KUMPULAN PTK DAN PTS LENGKAP UNTUK SD, SMP ,SMA

PERAN PENTING MEDIA PEMBELAJARAN DATA BASE
MONOGRAFI BAGI PENGUASAAN KONSEP IPS MATERI
PETA WILAYAH


BAB I
PENDAHULUAN


A.       Latar Belakang Masalah PTK

  Agar lulusan pendidikan nasional memiliki keunggulan kompetitif dan komperatif sesuai standar mutu nasional dan internasional, kurikulum perlu dikembangkan dengan pendekatan berbasis kompetensi. Hal ini harus dilakukan agar sistem pendidikan nasional dapat merespon secara proaktif berbagai perkembangan informasi, ilmu pengetahuan, teknologi dan seni serta tuntutan pendidikan. (Dadang : 1)
Untuk merealisasikan tujuan tersebut pemerintah telah mengembangkan suatu kurikulum pendidikan nasional yang dikenal dengan  KTSP. Sebelum  KTSP diterapkan untuk semua sekolah dasar dan menengah diseluruh Indonesia sebagai kurikulum pendidikan nasional pada tahun ajaran 2008/2009. Pelaksanaan kurikulum  KTSP masih secara terbatas merupakan kurikulum secara lebih awal pada daerah dan sekolah tertentu untuk memperoleh informasi tentang kelayakan pelaksanaannya dan kekuatan substansi sebagai dasar penyempurnaan lebih lanjut.  
 Pembelajaran  IPS di SD termasuk dalam Ilmu Humaniora. Dimana dalam pelaksanaannya  yang diajarkan di    Kelas VI SDN _________ Kecamatan ________ Kabupaten ________ Tahun Pelajaran ___/___ mulai kelas III sampai kelas VI.  
Pembelajaran  IPS di SD berkaitan dengan cara mencari tahu tentang  pengalaman yang berhubungan dengan lingkungan sekitar secara sistematis, sehingga  IPS bukan hanya penguasaan kumpulan pengetahuan yang berupa fakta-fakta, konsep-konsep, prinsip-prinsip saja tetapi juga merupakan suatu proses penemuan. Pendidikan  IPS di  SD diharapkan dapat menjadi wahana bagi siswa untuk mempelajari diri sendiri dan  lingkungan sekitar. Pendidikan  IPS menekankan pada pemberian pengalaman langsung untuk mengembangkan kompetensi agar siswa mampu menjelajahi dan memahami  lingkungan sekitar secara ilmiah. Pendidikan  Dasar diarahkan untuk mencari tahu dan berbuat sehingga dapat membantu siswa untuk memperoleh pemahaman yang lebih mendalam tentang  lingkungan sekitar.
  Dari hasil wawancara dengan   guru    IPS pada tanggal 26   Agustus 2008 beliau mengatakan bahwa selama proses pembelajaran    IPS belum terdapat  model pembelajaran yang inovatif terutama untuk membahasa pokok permasalahan peta wilayah di Indonesia, yang dapat digunakan untuk menunjang kegiatan Belajar Mengajar (KBM) siswa hanya cenderung mencatat, mendengarkan penjelasan dari guru dan menghafalkan konsep saja. Pada pokok bahasan   mengenal  peta wilayah di Indonesia yang sudah diajarkan pada kelas VI tahun pelajaran ___/___, pengajarannya tidak memberikan konsep yang kuat dibenak siswa. Dimana guru memberikan perbandingan, menjelaskan dan menyimpulkan  pentingnya  adat istiadat daerah berdasarkan demostrasi tanpa ditunjang dengan  model pembelajaran yang inovatif untuk melakukan demonstrasi  seperti yang sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari., sehingga siswa kurang dapat menerapkan apa yang dipelajarinya dengan kehidupannya dan pelajarannya pun menjadi kurang bermakna. Gambaran awal siswa tentang  monografi daerah belum diketahui oleh siswa dan  sebelumnya siswa tidak mengenal materi pokok pelajaran   IPS. Hal ini berakibat siswa cenderung kurang aktif dalam kegiatan belajar mengajar (KBM), maka hasil belajar merekapun juga kurang memuaskan.
Mata Pelajaran  IPS di SD masih termasuk dalam pelaksanaan kurikulum terbatas pada kelas III s/d IV, sehingga penyusunan Lembar Kegiatan Siswa belum ada. Melihat fenomena tersebut, peneliti ingin mencoba menerapkan model pembelajaran integratif  dengan menggunakan model pembelajaran Data Base Monografi (DBM) sebagai penunjang Kegiatan Belajar Mengajar (KBM). Dimana Kekhasan dari model pembelajaran integratif ini antara lain penyajian data atau konsep-konsep dalam tabel atau grafik maupun peta sehingga siswa lebih mudah dalam menjelaskan, mengajukan hipotesis dan mengambil kesimpulan. “ Proses pemahaman konsep-konsep materi dengan model integratif ini menfokuskan pada kemampuan berfikir observasi yang mendasar, sehingga bersifat terbuka yang dapat menaikkan keberhasilan siswa, interaksi tingkat tinggi dan langkah belajar yang cepat ” (Astutiningrum, 2001 : 5).
 Pembelajaran IPS perlu dilakukan dengan pendekatan  ketrampilan proses yang melibatkan rasa ingin tahu siswa dan menggiatkan aktivitas mental dan fisik siswa dengan suatu metode pengajaran tertentu. Salah satu alternatif pendekatan pembelajaran  IPS adalah pendekatan CTL. Pendekatan pembelajaran ini berdasarkan pada konteks yang tidak terbatas hanya dikelas tetapi selalu dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari merupakan ciri dari pendekatan kontekstual. Keterlibatan siswa dalam pendekatan pembelajaran ini sangat efektif dari pada sistem pengajaran tradisional. Pembelajaran kontekstual atau Contextual Teaching And Learning (CTL) mempunyai pengertian pembelajaran yang membantu guru menghubungkan mata pelajaran dengan situasi dunia nyata dan pembelajaran yang memotivasi siswa agar menghubungkan pengetahuan dan tercapainya dengan kehidupan sehari-hari sebagai anggota keluarga dan masyarakat (kasihani, 2001). Pembelajaran kontekstual yang merupakan suatu konsepsi yang membantu guru mengkaitkan konten mata pelajaran dengan situasi dunia nyata dan memotivasi siswa membuat hubungan antara pengetahuan dan penerapan dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga, warganegara dan tenaga kerja (Nur, 2001).

B.   Perumusan Masalah  PTK

     Berdasarkan uraian latar belakang masalah di atas, maka peneliti mengajukan rumusan masalah sebagai berikut :
Bagaimana keterlaksanaan model pembelajaran Data Base Monografi (DBM) dalam pelajaran IPS  di  SDN _________ Kecamatan ________ Kabupaten ________ Tahun Pelajaran ___/___.

C.  Tujuan Penelitian Tindakan

    Berdasarkan rumusan masalah di atas, tujuan diadakan penelitian ini adalah:
Untuk mengetahui keterlaksanaan  model pembelajaran Data Base Monografi (DBM) ditinjau dari hasil belajar siswa dan respon siswa  untuk pokok bahasan   mengenal  peta wilayah di Indonesia di   model pembelajaran Data Base Monografi (DBM).



D. Manfaat Penelitian Tindakan
    Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat, yaitu :
1.    Meningkatkan pemahaman konsep-konsep pada siswa dalam proses belajar mengajar dengan menerapkan model pembelajaran integratif  pada pokok bahasan  mengenal  peta wilayah di Indonesia.
2.    Meningkatkan kemampuan guru dalam membimbing siswa untuk memahami konsep dengan benar dengan menerapkan  model pembelajaran Data Base Monografi (DBM).

