Bola Tangkas

KUMPULA PENELITIAN TINDAKAN KELAS ( PTK ) AGAMA ISLAM 2014

PENGGUNAAN MEDIA ALAT PERAGA NASYID SEBAGAI PEMBELAJARAN INOVATIF GUNA MEMAHAMI KONSEP
AGAMA ISLAM POKOK BAHASAN KISAH PERJALANAN RASULULLOH 


BAB I
PENDAHULUAN


A.    Latar Belakang Masalah PTK  
Idealnya sistem pendidikan yang baik dan berkualitas apabila input (siswa) yang kurang memiliki ketrampilan, setelah diproses menjadi manusia yang mampu mengembangkan ketrampilannya dan kepribadiannya. Penyelenggaraan pendidikan nsional pada masa depan, pembangunan dan perbaikan sistem pendidikan seharusnya ditujukan pada aspek-aspek ; kurikulum, sarana prasarana pendidikan, klualitas tenaga kependidikan, menejemen pendidikan serta peran serta masyarakat.
Profesionalisasi tenaga kependidikan, terutama guru Agama Islam ternyata menuntut sejumlah persyaratan, antara lain memiliki kualifikasi pendidikan profesi yang memadai, memiliki kompetensi keilmuan sesuai dengan bidang yang ditekuni, berjiwa kreatif dan produktif, memiliki etos kerja yang tinggi, serta selalu mengembangkan diri (continous improvement), melalui organisasi profesi, internet, buku dan semacamnya. Dengan syarat ini, guru bukan lagi sebagai 'knowledge based' seperti yang sekarang ini dilakukan, tetapi lebih sebagai competency based, yang menekankan penguasaan konsep keilmuan secara optimal dan perekayasaan yang berdasarkan nilai-nilai etika dan moral. Sehingga kondisi pembelajaran di dalam kelas terjadi dua arah antara guru dan siswa.
Dengan profesionalisme, fungsi guru Agama Islam masa depan tidak lagi sebagai pengajar (teacher), melainkan sebagai pembimbing (conselor), atau sebagai pelatih (trainercoach), atau sebagai menejer (learning manager). Sebagai conselor, guru Agama Islam sekaligus sebagai sahabat siswa, sebagai anutan dan tauladan dalam kepribadian, sehingga terjalin simpati dan keakraban antar siswa dan guru yang tidak meninggalkan rasa hormat dan penghargannya. Murid dapat belajar dari perilaku guru tanpa harusa guru memerintahkan murid untuk mencontohnya. Interaksi ini akan tercapai apabila guru profesional mampu menggunakan metode pembelajaran yang tepat dan dapat menyampaikan pesan yang berkesan dan menyenangkan sehingga mengembangkan potensi masing-masing siswa. Sebagai pelatih, untuk bekerja keras, untuk mencapai prestasi yang setinggi-tingginya, serta membantu siswa untuk menghargai nilai belajar dan pengetahuan.
Telah diketahui oleh banyak orang, bahwa ternyata potensi yang dimiliki oleh otak setiap orang sungguh sangat luar biasa. Namun sangat disayangkan, bila potensi yang besar tersebut tidak bisa dimanfaatkan secara penuh (maksimal) oleh manusia. Konon orang secerdas Einstein saja baru bisa memanfaatkan potensi otaknya sebesar 20%. Lebih disayangkan lagi bahwa banyak diantara kita (guru Agama Islam  ) yang tidak mengerti dan tidak mengetahui bagaimana memanfaatkan dan memotivasi potensi yang terdapat dalam otak tersebut. Akibatnya potensi yang terpendam tersebut tidak dapat muncul dan tidak memiliki arti apa-apa. Parahnya, potensi otak tidak termotivasi, melainkan malah semakin terpendam dalam, dan terkait semakin rapat, sehingga potensi tidak mengaktual.
Metode pembelajaran dan suasana pengajaran yang digunakan oleh guru Agama Islam di sekolah-sekolah kebanyakan tidak membangun motivasi potensi otak, melainkan menghambat perkembangan potensi otak. Siswa memasuki ruang belajar bukan karena keterkaitan tetapi lebih dikarenakan keterkaitan peraturan dan jadwal yang ditetapkan. Suasana belajar yang diciptakan justru membuat siswa cepat merasa jenuh dan bosan. Peserta didik dipaksa mendengarkan dan menerima semua informasi dari guru dan harus menaati seluruh peraturan yang ditetapkan oleh sekolah. Tidak ada waktu dan kesempatan bagi siswa untuk mengungkapkan kreativitasnya dan mengembangkan pola berfikirnya sendiri. Bagi kebanyakan guru, semua siswa dianggap sama dalam segala hal. Pendekatan dan metode pembelajaran yang digunakan tidak ada variasi, dari hari ke hari selalu tetap. Karena guru berpandangan bahwa semua siswa adalah identik (sama), seragam seperti warna baju yang dikenakan, warna celana seragam dipakai, sepatu, bahkan buku yang digunakan. Semuanya serba seragam. Padahala sesungguhnya potensi siswa tidaklah sama dan seragam. Gaya belajar mereka, kemampuan mereka, bakat, dan bahkan psikososial mereka cukup bervariasi.
Budaya pembelajaran yang seperti begini pada gilirannya akan membentuk generasi pasif yang tidak memiliki keberanian berpendapat, lemah penalaran dan memiliki ketergantungan terhadap orang lain. mental seperti ini memiliki korelasi signifikan dengan budaya dan mental masyarakat secara luas. Yaitu mental masyarakat yang tidak mampu berfikir mandiri, lahir gaya pemimpin "mohon petunjuk".
Belajar akan berhasil manakala didukung penciptaan suasana dan lingkungan belajar yang menyenangkan. Siswa akan menikmati belajarnya dalam ruang belajar yang nyaman, sejuk dan menyenangkan. Dengan memanfaatkan pengaruh  nasyid misalnya untuk menata mental dan emosional spiritual Islami bagi siswa kelas III SDN _______  Kecamatan _____  Kabupaten _____   Tahun Pelajaran ___/____ untuk belajar.
Sampai saat ini, salah satu indikator ,untuk pendidikan Agama Islam, yaitu Nilai   Akhir Semester Sebagai ilustrasi, persentasi kualifikasi mutu SD pada tahun 2004 menunjukkan angka 9% masuk kategori sedang ( 5,5 - 6,5), dan 62,1% masuk kategori kurang atau kurang sekali ( kurang dari 5,5). Hal ini juga terlihat dalam Human Development Index (HDI) yang dipublikasikan oleh UNDP, yang menempatkan bangsa kita berada pada urutan ke-109 dari 173 negara di dunia. (Sii, 2001 : 71).
       Demikian halnya di kelas III SDN _______  Kecamatan _____  Kabupaten _____   Tahun Pelajaran ___/____, perolehan   Nilai Ujian Semester rata-rata untuk beberapa tahun terakhir ini tidak mengalami perubahan yang berarti. 
Kiranya beberapa terobosan baru perlu dicari. Kembali kepada profesionalisme guru Agama Islam , dan kreatifitas guru Agama Islam . Guru Agama Islam memegang peranan yang snagat penting untuk membangun minat belajar guna meningkatkan prestasi belajar  Agama Islam bagi siswa   kelas III SDN _______  Kecamatan _____  Kabupaten _____   Tahun Pelajaran ___/____. Terdorong oleh harapan ini dan beberapa masalah sebagaimana tersebut di atas, maka dipandang perlu untuk mengadakan penelitian : Pengaruh Penggunaan  Nasyid (lagu-lagu Islami)  Terhadap Perolehan Belajar  Agama Islam pokok bahasan kisah perjalanan Rasulullah pada siswa  kelas III SDN _______  Kecamatan _____  Kabupaten _____   Tahun Pelajaran ___/____.
Karena selama ini belum pernah dilakukan penelitian serupa yang dilakukan terhadap siswa  SD dalam mata pelajaran   Agama Islam .

B.     Rumusan Masalah PTK
Berdasarkan latar belakang masalah terszebut di atas, maka dapat dikemukakan rumusan masalah dalam penelitian ini sebagai berikut :
1.      Apakah ada perbedaan hasil belajar, pada pembelajaran dengan menggunakan nasyid (lagu-lagu bernafaskan Islami) dan pembelajaran tanpa menggunakan  nasyid (lagu-lagu bernafaskan Islami) terhadap materi bahasan  Agama Islam pokok bahasan kisah perjalanan Rasulullah ?
2.      Apakah ada perbedaan perolehan belajar siswa   kelas III SDN _______  Kecamatan _____  Kabupaten _____   Tahun Pelajaran ___/____ yang memiliki gaya belajar berbeda ?
3.      Apakah ada interaksi antara penggunaan  nasyid (lagu-lagu bernafaskan Islami, gaya belajar dengan perolehan belajar  Agama Islam pokok bahasan kisah perjalanan Rasulullah bagi siswa   kelas III SDN _______  Kecamatan _____  Kabupaten _____   Tahun Pelajaran ___/____ ?

C.    Hipotesis Penelitian Tindakan
Salah satu ciri dari penelitian kuantitatif ialah keberadaan hipotesis. Hipotesis diartikan sebagai jawaban sementara terhadap rumusan masalah penelitian. Rumusan masalah tersebut dapat berupa pertanyaan tentang hubungan dua variabel atau lebih, perbandingan (komparasi), atau variabel mandiri (Sugiyono, 1999 : 82). Dalam penelitian ini digunakan hipotesis Komparatif, yaitu hipotesis yang menunjukkan dugaan nilai dalam satu variabel atau lebih pada sampel yang berbeda. Adapun hipotesis penelitian ini disusun sebagai berikut :
1.      Terdapat perbedaan hasil belajar siswa kelas III SDN _______  Kecamatan _____  Kabupaten _____   Tahun Pelajaran ___/____secara signifikan, pada pembelajaran dengan menggunakan  nasyid (lagu-lagu bernafaskan Islami dengan yang tidak terhadap materi bahasan Agama Islam pokok bahasan kisah perjalanan Rasulullah .
2.      Terdapat perbedaan hasil belajar siswa   kelas III SDN _______  Kecamatan _____  Kabupaten _____   Tahun Pelajaran ___/____berdasarkan gaya belajarnya masing-masing dalam proses pembelajaran.
3.      Terdapat interaksi antara penggunaan  nasyid (lagu-lagu bernafaskan Islami, gaya belajar siswa dengan perolehan belajar siswa   kelas III SDN _______  Kecamatan _____  Kabupaten _____   Tahun Pelajaran ___/____

D.    Tujuan Penelitian Tindakan
Penelitian dilakukan berdasarkan rumusan masalah dan hipotesis tersebut diatas dengan tujuan :
1.      Untuk mengetahui signifikasi perbedaan perolehan belajar antara pembelajaran dengan menggunakan  nasyid (lagu-lagu bernafaskan Islami dan pembelajaran tanpa menggunakan  nasyid (lagu-lagu bernafaskan Islami terhadap materi bahasan Agama Islam pokok bahasan kisah perjalanan Rasulullah .
2.      Untuk mengetahui signifikasi perbedaan perolehan belajar berdasarkan gaya belajar siswa  kelas III SDN _______  Kecamatan _____  Kabupaten _____   Tahun Pelajaran ___/____.
3.      Untuk mengetahuin interaksi antara penggunaan  nasyid (lagu-lagu bernafaskan Islami ), gaya belajar dengan perolehan belajar siswa  kelas  kelas III SDN _______  Kecamatan _____  Kabupaten _____   Tahun Pelajaran ___/____.

