswa di sekolah dipengaruhi oleh banyak faktor. Faktor tersebut dapat bersifat eksternal maupun internal, dan dapat menjadi penghambat atau penunjang proses belajar mengajar. Basuki Wibawa (Media Pengajaran, 2001 : 2) mengemukakan bahwa faktor-faktor yang dianggap turut menghambat proses belajar siswa di kelas mungkin berasal dari verbalisme, kekacauan makna, kegemaran berangan-angan atau persepsi yang tidak tepat. Namun kadang baik guru maupun siswa sering mengabaikannya.
Masa usia sekolah dasar sekitar 6 – 12 tahun menurut Mulyani Sumantri (Strategi Belajar Mengajar 2001 : 10) merupakan tahapan perkembangan penting dan bahkan fundamental bagi kesuksesan perkembangan selanjutnya. Keterlibatan dalam kehidupan kelompok (kolaborasi atau kerja sama) bagi anak usia sekolah dasar merupakan minat dan perhatiannya. Perkembangan hubungan sosial emosional dan adanya kesadaran etis normative pada anak usia ini merupakan ciri yang kuat pada usia sekolah dasar. Kompetensi-kompetensi sosial yang positif dan produktif akan berkembang pada usia ini seperti kemampuan bekerjasama, berkompetensi, toleransi, kekeluargaan dan lain sebagainya.
Sehubungan dengan hal di atas maka dalam penciptaan lingkungan belajar anak adalah pengembangan yang menyediakan kesempatan anak untuk bekerja secara kelompok adalah sangat penting. Pemberian kesempatan anak untuk bertanya dan mengerjakan soal di depan kelas dengan pengarahan guru merupakan implikasi praktis perkembangan sosial-emosional dan moral anak usia sekolah dasar.
Suatu hal yang biasa, jika dalam kegiatan belajar mengajar banyak sekali persoalan yang dihadapi oleh guru kelas berkenaan dengan pelaksanaan pembelajaran. Salah satunya dalam pelajaran matematika. Kegiatan bertanya jarang terjadi di kelas pada pelajaran ini. Siswa hampir tidak pernah bertanya tentang hal-hal yang prinsipal. Sering kali guru harus menunggu cukup lama sampai siswa mau menjawab pertanyaan yang diajukan. Diskusi antara guru dan siswa atau antara siswa dan siswa sangat jarang terjadi. Ditingkat Sekolah Dasar masalah takut bertanya sering tidak diperhatikan oleh guru. Strategi pembelajaran yang digunakan guru tidak selalu dapat mengurangi rasa takut siswa. Akibatnya siswa merasakan pelajaran matematika sebagai beban, sehingga mengganggu mereka memahaminya jika itu terus terjadi dan tidak diatasi maka murid akan lebih mengalami kesulitan di jenjang pendidikan selanjutnya.
Sebagai tindak lanjut dari keadaan di atas, penulis tertarik untuk memberikan tindakan melalui pendekatan “RANI” dalam pelajaran matematika yang diharapkan mempercepat pemahaman tentang perkalian dan menambah ketertarikan siswa pada pelajaran matematika.

B.   Identifikasi Masalah Dalam Penelitian Tindakan
Dari uraian di atas dapat diidentifikasi beberapa permasalahan sebagai berikut :
1.    Pengelolaan kelas yang dilakukan guru dalam pelajaran matematika cenderung statis.
2.    Metode yang dilakukan guru dalam pembelajaran matematika selama ini kurang variatif.
3.    Guru kurang memperhatikan peranannya dalam mengaktifkan siswa   kelas IV SDN  __________  Kecamatan  ________  Kabupaten  _________   Tahun Pelajaran ____/____  ini pelajaran matematika.
4.    Kerjasama antara guru dan murid untuk menciptakan suasana pembelajaran yang kondisif sangat minim.


C.   Pembatasan Masalah Dalam Penelitian Tindakan
Mengacu dari berbagai identifikasi masalah tersebut, maka penelitian ini difokuskan pada masalah yang ke-4 yaitu “Bagaimanakah mengkondisikan kelas agar siswa aktif dan mudah memahami materi dalam pelajaran matematika”. Pemfikusan ini dilakukan agar dalam melaksanakan penelitian ini terarah dan tidak meluas ke permasalahan yang lain, dan dengan harapan masalah yang ke-1, 2, dan 3 dapat terjawab meski secara tersirat.

D.   Rumusan Masalah Dalam PTK
Dari permasalahan di atas maka dalam penelitian dapat disusun satu rumusan masalah sebagai berikut : Apakah dengan adanya metode pendekatan “Rani” dalam bidang studi matematika dapat mengaktifkan siswa   kelas IV SDN  __________  Kecamatan  ________  Kabupaten  _________   Tahun Pelajaran ____/____  saat kegiatan mengajar  berlangsung ?

E.    Tujuan Penelitan Tindakan
 Untuk mengetahui prestasi belajar matematika siswa      kelas IV SDN  __________  Kecamatan  ________  Kabupaten  _________   Tahun Pelajaran ____/____  melalui pendekatan Rani.
BAB II
KAJIAN PUSTAKA


A.   Manfaat Otak Kanan Dan Otak Kiri
Robbi De Porter dan Miuker Hernaeki (Quantum Learning 2003 : 38 – 40) mengemukakan bahwa otak manusia dibagi menjadi 2 yaitu otak kanan dan otak kiri. Otak kiri bersifat egeis, sekuensial, linier dan rasional. Sedangkan otak kanan bersifat acak, tidak teratur, intuintik dan holistic. Berdasarkan itu, untuk pembelajaran matematika berarti menggunakan orak kiri. Namun tidak semua orang bisa menempatkannya apalagi untuk siswa SD kelas 5, perlu arahan dari guru untuk memahami materi. Bukan hanya itu guru juga harus mempunyai ketrampilan khusus bagaimana mendekati siswa dan menyampaikan materi tanpa membuat siswa harus takut pada guru.