E.  Asumsi Penelitian Tindakan

1. Definisi Operasional

     Untuk menghindari adanya perbedaan persepsi terhadap maksud judul penelitian, maka peneliti perlu memberikan definisi operasional sebagai berikut:
a. Pokok bahasan  mengenal  peta wilayah di Indonesia adalah materi pelajaran yang menurut kurikulum  IPS diajarkan di   SDN _________ Kecamatan ________ Kabupaten ________ Tahun Pelajaran ___/___ ,pada kelas VI.
b. Model pembelajaran integratif adalah suatu model pembelajaran yang menggabungkan ketrampilan berpikir induktif dan deduktif dalam kegiatan belajar mengajar yang terdiri dari tahap-tahap : menggambarkan, membandingkan, menjelaskan, mengadakan hipotesis dan menyimpulkan.
c.  Model Pembelajaran Data Base Monografi (DBM) berorientasi model integratif adalah  suatu cara mengajar menggunakan panduan data  suatu wilayah yang sudah teridentifikasi menurut kategori masing-masing, bagi siswa yang berdasarkan sintaks model integratif untuk berpikir kritis memecahkan masalah dan bekerja untuk menemukan sendiri dari hasil pengamatan.  model pembelajaran Data Base Monografi (DBM) ini memuat rangkuman  data statistik informasi suatu wilayah yang lengkap yang tersaji sebagai monografi.
d. Keterlaksanaan  model pembelajaran Data Base Monografi (DBM) ditinjau dari segi respon siswa dan hasil belajar siswa adalah Hasil kegiatan belajar mengajar siswa setelah menggunakan   Data Base Monografi (DBM)  yang berorientasi model integratif.
     2. Asumsi
           Agar penelitian dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya maka dapat diajukan asumsi sebagai berikut :
2.       Peneliti mempunyai kemampuan dan penguasaan konsep yang baik dalam penyampaian materi pada pokok bahasan  mengenal  peta wilayah di Indonesia .
3.       Siswa saat mengerjakan soal-soal tes dengan jujur dan tidak bekerjasama dengan yang lain.
4.       Pengamat melakukan tugasnya secara obyektif.

3. Pembatasan
     Penelitian ini dibatasi dalam hal :
1.       Hasil belajar yang diukur dari ketuntasan belajar siswa.
2.       Kelayakan  model pembelajaran Data Base Monografi (DBM) ditinjau dari keterbacaan, kejelasan dan ketertarikan siswa selama Proses Belajar Mengajar (PBM).

                   



BAB II

 LANDASAN TEORI






A.   Proses Belajar Mengajar


Proses belajar mengajar merupakan proses interaksi antara  peserta didik    dan guru dalam rangka pencapaian tujuan belajar. Seperti diungkapkan oleh Fontana, belajar didefinisikan sebagai proses perubahan yang relatiftetap dalam perilaku individu sebagai hasil dari pengalaman (Winataputra,  2001: 2).
Untuk memperoleh tingkat keberhasilan yang tingi diperlukan cara belajar yang lebih baik. Gagne berpendapat bahwa belajar dipengaruhi oleh 2 hal yaitu faktor dari dalam diri individu dan faktor dari luar diri individu yang saling berinteraksi (Winataputra,  2001: 3). Proses atau hasil belajar dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, diantaranya :

1. Faktor intern yang meliputi kondisi fisik (jasmani), kondisis psikologi dan kondisi kelelahan.

2. Faktor ekstern yang meliputi sosial ekonomi keluarga, sekolah dan masyarakat (Slameto,  2004: 54)

Mouly berpendapat bahwa belajar pada hakekatnya adalah perubahan tingkah laku seorang berkat adanya pengalaman, sedangkan yang dimaksud pengalaman dalam proses belajar tidak lain adalah interaksi antara individu dengan lingkungan (Sudjana,  2002: 5).
Menurut pengertian psikologi, belajar merupakan suatu proses perubahan yaitu perubahan tingkah laku sebagai hasil interaksi dengan lingkungannya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Perubahan tersebut akan nyata dalam seluruh aspek tingkah laku. Pengertian belajar dapat didefinisikan sebagai berikut :
“ Belajar ialah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkunngannya.“ (Slamento,  2004: 2).
Dari pertanyaan-pertanyaan diatas dapat diambil kesimpulan bahwa belajar berarti usaha yang dilakukan oleh seseorang untuk mengadakan perubahan situasi dalam proses perkembangan daya berfikir dan penalaran dalam dirinya. Belajar yang baik adalah belajar yang memperoleh tingkat keberhasilan yang tinggi (Sudjana, 1988).
Beberapa pendapat mengenai pengertian mengajar antara lain menurut Slamento ( 2004: 30) :
Definisi modern di negara-negara yang sedang berkembang, mengajar adalah bimbingan kepada siswa dalam proses belajar mengajar. Definisi ini menunjukan bahwa yang aktif adalah siswa yang mengalami proses belajar menngajar. Sedangkan guru hanya membimbing, menunjukkan jalan dengan memperhitungkan kepribadian siswa. Kesempatan untuk berbuat dan aktif berpikir lebih banyak diberikan kepada siswa dari pada teori yang lain.
Dari uraian di atas dapat diambil kesimpulan bahwa mengajar adalah suatu kegiatan atau proses yang menyediakan kondisi yang merangsang kegiatan belajar siswa untuk memperoleh pengetahuan, ketrampilan, sikap, dan nilai tertentu. Untuk memperoleh hal ini perlu dilakukan suatu kegiatan atau proses yang memerlukan pendekatan mengajar yangn tepat.

B.  Pandangan Aksioma Penelitian

a. Model Pembelajaran Integratif
Model pembelajarn integratif adalah suatu model pembelajaran yang menggabungan keterampilan-keterampilan berpikir deduktif dan induktif dalam kegiatan belajar mengajar. Dari model integratif adalah dimana tiap elemennya digabungkan dalam satu kesatuan yang menyeluruh.
   Kegiatan belajar mengajar pada model integratif dibagi menjadi beberapa tahap, yaitu:
·     Tahap ke-1: mengambarkan
Pada tahap ini para siswa diminta untuk mengambarkan data dalam satu bagian tabel. Informasi, diilustrasikan dalam bentuk matrik, dan tiap bagian matrik disebut sebuah  adat Jawa. Jadi pada tahap satu ini adalah mengambarkan informasi dalam sebuah sel tertentu.
Permulaan  dengan tipe-tipe seperti ini memiliki keuntungan yang sama pada awal pelajaran model integratif. Pertama, permulaanya menarik perhatian siswa, karena siswa diperkenalkan pada kegiatanya dan memberikan banyak kesempatan kepada siswa untuk menjawab tanpa takut menjadi salah. Hasilnya adalah interaksi yang bertaraf tinggi dan pelajaranya berjalan dengan cepat, karena siswa termotifasi untuk ikut terlibat secara aktif pada kegiatan belajar mengajar tersebut. Sebuah faktor ditemukan berkorelasi positif dengan prestasi belajar siswa (Gail, 1984).
Kedua, pertanyaannya memungkinkan guru untuk memeriksa persepsi siswa terhadap informasi. Dalam mengambarkan apa yang dilihat siswa, guru dapat menetapkan apakah siswa memahami informasi seperti yang diharapkan.
Ketiga, prosesnya sesuai dengan perkembangan keterampilan-keterampilan berfikir observasi yaitu titik awal dari tahap kegiatan keterampilan berfikir yang pelajaranya dimulai dengan observasi.
·     Tahap ke-2: membandingkan
Tahap ke-2 (membandingkan adalah hasil perkembangan dari tahap ke-1, yaitu informasi dalam  komunal sosial yang berhubungan telah diobservasi dan digambarkan, perbandingan-perbandingan dibuat diantara  person dalam pranata tersebut. Pada tahap ini para siswa mengindentifikasi persamaan-persamaan dan perbedaan-perbedaan diantara  adat setempat dengan lainnya. Perbandingan dapat berkisar dari pengambaran sederhana dari siwa, tentang apa yang sama dan apa yang berbeda sampai ringkasan sebuah pola umum.