E.     Manfaat Penelitian Tindakan
Hasil penelitian ini diharapkan dapat diaplikasikan dalam proses pembelajaran terutama untuk :
1.      Dapat membangkitkan motivasi dan minat belajar siswa dengan menciptakan kondisi belajar yang menggairahkan.
2.      Dapat mengembangkan strategi pembelajaran yang tepat berdasarkan karakteristik siswa terutama dalam gaya belajarnya.
3.      Dapat merancang pembelajaran yang disesuaikan dengan keberagaman siswa dalam ruang belajar sedemikian sehingga dapat meningkatkan hasil belajar siswa.




BAB II
KAJIAN PUSTAKA



A.    Konsep Belajar.
Belajar merupakan sebuah proses yang sangat mendasar dalam setiap penyelenggaraan pendidiklan. Oleh karenanya, keberhasilan pencapaian tujuan pendidikan tergantung pada proses belajar. Pemahaman yang benar tentang arti belajar mutlak diperlukan bagi para pendidik. Kesalahan persepsi terhadap proses belajar beserta hal-hal yang terkait mengakibatkan rendahnya kualitas pembelajaran yang pada akhirnya menyebabkan rendahnya prestasi siswa.
Sebagian orang beranggapan bahwa belajar semata-mata hanya menghafalkan fakta-fakta yang etrsaji dalam bentuk mata pelajaran. Orang yang beranggapan demikian akan merasa senang bila anak-anak dapat menyebutkan kembali informasi yang telah diajarkan guru. Sebagian yang lain, orang menganggap bahwa belajar merupakan latihan-latihan, seperti latihan membaca atau menulis. Orang akan merasa puas ketika siswa telah memiliki ketrampilan jasmaniah tertentu tanpa mengetahui arti, hakekat dan tujuan ketrampilan tersebut.
Belajar pada prinsipnya adalah perubahan tingkah laku yang relatif tetap sebagian akibat latihan. Belajar, ldan pengalaman merupakan faktor mendasar yang mempengaruhi perilaku organisma.
Skinner dalam Muhibbin Syah (2001:60), mendefinisikan belajar sebagai suatu proses adaptasi (penyesuaian tingkah laku) yang berlangsung secara progresif. Chaplin (1972) dalam Muhibbin Syah (2001:60), membatasi belajar dalam dua rumusan. Rumusan pertama berbunyi ……acquistion of any relatifely permanent change in behavior as a result of prestice and experience). (belajar adalah perolehan perubahan tingkah laku yang relatif menetap sebagai akibat latihan dan pengalaman).
Bertolak dari berbagai definisi yang telah diutarakan tadi, secara umum belajar dapat dipahami sebagai tahapan perubahan seluruh tingkah laku individu yang relatif tetap sebagai hasil pengalaman dan interaksi dengan lingkungan yang melibatkan proses kognitif.

B.     Teori-teori Belajar.
Beajar merupakan kegiatan, kegiatan berusaha, kegiatan berfikir, dan kegiatan memilih/menentukan, untuk mendapatkan pengetahuan, ketrampilan, dan sikap yang diharapkan. Kegiatan belajar dilakukan setiap makhluk hidup dalam taraf yang berbeda. Manusia melakukan kegiatan belajar dalam taraf yang sempurna melakukan kegiatan belajar kapan saja, dan dimana saja. Dalam keadaan yang khusus kegiatan belajar dilakukan pada lembaga-lembaga pendidikan formal.
Para ahli memberikan pendapatnya tentang belajar, bahwa dari belajar yang paling nampak jelas adalah hasil belajar, hasil belajarlah yang dapat diukur. Dari hasil pengukuran hasil belajar tersebut dapat diperkirakan proses-proses belajar dan faktor-faktor yang mempengaruhi belajar. Faktor-faktor yang mempengaruhi proses dan hasil belajar tergantung pada individu pelajar, bahan yang dipelajari dan lingkungan biotik maupun lingkungan abiotik.
Teori belajar bersumber dari dua pendapat, ialah pendapat dari Locke dengan teori behavioristik-elementaristik, dan penpadat dari Leibnitz dengan memandang manusia sebagai makhluk hidup yang dipengaruhi oleh rangsangan-rangsangan (stimulus) lingkungan. Dengan demikian kontrol tingkah laku manusia dapat dilakukan dengan mengontrol stimulus lingkungannya. Sedang teori kognitif-holistik memandang manusia sebagai makhluk hidup sumber kegiatan. Thorndike, Pavlov, Skinner adalah ahli-ahli pendidikan yang mengemukakan teorinya berdasarkan teori behavioristik-elementaristik. Ahli yang mengemukakan teorinya berdasarkan teori kognitif-holistik misalnya Koffka, Kohler dan Lewin. mEnurut mereka bahwa dalam perkembangannya, makhluk hidup selain dipengaruhi oleh stimuli dari luar juga aktif mencari dan menerima. (Sutara, 1986 :1.2).
a.      Beberapa Teori Behavioristik :
1.      Teori Koneksionisme
Teori koneksionisme dikemukakan oleh Thorndike, 1968. Menurut teori ini (dalam Mustaqim, 2001 : 49) belajar adalah pembentukan atau penguatan hubungan antara stimulus dan respon. Hubungan antara S dan R ini mempunyai beberapa hukum sebagai berikut :
a.      Law of Readness
-          Bila sudah ada "kecenderungan bertindak" lalu bertindak akan membawa kepuasan, dan tidak akan ada tindakan-tindakan lain untuk mengubah kondisi itu.
-          Bila sudah ada "kecenderungan bertindak" tetapi tidak bertindak akan menimbulkan ketidakpuasan. Hal ini akan menimbulkan respon lain untuk mengurangi ketidakpuasan.
-          Apabila belum ada "kecendrungan bertindak" dipaksa bertindak maka akan menimbulkan ketidakpuasan. Untuk menghilangkan ketidakpuasan tersebut muncul tindakan-tindakan lain.
b.      Law of Exercise atau Low of Use Law of Disuse.
Hubungan antara S dan R akan bertambah kuat bila sering digunakan (use) atau sering dilihat (exercise) dan akan berkurang bahkan lenyap sama sekali bila jarang atau bahkan tidak pernah digunakan.
c.       Law of Effect.
Hubungan S dan R akan bertambah kuat, bila hubungan tersebut akan diikuti oleh keadaan yang memuaskan dan sebaliknya (Mustaqim, 2001 : 50).
2.      Pavlovionisme
Peletak dasar aliran ini adalah Ivan Petrovitch Pavlov, seorang spesialis fisiologi. Ia sangat populer karena penelitiannya yang dikenal dengan istilah reflke bersyarat (conditioned reffex). Dalam percobaannya, anjing diberi makan yang sebelumnya dibunyikan metronom (lonceng). Selama metronom berbunyi 30 detik, terjadilah reflek mengeluarkan air liur. Percobaan diulang-ulang dalam selang 15 menit. Pada ulangan yang ke-32 metronom dibunyikan tanpa dihidangkan makanan. Ternyata air liur juga dikeluarkan. Hal ini menunjukkan bahwa pengeluaran air liur ketika mendengar lonceng terjadi berkat 'conditioning'.
Banyak kelakuan kita peroleh melalui conditioning, seperti masuk kelas ketika mendengar bunyi bel, berhenti di jalan ketika lampu merah. Namun banyak yang tidak kita pelajari dengan conditioning, seperti main bola, atau belajar naik sepeda, atau belajar  Agama Islam . (Nasution, 2000 : 133).

3.      Operant Conditioning
Teori Operant Conditioning dirintis oleh Burrhus Frederic Skinner. Menurut Skinner 'reiforcement' tidak merupakan hadiah atau "reward" melainkan berkat 'contingency' yakni bila suatu respons langsung didahului oleh suatu stimulus. Seterusnya respon itu dapat pula berfungsi sebagai stimulus bagi responden berikutnya seperti terdapat dalam pelajaran berprogram. Bagi Skinner, reinforment tidak berupa ganjaran atau kepuasan, akan tetapi hubungan yang erat dengan hal tertentu. Untuk itu harus disusun stimulus dan respons yang teratur. (Nasution, 2000 : 135).

4.      Contiguous Conditioning (Pembiasaan asosiasi dekat)
Teori belajar pembiasaan asosiasi dekat yang ditemukan oleh Edwin R Guthrie (1886 - 1959), adalah sebuah teori yang mengasumsikan terjadinya peristiwa belajar berdasarkan kedekatan hubungan antara stimulus dan respons yang relevan. Menurut teori ini, apa yang sesungguhnya dipelajari    adalah respons (reaksi) terakhir atas sebuah stimulus (rangsangan). Jadi peningkatan hasil belajar yang dicapai seorang siswa bukanlah hasil dari berbagai respons kompleks dari beberapa stimulus, melainkan karena dekatnya asosiasi antara stimulus dengan respon yang diperlukan. (Syah, 2001 : 91).
Dalam kenyataan sehari-hari acapkali terjadi peristiwa belajar Contiguous conditioning sederhana seperti : mengasosiasikan 2x3 dengan 6. Mengasosiasikan bulan Ramadhan dengan puasa, mengasosiasikan Tugu Monas dengan Jakarta.
5.      Teori Belajar Menurut Robert M. Gagne
Komponen dalam proses belajar mengajar digambarkan sebagai S-R. S adalah gambaran situasi yang memberi rangsangan ('stimulus'), dan R adalah tanggapan (respons) atas stimulus yang diterimanya. Antara stimulus dan respons membentuk hubungan yang erat melalui sistem syaraf. Stimulus merupakan input sedang respons merupakan aoutputnya. Robert M. Gagne membedakan 8 tipe belajar, yaitu :

1.      Signal learning (belajar isyarat)
2.      Stimulus Response Learing (belajar stimulus-respon)
3.      Chaining (merangkai)
4.      Verbal Association (asosiasi verbal)
5.      Discrimination leraning (belajar diskriminasi)
6.      Concept learning (belajar konsep)
7.      Rule learning (belajar aturan)
8.      Problem solving (memecahkan masalah).
b.      Teori belajar Kognitif-Hilistik :
Pendekatan kognitif lebih menekankan arti penting proses internal, mental manusia. Menurut pandangan para ahli kognitif, bahwa perilaku manusia yang tampak tidak dapat diukur tanpa melibatkan proses mental, seperti : motivasi, kesenjangan, keyakinan dll.



1.      Teori Gestalt.
Penelitian-penelitian Gestalt pada awal mulanya adalah dalam bidang persepsi, terutama penglihatan, kemudian disusun hukum gestalt dalam pengamatan.
Hukum Gestalt
a.       Hukum Pragnanz
Merupakan hukum umum yang menyatakan bahwa organisasi psikologis cenderung bergerak kearah keadaan Pragnanz (penuh arti). Kalau individu mengamati sekelompok obyek, maka dia akan mengamati dengan arti tertentu, artinya dia akan menyusun kesan pengamatannya sehingga obyek tersebut mempunyai arti baginya menurut ukuran tertentu. 
b.      Hukum Kesamaan (Law of Similarity) : Hal-hal yang sama cenderung membentuk Gestalt.
c.       Hukum keterdekatan (Law of Proximity) : Hal-hal yang  berdekatan cenderung membentuk Gestalt.
d.      Hukum Ketertutupan (Law of Closure) : Hal-hal yang tertutup cenderung membentuk Gestalt.
e.       Hukum Kontinuitas (Law of Continuation) : Hal-hal yang kontinu cenderung membentuk Gestalt.
Belajar yang sebenarnya selalu 'insightful learning' sehingga ketercapaian diidentifikasi dengan dimengertinya hal-hal yang dipelajari. Ciri-ciri instighfful learning adalah :
1.      Tergantung pada kemampuan dasar siswa.
2.      Tergantung pada pengaturan situasi yang dihadapi sehingga proses belajar berjalan lancar.
3.      Didahului oleh "trial and erorr" sebelum problem solving dilakukan.
4.      Pengertian untuk memecahkan masalah yang satu merupakan "transfer of training" untuk memecahkan masalah yang lain dengan situasi dan materi yang berlainan, sebab generalisasinya sama.