B.   Pengelolaan Ruang Kelas
Menurut Drs. Hasibuan (Prose Belajar Mengajar, 1994 : 163 – 164) bahwa kegiatan guru saat pengajaran berlangsung dapat dikelompokkan menjadi dua yaitu pengelolaan kelas dan pengelolaan pengajaran. Pengelolaan kelas yaitu penciptaan kondisi yang memungkinkan pengelolaan pengajaran dapat berlangsung secara optimal sedangkan pengelolaan pengajaran adalah kegiatan mengajar yang melibatkan secara langsung komponen materi pengajaran, metode mengajar, dan alat bantu mengajar dalam rangka pencapaian tujuan pengajaran. Dan masing-masing pengelolaan itu memerlukan keahlian dan pemikiran yang matang, sehingga dapat menghasilkan suasana kelas yang diinginkan siswa yang dapat bekerja dengan tertib sehingga tercapai tujuan pengajaran secara efektif dan efisien.
Jika dibuat bagan hubungan antara pengelolaan kelas dan pengelolaan pengajaran sebagai berikut :
 



C.   Interaksi Edukatif
1.    Makna Interaksi Edukatif dalam Dunia Pendidikan
Sebagai makhluk sosial, manusia dalam kehidupannya membutuhkan hubungan dengan manusia lain. Kecenderungan manusia untuk berhubungan melahirkan komunikasi dua arah melalui bahasa yang mengandung tindakan dan perbuatan. Karena itu ada aksi dan reaksi, maka interaksi pun terjadi. Karena itu, interaksi akan berlangsung bila ada hubungan timbal balik antara dua orang atau lebih.
Interaksi yang berlangsung di sekitar kehidupan manusia menurut Drs. Syaiful Bahri Djamarah (2000 : 10 – 11) dapat diubah menjadi “interaksi yang bernilai edukatif”, yakni interaksi yang dengan sadar meletakkan tujuan untuk mengubah tingkah laku dan perbuatan seseorang. Interaksi yang bernilai pendidikan ini dalam dunia pendidikan disebut sebagi “interaksi edukatif”. Dari konsep itu muncullah istilah guru dan anak didik. Keduanya berada dalam interaksi edukatif dengan posisi, tugas, dan tanggung jawab yang berbeda, namun bersama-sama mencapai tujuan. Guru bertanggung jawab untuk mengantarkan anak didik ke arah kedewasaan sosial yang cakap dengan memberikan sejumlah ilmu pengetahuan dan membimbingnya. Sedangkan anak didik berusaha untuk mencapai tujuan itu dengan bantuan dan pembinaan dari guru.
Proses interaksi edukatif adalah suatu proses yang mengandung sejumlah norma, sehingga dapat dipahami bahwa interaksi edukatif adalah hubungan dua arah antara guru dan anak didik dengan sejumlah norma sebagai mediumnya untuk mencapai tujuan pendidikan.

2.    Guru-Anak Didik sebagai Dwitunggal
Guru adalah unsur manusiawi dalam pendidikan. Guru adalah figure manusia sumber yang menempati posisi dan memegang peranan penting dalam pendidikan. Ketika semua orang /mempersoalkan masalah dunia pendidikan, figure guru mesti terlihat dalam agenda pembicaraan, terutama yang menyangkut persoalan pendidikan formal di sekolah. Hal ini tidak dapat disangkal, karena lembaga pendidikan formal adalah dunia kehidupan guru.
Di sekolah guru mengajar dan belajar dengan anak didiknya yang ketika itu haus akan ilmu pengetahuan. Kehadiran guru di kelas merupakan kebahagian bagi anak didik apalagi bila figure guru itu sangat disenangi oleh mereka. Guru dan anak didik adalah dua sosok manusia yang tidak dapat dipisahkan dari dunia pendidikan, dan pada hakekatnya bersatu. Satu dalam jiwa, berpisah dalam raga. Raga mereka berpisah, namun juga mereka tetap Satu sebagai “Dwi tunggal” yang kokoh bersatu. Tidak ada istilah “bekas guru” dan “bekas anak” walaupun mereka telah berpisah. Maka kemuliaan guru tercermin pada pengabdian kepada anak didik dalam interaksi edukatif di sekolah dan di luar sekolah.


D.   Kedudukan Guru Dan Anak Didik
1.    Kedudukan Guru
Guru dalam pengertian yang sederhana, yaitu orang yang memberikan ilmu pengetahuan kepada anak didik. Guru menempati kedudukan yang terhormat dalam masyarakat. Kewibawaan yang menyebabkan guru dihormati, sehingga masyarakat tidak meragukan figure guru. Masyarakat yakin bahwa gurulah yang dapat mendidik anak didik mereka agar menjadi orang yang berkepribadian mulia. Dengan kepercayaan yang diberikan oleh masyarakat membuat tugas dan tanggung jawab guru semakin berat. Mengemban tugas memang berat, tapi lebih berat lagi mengemban tanggung jawab. Sebab tanggung jawab guru tidak hanya sebatas dinding sekolah, tetapi di luar sekolah. Tanggung jawab guru yaitu mencerdaskan kehidupan anak didik. Sedangkan tugasnya yaitu mendidik, mangajar, melatih serta meneruskan dan mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi kepada anak didik.
Guru harus dapat menempatkan diri orang tua kedua dengan mengemban tugas yang dipercayakan orang tua kandung/wali anak didik dalam jangka waktu tertentu.


2.    Kedudukan Anak Didik
Anak didik adalah setiap orang yang menerima pengaruh dari orang atau sekelompok orang yang menjalankan kegiatan pendidikan. Ia dijadikan sebagai pokok persoalan dalam semua gerak kegiatan pendidikan dan pengajaran. Sebagai pokok persoalan, anak didik memiliki kedudukan yang menempati posisi yang menentukan dalam sebuah interaksi. Guru tidak mempunyai arti apa-apa tanpa kehadiran anak didik sebagai objek pembinaan.

E.   Prinsip Pengaktifan Siswa Dalam Belajar
Conny Semiawan (Pendekatan Ketrampilan Proses 1990 : 10 – 13) mengemukakan bahwa ada 8 prinsip sebagai upaya untuk mengaktifkan siswa dalam pelajaran yaitu :
1.    Prinsip motivasi
2.    Prinsip latar atau konteks
3.    Prinsip keterarahan kepada titik pusat atau focus tertentu
4.    Prinsip hubungan sosial atau sosialisasi
5.    Prinsip belajar sambil bekerja
6.    Prinsip perbedaan perorangan atau individualisasi
7.    Prinsip menemukan
8.    Prinsip pemecahan masalah

F.    Pengertian Matematika
Definisi Matematika dikemukakan oleh beberapa tokoh sebagai berikut :
-       Pengertian Matematika menurut Johnson dan Rising dalam pengajaran matematika bagi anak berkesulitan belajar (1995 : 15) mengatakan sebagai berikut :
·         Matematika adalah pengetahuan terstruktur dimana sifat dan teori dibuat secara deduktif berdasarkan aksioma, sifat atau teori yang telah dibuktikan kebenarannya.
·         Matematika ialah bahasa symbol tentang berbagai gagasan dengan menggunakan istilah-istilah yang didefinisikan secara cermat, jelas dan akurat, dan
·         Matematika adalah seni dimana keindahannya terdapat dalam keterurutan dan keharmonisan.
-       Beth dan Pieget (1956) mengatakan bahwa yang dimaksudkan matematika adalah pengetahuan yang berkaitan dengan berbagai struktur abstrak dan hubungan antar struktur tersebut sehingga terorganisasi dengan baik.
-       Klina (1972) matematika adalah pengetahuan yang tidak berdiri sendiri tetapi dapat membantu manusia untuk memahami dan memecahkan masalah sosial, ekonomi dan alam.
-       Rays (1992) matematika adalah studi tentang pola dan hubungan, cara berpikir dengan strategi organisasi, analisis, dan sintesis, seni, bahasa dan alat untuk memecahkan masalah-masalah abstrak dan praktis.
-       Barton (1990) mendefinisikan matematika dalam tiga tingkatan definisi yaitu matematika praktek, matematika teknik, dan matematika menurut pandangan dunia.