·     Tahap ke-3: menjelaskan
Proses perkembangan yang alami berlanjut pada tahap-3 ketika para siswa diminta untuk menjelaskan, setelah mereka mengindentifikasi persamaan atau perbedaan, menjelaskan mengapa hal itu ada. Pada tahap ini proses berubah dari induktif ke deduktif dan pemikiran siswa bertambah maju selangkah. Pembuktian kebenaran dari penjelasan melalui informasi yang dapat diobservasi pada tabel (matrik) merupakan bagian yang penting dari tahap ini, dan seorang guru yang berfokus pada”cara berpikir kritis” akan sangat menekankan aspek yang terdapat pada tahap ke-3 ini.
·     Tahap ke-4: mengadakan hipotesa
Tahap ke-4 ini merupakan peluasan yang alami dari tahap sebelumnya. Setelah persamaan-persamaan dan perbedaan perbedaan dijelaskan sampai sejauh data memungkinkan dan sampai pada kepuasan dari seorang guru, siswa diminta untuk merespon suatu situasi dengan hipotesis melalui informasi yang sedang mereka proses. Mereka diminta untuk berfikir lebih umum dan lebih abstrak dari pada tahap-tahap sebelumnya, dan proses penalarannya diperluas.
·     Tahap ke-5: mengambil kesimpulan
Pada akhirnya, seluruh kegiatan sampai pada tahap akhir yaitu pada saat siswa diminta untuk meringkas informasi dalam bentuk suatu kesimpulan atau mengambarkan pola-pola yang di ilustrasikan dalam tabel (matrik).
Tujuan penggunaan dari model integratif merupakan pemgembangan dari keterampilan berpikir induktif dan deduktif bersama-sama dengan” cara berfikir kritis”, karena bagaimanapun juga materi dan keterampilan-keterampilan berfikir tidak dapat dipisahkan satu sama lain untuk mencapai atau memperoleh pembelajaran yang bermakna.

C.  Arti pembelajaran  yang Inovatif 
Pengajaran dan pembelajaran  integratif Contextual Teaching and Learning (CTL) mempunyai pengertian yang membantu guru menghubungkan mata pelajaran dengan situasi dunia yang nyata dan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari sebagai anggota keluarga dan masyarakat (Isnaini, 2002: 13). Pembelajaran kontekstual terjadi apabila siswa menerapkan dan mengalami apa yang sedang diajarkan dengan mengacu pada masalah-masalah dunia nyata yang berhubungan dengan peran dan tanggung jawab mereka. Pembelajaran kontekstual adalah pembelajaran yang terjadi dalam hubungan yang erat dengan pengalaman sesungguhnya (Nur, 2001: 1).
Pendekatan kontekstual mengakui bahwa pembelajaran merupakan suatu proses kompleks dan banyak fase berlangsung jauh melampaui drill oriented,  metodologi stimulus dan response yang dikembangkan oleh pembelajaran pada psikologi behaviorisme. Berdasarkan teori tersebut, belajar hanya terjadi jika siswa memproses informasi atau pengetahuan baru sehingga dirasakan masuk akal sesuai dengan kerangka berpikir yang dimilikinya. Kontekstual menekankan pada berpikir tingkat lebih tinggi, transfer pengetahuan, lintas disiplin,  pengumpulan, penganalisisan dan pensintesisan informasi serta data dari berbagai sumber dan pandangan. Juga merupakan suatu konsep teruji yang menggabungkan banyak penelitian mutakhir dalam bidang kognitif  (Nur, 2001 : 1)
Menurut teori kontekstual, pembelajaran terjadi hanya apabila siswa memproses informasi atau pengetahuan baru sedemikian rupa sehingga informasi itu bermakna bagi mereka dalam kerangka acuan mereka sendiri (dunia memori, pengalaman dan response mereka sendiri). Pendekatan pembelajaran dan pengajaran ini mengasumsikan bahwa otak secara alamiah mencari makna dalam konteks yaitu dalam hubungan dengan lingkungan mutakhir orang tersebut dan bahwa otak melakukan pencarian itu dengan mencari hubungan yang bermakna dan tampak berguna (Nur, 2001: 7).
Dibangun diatas  pemahaman ini, lebih lanjut Nur juga menyebutkan bahwa kontekstual memfokuskan pada banyak aspek dari setiap lingkungan pembelajaran, apakah kelas, laboratorium, lab komputer, lapangan kerja atau kebun. Teori ini mendorong pendidik untuk memilih dan merancang lingkungan belajar yang menggabungkan sebanyak mungkin bentuk pengalaman sosial, budaya, fisik dan psikologi dalam bekerja mencapai hasil belajar yang diinginkan. Dalam lingkungan seperti itu, siswa menemukan hubungan bermakna antara ide-ide abstrak dan penerapan-penerapan praktis dalam konteks dunia nyata, konsep diinternalisasi melalui proses penemuan, penguatan dan menghubungkan. Jadi siswa dapat belajar secara baik dalam konteks, dalam sesuatu yang terkait dengan kebutuhannya. Fakta dan ketrampilan yang dipelajari secara terpisah sulit untuk diserap disamping itu juga akan cepat hilang. Belajar terbaik dapat dilakukan dengan mengerjakan pekerjaan itu sendiri dalam proses penyelaman “ dunia nyata “ secara terus menerus, menggunakan umpan balik, perenungan, eveluasi dan penyelaman kembali (refleksi).
Secara lebih rinci, Nur (2001) menguraikan 7 kata kunci dalam pembelajaran kontekstual:

1. Penemuan (inquiry)
Kegiatan pembelajaran dilakukan dengan induktif, diawali dengan pengamatan dalam rangka memahami suatu konsep. Dalam praktek, pembelajaran melewati siklus kegiatan mengamati, bertanya, menganalisis, dan merumuskan teori, baik secar individual maupun secar bersama-sama dengan teman lainnya. Penemuan juga merupakan aktivitas untuk mengembangkan dan sekaligus menggunakan ketrampilan berpikir kritis siswa.

2. Pertanyaan (questioning)
sebagaimana dikemukakan di atas, pertanyaan merupakan hal penting dalam pembelajaran kontekstual. Pertanyaan merupakan alat pembelajaran bagi guru untuk mendorong, membimbing, dan menilai kemampuan berpikir siswa. Pertanyaan juga digunakan oleh siswa selama melaksanakan kegiatan yang berbasis penemuan. Pertanyaan dalam proses pembelajaran dapat dikelompokkan menjadi 3, yaitu:
a. Pertanyaan deskriptif, yaitu pertanyaan dengan kata ganti tanya apa, siapa,dimana dan kapan.
b. Pertanyaan eksplanatif, yaitu pertanyaan yang mengarah pada permintaan kepada siswa untuk menjelaskan (misalnya, jelaskan dan bagaimana proses terjadinya)
c.  Pertanyaan kritis dan kreatif, yaitu pertanyaan yang meminta kepada siswa untuk mengungkap informasi yang tersurat dan tersirat pada fakta dan informasi (misalnya beberapa pertanyaan yang menggunakan kata ganti tanya mengapa.

3. Konstruksivisme (constructivism)
              Siswa membangun pemahaman oleh diri sendiri dari pengalaman-pengalaman baru berdasarkan pengalaman awal. Pengalaman awal selalu merupakan dasar / tumpuan yang digabung dengan pengalaman baru untuk mendapatkan pemahaman baru. Pemahaman yang mendalam dikembangkan melalui pengalaman yang bermakna (Vigotsky dalam Nur, 2000).

4. Masyarakat belajar (Learning community)
Proses pembelajaran berlangsung dalam situasi sesama siswa saling berbicara dan menyimak, berbagi pengalaman di antara mereka. Bekerja sama dengan orang lain untuk menciptakan pembelajaran siswa aktif lebih baik jika dibandingkan dengan belajar sendiri. Hal ini berbeda dengan pembelajaran tradisional yang secara tidak langsung mendidik siswanya untuk menjadi individu yang egoistis, tidak banyak peduli pada lingkungannya. Kawan sekelas tidak dipandang sebagai mitra, namun dipandangnya sebagai pesaing. Lebih tragis lagi jika persaingan mereka tidak sehat.

5. Penilaian autentik (authentic assesment)
Penilaian autentik ini bersifat mengukur produk pembelajaran yang bervariasi, yaitu pengetahuan dan ketrampilan. Penilaian ini juga mempersyaratkan penerapan pengetahuan atau ketrampilan. Penilaian ini tidak hanya melihat produk akhir, tetapi juga prosesnya. Instruksi dan pertanyaan-pertanyaannya dipilih yang relevan dengan prinsip-prinsip pembelajaran kontekstual.

