Bola Tangkas

KUMPULAN MAKALAH PENDIDIKAN OLAHRAGA FILSAFAT PENDIDIKAN JASMANI



FILSAFAT PENDIDIKAN JASMANI DAN OLAHRGA

A.   KONSEP FILSAFAT
1.    Pengantar
Kata filsafat sering ditemukan dalam berbagai konteks. Dalam sistem kenegaraan Indonesia ditemukan kalimat “Pancasila merupakan filosofi hidup bangsa Indonesia”. Dalam kehidupan sehari-hari, orang dituntut untuk mempunyai pandangan hidup dalam bentuk prinsip hidup yang didapat dari filsafat. Di masyarakat ditemukan penggambaran tentang seorang filosof, yaitu sosok dengan tubuh yang kurus kering, berkepala botak, berpakaian lusuh, berkaca mata tebal, suka menyendiri, pikirannya aneh, suka bertindak “nyleneh/aneh” dan sebagainya.
Penggunaan kata filsafat dalam konteks di atas bukan sesuatu yang asing, tetapi manakala ditanya “apa pengertian filsafat”, “bagaimana berfilsafat itu”, dan “apa saja ciri-ciri orang berfilsafat”  hampir dipastikan akan sulit memperoleh jawaban yang memuaskan. Kesulitan pertama disebabkan oleh pemahaman tentang filsafat yang masih kurang, kedua, masing-masing individu mempunyai pandangan yang berbeda tentang filsafat, yang ketiga, filsafat sendiri merupakan bidang kajian yang kompleks dan kurang memasyarakat.
Dalam dunia pendidikan dijumpai landasan filosofis yang digunakan pendidik dalam menjalankan tugasnya. Landasan filosofis ini memberikan pemahaman kepada pendidik terhadap makna pendidikan bagi manusia, pemahaman tentang tujuan pendidikan dan berbagai pandangan terhadap karakter manusia (peserta didik), sehingga dapat ditentukan “model layanan” yang sesuai dengan karakter tersebut. Secara praktis, filsafat bukan sesuatu yang asing bagi seorang pendidik, tetapi secara teoritis, masih banyak dijumpai pendidik yang “kurang bisa” memberi penjelasan tentang konsep filsafat, akibatnya pemahaman dan penghayatan pendidik tentang nilai-nilai filosofis kependidikan belum optimal. Hal yang demikian itu berakibat langsung pada rendahnya profesionalisme pendidik dalam menjalankan tugas.
2.    Pengertian Filsafat
Mendefinisikan filsafat merupakan kegiatan yang sulit. Hal itu dikarenakan masing-masing orang menggunakan pengetahuan dan sudut pandang yang berbeda-beda, dan filsafat sendiri merupakan pengetahuan  atau ilmu yang bersifat subyektif, sehingga tingkat relatifitasnya sangat tinggi. Disamping itu, filsafat merupakan bidang ilmu atau sesuatu yang abstrak dan rumit.  Abstrak berarti sulit menunjukkan wujudnya, artinya filsafat bukan ilmu konkrit yang dapat dengan mudah untuk diindera, sedangkan rumit diartikan sebagai kompleksitas pelaku filsafat dalam “bekerja” (berfilsafat), karena mencakup bidang yang sangat luas dan dengan beragam pendapat, sudut pandang dan latar belakang pelaku yang berbeda.
Menyadari kesulitan tersebut, dalam mempelajari konsep filsafat diperlukan suatu strategi yang tepat, agar filsafat dapat dipahami, dihayati, kemudian diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, khususnya dalam menjalankan tugas kependidikan. Strategi yang digunakan dalam paparan ini adalah dengan cara mengkaji filsafat dari beberapa sudut pandang. Dengan strategi ini diharapkan dapat diperoleh pemahaman yang komprehensif tentang konsep filsafat.
Ada tiga sudut pandang yang digunakan dalam mengkaji filsafat, pertama filsafat dipandang dari etimologinya, kedua dari arti praktis dan ketiga dari segi terminologi. Dari segi etimologi, filsafat dikaji dari asal katanya; dari segi praktis, filsafat dikaji dari aspek tindakan nyata apa yang dilakukan sesorang yang sedang berfilsafat, sedang dari segi terminologi, pengertian filsafat dihubungkan dengan berbagai konteks (situasi/keadaan) tertentu yang terjadi pada manusia.
a.    Pengertian Filsafat secara Etimologis
Dari asal katanya, filsafat  berasal dari bahasa Yunani yaitu Philosophia.
·         Philos                        = cinta/suka/gemar
·         Shopia           = kebijaksanaan/pengetahuan/belajar