G.   Karakteistik Pelajaran Matematika
Ada beberapa karakteristik anak berkesulitan belajar matematika menurut lerner (Pendidikan bagi anak berkesulitan belajar, (1995 : 224) yaitu :
1.    Adanya gangguan hubungan keruangan
2.    Abnormalitas Persepsi Visual
3.    Asosiasi Visual-Motor
4.    Perseverasi
5.    Kesulitan mengenal dan memahami simbol
6.    Gangguan penghayatan tubuh
7.    Kesulitan dalam bahasa dan membaca, serta
8.    Sekor Performance IQ jauh lebih rendah dari pada sekor verbal IQ

H.   Prinsip Pelajaran Matematika
Prinsip pengajaran matematika (Pendidikan bagi anak berkualitas belajar, 1995 :237) adalah sebagai berikut :
1.    Menyiapkan anak untuk belajar matematika
2.    Maju dan konkrit ke abstrak
3.    Menyediakan kesempatan untuk berlatih dan mengulang
4.    Generalisasi ke situasi baru
5.    Menyadari kekuatan dan kelemahan siswa
6.    Membangun fondasi yang kokoh tentang konsep dan keterampilan matematika
7.    Menyajikan program matematika yang seimbang
8.    Penggunaan kalkulator

I.      Karakteristik Anak Berkesulitan Belajar Matematika
Banyak orang yang memandang matematika sebagai bidang studi yang paling sulit. Meskipun demikian, semua orang harus mempelajari karena merupakan sarana untuk memecahkan masalah kehidupan sehari-hari. Seperti halnya bahasa, membaca dan menulis. Kesulitan belajar matematika harus diatasi sedini mungkin. Kalau tidak, siswa akan menghadapi banyak masalah karena hampir semua bidang studi memerlukan matematika yang sesuai.
Bidang studi matematika yang diajarkan di SD mencakup tiga cabang, yaitu aritmatika, aljabar, dan geometri. Menurut Dali S. Naga (pendidikan bagi anak berkesulitan belajar, 1995 : 218), aritmatika atau berhitung adalah cabang matematika yang berkenaan dengan sifat hubungan-hubungan bilangan-bilangan nyata dengan perhitungan mereka terutama menyangkut penjumlahan, pengurangan, perkalian dan pembagian. Secara singkat aritmatika atau berhitung adalah pengetahuan tentang bilangan. Dalam perkembangan aritmatika selanjutnya, penggunaan bilangan sering diganti dengan abjad. Penggunaan abjad dalam aritmatika inilah yang disebut aljabar. Berbeda dari aritmatika dan aljabar, geometri adalah cabang matematika yang berkenaan dengan titik dan garis. Titik adalah pernyataan tentang posisi yang tidak memiliki panjang dan lebar sedangkan garis hanya dapat diukur panjangnya.
Ada banyak alasan tentang perlunya siswa belajar matematika. Cornelius (1982 : 38) mengemukakan lima alasan perlunya belajar matematika karena matematika merupakan (1) Sarana berpikir yang jelas dan logis, (2) Sarana untuk memecahkan masalah dalam kehidupan sehari-hari, (3) Sarana mengenal pola-pola hubungan dan generalisasi pengalaman, (4) Sarana untuk mengembangkan kreativitas, dan (5) Sarana untuk meningkatkan kesadaran terhadap perkembangan budaya.
Dalam dunia pendidikan matematika, di Indonesia dikenal adanya matematika modern. Matematika modern lebih menekankan pada pemahaman struktur dasar system bilangan daripada mempelajari keterampilan dan fakta-fakta hafalan. Pendidikan matematika lebih menekankan pada mengapa dan bagaimana matematika melalui penemuan dan eksplorasi. Pengajaran seperti itu telah mengabaikan beberapa aspek dari psikologi belajar dan kurang menguntungkan bagi anak yang berkesulitan belajar. Maka matematika modern diganti menjadi matematika atau berhitung.
Dewan nasional untuk pengajaran matematika di Amerika Serikat seperti dikutip oleh Lerner (1980 : 436) mengusulkan agar kurikulum mencakup 10 keterampilan dasar sebagai berikut :
1) Pemecahan masalah, 2) Penerapan matematika dalam situasi kehidupan sehari-hari, 3) Ketajaman perhatian terhadap kelayakan hasil, 4) Perkiraan, 5) Keterampilan perhitungan yang sesuai, 6) Geometri, 7) Pengukuhan, 8) Membaca, menginterpretasikan, membuat tabel, chart , dan grafik, 9) Penggunaan matematika untuk meramaikan, dan 10) Melek komputer (computer literacy).

J.    Hal-hal Yang Memacu Siswa Pasif Dalam Pelajaran Matematika
Ada beberapa hal yang menyebabkan siswa pasif dalam belajar matematika diantarannya :
1.    Menjelaskan materi secara langsung tanpa memberikan pemecahan masalah secara individual maupun kelompok.
2.    Pembelajaran menggiring siswa untuk menghafalkan fakta, rumus atau aturan.
3.    Siswa takut pada pelajaran matematika karena khawatir dimarahi guru jika menjawab salah.
4.    Guru jarang menggunakan alat peraga, bahkan terkesan pelajaran matematika adalah bersifat abstrak.

K.   Pendekatan RANI
1.    Pengertian
Yaitu suatu pendekatan yang dilakukan guru yang didasarkan pada sikap ramah, terbuka, dan komunikatif dalam pembelajaran matematika di kelas IV sekolah dasar. Dengan pendekatan ini guru mendekatkan diri dengan siswa, yaitu guru berusaha memahami sifat-sifat siswa, tidak mengganggu perasaan siswa. Melalui pemahaman itu guru menumbuhkan keberanian siswa untuk lebih terbuka, percaya diri, mau mengutamakan idenya dan mengembangkan secara perlahan-lahan kemampuannya menggunakan nalar.
2.    Kekurangan pendekatan RANI
a.    Memerlukan waktu yang lebih banyak untuk persiapan.
b.    Waktu untuk menyelesaikan materi kurang.
c.    Siswa cepat bosan mendengar penjelasan.
d.    Guru akan kewalahan menertibkan siswa yang berani dan spontan.
3.    Kelebihan
Metode RANI sangat efektif untuk pelajaran matematika dalam membangkitkan keaktifan siswa karena menghilangkan rasa takut siswa terhadap pelajaran matematika, khususnya rasa takut siswa untuk bertanya.