6. Refleksi (reflection)
Salah satu pembeda pendekatan kontekstual dengan pendekatan tradisional yang berbentuk cara-cara berpikir tentang sesuatu yang telah dipelajari oleh siswa. Dalam proses berpikir itu, siswa dapat merevisi dan merespon kejadian, aktivitas, dan pengalaman mereka. Prosedur umumnya, siswa dilatih untuk mengenali ide-ide baru yang muncul. Bentuk aktivitas refleksi dapat berupa jurnal, diskusi, maupun hasil karya/seni.

7. Pemodelan (modelling)   
Aktivitas guru di kelas memiliki efek modal bagi siswa. Jika guru mewngajar dengan berbagai variasi metode dan teknik pembelajaran, secara tidak langsung siswa pun akan meniru metode atau teknik yang dilakukan guru tersebut. Guru  juga dapat memanfaatkan efek model ini dengan mendemonstrasikan cara guru menginginkan siswa belajar. Guru juga dapat melakukan sesuatu yang didinginkan agar siswa melakukannya.

D.   Model Pembelajaran Data Base Monografi (DBM)
         1. Pengertian  
Data Base Monografi merupakan  kumpulan statistik tentang berbagai data kependudukan serta varian lainnya yang dimiliki oleh setiap dinas di Pemerintah Daerah atau Pusat yang bisa digunakan sebagai instrumen pengajaran bagi pelajaran IPS, Geografi dan Ilmu Demografi.  (Tim PKG  IPS SD, 1987:2).
Menurut Hainur  Data Base Monografi (DBM) merupakan  data klasifikasi varian kependudukan untuk menuntun siswa melakukan kegiatan yang terprogram (Hainur, 1996:32).
Sesuai apa yang dikehendaki oleh kurikulum 1994, maka proses belajar mengajar harus bertemakan proses. Dengan ketrampilan proses diharapkan siswa dapat melakukan pengamatan, mennggolongkan / mengklasifikasikan, menafsirkan, meramalkan, merencanakan, meneliti dan mengkomunikasikan hasil perolehannyna. Dari kegiatan tersebut diharapkan adanya keterlibatan aktif siswa dalam Kegiatan Belajar Mengajar (KBM), sehingga hasil belajar dapat tercapai secara optimal.
        2. Fungsi  Data Base Monografi (DBM)
Secara umum fungsi  dalam pembelajaran antara lain :

        Mengaktifkan siswa dalam belajar.

2.    Membantu siswa mengembangkan dan menemukan konsep berdasarkan deskripsi  tentang hasil pengamatan  dari data yang diperoleh dalam kegiatan  mempelajari peta suatu wilayah.
3.    Melatih siswa menemukan konsep melalui pendekatan  sosiografik.
4.    Membantu siswa di dalam memperoleh catatan materi pelajaran yang dipelajari melalui kegiatan yang dilakukan di sekolah.
3.       Membantu guru dalam menyusun atau merencanakan kegiatan pembelajaran konsep yang meliputi pemilihan pendekatan dan metode, motivasi belajar, pemilihan media dan evaluasi belajar.
4.       Membantu guru menyiapkan secara cepat kegiatan pembelajaran IPS pokok bahasan peta wilayah,   karena  model pembelajaran Data Base Monografi (DBM) yang telah dibuat dapat dipergunakan kembali pada tahun ajaran berikutnnya dengan pokok bahsan yang sama tentunya (Hainur, 1996:35).
           
Menurut Tim PKG-SD (1987:3), fungsi  model pembelajaran Data Base Monografi  adalah :
1.       Merupakan alternatif  pembelajaran bagi guru IPS untuk mengarahkan pelajaran atau memperkenalkan suatu kegiatan  yang mengkaitkan dengan peta wilayah (konsep, pengertian, prinsip atau skill) sebagai variasi belajar IPS.
2.       Dapat disiapkan sewaktu jam bebas mengajar peta wilayah sebelum memasuki kelas serta dapat  dikenali secara cepat  oleh siswa untuk segera dipelajari  mengenai persoalan yang mem-variabelkan data demografi.
3.       Dapat memudahkan penyelesaian tugas perseorangan atau kelompok kecil karena sisa dalam mengerjakan tugas itu sesuai dengan kecepatannya, maksudnya tidak setiap siswa dapat memahami persoalan itu pada keadaan dan saat yang bersangkutan.
4.       Meringankan kerja guru IPS dalam memberi bantuan perseorangan terutama untuk pengelolaan kelas besar.
5.       Dapat mengoptimalkan penggunaan alat bantu pengajaran IPS yang terbatas. Oleh karena itu, siswa atau kelompok dapat menggunakan alat bantu itu secara bergiliran dari bahan yang ada atau tersedia. Seluruh kelas dapat dikuasai guru melalui kelompok-kelompok dengan tugas-tugas yang berbeda secara bergiliran dari lembar kerja yang satu dengan yang lainnya dalam selang waktu yang tepat.
6.       Dapat membangkitkan minat siswa apabila  model pembelajaran Data Base Monografi (DBM) tersebut disusun secara menarik. Misalnya tulisannya yang sistematis, berwarana dan bergambar. Selain itu jika lembar kerja disiapkan secara profesional maka lembar kerja tersebut dapat nampak lebih sempurna.

E.   Prestasi   Belajar
Hasil belajar adalah istilah dalam  KTSP  yang berarti uraian untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan apa yang harus digali, dipahami dan dikerjakan siswa-siswa. Hasil belajar ini merefleksikan keluasan, kedalaman dan kompleksitas (secara bergradasi) dan digambarkan secara jelas serta dapat diukur dengan teknik-teknik penilaian tertentu (Depdiknas, 2001 : 7). Hasil belajar ini dicapai dengan tujuan mengukur ketuntasan belajar. Tujuan utama pencapaian ketuntasan dalam belajar ini adalah bagaimana upaya yang memungkinkan 85 % siswa dari keseluruhan jumlah siswa untuk mencapai nilai ideal dari hasil belajar secara klasikal. Maksud lain dari ketuntasan belajar ini adalah untuk meningkatkan efisiensi belajar, minat belajar dan sikap siswa yang positif terhadap materi pelajaran yang sedang dipelajarinya. Oleh karena itu taraf penguasan minimal secara individual maupun klasikal siswa memiliki kriteria antara lain :
¨    Ketuntasan tercapai jika daya serap individual siswa telah mencapai skor ³ 65 % atau mendapat nilai 6,5 atas materi setiap pokok bahasan dengan melalui penilaian formatif.
¨    Ketuntasan secara klasikal tercapai apabila daya setiapserap klasikal telah terdapat sedikitnya 85 % siswa yang telah mencapai daya serap individual ³ 65 % dari materi pokok bahasan yang telah diajarkan seluruh kelas.
¨    Ketuntasan hasil belajar tercapai jika setidaknya terdapat 65 % siswa dari seluruh siswa yang menjawab benar dalam butir soal yang mengindikasikan ketercapaian indikator hasil belajar yang dimaksud.