Dalam arti sempit, filsafat diartikan sebagai kecintaan/kegemaran terhadap kebijaksanaan, cinta ilmu pengetahuan, atau cinta belajar. Kalau pengertian sempit itu dijabarkan lebih lanjut, filsafat dapat diartikan sebagai kegemaran/kecintaan terhadap sesuatu yang baik/bijaksana/benar. Kebaikan/kebijaksanaan/kebenaran itu diperoleh dari proses belajar yang hasilnya berupa pengetahuan. Dalam artian lebih luas, filsafat tidak sekedar upaya menyenangi/mencintai sesuatu yang baik/bijaksana/benar, lebih dari itu, pelaku filsafat masih dituntut suatu upaya/kegiatan untuk mendapatkan kebaikan/kebijaksanaan/kebenaran, dan setelah hal itu tercapai, pelaku filsafat masih dituntut untuk menerapkan bagi dirinya sendiri dan mengamalkan untuk orang lain, dengan tujuan akhir: berfilsafat merupakan upaya untuk menjadikan manusia sebagai insan yang benar/baik/bijak.
b.    Pengertian Filsafat dalam artian Praktis
Dalam arti praktis, memahami filsafat ditinjau dari tindakan/kegiatan apa saja yang dilakukan oleh orang yang berfilsafat (kata kerja). Memahami filsafat dari arti praktis berarti mencermati perilaku seseorang selama orang tersebut berfilsafat. Berfilsafat dalam arti praktis berarti berfikir. Orang yang berpikir disebabkan oleh adanya suatu yang belum jelas, aneh, merisaukan, bahkan sesuatu yang mengagumkan, atau dapat disimpulkan adanya suatu ‘masalah’. Dengan berpikir diharapkan akan memperoleh jawaban (pemecahan) atas masalah yang dihadapi. Dalam menyadari dan menemukan sesuatu masalah, seseorang pasti berhubungan dengan lingkungannya. Untuk berhubungan dengan lingkungan diperlukan media penghubung dalam bentuk indera. Dengan mengindera lingkungan, seseorang akan menyadari dan menemukan suatu masalah. Dalam berfilsafat, proses pemecahan masalah dilakukan dengan tata urutan:
1)    Mengindera: melihat, mencium, mencercap, meraba, dan mendengar sesuatu, sehingga sadar dan dapat menemukan masalah
2)    Merenung-Bertanya: merenungkan masalah yang dijumpai, kemudian mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang sesuai dengan masalah yang dihadapi
3)    Berpikir: dilakukan untuk mencari jawaban atas pertanyaan yang diajukan. Hasil dari berpikir ini dapat memuaskan pelaku filsafat dikarenakan jawabannya tepat, tetapi dapat juga tidak memuaskan, karena jawabannya tidak tepat atau masih menimbulkan masalah yang baru. Dalam kenyataannya rasa tidak puas ituyang sering terjadi, sehingga dalam berfilsafat tidak akan berhenti dalam menemukan masalah, merenungkan, bertanya, berfikir untuk mencari jawaban, muncul masalah baru, direnungkan, difikirkan dan seterusnya dilakukan secara berulang-ulang.
4)    Karakteristik berpikir dalam filsafat terdiri dari rasional, kritis, sistematis, dan radikal.
·         Berpikir rasional berarti menggunakan akal pikiran dan hukum-hukum  logika tertentu yang masuk akal. Berpikir filsafat bukan wahyu atau wangsit, artinya pelaku filsafat dapat mengemukakan pikiran yang rasional tentang suatu hal, yang dapat dipahami dan diikuti prosedur oleh orang lain. Jadi, setiap orang yang melakukan kegiatan berpikir rasional tentang hal tersebut, maka akan memperoleh hasil yang relatif sama dengan yang didapat oleh pelaku filsafat.
·         Berfikir kritis artinya berpikir secara “bolak-balik”, artinya dengan hati-hati dan seksama mencermati proses dan hasil berpikir. Pelaku filsafat akan berpikir secara induktif dan deduktif secara berkesinambungan, dan tidak begitu saja menerima atau menolak informasi atau pengetahuan.
·         Berpikir sistematis artinya berpikir secara bertahap, sesuai urutan yang logis, dengan mengikuti satu aturan tertentu, memiliki alur proses yang jelas, rasional dan dapat dipertanggungjawabkan.
·         Berfikir radikal berarti berpikir sampai tuntas, tidak setengah-setengah. Dalam berfilsafat, hal yang hendak dipelajari digali sampai keakar-akar sehingga pemahaman tentang hal itu menyeluruh dan mendalam. Pelaku filsafat harus diberi kebebasan yang seluas-luasnya, agar dapat menuntaskan permasalahan yang ada. Kebebasan tersebut menuntut keleluasaan berpikir yang tidak “tabu” secara agama, budaya, sosial, psikologi, dan sebagainya.