L.    Hipotesis Tindakan
Dari uraian dan teori-teori yang dihasilkan maka hipotesis penelitian adalah bahwa proses pembelajaran yang dilaksanakan dengan pendekatan RANI akan dapat :
1.    Mengurangi rasa takut siswa   kelas IV SDN  __________  Kecamatan  ________  Kabupaten  _________   Tahun Pelajaran ____/____  .
2.    Meningkatkan perhatian dan membangkitkan kemauan siswa     kelas IV SDN  __________  Kecamatan  ________  Kabupaten  _________   Tahun Pelajaran ____/____  untuk aktif dalam proses pembelajaran matematika.
3.    Meningkatkan efektivitas pembelajaran itu sendiri.

M.   Definisi Operasional Variabel
Untuk lebih memperjelas tentang isi proposal ini, maka peneliti perlu mendefinisikan beberapa hal seperti :
·         Siswa adalah siapa saja yang terdaftar sebagai objek didik disuatu lembaga pendidikan.
·         Siswa aktif yaitu siswa yang belajar mandiri dan bekerja sendiri, mencari jalan untuk memecahkan masalah sendiri, menjawab pertanyaan, belajar bertanya, mengambil keterangan dari buku, mendiskusikan suatu hal dengan kawannya, melakukan satu percobaan sendiri dan merasa bertanggung jawab atas hasil pekerjaannya.
·         Matematika adalah studi tentang pola dan hubungan, cara berpikir dengan strategi organisasi, analisis dan sintesis, seni, bahasa dan alat untuk memecahkan masalah-masalah abstrak dan praktis.
·         Pendekatan RANI adalah pendekatan yang didasarkan pada sikap ramah, terbuka, dan komunikatif dalam pembelajaran matematika.



BAB III
METODE PENELITIAN TINDAKAN KELAS

A.   Subyek Penelitian Tindakan
Yang menjadi subyek penelitian adalah  siswa    kelas IV SDN  __________  Kecamatan  ________  Kabupaten  _________   Tahun Pelajaran ____/____  dalam pelajaran matematika.

B.   Setting Penelitian Tindakan
Penelitian dilakukan di  SDN  __________  Kecamatan  ________  Kabupaten  _____   dengan keadaan di lokasi sebagai berikut. Letak SD tersebut jauh dari jalan raya dengan alamnya yang masih asri yaitu disebuah desa sehingga keadaan sangat tenang.  
SD Negeri  ________  memiliki 1 kepala sekolah yang merangkap menjadi guru kelas, empat guru kelas, satu guru agama, dan satu penjaga sekolah. Dan saat dilakukan penelitian belum mempunyai guru olah raga.
Keadaan kelas yang diteliti yaitu pada kelas IV. Rasa saat pelajaran berlangsung, suasana tenang hanya sesekali murid yang menjawab pertanyaan guru. Kebanyakan siswa hanya diam dan menurut apa yang diperintahkan guru tanpa ada yang menyangkal atau bertanya. Dalam pelajaran matematika, guru hanya memberikan ceramah dan contoh soal, setelah itu siswa disuruh mengerjakan soal.

C.   Cara Penelitian Tindakan
Dalam penelitian tindakan kelas ini, peneliti memilih cara penelitian dengan modal spriral yang dikemukakan oleh Kemmis dan Mc Taggart (1988), seperti yang dikutip oleh Kasihani Kasbolah (2001), bahwa dalam penelitian tindakan kelas, menempuh langkah-langkah perencanaan (plan), pelaksanaan (action), evaluasi (observation/monitoring) dan perenungan (refleksion). Begitu seterusnya hingga tujuan penelitian tercapai.
Rencana penelitian adalah sebagai berikut :
Keadaan kelas, pada pelajaran matematika sebelum penelitian dilakukan dapat digambarkan yaitu : Kelas didominasi olah anak-anak yang aktif, keadaan seperti itu dibiarkan oleh guru sehingga siswa yang aktif semakin menjadi siswa yang pendiam.
Hal yang akan dilakukan oleh peneliti :
Plan/perencanaan           :  Akan dilakukan metode RANI dalam pelajaran matematika dengan tujuan untuk mengaktifkan siswa yang pasif. Sebelum penelitian dilakukan, siswa disuruh mengisi angket.
Action/pelaksanaan         :  Pelaksanaan metode RANI dalam mengaktifkan siswa. Tindakan yang dilaksanakan pada tahap pertama meliputi :
1.    Mengajak siswa maju ke depan untuk mengerjakan soal-soal sederhana setelah diberi waktu untuk mengerjakan di bangku.
2.    Membantu siswa mengutarakan idenya.
3.    Memberikan selingan berupa cerita-cerita atau nasehat-nasehat yang dapat membangkitkan motivasi, semangat, dan kemampuan siswa belajar.
4.    Menggunakan alat-alat peraga sederhana untuk mempresentasikan konsep dan proses, misalnya lidi, potongan sedotan, batu kecil-kecil, buah dan lain sebagainya.
5.    Memuji siswa yang mau mengerjakan soal di depan kelas.
Observasi (evaluasi)        :  Peneliti mengamati apakah terjadi peningkatan pada siswa pasif dengan melihat tabel yang telah dibuat   dengan memberi rumus untuk mengetahui prekuensi kemajuan. Peneliti harus bekerjasama dengan guru untuk mengetahui siswa yang pasif dan yang aktif.
Reflection (perenungan) :  Setelah melihat hasil observasi peneliti menganalisa siswa yang masih tetap pasif dan sudah aktif. Jika belum tercapai target, maka akan dilanjutkan ke siklus berikutnya.

D.   Instrumen Penelitian Tindakan
Peneliti akan menggunakan beberapa media dalam penelitiannya antara lain alat tulis (kertas dan pen) daftar nama siswa dan tabel keaktifan siswa. Untuk mengetahui data tentang siswa yang pasif dan yang aktif maka peneliti membuat tabel tentang keaktifan siswa di dalam kelas. Melalui bantuan guru dan pengamatan.

E.   Analisis Data
Karena peneliti menggunakan tabel dan memperhatikan angka dalam mencari data, maka hasil yang diperoleh berupa data kuantitatif.




Berikut ini adalah data sebelum dilakukan penelitian
No
Hal yang diamati
Jumlah siswa
Presentase
1
2
3
4
Siswa mengerjakan soal di depan kelas
Siswa mengungkapkan ide
Siswa maju ke depan tanpa ditunjuk
Siswa bertanya
2
0
1
5
6%
0%
3%
16%

Berdasarkan angket juga diketahui ada 5 siswa (16%) yang mengatakan bahwa pembelajaran biasa-biasa saja, 15 siswa (50%) mengatakan bahwa pelajaran matematika menakutkan dan 8 siswa (33%) mengatakan menjenuhkan sedangkan 5 siswa (16%) tidak tahu dan 2 siswa (6%) mengatakan menarik. Setelah dilakukan tindakan diharapkan ada perubahan besar pada diri siswa yaitu sifat percaya diri dan tidak takut pada pelajaran matematika.
Berikut data yang diharapkan setelah dilakukan tindakan pertama
No
Hal yang diamati
Jumlah siswa
Presentase
1
2
3
4
Siswa mengerjakan soal di depan kelas
Siswa mengungkapkan ide
Siswa maju ke depan tanpa ditunjuk
Siswa bertanya
6
4
11
9
20%
13%
36%
30%

Selain itu hasil data setelah penyebab angket dua dilakukan peneliti mengharapkan perubahan.