2.      Teori Medan (Lewin, 1942).
Teori Medan merupakan perkembangan khusus dari psikologi Gestalt oleh Kurt Lewin. Hal-hal yang baru yang ditambahkan oleh Lewin antara lain :
1.      Belajar adalah pengubahan struktur kognitif. Pemecahan masalah hanya dapat terjadi bila struktur kognitif diubah.
2.      Sarana motivasi, yakni hadiah dan hukuman. Keduanya merupakan sarana motivasi yang sangat berguna, namun perlu supervisi yang memadai. (Sutara, 1986 : 1.8).
Meskipun teori ini bertentangan dengan faham behavioristik, bukan berarti teori kognitif anti terhadap aliran behaviorisme. Hanya menurut teori cognitif, behaviorisme mengesampingkan (tidak mempedulikan) ranah rasa. Dalam perspektif kognitif, belajar pada dasarnya adalah proses mental, bukan peristiwa behavior (bersifat jasmaniah) meskipun hal-hal yang bersifat behavioral lebih tampak nyata dalam hampir setiap peristiwa belajar siswa.
Diantara keyakinan prinsipal teori behavioristik ialah setiap anak manusia lahir tanpa waroisan kecerdasan, bakat, perasaan, dan warisan abstrak lainnya. Semua kecakapan, kecerdasan, dan perasaan baru timbul setelah manusia melakukan kotrak dengan alam sekitar, terutama alam pendidikan. Artinya, seorang individu bisa pintar, terampil dan berperasaan hanya bergantung pada bagaimana individu itu dididik.
Keyakinan kedua, bahwa peranan "refleks", yakni reaksi jasmaniah yang dianggap tidak memerlukan kesadaran mental. Apapun yang dilakukan manusia termasuk kegiatan belajar adalah kegiatan refleks belaka. Reflek merupakan reaksi atas rangsangan-rangsangan yang diterima manusia. Bila refleks-refleks ini dilatih secara efektif maka akan menjadi ketrampilan dan kebiasaan yang dikuasai manusia.
Dalam perspektif kognitif, setiap siswa lahir dengan bakat dan kemampuan mentalnya sendiri-sendiri. Faktor genetik ini memungkinkan siswa untuk merespons atau tidak merespons terhadap stimulus, sehingga belajar tidak bersifat otomatis seperti robot.
Peristiwa belajar seperti yang digambarkan dalam pandangan behavioristik menurut aliran kognitif adalah naif. (terlalu sederhana dan tidak masuk akal) dan sulit dipertanggungjawabkan. Tidak dipungkiri, bahwa kebiasaan pada umumnya berpengaruh terhadap kegiatan belajar siswa. Gerakan tangan dan goresan pena yang dilakukan siswa demikian lancarnya dikarenakan terbiasa menulis sejak lama. Namun yang harus diingat, bahwa sebelum siswa menulis dengan cara yang biasa, tentu terlebih dahulu siswa membuat keputusan. Keputusan tersebut tentu bukan peristiwa behavioristik, melainkan peristiwa mental itu sendiri.
Dalam pandangan kognitif, kebiasaan dapat ditiadakan oleh kemauan siswa itu sendiri. Contohnya siswa yang terbiasa belajar sambil makan permen ketika tiba bulan Ramadhan tidak mengunyah permen karena melakukan puasa. Kemauan siswa tersebut bukanlah perilaku behavioristik, melainkan peristiwa mental. (Syah, 2001:94).
Dari uraian di atas, bahwa perilaku belajar dalam hampir semua bentuk dan manifestasinya bukan sekedar peristiwa "stimulus-respons", melainkan lebih banyak melibatkan proses kognitif.
3.      Quantum Learning.
Metode belajar Quantum didasari oleh usaha-usaha Dr. Georgi Lozanov. Lozanov adalah bapak konsep belajar cepat, seorang pendidik berkebangsaan Bulgaria. Konsep belajarnya berpijak dari apa yang disebutnya dengan "suggestology" atau "suggestopedia". Prinsipnya, bahwa sugesti dapat dan pasti mempengaruhi hasil situasi dan setiap detail apa pun memberikan sugesti positif atau negatif. Beberapa teknik yang digunakannya untuk memberikan sugesti positif ialah dengan mendudukkan siswa secara nyaman, memasang nasyid (lagu-lagu bernafaskan Islami) latar di dalam kelas, meningkatkan partisipasi individu, menggunakan poster-poster untuk memberi kesan besar sambil menonjolkan informasi, dan menyediakan guru-guru yang terlatih baik dalam seni pengajaran sugestif. (De Porter, 2000:14).
Suggestology atau suggestopedia dipersamakan dengan upaya "pemercepatan belajar" (accelerated learning). Usaha mempercepat belajar ini memberi kemungkinan siswa belajar dengan kecepatan yang mengesankan dengan usaha yang normal disertai dengan kegembiraan. Cara ini mengkombinasikan unsur-unsur hiburan, permainan, warna, cara berfikir positif, kebugaran fisik, dan kesehatan emosional. Interaksi unsur-unsur tersebut akan menghasilkan pengalaman belajar yang efektif. Quantum Learning mencakup aspek neurolinguistik, yaitu penelitian bagaiaman otak mengatur informasi. Guru yang memiliki pengetahuan neurolinguistik dapat memilih bahasa yang paling tepat untuk merangsang fungsi otak secara efektif. Unsur-unsur yang mendukung percepatan belajar digambarkan seperti berikut :









Gambar 1 : Unsur-unsur yang mendukung pemercepatan belajar, (dikutip dari Quantum Learning hal. 15)

Quantum Learning menggabungkan suggestologi, teknik pemecahan belajar dan Neurolinguistik Programs dengan teori-teori :
-       Teori otak kanan/kiri
-       Teori otak triune ( 3 in 1).
-       Pilihan Modalitas (visual, auditorial, kinestetik).
-       Teori kecerdasan ganda
-       Pendidikan menyeluruh (holistik).
-       Belajar berdasarkan pengalaman
-       Belajar dengan simbol
-       Simulas/permainan (De Porter, 200 : 16).

C.    Hasil belajar.
Meskipun belajar diartikan sebagai perubahan tingkah laku, namun tidak semua perubahan tingkah laku dianggap sebagai belajar. Perubahan tingkah laku karena belajar memiliki ciri-ciri tertentu.
Menurut M. Surya (1982), ciri-ciri peerubahan khas yang menjadi karakteristik perilaku belajar yang penting adalah :
1.      Perubahan itu intensional.
2.      Perubahan itu positif dan aktif.
3.      Perubahan itu efektif dan fungsional
1.      Perubahan Intensional.
Perubahan yang terjadi dalam proses belajar merupakan akibat dari kegiatan yang dilakukan dengan sengaja dan disadari. Berarti perubahan ini terjadi bukan secara kebetulan. Konotasinya, bahwa siswa menyadari perubahan ini, atau merasakan adanya perubahan dalam diri siswa, seperti perubahan sikap, kebiasaan, merasakan adanya penambahan pengetahuan dan ketrampilan, dan sebagainya.
Perubahan yang disadari dapat diarahkan ketercapaiannya pada tujuan yang ditetapkan. Misalnya, jika siswa belajar biologi, diharapkan siswa memiliki pengetahuan tentang makhluk hidup.

2.      Perubahan Positif - Aktif.
Perubahan positif artinya, perubahan ini adalah baik, bermanfaat dan sesuai dengan yang dikehendaki. Dengan adanya perubahan ini siswa menyadari adanya penambahan yang bersifat baru, yang bersifat lebih baik dari apa yang diketahui atau dimiliki sebelumnya. Perubahan aktif berarti perubahan tidak terjadi dengan sendirinya, melainkan melalui proses latihan, usaha dari diri sendiri. Misalnya bayi dapat merangkak setelah bisa duduk.
3.      Perubahan Efektif - Fungsional.
Perubahan bersifat efektif dalam belajar mengandung arti, bahwa perubahan itu berhasil guna, memberi manfaat, pengaruh dan makna tertentu bagi siswa. Perubahan fungsional berarti perubahan tersebut bersifat relatif permanen, menetap, setiap saat apabila dikehendaki perubahan tersebut dapat resproduksi kembali dan dimanfaatkan.
Perwujudan perilaku belajar sering tampak pada perubahan-perubahan sebagai berikut : 1) Kebiasaan, 2) ketrampilan, 3) pengamatan, 4) berfikir asosiatif, 5) berfikir rasional dan kritis, 6) sikap, 7) inhibisi, 8) apresiasi, 9) tingkah laku efektif. (Syah, 2001 : 108).
Kebiasaan,  seperti siswa belajar bahasa berkali-kali menghindari kecenderungan penggunaan latar dan struktur yang keliru, sehingga akhirnya terbiasa berbahasa yang baik dan benar.
Ketrampilan, seperti menulis dan berolahraga yang meskipun bersifat motorik, namun ketrampilan-ketrampilan tersebut memerlukan koordinasi gerak yang teliti dan penuh kesadaran.
Pengamatan,  yakni proses menerima, menafsirkan, dan memberi arti stimulus yang masuk melalui indera-indera secara obyektif sehingga siswa mencapai pengertian yang benar.
Berfikir asosiasi, yakni berfikir dengan cara mengasosiasikan sesuatu dengan lainnya dengan menggunakan daya ingat.
Berfikir Rasional dan kritis, yakni menggunakan prinsip-prinsip dan dasar-dasar pengertian dalam menjawab pertanyaan kritis seperti "bagaimana" dan "mengapa".
Sikap, yaitu kecenderungan yang relatif menetap untuk berreaksi dengan cara baik atau buruk terhadap orang atau barang tertentu sesuai dengan pengetahuan dan keyakinan.
Inhibisi, menghindari hal-hal yang mubazir.
Apresiasi, menghargai karya-karya yang bermutu
Perilaku Efektif, yakni perilaku yang berkaitan dngan perasaan takut, marah, sedih, kecewa, senang, benci, was-was dan sebagainya sesuai dengan pengetahuan dan keyakinan siswa.