Menurut Ditjen Dikdasmen (1986;246) yang menjelaskan sebagai berikut :"Prestasi adalah hasil yang didapat pada suatu saat".
Sedangkan "belajar" banyak pendapat yang telah dikemukakan oleh beberapa pakar, antara lain telah dijelaskan oleh Nasution (1976;34-35):
1.    Belajar adalah suatu proses yang menimbulkan kelakuan baru atau mengubah kelakuan lama sehingga seseorang lebih mampu menghadapi situasi-situasi dalam hidupnya.
2.    Teori Assosiasi mengemukakan, bahwa belajar terdiri daripada hubungan yang didalamnya antara stimulus (perangsang) dengan respon (jawaban) reaksi.
3.    Teori Organisme yang mengemukakan antara lain, bahwa "belajar adalah reorganisasi pengalaman".
Menurut Gagne (dalam Dahar, 1989 ; 11), menyatakan bahwa :"belajar dapat didefinisikan sebagai suatu proses dimana suatu organisme berubah perilakunya sebagai akibat pengalaman".
Menurut Surachmad (1979 ; 21) menyatakan bahwa :"belajar adalah proses perubahan dalam diri manusia".
Pada prinsipnya banyak ahli mendefinisikan tentang belajar berdasarkan sudut pandang sendiri-sendiri, sehingga menimbulkan definisi yang berbeda-beda. Namun demikian, meski ada perbedaan dalam pendefinisiannya tetapi tetap ada kesamaan. Dengan belajar kita akan mengetahu kesulitan-kesulitan yang timbul pada diri kita. Orang yang belajar berpengharapan agar pada dirinya yang bermula tidak dapat menjadi dapat, dari tidak mengerti menjadi mengerti, dan yang tadinya sudah mengerti menjadi lebih mengerti.
Dari pengertian belajar di atas, terdapat 3 (tiga) ciri utama belajar, yaitu :
a.    Proses.
Belajar adalah proses mental dan emosional atau proses berfikir dan merasakan. Seorang dikatakan belajar, bila pikuran dan perasaannya aktif.
b.    Perubahan perilaku.
Hasil belajar berupa perubahan perilaku atau tingkah laku. Seseorang yang belajar akan berubah atau bertambah perilakunya, baik yang berupa pengetahuan, ketrampilan motorik, atau penguasaan nilai-nilai (sikap)
c.    Pengalaman.
Belajar adalah mengalami, dalam arti belajar terjadi dalam interkasi antara individu dengan lingkungan, baik lingkungan fisik maupun lingkungan sosial. Lingkungan belajar yang baik adalah lingkungan yang menantang siswa belajar.
Menurut Sumartono (1971 ; 18) menjelaskan bahwa :"Prestasi belajar adalah suatu nilai yang menunjukkan hasil yang tertinggi dalam beljaar yang dicapai menurut kemampuan anak dalam mengerjakan sesuatu pada saat tertentu pula".
Bila batasan di atas ditinjau, maka dapatlah dikatakan, bahwa prestasi belajar adalah suatu nilai kemampuan yang menunjukkan hasil yang tertinggi yang dapat dicapai oleh anak selama ia belajar dalam suatu mata pelajaran tertentu dan pada saat tertentu pula. Prestasi belajar ini berupa pengetahuan dan ketrampilan yang dikembangkan di sekolah melalui sejumlah pelajaran.

2.   Teori-teori Belajar.
Karena belajar adalah proses psikologis dalam diri seseorang yang sangat sukar sekali untuk diketahui, maka timbullah berbagai teori tentang belajar yang harus difahami apabila ingin memperoleh prestasi dengan baik.
Menurut Ahmadi (1985;21) beberapa teori proses belajar yaitu :
1.    Teori belajar menurut Faculy Psychology (Ilmu Jiwa Daya). Dalam teori ini, dikatakan bahwa jiwa manusia terdiri dari berbagai daya berpikir, mengenal, mengingat, mengamati dan lain-lain.
2.    Teori belajar menurut Ilmu Jiwa Assosiasi. Dalam teori ini dikatakan bahwa jiwa manusia terdiri dari assosiasi dari berbagai tanggapan yang masuk dalam jiwa kita. Assosiasi itu biasanya terbentuk berkat adanya hubungan ini, belajar berarti membentuk hubungan-hubungan stimulus-respon dan melatih hubungan itu agar bertalian erat.
3.    Teori belajar menurut Ilmu Jiwa Gestalt (organis). Dalam teori ini dikatakan bahwa jiwa manusia merupakan satu keseluruhan yang bulat, bukan tanggapan-tanggapan (elemen-elemen).

F.   Prinsip-prinsip Belajar.

Selain beberapa teori belajar, beberapa prinsip bel;ajar juga menjadi dasar untuk bisa mencapai prestasi belajar dengan baik.
Menurut Ahmadi (1985;22) menyatakan bahwa prinsip-prinsip belajar adalah sebagai berikut :
1.    Belajar harus bertujuan dan terarah. Tujukan akan menuntutnya dalam belajar untuk mencapai harapan-harapan.
2.    Belajar memerlukan bimbingan, baik bimbingan dari guru atau dari buku pelajaran itu sendiri.
3.    Belajar memerlukan pemahaman atas hal-hal yang dipelajari, sehingga diperoleh pengertian-pengertian.
4.    Belajar memerlukan latihan dan ulangan agar apa yang telah dipelajari dapat dikuasai.
5.    Belajar adalah suatu proses aktif, dimana terjadi saling mempengarhui secara dinamis antara murid dan lingkungannya.
6.    Belajar harus disertai keinginan dan kemauan yang kuat untuk mencapai tujuan.
7.    Belajar dianggap berhasil apabila telah sanggup menerapkan kedalam bidang praktek ehari-hari.

G.   Faktor-faktor yang Mempengaruhi Belajar.

Dalam proses belajar mengajar di sekolah, guru selalu mengharapkan agar murid-muridnya dapat mencapai hasil semaksimal mungkin. Namun dalam kenyataannya tidak semuanya selalu didapatnya hasil seperti yang diharapkan. Untuk mencapai hasil atau prestasi belajar yang diharapkan tidaklah mudah, sebab ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhinya.
Menurut Hadinoto (1976 ; 1) menyatakan, bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi belajar ada dua macam yaitu :
1.    Faktor-faktor Indogen atau berasal dari diri anak itu sendiri.
2.    Faktor-faktor Eksogen atau berasal dari luar anak.
Selanjutnya Hadinoto (1976 ; 4) menjelaskan bahwa faktor-faktor yang bersifat indogen ini ada yang bersifat biologis (misalnya anak yang lemah badan, sering sakit). Untuk anak-anak yang sering sakit tentunya tidak dapat menerima pelajaran dengan baik. Pelajaran yang diterima dalam keadaan sakit ini tidak baik hasilnya karena pada saat menerima pelajaran tentunya konsentrasi terganggu. Begitu juga halnya dengan siswa yang cacat jasmani tentunya tidak dapat menrima pelajaran dengan baik karena mungkin pendengarannya kurang bagus dan demikian juga untuk cacat jasmani yang lain.
Demikian juga untuk faktor yang bersifat psikologis menurut Hadinoto (1976;4), menjelaskan bahwa :"(a) intelegensi, (b) bakat, (c) konstalasi psikis yang lain, (d) perhatian (e) minat".
Selanjutnya menurut Soeryobroto (1975 ; 283) menyebutkan bahwa faktor-faktor eksogen digolongkan menjadi dua bagian, yaitu :
1.    Faktor non sosial.
Faktor non sosial ini boleh dikatakan tidak terhitung banyaknya, misalnya keadaan udara, tempat lokasi, alat pelajaran dan sebagainya.
2.    Faktor Sosial.
Faktor-faktor sosial yaitu faktor manusia (sesama manusia). Kehadiran seseorang baik langsung maupun tidak langsung pada anak yang sedang belajar, akan sangat mengganggu dalam proses belajar.
Menurut Tabrani dan Yani (1984;23) menyataklan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi suksesnya belajar adalah :
1.    Faktor Internal, yang terdiri dari :
a.    Faktor Jasmani.
b.    Faktor Psikologis (Intelektual dan non Intelektual).
c.    Faktor Kematangan fisik maupun psikis.
2.    Faktor Eksternal, terdiri dari :
a.    Faktor Sosial (keluarga, sekolah, masyarakat, kelompok).
b.    Faktor Budaya (adat, seni, ilmu dan tehnologi).
c.    Faktor Lingkungan Fisik (rumah, fasilitas belajar).
d.    Faktor Lingkungan Spiritual atau keagamaan.
Selain hal diatas masih ada faktor lain yang mempengaruhi kesuksesan belajar, yaitu faktor konsisional yang ada.
Menurut Ahmadi 91985 ; 76) menyatakan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi suksesnya belajar antara lain :
1.    Faktor Indogen yaitu faktor yang datang dari diri sendiri yang meliputi :
a.    Faktor Biologis (bersifat jasmaniah) meliputi  kesehatan, cacat badan.
b.    Faktor Psikologis (bersifat rohaniah) meliputi intelegensia, perhatian, minat, bakat dan emosi.
2.    Faktor Eksogen, adalah faktor yang datang dari luar diri sendiri yang meliputi :
a.    Faktor lingkungan keluarga, meliputi orang tua, suasana rumah, dan ekonomi kerja.
b.    Faktor lingkungan sekolah, meliputi pembelajaran yang kurang baik, bahan pelajaran terlalu tinggi, alat peraga tidak lengkap, jam pelajaran yang kurang efektif.
c.    Faktor lingkungan masyarakat, meliputi media-media teman bergaul, kegiatan di masyarakat, corak kehidupan tetangga.