Perubahan yang diharapkan
No
Hal yang diamati
Jumlah siswa
Presentase
1
2
3
4
Siswa mengerjakan soal di depan kelas
Siswa mengungkapkan ide
Siswa maju ke depan tanpa ditunjuk
Siswa bertanya
3
10
5
3
10%
33%
16%
6%

Jika dalam kenyataan dapat dihasilkan data seperti diatas berarti pembelajaran matematika dengan pendekatan RANI telah berhasil karena memenuhi target.

BAB IV

HASIL PENELITIAN  TINDAKAN DAN PEMBAHASAN

 


A.  Pelaksanaan  Tindakan 

      1. Siklus I
Setelah membagi siswa kelas IV dalam kelompok, guru lalu membuka pelajaran dengan menampilkan tema besar permasalahan. Dilanjutkan dengan memberi penjelasan tentang hal-hal yang harus dipersiapkan untuk melakukan penyelidikan. Setelah siswa memperoleh kejelasan tentang apa yang akan dilakukannya, guru mempersiapkan siswa untuk bekerja secara mandiri dengan kelompoknya dalam melakukan kegiatan penyelidikan. Bersamaan dengan itu guru membimbing siswa melalui tahap-tahap penyelidikan secara runtut sampai dengan menemukan solusi permasalahan yang dipilih oleh masing-masing kelompok. Kemudian tiap-tiap kelompok membuat hasil karya kelompok yang dipresentasikan di depan kelas atau melakukan diskusi kelas.
Pada siklus I, siswa mempelajari tentang   .
Setelah semua kegiatan selesai dilakukan, selanjutnya berdasarkan pengamatan guru terhadap siswa maka diperoleh data sebagai berikut:

a. Kemampuan pemecahan masalah pada siswa
            Kemampuan siswa dalam memecahkan masalah pada siklus I dapat dilihat pada hasil observasi selama proses pembelajaran berlangsung dan dari hasil tes kemampuan pemecahan masalah. Persoalan yang dikaji pada siklus I adalah  Bagaimana cara  kreativitas siswa dalam mengerjakan soal di depan kelas. Hasilnya disajikan pada Tabel 1, 
Tabel 1. Kemampuan Pemecahan Masalah pada Siswa pada Siklus I
No.
Aspek Penilaian
SKOR
1
2
3
4
F
%
F
%
F
%
F
%
1
Siswa mengerjakan soal di depan kelas

3
4.72
18
41.42
19
40.91
3
6.82
2
Siswa mengungkapkan ide

-
-
20
43.41
22
50.00
2
4.55
3
 Mengungkapkan ide
Siswa maju ke depan tanpa ditunjuk

15
35.01
19
45.11
12
22.73
-
-
4
 Siswa bertanya
3
7.22
26
50.0
15
31.82
1
2.27

Keterangan:
1.Tidak muncul                                         3. Baik
2.Kurang baik                                            4. Sangat baik

          Tabel 1. menunjukkan bahwa masih ada kategori yang tidak muncul dengan persentase yang cukup besar yaitu pada kemampuan membuat desain penelitian. Untuk kemampuan Menentukan alternatif dan kemampuan membuat kesimpulan, sudah berada dalam kategori baik. Sedangkan untuk kemampuan yang lain yaitu Mengidentifikasi persoalan, mengumpulkan data dan menemukan solusi masih dalam kategori kurang baik. Kemampuan membuat desain penelitian masih kurang baik karena sebelumnya siswa tidak terbiasa untuk merancang kegiatan penelitian sendiri. Kalaupun melakukan aktivitas penyelidikan, tahap-tahapnya sudah dirancang oleh guru. Sehingga ketika mereka diharuskan untuk membuat rancangan penelitian sendiri, siswa masih merasa kesulitan.
Persoalan-persoalan yang diidentifikasi oleh siswa dalam siklus I ini antara lain  : Cara mengemukakan pendapat  dalam mengerjakan soal matematika di depan kelas”.
            Alternatif-alternatif yang dikemukakan oleh siswa antara lain “ mendengarkan  pendapat dari sesama siswa di depan kelas”.
            Kesimpulan yang dibuat oleh siswa antara lain “ terjadi dialog yang sopan dan saling memberi masukan atas perbincangan tersebut”.

Data kemampuan pemecahan masalah pada siswa dari hasil tes tertulis disajikan pada Tabel 2, 

Tabel 2. Hasil Tes Kemampuan Pemecahan Masalah pada Siswa pada Siklus I
No.
Aspek Penilaian
Bisa
Tdk Bisa
F
%
F
%
1
Siswa mengerjakan soal di depan kelas

43
95.73
1
2.27
2
Siswa mengungkapkan ide

44
90.00
0
0.00
3
 Mengungkapkan ide
Siswa maju ke depan tanpa ditunjuk

30
61.18
14
31.82
4
 Siswa bertanya
29
68.91
16
36.36

           
Bila dibandingkan dengan kemampuan awal pemecahan masalah, pada siklus I terjadi peningkatan persentase pada aspek-aspek kemampuan pemecahan masalah. Dari Tabel 2. di atas dapat dilihat bahwa ada beberapa aspek kemampuan berada dalam kategori sangat baik, di mana sebagian besar siswa (>75%) sudah bisa menjawab soal dengan baik yaitu menemukan permasalahan dan menemukan alternatif-alternatif penyelesaian, sedangkan aspek-aspek yang lain yaitu membuat rancangan penyelidikan, menemukan data yang relevan, menemukan solusi dan membuat kesimpulan berada pada kategori baik (50 sampai 75%). Jika dibandingkan, ada sedikit perbedaan antara kemampuan pemecahan masalah dilihat dari hasil observasi dan hasil tes tertulis. Hasil tes tertulis menunjukkan bahwa hampir semua soal bisa dijawab oleh sebagian besar siswa, kecuali soal yang mengindikasikan kemampuan membuat desain. Sedangkan hasil observasi menunjukkan bahwa sebagian besar siswa belum mampu melakukan proses pemecahan masalah dengan baik. Perbedaan ini dikarenakan, kemampuan pemecahan masalah berdasarkan hasil observasi diamati pada saat kegiatan berlangsung sedangkan tes dilakukan sesudah pembelajaran,sehingga siswa sudah mempunyai gambaran yang cukup jelas tentang soal-soal yang ditanyakan tersebut. Dan dalam hal ini, hasil observasi dianggap lebih akurat karena diamati pada saat siswa melakukan aktivitas yang menunjukkan kemampuan tersebut. Sedangkan hasil tes tertulis digunakan untuk mendukung hasil observasi untuk mengetahui sejauh mana siswa mengingat apa yang telah dilakukannya dan mempergunakannnya untuk menjawab soal yang menunjukkan aspek kemampuan pemecahan masalah.