D.    Faktor-faktor yang mempengaruhi belajar.
Belajar merupakan usaha menggunakan setiap sarana atau sumber, baik di dalam maupun diluar pranata pendidikan, guna perkembangan dan pertumbuhan pribadi (Sudarmanto, 1993 : 2). Pengertian belajar ini dalam arti luas berarti tidak hanya berkaitan dengan ranah kognitif sebagaimana pengertioan Bloom, melainkan menyangkut ranah kognitif, efektif, dan psikomotor.
Suharsimi Arikunto (1993) dalam bukunya "Manajemen Pengajaran Secara Manusiawi" memandang ada dua faktor yang mempengarhui hasil belajar, yakni faktor yang bersumber dari dalam diri manusia dan faktor yang bersumber dari luar diri manusia. Hubungan kedua faktor tersebut dengan hasil belajar digambarkan sebagai berikut :



Prestasi  Belajar
 
Faktor eksternal
Manusia :         Di keluarga
            Di sekolah
            Di masyarakat
Non manusia : Udara
            Suara
            Aroma
 
Faktor Internal :
Biologis   :  Usia
       Kematangan
       Kesehatan
Psikologis : Minat
       Motivasi
      Suasana hati
 







Gambar

Hubungan antara faktor internal dan faktor eksternal dengan hasil belajar.

Secara umum, kegiatan belajar dipengaruhi oleh 3 macam faktor, yaitu :
1.      Faktor internal (faktor dari dalam diri siswa), yakni keadaan/kondisi jasmani dan rohani siswa.
2.      Faktor eksternal (faktor dari luar diri siswa), yakni kondisi lingkungan di sekitar siswa.
3.      Faktor pendekatan belajar (approach to learning), yakni jenis upaya belajar yang meliputi strategi dan metode yang digunakan untuk kegiatan pembelajaran.

           Karena fraktor-faktor tersebut diatas, maka kemudian muncul siswa-siswa yang high-acheivers (prestasi tinggi) dan siswa under-acheivers (prestasi rendah) atau bahkan gagal sama sekali. Fungsi guru adalah mengantisipasi kemungkinan-kemungkinan munculnya siswa yang mengalami kegagalan dalam belajar.
a.      Faktor-faktor Internal Siswa
Faktor dari dalam diri siswa (internal) meliputi dua aspek, yakni 1) aspek fisiologis (jasmaniah) dan 2) aspek psikologis (rohaniah).

Aspek Fisiologis

Kondisi kesehatan sangat besar pengaruhnya terhadap kemampuan siswa dalam menyerap informasi. Kondisi organ tubuh yang lemah dapat menurunkan kualitas ranah cipta (kognitif) sehingga materi yang dipelajarinya kurang atau tidak berbekas.
Keadaan organ-organ khusus, seperti kesehatan indera pendengar dan indera penglihatan juga sangat mempengaruhi daya serap siswa terhadap informasi dan pengetahuan. Gangguan sistem pendengaran dan penglihatan akan menyulitkan sensori register dalam menyerap item-item yang bersifat echoic dan echonic (gema dan citra).

Aspek Psikologis
Banyak faktor psikologis yang mempengaruhi perolehan pembelajaran siswa. Beberapa faktor yang dianggap esensial antara lain : 1) tingkat kecerdasan, 2) sikap siswa, 3) bakat siswa, 4) minat siswa, 5) motivasi siswa.
1.      Kecerdasan Siswa
Menurut Garder, sebagaimana yang dikutip oleh Kak Seto dalam buku “Membuka Masa Depan Anak-anak Kita” (Sindhunata, 2000 : 88) bahwa kecerdasan seseorang meliputi : kecerdasan  logika, kecerdasan bahasa, kecerdasan musical, kecerdasan visual spasial, kecerdasan kinestetik, kecerdasan interpersonal, kecerdasan intrapersonal, dan kecerdasan naturalis.
Kecerdasan logika
Memuat kemampuan dalam berfikir secara induktif dan deduktif menurut aturan logika, memahami dan menganalisis pola-pola angka serta memecahkan masalah kegiatan berhitung berfikir. Anak semacam ini cenderung menyukai kegiatan berhitung dan memiliki kecepatan tinggi dalam menyelesaikan problema  Agama Islam .
Kecerdasan Bahasa
Menurut kemampuan seseorang dalam menggunakan bahasa dan kata-kata, baik secara lisan maupun tulisan untuk mengekspresikan gagasan-gagasannya. Siswa yang memiliki kecerdasan bahasa cenderung suka menulis karangan, membuat puisi, menulis kata-kata mutiara. Siswa ini juga memiliki daya ingat yang tinggi terutama dalam mengingat nama-nama orang atau istilah-istilah baru.
Kecerdasan Musikal
Memuat kemampuan seseorang untuk peka terhadap suara-suara nonverbal yang berada di sekelilingnya, termasuk dalam hal ini adalah nada dan irama. Siswa jenis ini cenderung senang mendengarkan irama yang yang indah, entah melalui senandung, mendengarkan kaset, radio atau alat-alat musik. Mereka juga lebih mudah mengingat sesuatu dan mengekspresikan gagasan-gagasan apabila dikaitkan dengan musik.
Kecerdasan Visual-spasial
Memuat kemampuan seseorang untuk mema-hami secara lebih mendalam hubungan antara obyek dan ruang. Anak ini memiliki kemampuan untuk menciptakan imajinasi bentuk-bentuk tiga dimensi, seperti yang tampak pada pemahat dan arsitektur.
Kecerdasan Kinestetik
Memuat kemampuan seseorang untuk secara aktif menggunakan bagian-bagian tubuh untuk berkomunikasi dan memecahkan masalah. Hal ini dapat dijumpai pada anak-anak yang unggul dalam olahraga.
Kecerdasan Interpersonal
Menunjukkan kemampuan seseorang untuk peka terhadap perasaan orang lain. Mereka cenderung memahami dan berinteraksi dengan orang lain, sehingga mudah bersosialisasi dengan lingkungan sekelilingnya. Kecerdasan interpersonal sering juga disebut kecerdasan sosial. Anak yang memiliki kecerdasan sosial lebih akrab dengan teman dan pandai memimpin.
Kecerdasan Intrapersonal
Menunjukkan kemampuan seseorang untuk peka terhadap dirinya sendiri. Ia lebih mampu memahami potensi dan kekurangan yang ada pada dirinya. Anak intrapersonal senantiasa melakukan introspeksi untuk memperbaiki diri. Mereka cenderung menyukai kesunyian.

Kecerdasan Natural
Ialah kemampuan seseorang untuk peka terhadap lingkungan alam. Ia senang berada pada alam terbuka. Anak ini memiliki kemampuan mengobservasi alam terbuka.
Jadi intelegensi atau kecerdasan, sebenarnya bukan persoalan kualitas otak saja, melainkan juga kualitas organ-organ tubuh lainnya. Akan tetapi, memang harus diakui bahwa peran otak dalam hubungannya dengan intelegensi manusia lebih menonjol daripada peran bagian-bagian tubuh yang lain, lantaran otak merupakan “menara pengontrol” hampir seluruh aktivitas manusia.
Serebrum (otak besar) dapat dipetakan karena setiap bagian dikaitkan dengan suatu fungsi tertentu. Suatu pendapat meyakinkan bahwa serebrum kanan dan serebrum kiri memiliki kekuatan tertentu. Sebelah kiri dikatakan memiliki kemampuan lebih baik untuk percakapan, logic, kuantitatif dan pemikiran analisis, sementara serebrum sebelah kanan lebih mengarah kepada penglihatan dan ruang, dan membenarkan ekspresi seni dan musik, emosi dan kreatif. Kekuatan serebrum satu orang dengan orang lain tidak sama. (Mader, 1995 : 18).
Proses berfikir otak kiri bersifat logis, sekuensial, linear, dan rasional. Sisi ini sangat teratur, walaupun berdasarkan realitas, ia mampu melakukan penafsiran abstrak dan simbolis. Cara berfikirnya sesuai untuk tugas-tugas teratur ekspresi verbal, menulis, membaca, asosiasi auditorial. Sedang cara berfikir otak kanan bersifat acak, tidak teratur, intuitif, dan holistic. Cara berfikirnya sesuai dengan cara-cara untuk mengetahui yang bersifat nonverbal, seperti perasaan dan emosi, kesadaran spasial, pengetahuan bentuk dan pola, musik, seni, kepekaan warna, kreativitas dan visualisasi. (De Porter, 2000 : 38).

2.      Sikap Siswa
Sikap adalah gejala internal yang berdimensi afektif berupa kecenderungan untuk mereaksi atau merespons (respons tendency) dengan cara yang relatif tetap terhadap obyek orang, barang, dan sebagainya, baik secara positif maupun secara negatif (Syah, 2000 : 135).
Sikap siswa yang positif terutama kepada mata pelajaran yang disajikan merupakan pertanda awal yang baik bagi proses belajar siswa. Sebaliknya sikap negatif siswa apalagi jika disertai kebencian terhadap mata pelajaran yang disajikan dapat menimbulkan kesulitan belajar bagi siswa tersebut.
3.      Bakat Siswa
Bakat (aptitude) adalah kemampuan potensial yang dimiliki seseorang untuk mencapai keberhasilan pada masa yang akan datang. Dengan demikian setiap orang pasti memiliki bakat tertentu dalam arti berpotensi untuk mencapai prestasi sampai tingkat tertentu sesuai dengan kapasitas masing-masing. Bakat akan mempengaruhi tinggi rendahnya prestasi belajar bidang-bidang studi tertentu.
Dalam perkembangan selanjutnya bakat diartikan sebagai kemampuan individu untuk melakukan tugas tertentu tanpa banyak bergantung pada upaya pendidikan dan latihan. (Syah, 2000 : 135).
4.      Minat Siswa
Minat (interest) berarti kecenderungan dan kegairahan yang tinggi atau keinginan yang besar terhadap sesuatu. Minat sangat mempengaruhi kualitas pencapaian hasil belajar siswa dalam bidang-bidang studi tertentu.
5.      Motivasi Siswa
Pengertian dasar motivasi ialah keadaan internal organisme yang mendorong untuk berbuat sesuatu. Motivasi akan mendorong melakukan tindakan belajar.
Motivasi dapat dibedakan atas dua, yakni motivasi ekstrinsik (motivasi dari luar diri siswa) dan motivasi intrinsic (motivasi dari dalam diri siswa). Pujian, hadiah, peraturan/tata tertib, suri tauladan, merupakan contoh konkrit motivasi ekstrinsik. Termasuk dalam motivasi intrinsic adalah perasaan menyenangi materi pelajaran.
Selain faktor-faktor internal seperti tersebut di atas, pada setiap individu terdapat potensi khusus yang besar sekali pengeruhnya terhadap kegiatan dan hasil belajar, yakni “gaya belajar” siswa. Prof. DR. Robert Sternberg, professor Psikologi pendidikan Universitas Yale, menyebut dengan “Gaya Mengatur” yaitu cara yang disukai siswa dalam menggunakan kecerdasan mereka. (Dryden, 2001 : 365).
Diidentifikasi, ada tiga macam gaya belajar, yakni gaya belajar Visual, Auditorial, dan Kinestetik.
Visual : potensi ini mengakses citra visual, yang diciptakan maupun diingat. Orang visual mungkin bercirikan sebagai berikut :
-          Teratur, memperhatikan segala sesuatu, menjaga penampilan.
-          Mengingat dengan gambar, lebih suka membaca daripada dibacakan.
-          Biasanya posisi duduk tegak dan mengikuti penyaji dengan matanya.
Auditorial : modalitas ini mengakses segala jenis bunyi dan kata. Musik, nada, irama, rima dan dialog internal sangat menonjol pada orang tipe ini. Orang yang sangat auditorial mungkin memiliki ciri-ciri sebagai berikut :
-          Perhatiannya mudah terpecah.
-          Berbicara dengan pola berirama.
-          Belajar dengan mendengarkan, saat membaca bersuara atau menggerakan bibir.
-          Sering mengulang kata yang diucapkan penyaji secara perlahan-lahan atau menganggukkan kepala saat fasilitator menyajikan informasi lisan.
Kinestetik : Modalitas ini mengakses segala jenis gerak dan emosi diciptakan maupun diingat. Gerakan, koordinasi, irama, tanggapan emosional, dan kenyamanan fisik snagat menonjol. Seseorang yang sangat kinestetik umumnya memiliki ciri-ciri sebagai berikut :
-          Menyentuh orang dan berdiri berdekatan, banyak bergerak.
-          Belajar dengan menunjuk tulisan saat membaca.
-          Mengingat sambil berjalan dan melihat.
Bagaimana mengetahui gaya belajar hanya dengan melihat ? Ahli NLP (Neuro Linguistic Programming) menyatakan bahwa mereka sering mengetahui gaya belajar yang disukai murid dengan memperhatikan gerakan mata dan mendengarkan pembicaraan mereka.
1.      Seorang siswa yang duduk tegak dan melihat lurus ke depan, atau yang matanya memandang ke atas menerima informasi, dan jika bicara cepat, biasanya seorang pelajar Visual.
2.      Seorang murid yang melihat ke kiri ke kanan saat menerima informasi, atau melihat ke bawah, ke sisi berlawanannya, mungkin seorang pelajar yang auditorial. Ia biasanya akan bicara dengan suara yang berirama.
3.      Seorang murid yang tidak kidal yang banyak bergerak, memandang ke kanan dan kebawah saat menerima dan menyimpan informasi, dan seorang pembicara yang lambat, mungkin adalah seorang pelajar yang kinestetik.