H.  Hipotesis   Tindakan 
Berdasarkan rumusan masalah dan kajian pustaka yang telah diuraikan pada bab-bab terdahulu, peneliti menyusun suatu hipotesis tindakan bahwa :
“ Penerapan   model pembelajaran Data Base Monografi (DBM) dapat meningkatkan Hasil Belajar IPS bagi siswa  kelas VI SDN _________ Kecamatan ________ Kabupaten ________ Tahun Pelajaran ___/___  , Pada Pokok Bahasan  mengenal  peta wilayah di Indonesia ”.
BAB III
METODOLOGI  PENELITIAN TINDAKAN KELAS


A.     Jadwal dan   Tempat Penelitian


Penelitian ini dilakukan pada  bulan    Oktober 2008. pengambilan data dilakukan di  kelas VI SDN _________ Kecamatan ________ Kabupaten ________ Tahun Pelajaran ___/___

B.   Sasaran Penelitian
Sasaran Penelitian adalah siswa-siswi  kelas VI SDN _________ Kecamatan ________ Kabupaten ________ Tahun Pelajaran ___/___.
C.    Gambaran Penelitian
Dalam pelaksanaan penelitian ini, peneliti menggunakan penelitian tindakan kelas. Penelitian tindakan kelas ini merupakan pengkajian terhadap permasalahan dengan ruang lingkup yang tidak terlalu luas yang berkaitan suatu perilaku seseorang atau sekelompok orang tertentu. Disertai dengan penelaahan yang teliti terhadap suatu perlakuan tertentu dan mengkaji sampai sejauh mana dampak perlakuan itu terhadap perilaku yang sedang diteliti.
Dalam penelitian tindakan kelas ini, peneliti menggunakan 3 (tiga) putaran pengajaran yang disesuaikan dengan materi yang akan diajarkan yaitu mengenai peta wilayah di Indonesia. Pada penelitian ini, bertindak sebagai guru yang melakukan tindakan yang akan diamati oleh para pengamat yang terdiri dari teman sekelompok penelitian dan guru bidang studi   IPS di   kelas VI SDN _________ Kecamatan ________ Kabupaten ________ Tahun Pelajaran ___/___  dimana penelitian ini dilaksanakan.

Pada penelitian ini terbagi menjadi  tiga tahapan pokok yaitu :
1.    Tahap Rancangan ( rencana awal)
       Langkah-langkah yang ditempuh dalam tahap ini adalah :
a.         Menentukan pokok bahasan, tujuan pembelajaran dan tugas-tugas pembelajaran.
b.         Menyusun instrumen penelitian yang terdiri dari :
1. Perangkat pembelajaran meliputi silabus yang berdasarkan masukan  dari guru bidang studi
2. Menyusun Lembar Kegiatan Siswa (LKS) berorientasi  pada model pembelajaran Data Base Monografi (DBM) dan mengonsultasikan kepada  guru bidang studi.
3. Memvalidasi Lembar Kegiatan Siswa (LKS) berorientasi  model pembelajaran Data Base Monografi (DBM) yang dilakukan oleh   Kepala Sekolah dan guru bidang studi.
4. Menyusun butir-butir soal tes  berdasarkan indikator hasil belajar.
5. Membuat lembar respon siswa untuk mengetahui tanggapan siswa terhadap penerapan  model pembelajaran Data Base Monografi (DBM) berorientasi model integratif.
c.    Menetapkan pengamat selama proses belajar mengajar yaitu guru bidang studi   IPS di   kelas VI SDN _________ Kecamatan ________ Kabupaten ________ Tahun Pelajaran ___/___  .

  1. Tahap Kegiatan dan Pengamatan
Pada tahap pelaksanaan penelitian ini  memperhatikan alokasi waktu yang ada dan pokok bahasan yang dipilih secara ringkas pelaksanaan putaran sebagai berikut :
a.    Melaksanakan proses belajar mengajar sesuai dengan silabus yang telah disiapkan dengan melaksanakan model integratif.
b.    Mengadakan diskusi dengan guru bidang studi    IPS di   kelas VI SDN _________ Kecamatan ________ Kabupaten ________ Tahun Pelajaran ___/___ yang melakukan pengamatan, sesuai dengan hasil pengamatan ketika proses pembelajaran berlangsung.
c.    Menerangkan hasil diskusi dan menganalisis penyelesaian/  pemecahan masalah jika terdapat masalah yang timbul dalam pembelajaran sehingga menghasilkan refleksi dan revisi unutk putaran selanjutnya.

  1. Tahap Refleksi
Peneliti pengkaji hasil diskusi berdasarkan hasil pengamatan dengan para pengamat mengenai kekurangan tindakan guru dalam kelas selama proses belajar mengajar berlangsung. Peneliti menganalisis solusi yang dapat menyelesaikan permasalahan yang sedang dihadapi dalam kegiatan belajar mengajar untuk memperbaiki kinerja guru dalan penerapan pembelajaran model integratif pada pertemuan selanjutnya.
  


BAB IV
 HASIL PENELITIAN TINDAKAN KELAS



A.    Deskripsi  Penelitian Tindakan
Setelah studi pendahuluan dilaksanakan, selanjutnya peneliti dan guru membuat kesepakatan dan perencanaan umum tindakan sebagai berikut :
1.    Menetapkan waktu kegiatan pembelajaran mata pelajaran IPS dan diskusi balikan yaitu setiap hari Senin jam ke I sampai dengan ke 3 (pukul 07.15 - 09.00)
2.    Menetapkan jumlah siklus  sebagai   kuantitas perbandingan garfik kegiatan dan hasil penelitian tindakan pada satu pokok bahasan yang akan dilakukan dalam  tatap muka kegiatan di tiap pembelajaran.

B.  Pelaksanaan  Tindakan
Pertemuan  pada  tanggal  ________ dengan pokok bahasan "  Menengal peta wilayah Di Indonesia" dengan sub pokok bahasan " Wilayah Kabupaten ______ ". Setelah selesai menjelaskan tujuan pembelajaran khusus kemudian guru mengadakan apersepsi dengan cara mengajukan pertanyaan secara lisan. Selanjutnya guru menjelaskan tentang keadaan lingkungan Kabupaten _______ , dengan menggunakan metode tanya jawab. Pembahasan dilanjutkan dengan menggunakan model pembelajaran   model pembelajaran Data Base Monografi (DBM)  melalui peta detail lengkap dengan data monografi Kabupaten  Malang  yang berbatasan dengan kabupaten-kabupaten lain. Beberapa orang siswa berdemonstrasi di depan kelas untuk menunjukkan nama-nama kecamatan yang termasuk dalam wilayah Kabupaten   _________ , dan guru mengadakan Tanya jawab dengan siswa tersebut tentang ciri atau karakteristik setiap kecamatan yang ada di wilayah Kabupaten _______  dengan data monografi per kecamatan. Penjelasan dilanjutkan dengan perbedaan dataran tinggi dan dataran rendah yang terdapat dalam peta tersebut. Guru mengarahkan dengan mengadakan Tanya jawab tentang tanaman-tanaman yang cocok pada setiap kecamatan yang berada di wilayah Kabupaten   _______ .
Pada kegiatan akhir atau penutup kegiatan pembelajaran, guru membuat kesimpulan tentang wilayah Kabupaten   _________  serta memberikan penguatan tentang materi tersebut dan diakhiri dengan pemberian penilaian atau evaluasi yang berupa tes formatif kepada siswa.
Setelah kegiatan pembelajaran selesai, guru melakukan wawancara dengan mengisi angket yang harus diisi oleh siswa.
Guru masuk kelas, siswa memberi salam yang dipimpin oleh Ketua Murid ( KM ) dan dijawab oleh guru. Sebelum memulai pembelajaran, guru mengecek kehadiran siswa . Guru menjelaskan tujuan pembelajaran   model pembelajaran Data Base Monografi (DBM)  yang harus dicapai siswa setelah proses pembelajaran selesai.
Tujuan khusus yang diharapkan dalam sub pokok bahasan "Wilayah Kabupaten  ______  " yaitu :
a.    Menyebutkan batas-batas wilayah Kabupaten ____  Menggambarkan peta wilayah Kabupaten   ______
b.    Menjelaskan letak perbedaan situasi pada setiap kecamatan.
c.    Menunjukkan tempat-tempat yang memiliki perbedaan  jumlah penduduk, jenis kelamin, pekerjaan, serta jumah ternak pada wilayah Kabupaten   ______
d.    Menyebutkan jenis tanaman yang cocok ditanam di daerah Kabupaten   ______  