b. Aktivitas siswa dalam diskusi kelas
Tabel 3. Persentase Tingkat Aktivitas Siswa dalam Diskusi Kelas
No.
Aspek Penilaian
SKOR
1
2
3
F
%
F
%
F
%
1
Menyampaikan pendapat
4
8.09
14
27.55
2
4.55
2
Menanggapi pendapat
2
3.27
11
21.73
-
-
3
Mempertahankan pendapat
6
12.36
7
12.36
-
-

Keterangan:
1.    Kurang baik
2.    Baik
3.    Sangat baik

            Aktivitas siswa dalam diskusi kelas ini didapatkan dari hasil observasi selama diskusi kelas berlangsung. Dari data di atas dapat dilihat bahwa pada siklus I, aktivitas siswa dalam diskusi kelas masih rendah baik dari segi kualitas maupun kuantitas. Terlihat dari masih sedikitnya jumlah siswa yang berpartisipasi dalam kegiatan diskusi kelas. Hal ini dikarenakan siswa maih enggan untuk ikut  terlibat baik itu menyatakan pendapat, menanggapi pendapat maupun mempertahankan pendapat karena takut salah. Hal ini masih membuka peluang untuk ditingkatkan pada siklus II.

1. Keterlaksanaan model pembelajaran  Rani

Tabel 4. Persentase Keterlaksanaan Model Pembelajaran  Rani Siklus I
No.

Tahap-tahap  Rani

Skor Rata-rata
% Skor
1
Siswa mengerjakan soal di depan kelas

3.13
78.13
2
Siswa mengungkapkan ide

2.75
68.75
3
 Mengungkapkan ide
Siswa maju ke depan tanpa ditunjuk

2.75
68.75
4
 Siswa bertanya
2.25
56.25

           Tabel 4. menyatakan bahwa secara umum keterlaksanaan proses pembelajaran berbasis persoalan sudah baik. Berdasarkan diskusi antara guru mata pelajaran   matematika dan observasi didapatkan kesimpulan  bahwa dalam pemecahan masalah oleh siswa dan kerjasama siswa dalam kelompok masih belum optimal. Masih banyak siswa yang cenderung mengandalkan teman satu kelompok. Hal ini terlihat dari tahapan IV yang hanya mencapai 56,25%. Demikian juga pada tahapan pengungkapan kembali cara penyelesaian masalah, belum semua siswa dapat terlibat. Selain karena enggan, juga karena siswa belum mengerti benar apa yang harus dilakukan pada tahap ini. 

d. Refleksi
Setelah dilakukan refleksi terhadap proses pembelajaran   matematika pada siklus I, maka pada siklus II ada hal-hal yang perlu diperhatikan yaitu:
  1. Guru perlu memberikan motivasi kepada siswa untuk terlibat dalam proses pemecahan masalah, karena hal ini mempengaruhi proses pemecahan masalah oleh siswa.
  2. Guru perlu memberikan contoh yang dekat dengan kehidupan sehari-hari agar siswa lebih mudah masuk dalam permasalahan yang disajikan.
  3. Dalam pengungkapan kembali, perlu adanya penjelasan lagi tentang apa yang baru saja dilakukan siswa, agar siswa menjadi lebih jelas.
  4. Guru perlu menginformasikan bahwa segala aktivitas serta partisipasi  siswa masuk dalam kriteria penilaian.

2. Siklus II
            Pada siklus II, siswa belajar tentang faktor-faktor yang mempengaruhi  perilaku siswa. Persoalan yang dikaji adalah perbedaan  pendapat atas jawaban soal yang berbeda.
            Tindakan pada siklus II dilakukan berdasarkan dari kegiatan tindakan pada siklus I yang telah direfleksi dan dilakukan perbaikan. Rekomendasi dari siklus I adalah:
  1. Guru perlu memberikan motivasi kepada siswa untuk terlibat dalam proses pemecahan masalah, karena hal ini mempengaruhi proses pemecahan masalah oleh siswa.
  2. Guru perlu memberikan contoh yang dekat dengan kehidupan sehari-hari agar siswa lebih mudah masuk dalam permasalahan yang disajikan.
  3. Dalam pengungkapan kembali, perlu adanya penjelasan lagi tentang apa yang baru saja dilakukan siswa, agar siswa menjadi lebih jelas.
  4. Guru perlu menginformasikan bahwa segala aktivitas serta partisipasi siswa masuk dalam kriteria penilaian.

        Setelah dilakukan pengumpulan data menggunakan instrumen monitoring terhadap pembelajaran pada siklus II diperoleh hasil sebagai berikut:

a. Kemampuan pemecahan masalah pada siswa pada siklus II
            Kemampuan siswa dalam memecahkan masalah pada siklus II dapat dilihat pada hasil observasi selama proses pembelajaran berlangsung dan dari hasil tes kemampuan pemecahan masalah. Persoalan yang dikaji pada siklus II adalah faktor-faktor yang mempengaruhi  Perilaku siswa
Tabel 5. Kemampuan Pemecahan Masalah pada Siswa pada Siklus II
No.
Aspek Penilaian
SKOR
1
2
3
4
F
%
F
%
F
%
F
%
1
Siswa mengerjakan soal di depan kelas

-
-
6
14.64
27
63.36
11
25.00
2
Siswa mengungkapkan ide

-
-
1
3.27
31
71.45
12
27.27
3
 Mengungkapkan ide
Siswa maju ke depan tanpa ditunjuk

-
-
6
15.64
29
63.91
9
20.45
4
 Siswa bertanya
-
-
6
17.64
24
51.55
14
31.82


Kategori:
1.    Tidak muncul                                         3. Baik
2.    Kurang baik                                            4. Sangat baik
           
           Dari Tabel 5. di atas dapat dilihat bahwa pada siklus II aspek dengan kategori tidak muncul sudah tidak ada. Bahkan pada kategori baik dan sangat baik terjadi peningkatan persentase untuk semua aspek. Yang artinya pada siklus II ini siswa sudah menunjukkan kategori baik pada semua aspek kemampuan. Data kemampuan pemecahan masalah pada siswa dari hasil tes disajikan pada Tabel 6. 