Ilustrasi diatas diambil dari sebuah kaset bergambar Teaching to Modality Sirengths : A Common Sense to Learning, oleh Walter B. Burbe dan Raymond H. Swasing. (Dryden, 2001 : 362).
Menurut Jeannette Vos (2001) dalam bukunya “The Learning Revolution” bahwa bahasa tubuh menunjukkan gaya belajarnya.
Seorang pelajar visual, biasanya duduk tegak dan mengikuti penyaji dengan matanya.
Seorang pelajar auditorial, sering mengulang dengan lembut kata-kata yang diucapkan penyaji, atau sering menganggukkan kepalanya saat fasilitator menyajikan informasi lisan. Pelajar tipe ini sering “memainkan sebuah kaset dalam kepalanya” saat ia mencoba mengingat informasi. Jadi, mungkin ia akan memandang ke atas saat ia melakukannya.
Seorang pelajar kinestetik, sering menunduk saat ia mendengarkan.
Sebagian pelajar mungkin memiliki gaya belajar yang sama dengan gaya belajar yang dimiliki oleh guru, tetapi mungkin juga banyak yang tidak sama. Bagi mereka yang modalitas belajarnya tidak sama dengan guru, kemunkinan tidak akan dapat menangkap semua yang diajarkan atau akan menghadapi tantangan yang lebih besar dalam mempelajari bahan. Tugas dan peran guru adalah bagaimana dapat menjangkau dan melibatkan semua siswa dengan modalitas (gaya belajar) yang berbeda dan melakukannya secara konsisten.
Meskipun cara belajar dan mengajar kita mencermikan kecenderungan modalitas kita, penelitian menunjukkan bahwa semakin banyak modalitas yang kita libatkan secara bersamaan, belajar akan semakin hidup, berarti, dan melekat. (De Porter, 2000 : 86).
b.      Faktor Eksternal Siswa
Selain faktor dalam diri siswa sendiri, lingkungan juga besar pengaruhnya dalam membentuk kualitas pembelajaran. Lingkungan adalah segala sesuatu yang berada disekitar individu. Ada dua macam faktor eksternal, yakni lingkungan sosial dan lingkungan non sosial. (Syah, 2000 : 138).
Lingkungan Sosial
Lingkungan sosial sekolah guru, para staf administrasi dan teman-teman sekolah terutama teman-teman sekelas dapat mempengaruhi semangat belajar. Para guru yang selalu menunjukkan sikap yang simpatik dan memperhatikan suri teladan yang baik serta rajin dapat menjadi daya dorong yang positif bagi kegiatan belajar siswa.
Lingkungan sosial yang lebih banyak mempengaruhi kegiatan belajar ialah orang tua, dan keluarga siswa itu sendiri. Sifat-sifat orang tua, praktek pengelolaan keluarga, ketegangan keluarga, dan demografi keluarga (letak rumah), semuanya dapat memberi dampak yang positif atau yang negatif terhadap kegiatan belajar dan hasil yang dicapai siswa. Pengelolaan keluarga (family management practices) yang keliru akan menimbulkan dampak yang buruk, bukan hanya anak tidak suka belajar, lebih parah lagi anak akan berperilaku menyimpang.
Orang tua memegang peranan sebagai perantara atau mediator antara anak dengan orang dewasa. Orang tua memperkenalkan anak dengan kehidupan masyarakat, dan sebaliknya memperkenalkan anak dengan kehidupan masyarakan, dan sebaliknya memperkenalkan masyarakat kepada anak. (Soelaiman, 1994 : 27).
Kondisi masyarakat di lingkungan kumuh (slum area) yang serba kekurangan dan anak-anak pengangguran akan membentuk aktivitas belajar yang kurang baik, paling tidak anak akan mengalami kesulitan belajar dan kesulitan dalam komunikasi dengan teman sekelas dan orang lain.
Lingkungan non Sosial
Faktor-faktor lingkungan non sosial menurut Bobby de porter (2000), dalam “Quantum Teaching” yang ditata mendukung belajar dapat memacu belajar dan meningkatkan daya ingat siswa.
1.      Penggunaan Warna
Otak berfikir dalam warna (de Porter, 2000 : 69). Penggunaan warna-warna yang cerah seperti merah, ungu, hijau, biru, untuk memberi tanda kata-kata yang penting atau warna jingga atau kuning untuk menggarisbawahi dapat membang-kitkan perhatian dan minat belajar siswa.
Studi ekperimental telah menunjukkan bahwa kebanyakan orang menyukai warna merah dari pada warna-warna lainnya. Warna ungu gelap adalah warna yang paling tidak disukai oleh kedua jenis kelamin. Warna merah paling disukai karena padanya terkandung kualitas-kualitas cerah dan merangsang, sedang warna ungu tidak disukai karena mengandung kesan membosankan dan menekan. Selain warna biru dan hijau sangat digemari untuk menata ruangan karena kedua warna tersebut atau kombinasinya memberi kesan menyejukkan. (Adimihardja, 1984 : 54).
2.      Pengaturan Bangku
Cara menata bangku memainkan peran penting dalam pengorkrestasian belajar. Di sebagian ruang kelas, bangku siswa dapat ditata untuk mendukung tujuan belajar bagi pelajaran apapun yang diberikan. Bangku ditata untuk memudahkan jenis interaksi yang dibutuhkan. Susunan bangku yang tak dapat diubah-ubah menimbulkan sedikit tantangan. Atau jika tidak mengubah susunan bangku, posisi duduk siswa dapat diubah untuk mengatur interaksi yang dibutuhkan. Misalnya posisi duduk membalik ke belakang sehingga duduk berhadapan dengan teman dibelakangnya untuk metode pembelajaran kelompok kecil. (De Porter, 2000 : 80).
3.      Aroma
Aroma wangi memiliki banyak kaitannya dengan kesuksesan . karena kaitan antara indera pencium dengan sistem syaraf otonom sangat kuat. Apa yang kita cium memicu respons seperti kecemasan, kelaparan, ketenangan, depresi, dan seksualitas. Daerah penciuman merupakan reseptor bagi endorfin yang memerintahkan tanggapan tubuh untuk menjadi merasa senang dan sejahtera. Penyemprotan sedikit aroma dalam ruang kelas akan dapat meningkatkan kemampuan berfikir dan kewaspadaan mental. (De Porter, 2000 : 72).
4.       Nasyid (lagu-lagu bernafaskan Islami)
Revolusi multimedia memiliki potensi yang besar bagi  nasyid (lagu-lagu bernafaskan Islami) untuk menunjang proses belajar ( Al Huda, 2001 : 336).  Nasyid (lagu-lagu bernafaskan Islami) membawa suasana yang positif dan santai bagi banyak kelas, juga memungkinkan integrasi indera yang diperlukan untuk ingatan jangka panjang.  Nasyid (lagu-lagu bernafaskan Islami) berfungsi juga sebagai latar belakang dalam sejumlah ruang kelas untuk meredam bunyi-bunyi industri atau lalu-lintas, dan  nasyid (lagu-lagu bernafaskan Islami) dapat digunakan secara berhasil untuk menimbulkan kegairahan melepaskan stress sebelum ujian, dan untuk memperkuat pokok bahasan. ( Syiriaty Misbah, 2001 : 220).
 Nasyid (lagu-lagu bernafaskan Islami) berpengaruh pada guru Agama Islam dan pelajar.   Nasyid (lagu-lagu bernafaskan Islami) dapat menata suasana hati, mengubah keadaan mental siswa, dan mendukung lingkungan belajar.  Nasyid (lagu-lagu bernafaskan Islami) membantu pelajar bekerja lebih baik dan mengingat lebih banyak.  Nasyid (lagu-lagu bernafaskan Islami) merangsang, meremajakan dan memperkuat belajar, baik secara sadar maupun tidak sadar. Disamping itu, kebanyakan siswa memang mencintai  nasyid (lagu-lagu bernafaskan Islami) . (De Porter, 2000 : 73).
Bulgarian Academy of Seientist dan Sofia Medical Institutes, dimana Lozanov melanjutkan penelitiannya, ia menemukan bahwa nasyid (lagu-lagu bernafaskan Islami) Barok yang lambat dapat membawa para murid kedalam keadaan santai namun waspada dan lebih efektif ketimbang belajar yang  ditimbulkan oleh tidur untuk memperoleh hasil optimal. Lozanov menemukan bahwa nasyid (lagu-lagu bernafaskan Islami) yang terbaik untuk belajar adalah nasyid (lagu-lagu bernafaskan Islami) biola dan instrumen-instrumen gesek lainnya yang kaya akan nada-nada harmonis tinggi dan berdenyut pada enam puluh empat ketukan per menit. Subyek-subyek belajar dalam sepersekian waktu normal untuk menyelesaikan tugas-tugas rumit. (Campbell, 2001 : 225).
Salah satu tips yang disarankan oleh Joen Beck (1985) dalam “Bagaimana Meningkatkan Kecerdasan Anak” untuk meningkatkan kecerdasan dan kreatifitas anak antara lain dengan memperkaya kehidupan anak dengan musik. Radio atau kaset dapat menjadi alat yang menyenangkan bagi anak untuk memperkenalkan musik.
Cortex dari otak manusia secara kasar dapat dibandingkan seperti sebuah komputer, yang perlu diberi “program” sebelum dapat bekerja secara efektif. Anak memberi program pada otaknya dengan jalan mengirimkan rangsangan-rangsangan sensorik yang berasal dari mata, hidung, mulut, dan perabaan ke otak melalui saraf-saraf. Lebih banyak ransangan sensorik yang merangsang otak, lebih besar pula kemampuan otak untuk berfungsi secara cerdas. (Beck, 1985 : 34).
Dari usia sembilan hingga sebelas tahun, jalur-jalur pendengaran mengalami pertumbuhan lebih lanjut, meningkatkan kemampuan pembicaraan dan pendengaran. Menyanyikan lagu-lagu rakyat sederhana dalam bahasa asing atau aksen-aksen Medan, Madura, Jawa, Sulawesi memungkinkan otak membuat kode bagi bunyi-bunyi baru.
Selama tahap ini, corpus callosum, jembatan antara sisi kiri otak dengan sisi kanan otak, merampungkan perkembangannya, sehingga memungkinkan kedua belah itu untuk menanggapi sebuah peristiwa secara serentak. Penelitian membuktikan bahwa corpus collosum para musikus lebih tebal dibandingkan yang bukan musikus. Plamun Temporale, yang terletak di lobus temporale cortex, juga lebih menonjol pada musikus. Wilayah otak ini tampaknya berkaitan dengan pemrosesan bahasa dan barangkali juga mengatagorisasi bunyi-bunyian, menunjukkan adanya hubungan persepsi antara bahasa dan musik. (Campbell, 2001 : 236).
 Nasyid (lagu-lagu bernafaskan Islami) mempunyai peran yang penting untuk membangkitkan dan memupuk kreatifitas anak. Joan Beck, memberikan beberapa tips untuk membentuk kreatifitas anak. Salah satu diantaranya adalah dengan memperkaya hidup anak dengan musik. Anak senang sekali mendapat kesempatan menggunakan alat nasyid (lagu-lagu bernafaskan Islami) yang sederhana seperti kimbal, drum tamburin dan gambang. Orang tua bila mungkin dapat menyanyikan lagu-lagu kepada anaknya ketika dalam buaian semenjak anak dibawa dari rumah sakit. (Beck, - : 180).
Dari usia sebelas tahun hingga tiga belas tahun, sebagaimana yang telah diamati oleh Piaget dan pendidik-pendidik anak lain mulailah berkembang suatu kesadaran diri ketika belahan kanan otak menjadi lebih sulit diakses. Dari usia tiga belas tahun hingga lima belas tahun suara anak laki-laki melorot dan mereka kerap kehilangan ciri-ciri yang lebih intuitif dan emosional yang tadinya dengan gampang tersedia. Pada usia-usia ini, musik, seni, dan pendidikan jasmani kreatif, semua hal yang merangsang fungsi otak sebelah kanan menjadi penting bagi integrasi lengkap pikiran/tubuh.
Sistem saraf itu seperti sebuah orkes simfoni dengan berbagai ritme, melodi dan instrumentasi. Ada banyak sistem ritmis maupun melodis yang membuat otak tetap tersinkronisasi. Apabila salah satu bagian otak mengalami kerusakan, ritme-ritme alami otak dan tubuh akan terganggu, dan neuron-neuron dapat menembak pada saat yang keliru, atau tidak menembak sama sekali. Sering nasyid (lagu-lagu bernafaskan Islami) eksternal, gerakan, atau imaji membantu menyelaraskan kembali “nasyid (lagu-lagu bernafaskan Islami) neurologis itu”. Musik secara misterius menjangkau kedalaman otak dan tubuh kita yang mengubah banyak sistem tak sadar menjadi ekspresi. (Campbell, 2001 : 236).