Guru menjelaskan pokok-pokok tujuan pembelajaran khusus di papan tulis, kemudian diinformasikan kepada siswa. Dengan diinformasikannya tujuan pembelajaran khusus ini diharapkan siswa mempunyai pegangan bahwa pokok-pokok materi pelajaran seperti yang disebutkan dalam tujuan pembelajaran khusus itulah yang harus mereka kuasai secara mendalam.
Setelah selesai menjelaskan tujuan pembelajaran khusus, kemudian guru mengadakan apersepsi dengan cara mengajukan pertanyaan-peratanyan yang berkaitan dengan materi yang akan diajarkan dengan materi sebelumnya.
Adapun            pertanyaan-pertanyaan yang diajukan dalam kegiatan apersepsi tersebut adalah sebagai berikut :
a.    Apa nama daerah/ kampung tempat tinggalmu ?
b.    Termasuk kelurahan dan kecamatan manakah tempat tinggalmu ?
c.    Berapa jumlah kelurahan yang ada di kecamatan tempat tinggalmu ?
d.    Apa nama kabupaten tempat tinggalmu ?

Setelah selesai guru mengajukan pertanyaan, kemudian siswa merespon dengan menjawab secara lisan. Sebelum memulai kegiatan inti, guru menampilkan peta wilayah Kabupaten ______     sesudah itu guru menjelaskan tentang wilayah Kabupaten ______   dengan metode tanya jawab, siswa secara bergiliran berdemonstrasi di depan kelas untuk menunjukkan kabupaten-kabupaten yang berbatasan dengan wilayah Kabupaten ______   , nama-nama kecamatan yang termasuk wilayah Kabupaten ______  , perbedaan dataran tinggi dan dataran rendah yang ada dalam peta tersebut.
Kemudian dengan bimbingan guru, siswa melakukan curah pendapat tentang tanaman-tanaman yang cocok pada setiap kecamatan yang berada di wilayah Kabupaten ______    .
Berikutnya siswa melengkapi bagian wilayah Kabupaten Malang , yang dilanjutkan dengan memberikan penjelasan secara tertulis pada lembar kegiatan yang telah disediakan.
Selanjutnya siswa mengamati gambar-gambar keadaan kecamatan yang ada di wilayah Kabupaten ______ , serta mengidentifikasi ciri /  karakterisitik dari setiap kecamatan tersebut.
Setelah itu siswa mengamati peta wilayah Kabupaten ______ , dalam peta ini diperlihatkan perbedaan-perbedaan dataran tinggi dan dataran rendah serta tanaman-tanaman yang cocok pada setiap dataran. Kemudian siswa membuat cerita singkat tentang masing-masing dataran pada lembar kegiatan siswa.
Pada kegiatan akhir, diawali dengan membuat kesimpulan materi pelajaran oleh siswa dengan bimbingan guru, selanjutnya siswa mengerjakan penilaian atau evaluasi yang berupa post tes ( latihan ) pada lembar soal yang dibuat oleh guru. Kegiatan pengayaan, guru memberi tugas membuat peta wilayah Kabupaten ______     pada kertas yang telah disediakan.
Pelaksanaannya dikerjakan di rumah untuk dikumpulkan pada minggu depan serta memberitahu pada siswa agar lembar kegiatan siswa ( LKS ) dikumpulkan. Selain itu guru juga membagikan angket untuk diisi oleh siswa. Hasil post tes dan angket dapat dilihat pada table 4.1 dan 4.2.
Dari hasil post tes atau tes formatif diperoleh data sebagai berikut :


Tabel 4.1
Daftar Nilai  Tes   
No Siswa
Nilai
Prosentase (%)
Keterangan
1
6,0
60
Cukup
2
6,5
65
Cukup
3
8,0
80
Baik
4
5,0
50
Hampir Cukup
5
7,0
70
Lebih dari cukup
6
7,0
70
Lebih dari cukup
7
8,5
85
Baik
8
8,0
80
Baik
9
8,0
80
Baik
10
4,5
45
Kurang
11
9,0
90
Baik Sekali
12
6,0
60
Cukup
13
8,0
80
Baik
14
4,5
45
Kurang
15
7,0
70
Lebih dari cukup
16
6,0
60
Cukup
17
7,0
70
Lebih dari cukup
18
7,0
70
Lebih dari cukup
19
7,0
70
Lebih dari cukup
Jumlah
127


Rata-rata
6,68


Prosentase

66,8



Data dari   Angket yang dikumpulkan yaitu :
No
Pertanyaan
Yang menjawab “YA”
Yang menjawab “TIDAK”
1
Apakah waktu yang digunakan dalam Proses Pembelajaran cukup ?

40 %

60 %
2
Apakah materi pembelajaran terlalu banyak ?

40 %

60 %
3
Apakah materi pembelajaran perlu diulang ?

70 %

30 %


3.1.  Hasil Observasi Tindakan  
Dengan mengamati seluruh pelaksanaan tindakan pada siklus pertama, hasilnya dapat dikemukakan sebagai berikut :
a.    Dalam jawaban apersepsi sebagai penilaian awal yang dilakukan guru dengan pertanyaan lisan, lalu siswa menjawab secara bergiliran, hal ini terlalu menyita waktu.
b.    Dengan keterampilan proses berdemonstrasi, curah pendapat, dan tanya jawab, tujuan pembelajaran khusus dapat tercapai, tetapi terkadang guru terlalu cenderung ingin secepatnya menyampaikan materi pelajaran setelah satu satuan pelajaran selesai, kemudian dilanjutkan pada satuan pelajaran berikutnya.      
c.    Hasil tes formatif dapat diketahui langsung setelah kegiatan pembelajaran berlangsung, tetapi kadang-kadang tes formatif ini diartikan sebagai tes yang bertujuan untuk memberikan nilai semata.

3.2.  Analisis, Refleksi, Revisi  
Setelah memperhatikan hasil observasi pelaksanaan tindakan pertama yang telah diuraikan sebelumnya, maka dapat dikemukakan analisis dan refleksi sebagai berikut :