Tabel 6. Hasil Tes Kemampuan Pemecahan Masalah pada Siswa pada
Siklus II
No.
Aspek Penilaian
Bisa
Tdk Bisa
F
%
F
%
1
Siswa mengerjakan soal di depan kelas

39
100.00
0
0.00
2
Siswa mengungkapkan ide

34
83.73
1
2.27
3
 Mengungkapkan ide
Siswa maju ke depan tanpa ditunjuk

31
78.27
10
22.73
4
 Siswa bertanya
33
81.45
2
4.55
           
        Dari Tabel 6. di atas dapat dilihat bahwa semua aspek sudah berada dalam kriteria baik, dalam arti bahwa sebagian besar siswa (>75%) sudah dapat menjawab pertanyaan yang mengindikasikan kemampuan pada aspek-aspek tersebut. Hampir semua aspek menunjukkan peningkatan persentase, kecuali pada aspek kedua yang mengalami penurunan dari 100% menjadi 97,73%. Jika dibandingkan dengan hasil observasi, sudah ada kesinkronan antara kemampuan pemecahan masalah yang dilihat dari hasil tes tertulis dan dari hasil observasi. Hal ini berarti bahwa siswa selain dapat melakukan aktivitas kemampuan pemecahan masalah dalam kategori baik, juga dapat menjawab pertanyaan yang mengindikasikan aspek-aspek kemampuan pemecahan masalah tersebut.
b. Tingkat aktivitas siswa dalam diskusi kelas
Tabel 7. Persentase Tingkat Aktivitas Siswa dalam Diskusi Kelas
No.
Aspek Penilaian
SKOR
1
2
3
F
%
F
%
F
%
1
Menyampaikan pendapat
-
-
22
50.00
8
18.18
2
Menanggapi pendapat
-
-
10
22.73
6
13.64
3
Mempertahankan pendapat
7
15.91
14
31.82
5
11.36

Keterangan:
1.    Kurang baik
2.    Baik
3.    Sangat baik

            Aktivitas siswa dalam diskusi kelas ini didapatkan dari hasil observasi selama diskusi kelas berlangsung. Dari data di atas dapat dilihat adanya peningkatan persentase siswa yang terlibat dalam diskusi kelas dan rata-rata telah berkriteria baik, meskipun masih ada yang berkriteria kurang baik yakni sebesar 15,9% (7 orang) pada aspek mempertahankan pendapat.

c. Keterlaksanaan model pembelajaran  Rani
Tabel 8. Persentase Keterlaksanaan Model Pembelajaran  Rani Siklus II
No.
Tahap-tahap  Rani
Skor Rata-rata
% Skor
1
Siswa mengerjakan soal di depan kelas

3.50
87.50
2
Siswa mengungkapkan ide

3.00
75.00
3
 Mengungkapkan ide
Siswa maju ke depan tanpa ditunjuk

3.25
81.25
4
 Siswa bertanya
3.25
81.25

Pada siklus II, keterlaksanaan proses pembelajaran   Matematika menggunakan model pembelajaran  Rani berkisar antara 75 sampai 87,5%. Peningkatan terjadi pada semua tahapan pembelajaran  Rani jika dibandingkan dengan siklus I. Hal ini menunjukkan adanya peningkatan yang cukup berarti pada keterlibatan siswa dalam pemecahan masalah dan kerjasama dalam kelompok. Demikian juga dengan keterlibatan siswa dalam pengungkapan kembali pemecahan masalah.

d. Tanggapan siswa terhadap pelaksanaan model  Rani
Pada akhir siklus II, diberikan angket kepada siswa untuk mengetahui tanggapan siswa terhadap pelaksanaan pembelajaran   matematika dengan menggunakan model  Rani . Penilaian siswa berkisar antara sangat positif sampai sangat negatif.


Tabel 9. Tanggapan Siswa Terhadap Pelaksanaan
Model Pembelajaran  Rani
No.

Pernyataan

SKOR
1
2
3
4
F
%
F
%
F
%
F
%
1
Menarik
8
18.18
4
9.09
14
31.82
18
40.91
2
Menyenangkan
6
13.64
9
20.45
15
34.09
14
31.82
3
Mengesankan
5
11.36
9
20.45
12
27.27
18
40.91
4
Memandirikan
4
9.09
4
9.09
16
36.36
20
45.45
5
Meringankan
10
22.73
16
36.36
8
18.18
10
22.73
6
Menantang
2
4.55
8
18.18
12
27.27
22
50.00
7
Bermanfaat
3
6.82
2
4.55
25
56.82
14
31.82


Keterangan
Kategori 1 = Siswa memberikan penilaian yang sangat negatif
Kategori 2 = Siswa memberikan penilaian yang negatif
Kategori 3 = Siswa memberikan penilaian yang positif
Kategori 4 = Siswa memberikan penilaian yang sangat positif

B.   Pembahasan Atas Hasil Tindakan Kelas
     1.  Kemampuan pemecahan masalah pada siswa
            Kemampuan pemecahan masalah dapat dievaluasi melalui observasi dan tes tertulis. Dari observasi terhadap kegiatan yang siswa lakukan diperoleh informasi tentang apa yang dapat dilakukan oleh siswa (performance). Selain itu juga dapat menggunakan tes tertulis yang menggambarkan kemampuan tersebut. Baik hasil observasi maupun hasil tes kemampuan pemecahan masalah dapat saling melengkapi untuk menunjukkan kemampuan pemecahan masalah pada siswa.

a. Kemampuan pemecahan masalah yang dilihat dari hasil observasi
            Kemampuan pemecahan masalah pada siswa yang dilihat dari hasil observasi selama proses pembelajaran menggunakan model  Rani menunjukkan bahwa model ini mampu mengembangkan kemampuan pemecahan masalah pada siswa, karena selama proses pembelajaran menggunakan model  Rani memungkinkan siswa dituntut untuk dapat menemukan solusi dari permasalahan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Untuk dapat menemukan solusi permasalahan tersebut, siswa harus melakukan tahapan-tahapan pemecahan masalah. Tahapan-tahapan tersebut adalah: mengidentifikasi permasalahan, menemukan alternatif-alternatif penyelesaian, merancang desain penyelidikan, mencari data yang relevan, menemukan solusi terbaik dan membuat kesimpulan.
            Peningkatan kemampuan pemecahan masalah terlihat antara siklus I dan siklus II. Kategori tidak muncul dalam melakukan proses pemecahan masalah untuk beberapa indikator masih ada yaitu mengidentifikasi permasalahan, membuat desain penyelidikan, mencari data yang relevan dan menemukan solusi.
            Pada siklus II tidak ada lagi aspek yang memiliki kategori tidak muncul yang berarti pada siklus II semua siswa telah melakukan proses pemecahan masalah dalam kategori kurang baik, baik dan sangat baik. Kemampuan menemukan alternatif-alternatif penyelesaian dan membuat kesimpulan antara siklus I dan siklus II ditunjukkan dengan kategori baik, tetapi pada siklus II terjadi peningkatan persentase yang berarti pada siklus II ada peningkatan jumlah siswa yang dapat melakukan kemampuan tersebut dengan baik.
Hal ini menunjukkan adanya keberhasilan guru dalam melakukan salah satu proses  yaitu Scaffolding. Scaffolding adalah proses dimana seseorang yang lebih banyak pengetahuannya, dalam hal ini guru, membantu seseorang yang lebih sedikit pengetahuannya untuk menuntaskan suatu masalah melampaui tingkat pengetahuannya saat ini (Ibrahim dan Nur, 2000).
            Untuk aspek mengidentifikasi permasalahan, membuat desain penyelidikan, menemukan data-data yang relevan dan menemukan solusi yang pada siklus I ditunjukkan oleh kategori kurang baik meningkat menjadi kategori baik pada siklus II. Secara umum terjadi peningkatan persentase siswa yang dapat melakukan kemampuan pemecahan masalah untuk kategori sangat baik. Dengan demikian model pembelajaran  Rani  dapat mengembangkan kemampuan pemecahan masalah pada siswa.
b. Kemampuan pemecahan masalah yang dilihat dari hasil tes tertulis
            Kemampuan pemecahan masalah yang dilihat dari hasil tes tertulis dapat diketahui dari aspek pemecahan masalah yang menggambarkan kemampuan mengidentifikasi permasalahan, menemukan alternatif-alternatif penyelesaian, membuat desain penyelidikan, mencari data yang relevan, menemukan solusi terbaik dan membuat kesimpulan.
            Jika dibandingkan dengan data awal kemampuan pemecahan masalah, pada siklus I terjadi peningkatan persentase pada beberapa aspek kemampuan pemecahan masalah yaitu aspek membuat desain penelitian, menemukan solusi dan membuat kesimpulan. Antara siklus I dan siklus II, kemampuan mengidentifikasi permasalahan dan menemukan alternatif-alternatif penyelesaian sangat baik berarti pada siklus I dan siklus II sebagian besar (>75%) siswa mampu menjawab dengan benar soal yang menggambarkan kemampuan tersebut. Untuk aspek membuat desain penyelidikan, mencari data yang relevan, menemukan solusi terbaik dan membuat kesimpulan pada siklus I ditunjukkan oleh kategori baik dimana 50 sampai 75% siswa dapat menjawab soal tersebut dengan benar dan meningkat menjadi sangat baik pada siklus II dimana sebagian besar siswa (>75%) dapat menjawab soal tersebut dengan benar.