BAB III
METODOLOGI PENELITIAN TINDAKAN


A.      Jenis Penelitian Tindakan
Permasalahan pokok dalam penelitian ini adalah untuk meningkatkan efisiensi dan efektifitas pembelajaran melalui model pembelajaran  menggunakan nasyid (lagu-lagu bernafaskan Islami) pada mata pelajaran  Agama Islam . Ini berarti bahwa penelitian ini bertujuan untuk memecahkan permasalahan pembelajaran di kelas. Atas dasar itulah, penelitian ini bersifat tindakan (Action Research). Action Research yaitu suatu bentuk kajian melalui  self reflektive yang bercirikan pada kegiatan partisipatif dan kolaboratif yang dilaksanakan oleh para peserta pada situasi sosial dalam rangka meningkatkan rasionalitas dan penilaian mereka terhadap praktek/ pelaksanaan suatu kegiatan yang dilakukan (MKDK Kurikulum, 2002:94).
Banyak definisi tentang penelitian tindakan kelas, salah satu diantaranya dikemukakan oleh Stephen Kemmis, seperti yang dikutip    D. Hopkins yang menyatakan bahwa action research adalah :
form a self reflective inquiry undertaken by participants in a social (including education) situation in order to inrrore the rationality and justice of (a) their own social or educational practices,             (b) their understanding of these practice, and (c) the situations in with practice are carried out. 

Dari pengertian di atas dapat dicermati bahwa PTK merupakan suatu bentuk kajian yang bersifat reflektif oleh pelaku tindakan, yang ditujukan untuk memperdalam pemahaman terhadap tindakan yang dilakukan selama proses pembelajaran, serta untuk memperbaiki kelemahan-kelemahan yang masih terjadi dalam proses pembelajaran, serta untuk mewujudkan tujuan-tujuan dalam proses pembelajaran tersebut. Jika proses inkuiri dan perbaikan pembelajaran dilakukan secara terus menerus, diyakini sepenuhnya bahwa kemampuan profesional guru akan terus meningkat sesuai dengan harapan banyak pihak.

B.       Prosedur Pelaksanaan PTK
PTK dilaksanakan dalam bentuk proses pengkajian berdaur (siklus) yang terdiri dari 3 tahap, yaitu (a) perencanaan (planning); (b) tindakan (action); dan (c) refleksi (reflection). Untuk memudahkan pemahaman kita tentang ketiga tahap dalam prosedur PTK, secara visual dapat dilukiskan dalam bentuk spiral PTK di bawah ini.



Bagan di atas dapat memperjelas bagaimana prosedur pelaksanaan PTK dalam upaya memecahkan permasalahan. Untuk mengatasi setiap permasalahan yang muncul atau mungkin terjadi dalam proses pembelajaran, guru harus selalu membuat perencanaan pembelajaran terlebih dahulu, baru kemudian pelaksanaan tindakan sebagai implementasi perencanaan tersebut. Pelaksanaan tindakan selalu disertai dengan pengamatan, baik oleh pelaku itu sendiri maupun oleh observer lain. Dalam hal ini observer yang dimaksud juga boleh siswa, rekan guru, kepala sekolah atau yang lainnya. Observasi dilakukan sebagai upaya pengumpulan data, observer berperan melihat, mendengar dan mencatat segala yang terjadi selama pelaksanaan tindakan berlangsung baik dengan atau tanpa alat bantu pengamatan. Observer hendaknya tidak menyalahkan tetapi bersifat mendukung, bukan menilai dan setelah diperoleh data sesegera mungkin dilakukan diskusi balikan.
Dalam pelaksanaan diskusi tentang data yang diperoleh dari hasil pengamatan maupun dari tes akan diseleksi, disederhanakan, diorganisasikan secara sistematik dan rasional serta teknik tri-angulasi akan diperoleh suatu kesimpulan. Kegiatan tersebut merupakan kegiatan refleksi, dimana refleksi dilakukan secara bersama-sama untuk mengetahui hal-hal mana saja yang sudah harus dipertahankan, dan hal-hal mana yang harus ditingkatkan atau ditinggalkan. Jika kegiatan yang disebut refleksi ini dilakukan dengan benar telah melibatkan semua pihak yang terkait, maka kegiatan pembelajaran atau pelaksanaan tindakan PTK akan selalu bermuara pada hasil dari suatu tindakan yaitu penyusunan perencanaan dan tindakan perbaikan berikutnya.
Dengan pengkajian seperti membuat perencanaan pembelajaran yang berorientasi pada suatu tujuan, melaksanakan perencanaan tersebut yang disertai pengamatan guna memperoleh data tentang pelaksanaan pembelajaran, baik tentang kelebihan maupun tentang kelemahannya, hasilnya dianalisis, dan dikaji secara bersama-sama guna pelaksanaan penyusunan perencanaan tindakan perbaikan, inilah yang disebut dengan satu siklus dalam PTK.
 
Secara operasional tahap-tahap kegiatan penelitian dalam setiap siklus dapat dijelaskan sebagai berikut :
1.         Perencanaan
Kegiatan perencanaan diawali dengan merencanakan ide penelitian kemudian ditindaklanjuti dengan observasi pelaksanaan pembelajaran di kelas. Kegiatan ini merupakan kegiatan pendahuluan yang tujuannya untuk mengidentifikasi masalah dan menemukan fakta yang terjadi di kelas. Berdasarkan penemuan pada penelitian pendahuluan peneliti merencanakan langkah-langkah kegiatan yang akan dilaksanakan di kelas / di luar kelas dalam proses pembelajaran berikutnya.
2.         Pelaksanaan Tindakan
Pada tahap ini, peneliti melaksanakan tindakan sesuai dengan perencanaan yang telah dirumuskan. Jenis tindakan yang dilaksanakan peneliti adalah hasil rumusan yang telah ditetapkan. Tujuan utama pada tahap ini adalah mengupayakan inovasi dalam proses pembelajaran dengan tujuan untuk peningkatan kualitas pembelajaran yang dirasakan manfaatnya oleh peneliti dan para siswa.
3.         Observasi
Kegiatan observasi dilakukan peneliti dengan menggunakan pedoman observasi (instrumen-instrumen penelitian) yang telah disiapkan sebelumnya. Hal ini dilakukan untuk melihat hasil atau dampak dari tindakan yang dilaksanakan. Hasil observasi merupakan bahan pertimbangan untuk melakukan refleksi atau revisi terhadap rencana dan tindakan yang telah dilakukan untuk menyusun rencana dan tindakan selanjutnya, yang diharapkan lebih baik dari tindakan yang telah dilaksanakan.
4.         Refleksi
Temuan pada waktu pelaksanaan kegiatan pembelajaran ditindaklanjuti dengan kegiatan refleksi. Kegiatan refleksi ini merupakan dasar penyusunan rencana tindakan dalam pelaksanaan kegiatan penelitian berikutnya.

C.      Lokasi dan Subjek Penelitian
Pelaksanaan penelitian dilakukan di SDN _______  Kecamatan _____  Kabupaten _____   Tahun Pelajaran ___/____. Penelitian difokuskan pada kelas III. 
Dilaksanakan berdasar pada rancangan penelitian kualitatif kealamiahan (situasi nyata) buka artisial, objeknya adalah hal ihwal, peristiwa, manusia dan situasi serta kondisi lainnya di lapangan yang dapat diobservasi.
Sebagai subjek penelitian berupa kinerja guru dan aktivitas belajar murid atau kegiatan proses pembelajaran Agama Islam pokok bahasan kisah perjalanan Rasulullah  dengan penerapan model pembelajaran  menggunakan  nasyid (lagu-lagu bernafaskan Islami) .