  1. Pelaksanaan penilaian awal yang difokuskan pada jawaban apersepsi yang sekiranya dijadikan bahan penilaian dan untuk mengetahui kemampuan siswa secara individu dalam penguasan materi sebelumnya kurang begitu mengena, karena guru menggunakan teknik secara lisan dan ditunjukkan satu persatu sehingga situasi dan kondisi pada saat itu menjadi riuh gaduh. Hal ini akan lebih baik apabila guru mempergunakan teknik pemindahan giliran. Tekniknya yaitu guru mengajukan pertanyaan kepada seluruh anggota kelas dan diberi waktu untuk berfikir, setelah itu guru menunjuk salah seorang siswa untuk memberikan jawaban yang sudah ditulis pada selembar kertas, demikian seterusnya sampai kepada lima orang siswa, kemudian sisanya dikumpulkan oleh Ketua Murid ( KM ). Dengan demikian guru dapat mempertinggi perhatian dan interaksi siswa, disamping itu waktu akan lebih efektif dan efisien.
  2. Agar penyajian materi pelajaran ini dapat menarik dan dapat diterima atau dipahami oleh siswa, guru hendaknya mempergunakan berbagai metoda dan teknik pengajaran. Sebagaimana yang diisyaratkan pada tujuan pembelajaran khusus harus benar-benar dipraktekkan dalam kegiatan pembelajaran. Penggunaan teknik ceramah, Tanya jawab, demonstrasi, curah pendapat yang digunakan oleh guru sudah tepat, tetapi hendaknya dalam menyampaikan materi pelajaran jangan terlalu dikejar target harus selesai dalam pertemuan tersebut. Guru harus pula memperhatikan kemampuan siswa. Maksudnya, berhasil tidaknya siswa dalam belajar tuntas sangat bergantung pada cepat lambatnya siswa dalam memahami materi pelajaran. Jika siswa mampu mengkonsentrasikan perhatiannya ketika kegiatan pembelajaran berlangsung, tentu siswa tersebut akan mampu memahami materi pelajaran. Sebaliknya apabila ketika kegiatan pembelajaran berlangsung siswa tidak mengikutinya dengan penuh perhatian, dapat dipastikan bahwa siswa tersebut tidak akan mampu menguasai pelajaran yang disajikan guru. Dalam hal ini lebih baik apabila guru berupaya semaksimal mungkin untuk menarik perhatian siswa, agar mereka dapat mempelajari dan menguasai materi pelajaran yang disajikan. Guru harus mempunyai dasar konsep bahwa setiap siswa di dalam kelas memiliki perbedaan individu seperti terlihat pada kegiatan demonstrasi di depan kelas ada beberapa orang siswa yang tepat menunjukkan batas-batas kabupaten tetapi ada juga yang tidak dapat, tetapi kalau ditanya dengan lisan cara menjawabnya bisa dengan tepat. Dengan demikian siswa yang cepat belajar dan siswa yang lambat belajar akan memperoleh perhatian dari guru sesuai dengan kebutuhannya.
  3. Menilai penguasaan materi pelajaran setelah siswa mempelajari pokok bahasan tertentu yaitu dengan tes formatif. Dari data tes formatif yang diperoleh guru hendaknya jangan hanya cukup mendapatkan angka-angka tersebut hanya untuk nilai formatif saja. Dalam strategi belajar tuntas, tes formatif ini janganlah diartikan sebagai tes yang bertujuan untuk memberikan nilai semata, karena perolehan nilai sebagai hasil tes formatif bukan merupakan tujuan akhir dari konsep belajar tuntas. Dan data tes formatif yang diselenggarakan setelah kegiatan pembelajaran dengan sub pokok bahasan " Wilayah Kabupaten ______ ", maka diperoleh gambaran bahwa adanya perbedaan tingkat penguasaan siswa terhadap materi tersebut. Tingkat penguasaan terhadap materi pelajaran tersebut dalam satu kelas hanya 66,8 %.

Dalam strategi belajar yang baik, apabila tes formatif ternyata semua siswa dalam satu kelas tidak mampu menjawab 75 % soal yang diberikan, maka guru harus mengadakan remedial teaching.
Berdasarkan hasil tes formatif dengan pokon bahasan " Wilayah Kabupaten ______ " yang hanya 66,8 % dalam satu kelas, maka guru harus mengadakan remedial teaching. Hal ini dipertegas lagi dengan hasil wawancara/ angket sebanyak 60 % siswa menyatakan kegiatan pembelajaran tersebut harus diulang.
Dalam strategi  penerapan model pembelajaran Data Base Monografi (DBM) tahapan yang paling akhir yang harus dilakukan oleh guru adalah menentukan keputusan akhir. Pengambilan keputusan akhir ini berkenaan dengan pertimbangan guru tentang telah tuntas atau belum tuntasnya siswa dalam mempelajari suatu materi pelajaran yang terdapat pada satuan pelajaran tersebut. Dari hasil tes formatif dengan sub pokok bahasan " Wilayah Kabupaten ______     " hanya 6 orang siswa yang menjawab 75 % soal yang diberikan, dan 13 orang siswa yang menjawab di bawah 75 %. Jadi dalam hal ini guru memutuskan bahwa 6 orang siswa melanjutkan dengan program pengayaan, dan 13 orang siswa mengikuti perbaikan.


BAB V
PENUTUP

A.     Kesimpulan

Berdasarkan analisis data dan pengujian hipotesis, maka kesimpulan yang dapat diambil dalam penelitian ini adalah :
Ada hubungan yang  positif dan signifikan antara   model pembelajaran Data Base Monografi (DBM) dengan hasil prestasi belajar IPS siswa  kelas VI SDN ______ Kecamatan ____ Kabupaten ____ Tahun Pelajaran ___/___ dengan koefisien korelasi 7,220, sehingga meningkatnya  prestasi belajar siswa akan sejalan dengan menurunnya prestasi belajar IPS siswa, begitu pula sebaliknya.
Ada hubungan yang positif dan signifikan antara  intensitias tinggi  pengajaran sistem  model pembelajaran Data Base Monografi (DBM) dalam penilaian hasil belajar IPS siswa dengan prestasi belajar IPS siswa kelas VI SDN ______ Kecamatan ____ Kabupaten ____ Tahun Pelajaran ___/___ dengan koefisien korelasi 0,268, sehingga meningkatnya  penilaian hasil belajar IPS siswa akan sejalan dengan meningkatnya prestasi belajar IPS siswa, begitu pula sebaliknya.

B.  Saran-Saran
Guru perlu memberikan rasa aman pada awal setiap tes IPS dan sebisa mungkin menyingkirkan unsur kejutan dari situasi tes  matematika dengan menjelaskan maksud dan tujuan  tes tersebut kepada siswa, serta memberikan beberapa contoh soal tes IPS sehingga tidak muncul hal yang tidak diharapkan dan tidak dikenal oleh siswa yang bisa menimbulkan rasa cemas pada siswa.
Orang tua perlu meningkatkan perhatian dalam penilaian hasil belajar  siswa agar prestasi belajar  IPS siswa dapat meningkat, hal tersebut meliputi perhatian pada : jadwal ulangan, pemberian tugas (PR) tambahan dari guru, kegiatan belajar siswa, nilai ulangan yang diperoleh siswa, pengambilan rapor, nilai rapor, pemberitahuan kesulitan belajar siswa oleh guru, pemberian motivasi, upaya mengatasi kesulitan belajar serta remidial dan pengayaan dari guru.







REFERENSI

Anastasi, A & Urbina, S. 1997. Tes Psikologi. (Terjemahan Robertus H. Imam). Jakarta Prenhallindo.
Dimyati Mahmud. 1989. Psikologi Pendidikan. Jakarta : Dirjen Dikti, Depdikbud.
Dirto Hadisusanto, dkk, 1995. Pengantar Ilmu Pendidikan. Yogyakarta : FIP IKIP Yogyakarta.
Drost, J. 2000. Data Base Monografi (DBM) Bagi Pengetahan Pengenalan Peta Wilayah. Jakarta : Penerbit Kompas.
Elida Prayitno. 1989. Motivasi dalam Belajar. Jakarta : Dirjen Dikti, Depdikbud.
Erman Suherman. 1993. Evaluasi Proses dan Hasil Belajar  IPS. Jakarta : Universitas Terbuka, Depdikbud.
Herman Hudojo. 1988. Mengajar Belajar   IPS. Jakarta : Depdikbud.
Safran, C. 1993. Cara untuk Membantu Anak Anda Mencapai Prestasi Lebih Baik. Dalam Mendidik Anak Volume II (p. 62-69). (Terjemahan Anton Adiwiyoto). Jakarta : Mitra Utama.
Saifuddin Azwar.1996. Tes Prestasi Fungsi dan Pengembangan Pengukuran Prestasi Belajar. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.
Sardjana, A. 2000. Materi-materi Rentan   Matematika SD dan Laboratorium Pendidikan  IPS. Dalam Seminar Nasional Pengembangan Pendidikan  FISIP di Era Globalisasi (p. 124-127). Yogyakarta : UNY

0 Response to "KUMPULAN PTK DAN PTS LENGKAP UNTUK SD, SMP ,SMA "

Post a Comment