            Selain itu juga terjadi penurunan dan peningkatan persentase antara siklus I dan siklus II. Penurunan persentase terjadi pada aspek menemukan alternatif-alternatif penyelesaian dari 100% menjadi 97,73%, meskipun masih tetap berada pada kategori sangat baik. Untuk kemampuan yang lain terjadi peningkatan antara siklus I dan siklus II. Hal ini berkaitan dengan aktivitas siswa selama pembelajaran.

2. Tingkat aktivitas siswa dalam diskusi kelas
            Tingkat aktivitas siswa dalam diskusi kelas meliputi aspek menyampakan pendapat, menanggapi pendapat dan mempertahankan pendapat. Secara umum antara siklus I dan siklus II terjadi peningkatan persentase siswa yang aktif dalam diskusi kelas, pada semua aspek (Tabel 3. dan Tabel 7.). Pada siklus I tingkat aktiviats siswa dalam menyampaikan pendapat sudah baik dalam arti pendapat rasional tetapi kurang benar. Dalam menanggapi pendapat (menyetujui atau menyanggah) masih dengan alasan yang kurang tepat. Demikian pula dalam mempertahankan pendapat juga masih dengan argumen yang kurang tepat.
Dengan menginformasikan bahwa aktivitas siswa dalam diskusi kelas masuk dalam penilaian, membuat persentase siswa yang ikut terlibat dalam diskusi kelas menjadi meningkat pada siklus II. Secara kualitas juga terjadi peningkatan siswa yang melakukan aktivitas diskusi kelas dengan kategori sangat baik. Hal ini sesuai dengan salah satu poin penting , yaitu  menfasilitasi pengembangan kemampuan kelompok (Anonim, 2003) dan sesuai dengan yang disampaikan oleh Robbs dan Merideth (Greening, 2003) bahwa salah satu keuntungannya  adalah peningkatan hubungan antar siswa.


BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN


A. Kesimpulan
     Berdasarkan hasil observasi dan hasil tes kemampuan pemecahan masalah dapat disimpulkan bahwa:
1. Model pembelajaran  Rani dapat meningkatkan kemampuan pemecahan masalah yang meliputi kemampuan mengindentifikasi persoalan, menentukan alternatif, membuat desain, mengumpulkan data, menemukan solusi dan membuat kesimpulan atas soal matematika di depan kelas secara bersama pada  siswa    Kelas IV SDN  __________  Kecamatan  ________  Kabupaten  _________   Tahun Pelajaran ____/____  .
2.   Metode Rani meningkatkan aktivitas siswa dalam diskusi kelas pada aspek menyampaikan pendapat, menanggapi pendapat dan mempertahankan pendapat.
3.   Siswa secara umum menunjukkan respon positif terhadap pelaksanaan model  Rani . Hal ini ditunjukkan dengan tingginya persentase siswa yang memberikan penilaian positif dan sangat positif terhadap pembelajaran menggunanakan model  Rani

B. Saran
Agar model pembelajaran  Rani dapat diterapkan dengan baik dan berhasil maka guru harus dapat menyajikan persoalan yang otentik dan berkait dengan kehidupan nyata, sehingga siswa bisa merasa tertarik untuk terlibat dalam proses pembelajaran dan pemecahan masalah tersebut.  Rani dapat diterapkan pada pokok bahasan lain selama pokok bahasan tersebut memiliki persoalan yang otentik untuk dikaji.

DAFTAR PUSTAKA

Basuki Wibawa. (2001). Media Pengajaran. Bandung : CV. Maulana.

Bobby Deporter dan Mike Hernaeki. (2003). Quantum Learning : Nuansa.

Conny Seiawan. (2001). Pendekatan Keterampilan Proses. Jakarta : Gramedia.

Nasibuan. ( 2003). Proses Belajar Mengajar. Bandung : PT Remaja Rasdakarya.

Heinz Krek. (1999). Saya Guru yang Baik ?. Jakarta : KANISIUS.

Kartika Budi. (1999). Jurna            l Penelitian Pendidikan Dasar : Universitas Sanatadarma Yogyakarta.

Kasihani Kaskolah. (2001). Penelitian Tindakan Kelas : Universitas Negeri Malang.

Mulyami Sumantri & Johar Permona. (2001). Strategi Belajar Mengajar. Bandung : Maulana.

Mulyono Abdulrahman. (1999). Pendidikan Bagi anak Kesulitan Belajar : Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Suharsimi Arikunto. ( 2000). Pengelolaan Kelas dan Siswa. Jakarta : PT Raja Grafindo Persada.

Sujati. (2003). Laporan Pendidikan.

Syaiful Babri Djamarah. (2000). Guru dan Anak Didik dalam Interaksi Edukatif. Jakarta : PT Aneka Cipta.

Tombokan Runtukahu. ( 2002). Pengajaran Matematika bagi Anak Berkesulitan Belajar : Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Uragg. (1996). Pengelolaan Kelas (saduran Anwar Jasih). Jakarta : Grasindo.

0 Response to "KUMPULAN PTK MATEMATIKA SD,SMP,SMA LENGKAP TERBARU "

Post a Comment

Agen Bola