D.      Instrumen Penelitian
Untuk mengumpulkan data mengenai pelaksanaan dan hasil program tindakan, digunakan catatan anekdot, dikembangkan dalam beberapa instrumen sebagai berikut : (1) Lembar panduan observasi, instrumen ini dirancang oleh peneliti dengan meminta pertimbangan kepada ahli (pembimbing). Lembar panduan observasi digunakan untuk mengumpulkan data mengenai unjuk kerja guru dan aktivitas belajar siswa. Data yang ingin dijaring melalui lembar observasi adalah data yang berupa perkataan dan aktivitas yaitu komunikasi interaktif antara guru dengan siswa, siswa dengan siswa atau siswa dengan guru, kegiatan-kegiatan yang menyangkut proses pembelajaran   Agama Islam pokok bahasan kisah perjalanan Rasulullah  serta temuan-temuan pada saat diskusi kolaboratif dengan guru mitra dan guru teman sejawat setelah pembelajaran ; (2) Pedoman wawancara, instrumen ini dirancang sebagai pedoman yang digunakan untuk menjaring data yang berkaitan dengan rencana tindakan, pandangan guru/teman sejawat/peneliti serta kepala sekolah terhadap model pembelajaran  menggunakan nasyid (lagu-lagu bernafaskan Islami) bagaimana guru menuangkan rencana pembelajaran, bagaimana pelaksanaannya, kendala-kendala yang dihadapi, faktor-faktor pendukung yang tersedia, pandangan guru teman sejawat, baik tentang perencanaan maupun pelaksanaan, pendapat kepala sekolah dan pendapat siswa ; (3) Kuesioner, digunakan untuk menjaring data yang valid (absah, dan reliabel, dapat dipercaya) mengenai pendapat guru mitra penelitian, guru teman sejawat, kepala sekolah dan siswa tentang penerapan model pembelajaran discovery ; (4) Evaluasi hasil belajar, instrumen ini digunakan untuk menjaring validitas dan reliabelitas data mengenai peningkatan hasil belajar siswa meliputi hasil post tes, tes formatif, pengamatan, observasi proses pembelajaran sebagai evaluasi nontes terhadap sikap, nilai dan keterampilan-keterampilan yang berkembang pada diri siswa, khususnya mengenai penguasaan terhadap pokok bahasan yang dibelajarkan. Evaluasi belajar direfleksi secara bersama-sama (didiskusikan) dengan guru mitra, guru teman sejawat, peneliti, kepala sekolah dan dimintakan pertimbangan kepada ahli (pembimbing) ; (5) Catatan lapangan, di samping keempat instrumen tersebut di atas, untuk menjaring data-data lain yang berkembang selama pelaksanaan tindakan, peneliti juga menggunakan catatan lapangan (field notes) untuk mencatat kemajuan, mencatat persoalan-persoalan yang dihadapi dan solusinya, mencatat hasil-hasil refleksi dan hasil-hasil diskusi.

E.       Metode Analisis Data
Proses analisis data berlangsung dari awal sampai akhir pelaksanaan program tindakan. Data dalam penelitian dianalisis dengan mengikuti pole mulai dari tahap orientasi sampai pada tahap berakhirnya seluruh program tindakan sesuai dengan karakteristik, fokus permasalahan dan tujuan penelitian.



Data akan diolah menggunakan teknik analisis kualitatif untuk menunjukkan dinamika proses dengan memberikan pemaknaan konseptual dan kontekstual, yaitu data tentang unjuk kerja guru, aktivitas belajar siswa, pola interaksi pembelajaran dan penggunaan sarana dan prasarana dalam pembelajaran  Agama Islam . 



BAB IV
HASIL PENELITIAN TINDAKAN DAN PEMBAHASAN



A.     Persiapan  Tindakan
Pada observasi pertama yang dilaksanakan pada  tanggal   _______ mempelajari  Agama Islam pokok bahasan kisah perjalanan Rasulullah. Hal yang dilakukan guru, ketika akan memulai pelajaran adalah melakukan renungan singkat yang diakhiri dengan do’a dan pemberian salam.
Kegiatan membuka pelajaran, guru Agama Islam memulai dengan menugaskan siswa untuk menyimak sebuah cerita singkat yang diceritakan guru Agama Islam , dilanjutkan tanya jawab isi cerita.
Kegiata inti pelajaran, guru memulai dengan menugaskan siswa untuk menyimak soal cerita  dalam kisah saat Rasululloh hijrah ke Mekah yang ditulis guru di papan tulis sesuai dengan cerita dalam kegiatan membuka pelajaran Agama Islam . Kemudian guru membahas cara menyelesaikan  cerita  dengan langkah-langkah penyelesaiannya. Setelah pembahasan berakhir, guru memberi kesempatan kepada siswa untuk bertanya.
Selanjutnya setelah guru melakukan kegiatan membahas  menyelesaikan  cerita  kisah perjalanan Rasullulloh selama hijrah dan tanya jawab selesai, kegiatan akhir dari kegiatan ini adalah melaksanakan evaluasi. Soal yang telah disiapkan guru berupa LKS dibagikan kepada siswa secara perorangan. Hasil evaluasi ini dikumpulkan tanpa diperiksa terlebih dahulu.
Kegiatan akhir atau kegiatan menutup pelajaran guru menugaskan pada siswa untuk menyelesaikan pekerjaan rumah yang telah disiapkan guru dengan benar. Kemudian guru mengajak siswa menyiapkan buku pelajaran selanjutnya, yaitu  buku paket Agama Islam 
Berdasarkan hasil observasi sebagaimana yang telah digambarkan di atas mengenai pelaksanaan pembelajaran  Agama Islam di  kelas III  SDN _______  Kecamatan _____  Kabupaten _____   Tahun Pelajaran ___/____, bila dilihat dari perincian waktu dapat diklasifikasikan pada tabel berikut.

Tabel 
Rincian waktu pelaksanaan pembelajaran  Agama Islam

No
Jenis kegiatan
Waktu
Persentase
(%)
1
Kegiatan Awal
20 menit
25.00
2
Kegiatan Inti



a.  Pembahasan   Kisah Rasul
20 menit
25.00

b.  Tanya jawab
5 menit
6.25

c. Evaluasi
25 menit
31.25
3
Kegiatan akhir/penutup
10 menit
12.50


80 menit
  100

Data pada tabel di atas menunjukkan bahwa dalam kegiatan pembelajaran keseluruhan yang merupakan kegiatan guru mencapai separuh dari waktu kegiatan yaitu 50%. Lebih dari seperempat waktu kegiatan didominasi siswa mencapai 31.25% dan sisanya yang merupakan kegiatan guru dan siswa mencapai 18.75%.
Berdasarkan gambaran tersebut di atas, menunjukkan bahwa kegiatan pembelajaran   Agama Islam pokok bahasan kisah perjalanan Rasulullah di kelas III SDN _______  Kecamatan _____  Kabupaten _____   Tahun Pelajaran ___/____tidak sesuai dengan peranan penting pembelajaran  Agama Islam, lebih-lebih kalau dikaitkan dengan hakikat pendidikan secara umum. Atas dasar inilah perlu dilaksanakan perbaikan-perbaikan.
Tindakan awal yang dilakukan penulis untuk memperbaiki kualitas pembelajaran  Agama Islam di SD sasaran adalah dengan cara mengadakan refleksi terhadap pendekatan pembelajaran yang telah dilakukan penulis selama ini. Adapun tujuannya adalah selain untuk mengetahui kemampuan siswa terhadap penyelesaian soal cerita Agama Islam, juga untuk memberikan pemahaman kepada penulis pentingnya menentukan suatu pendekatan pembelajaran yang tepat dalam mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan.
Dari hasil tindakan awal tersebut dapat disimpulkan bahwa ketidak berhasilan siswa dalam menyelesaikan  cerita  kisah rasul selain disebabkan karena kurangnya kemampuan siswa dalam memahami kata-kata yang terpakai dalam kalimat  cerita   kisah para Rasululloh, juga disebabkan oleh karena kurang tepatnya penggunaan pendekatan pembelajaran yang dilakukan penulis sebagai guru Agama Islam di   kelas III SDN _______  Kecamatan _____  Kabupaten _____   Tahun Pelajaran ___/____ sehingga siswa tidak dapat mengoptimalkan kemampuannya dan mencapai kepuasan diri yang sepenuhnya dalam menyelesaikan tugas yang ia terima.
Atas dasar itulah, penulis merencanakan melaksanakan pendekatan  melalui media nasyid (lagu-lagu bernafaskan Islami) sebagai solusi permasalahan tersebut di atas.

B.     Pelaksanaan  Tindakan  I
Tindakan pembelajaran  dilaksanakan pada  tanggal ____________, dengan langkah-langkah sebagai berikut.
1.         Perencanaan
Ada dua kegiatan yang dilakukan dalam tahap perencanaan ini  Pembentukan kelompok didasarkan kepada heterogenitas siswa, baik ditinjau dari jenis kelamin, prestasi akademik, maupun aktifitas siswa sehari-hari. 

2.         Pelaksanaan dan observasi kegiatan pembelajaran menggunakan nasyid (lagu-lagu bernafaskan Islami)
Kegiatan awal yang dilakukan guru dalam proses pembelajaran adalah melakukan pre tes. Sasaran yang ingin dicapai melalui pre tes ini, yakni 1) mengetahui tingkat kemampuan siswa terhadap materi yang akan dikerjakan dan 2) untuk mengetahui tingkat keberhasilan belajar siswa dalam bidang kognitif dengan menggunakan pendekatan  menggunakan nasyid (lagu-lagu bernafaskan Islami) . Adapun hasil pre tes baik secara individu maupun kelompok dapat dilihat pada tabel berikut ini.

Tabel 
Nilai  Tes  Responden  di kelas III   Pada Tahap I
No
Nilai
No
Nilai
No
Nilai
Keterangan
1
6.4
12
4.5
23
6.5
Batas lulus 7.0
2
7.5
13
7.5
24
4.5
3
5.5
14
5.0
25
6.0
4
7.5
15
6.0
26
4.5
5
6.5
16
6.0
27
5.0
6
7.0
17
4.5
28
4.5
7
3.5
18
3.5
29
5.5
8
7.0
19
7.5
30
7.5
9
4.5
20
6.5
31
7.5
10
3.5
21
6.5
32
5.5
11
4.0
22
6.5





Dari tabel tersebut dapat disimpulkan bahwa ada 3 orang siswa atau kurang dari setengahnya (11.5 %) yang dinyatakan lulus, sedangkan sisanya  dinyatakan tidak lulus dalam pre tes. Sedangkan nilai rata-rata kelas dari pre tes tersebut adalah 5.83.
  Pada kegiatan inti, guru menyajikan soal cerita  kisah Rasul dan menginformasikan langkah-langkah yang harus dilakukan siswa pada saat menyelesaikan  cerita  secara klasikal. Kemudian guru menugaskan siswa masuk dalam kelompok yang telah dibentuk untuk melaksanakan tugas menyelesaikan LKS yang dibagikan guru.

3.         Analisis, Refleksi, dan Revisi Pembelajaran
Berdasarkan hasil pengamatan terhadap tindakan  menunjukkan bahwa kegiatan pembelajaran dengan menggunakan  menggunakan nasyid (lagu-lagu bernafaskan Islami)  sesuai dengan yang diharapkan.
Pada kegiatan ini khususnya yang berhubungan dengan pengembangan aspek kerja sama, aspek kepemimpinan dan aspek pengembangan nilai-nilai demokrasi belum sesuai dengan harapan untuk aspek kerja sama, setiap siswa cenderung mementingkan pekerjaannya sendiri, hampir lebih dari setengahnya (68.5%) tidak mau memberikan bantuan terhadap temannya. Perilaku tersebut kelihatan ketika temannya belum selesai mengerjakan tugasnya maka temannya yang lain dalam kelompok tersebut tidak membantunya, bahkan sebaliknya mereka malah menyuruh cepat-cepat menyelesaikannya. 

C.  Pelaksanaan Tindakan  II
Tindakan pembelajaran kedua dilaksanakan pada  tanggal  _______.
1.         Perencanaan
Pada tahap perencanaan, kegiatan yang dilakukan guru yaitu perumusan masalah berdasarkan hasil analisis dan refleksi penulis pada tindakan pertama. Adapun masalah yang akan diperhatikan oleh para siswa dalam tindakan kedua itu adalah :Coba kalian perhatikan dengan baik kata yang dicetak miring pada  soal cerita  kisah Rasul dan pahami maksudnya !

2.         Pelaksanaan dan observasi kegiatan pembelajaran menggunakan nasyid (lagu-lagu bernafaskan Islami)
Pada tindakan kedua ini, kegiatan yang dilakukan guru dalam proses pembelajaran sama dengan kegiatan sebelumnya kecuali    pre tes tidak dilaksanakan.
Pada kegiatan inti, guru menginformasikan kepada para siswa untuk memperhatikan kata-kata yang dicetak miring pada LKS dan mengingatkan kembali langkah-langkah yang harus dilakukan siswa saat menyelesaikan soal cerita   dengan mengumandangkan  nasyid (lagu-lagu bernafaskan Islami) yang berjudul ”Kisah Rasul ” karya Ustadz Ilham Ilyas, yang menceritakan tentang perjalanan dan  Jihad Rasululloh bersama sahabat saat hidup di Mekah.

3.    Analisis, Refleksi, dan Revisi Pembelajaran
Berdasarkan hasil refleksi terhadap kegiatan pembelajaran dengan nasyid (lagu-lagu bernafaskan Islami) pada tindakan kedua tersebut menunjukkan bahwa kegiatan kerja kelompok yang telah dilakukan siswa dalam pembelajaran  Agama Islam untuk  pokok bahasan menyelesaikan  adan memaknai cerita  kisah rasul yang dapat meningkatkan kemampuan siswa  dalam pemahaman tarekh (sejarah) Rasululoh. Hal tersebut tampak dari adanya perubahan hasil evaluasi masing-masing siswa setelah melaksanakan kerja kelompok sesuai dengan kemampuan yang dimiliki. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa secara umum kegiatan pembelajaran pada tindakan kedua ini telah sesuai dengan harapan penulis dalam melakukan tindakan kelas dengan menggunakan pendekatan  menggunakan  nasyid (lagu-lagu bernafaskan Islami) .


Tabel 
Nilai  Tes  Responden  di kelas III   Pada Tahap II
No
Nilai
No
Nilai
No
Nilai
Keterangan
1
8.4
12
8.5
23
7.5
Batas lulus 7.0
2
7.5
13
6.5
24
7.5
3
8.5
14
8.0
25
8.0
4
7.5
15
8.0
26
7.5
5
6.5
16
8.0
27
8.0
6
7.0
17
8.5
28
7.5
7
9.5
18
8.5
29
8.5
8
7.0
19
8.5
30
8.5
9
8.5
20
8.5
31
8.5
10
8.5
21
8.5
32
8.5
11
8.0
22
8.5



Dari tabel tersebut dapat disimpulkan bahwa pada tahap II ada 29 orang siswa  dinyatakan lulus, sedangkan sisanya  dinyatakan tidak lulus dalam pre tes. Sedangkan nilai rata-rata kelas dari pre tes tersebut adalah 8.13.
  Pada kegiatan inti, guru menyajikan soal cerita  kisah Rasul dan menginformasikan langkah-langkah yang harus dilakukan siswa pada saat menyelesaikan  cerita  secara klasikal. Kemudian guru menugaskan siswa masuk dalam kelompok yang telah dibentuk untuk melaksanakan tugas menyelesaikan LKS yang dibagikan guru. Dengan demikian nampaklah keberhasilan pengajaran agaa Islam denganmenggunakan model Pembelajaran Nasyid di kelas III SDN _______  Kecamatan _____  Kabupaten _____   Tahun Pelajaran ___/____



D.   Pembahasan Atas Hasil Tindakan 
Berdasarkan hasil pengamatan terhadap tindakan  di atas menunjukkan bahwa kegiatan pembelajaran dengan menggunakan  menggunakan nasyid (lagu-lagu bernafaskan Islami)  sesuai dengan yang diharapkan oelh peneliti.
Pada kegiatan  penelitian tindakan kelas dengan menggunakan media Nasyid sebagai  instrumen pengajaran Agama Islam  di kelas III SDN _______  Kecamatan _____  Kabupaten _____   Tahun Pelajaran ___/____, maka penulis merasa ada keberhasilan dalam melaksanaka kegiatan penelitian ilmiah tersebut dengan ditunjukkan  tingkat keberhasilan siswa dalam  menerima materi ajar Kisah perjalanan Rasululloh dengan hasil tes yang cukup memuaskan.



BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN



A.    Kesimpulan
Kesimpulan yang dapat dirumuskan merupakan hasil akhir dari pengujian‑pengujian hipotesis penelitian yang telah dilakukan. Kesimpulan yang diambil hanya relevan dan berlaku bagi populasi penelitian yaitu siswa   kelas III SDN _______  Kecamatan _____  Kabupaten _____   Tahun Pelajaran ___/____. Karena untuk setiap kelompok individu tertentu memiliki karakter dan sosial yang berbeda. Kesimpulan yang dapat diambil dari penelitian ini adalah:
1.      Terdapat perbedaan perolehan belajar yang signifikan antara pembelajaran  Agama Islam pokok bahasan kisah perjalanan Rasulullah dengan menggunakan  nasyid (lagu-lagu bernafaskan Islami) pada siswa  kelas III SDN _______  Kecamatan _____  Kabupaten _____   Tahun Pelajaran ___/____, Artinya penggunaan.nasyid (lagu-lagu bernafaskan Islami) untuk menata lingkungan belajar dapat meningkatkan perolehan belajar. Belajar akan bermakna dan berhasil ketika pebelajar (siswa) terbebas dari tekanan dan ketegangan.  Nasyid (lagu-lagu bernafaskan Islami) yang diperdengarkan dapat menentukan suasana hati pendengar dan pencintanya. Suara nasyid (lagu-lagu bernafaskan Islami) yang santai dengan irama yang tepat dapat menolong melepaskan semua bentuk ketegangan.
2.      Terdapat interaksi yang nyata antara penggunaan  nasyid (lagu-lagu bernafaskan Islami) , gaya belajar dengan perolehan belajar siswa bagi siswa  kelas III SDN _______  Kecamatan _____  Kabupaten _____   Tahun Pelajaran ___/____.   Hasil ini memberikan petunjuk bahwa antara  nasyid (lagu-lagu bernafaskan Islami) , gaya belajar dan hasil belajar mempunyai hubungan yang erat.  Nasyid (lagu-lagu bernafaskan Islami) dan gaya belajar memiliki pengaruh secara signifikan dalam peningkatan perolehan belajar.
Proses belajar sangat dipengaruhi oleh lingkungan fisik. Misalnya cahaya, suhu, tempat duduk dan sikap tubuh, serta suara.  Nasyid (lagu-lagu bernafaskan Islami) dalam hal ini merupakan salah satu faktor yang besar perannya dalam membangun proses belajar siswa. Sedang gaya belajar siswa akan membentuk pola bagaimana siswa menangkap dan mencerna informasi‑informasi dan bagaimana siswa merekam dalam sistem memorinya.

B.     Saran
Berdasarkan kesimpulan‑kesimpulan tersebut diatas, kiranya penulis dapat memberikan beberapa saran yang membangun bagi beberapa pihak terkait guna meningkatkan efisiensi pencapaian tujuan pembelajaran.
  1.  Nasyid (lagu-lagu bernafaskan Islami) selain berfungsi sebagai makna penataan suasana positif dan santai bagi banyak individu, dan mengintegrasikan indera dengan ingatan. Dalam bidang yang lain nasyid (lagu-lagu bernafaskan Islami) memungkinkan membentuk latar belakang ruangan sekaligus meredam kekacauan diluar. Oleh karena itu, bagi guru yang mengajar dikelas atau dimanapun tempatnya sudah bukan waktunya lagi mengelola kelas dalam keteraturan dan kesunyian. Hidupkan suasana kelas dengan alunan nada yang teratur untuk melepaskan ketegangan siswa sehingga tercipta kenyamanan belajar.
  2. Latar belakang siswa dalam satu ruang kelas sangat bervariasi. Kemampuan, sosial, maupun cara mereka merespon informasi. Gaya belajar setiap siswa bila ditampilkan akan muncul pada setiap diri siswa dengan cirinya masing‑masing. Semua gaya merupakan potensi yang dapat dikembangkan. Bagi guru sangat arif kiranya jika pandai mengatur suasana belajar dengan pola keragaman siswa. Gunakan metode‑metode yang bervariasi untuk setiap proses pembelajaran.



DAFTAR PUSTAKA


Azumardi Azra.,  2003,  Nasyid (lagu-lagu bernafaskan Islami) sebagai pembelajaran Agama Islam,  UNISKA,  Kediri..

Arikunto, Suharsimi, 1993, Manajemen Pengajaran Secara Manusiawi, Rineka Cipta, Jakarta.

Black, A. James., Champion, J.Dean, 2001, Metode dan Masalah Penelitian Sosial, Refika Aditama, Bandung.

Best, W. John., 1982, Metodologi Penelitian Pendidikan, alih bahasa : Sanapiah Faisal, Mulyadi Guntur W., Usaha Nasional, Surabaya.

Campbell, Don. 2001, Efek Mozart, Alih bahasa T. Hermaya, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.

De Porter, Bobbi., Reardon, Mark,. Singer, Sarah Nourie, 2000, Quantum Teaching, Terjemah : Ary Nilandari, Kaifa, Bandung.

De Porter, Bobbi., Hernacki, Mike., 2000, Quantum Learning, Terjemah Alwiyah Abdurrahman, Kaifa, Bandung.

Degeng, I Nyoman Sudana, 1989. Ilmu Pengajaran Taksonomi Variabel, Depdikbud Dirjen Dikti, Proyek Pengembangan Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan, Jakarta.

Depag,  2001.  Kisah-Kisah Para Ambiyaq, edisi kedua, Balai Pustaka, Jakarta.

Dryden, Gordon., Vos, Jeannette., 2001, The Learning Revolution, The Learning Web, Selandia Baru, Terjemahan Word + + Translation Service, Kaifa, Bandung.

Fajar, H.A. Malik, 2001, Platform Pendidikan dan Pengembangan Sunber Daya Manusia, Logos Wacana Ilmu, Jakarta.

Mader, S. Silvia, 1995,   IPA, Keanekaragaman dan Lingkungan jilid 4, Alih bahasa Babby Sri Poernomo, Kucica, Jakarta.

Moleong, J.Lexy, 2000, Metodologi Penelitian Kualitatif, Remaja Rosdakarya, Bandung.

Mukhadis, Amat., 1997, Instrumen Evaluasi Program Pembelajaran Dan Pelatihan : Jenis, Karakteristik dan Pengembangannya, Buku Penunjang Perkuliahan Penilaian Hasil Belajar, Fakultas Pendidikan Teknologi dan Kejuruan, IKIP Malang.


Mustaqim, 2001, Psikologi Pendidikan, Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo, Semarang.

0 Response to "KUMPULA PENELITIAN TINDAKAN KELAS ( PTK ) AGAMA ISLAM 2014"

Post a Comment

Agen Bola