c.    Pengertian Filsafat dari Segi Terminologi
Secara terminologi, filsafat dapat diposisikan sebagai suatu sikap/prinsip/asas, suatu metode berpikir, dan kelompok teori/ilmu pengetahuan (hasil pemikiran/ajaran).
1)    Sebagai suatu sikap/prinsip/asas, filsafat dipakai sebagai dasar/pandangan hidup seseorang dalam berifikir, bersikap dan bertindak. Filsafat merupakan sesuatuyang dapat memberikan arah, pengertian dan keteguhan kepada pola hidupnya. Dengan filsafat seseorang akan memiliki prinsip hidup yang dipegang teguh dalam menghadapi suatu masalah. Filsafat merupakan sikap seorang yang cinta kebijaksanaan yang mendorong pikiran seseorang untuk terus menerus maju dan mencari kepuasan pikiran, tidak merasa dirinya ahli, tidak menyerah kepada kemalasan, terus menerus mengembangkan penalarannya untuk mendapatkan kebenaran.
2)    Filsafat sebagai metode berpikir diartikan sebagai cara/metode/strategi dalam memecahkan/mengkaji suatu  masalah. Filsafat merupakan salah satu metode dalam mencari kebenaran. Metode yang digunakan filsafat adalah dengan mengembarakan pikiran dengan melakukan analisis-sintesis terhadap masalah, sehingga dihasilkan kesimpulan. Filsafat merupakan suatu cara untuk menemukan jawaban dari pertanyaan hakiki (WHO, WHAT, WHEN, WHERE, WHY, dan HOW) dengan menggunakan prinsip- prinsip dari semua cabang ilmu pengetahuan yang berdasarkan logika dan dapat diterima dengan akal sehat tanpa didasari perasaan.
3)    Filsafat sebagai kelompok teori/ilmu pengetahuan memandang filsafat dari segi hasil pemikirannya. Filsafat berupaya mencari kebenaran yang akan dijadikan sebagai suatu “value” atau nilai tertentu, yang digunakan dalam memecahkan/mengkaji masalah. Nilai-nilai yang dihasilkan akan digunakan sebagai pedoman/pandangan/pegangan hidup seseorang dalam berpikir, bersikap dan bertindak, dengan harapan, pola pikir, sikap, dan tindakannya adalah baik/benar/bijak.



Beberapa pendapat ahli filsafat berikut ini mendukung paparan di atas.
1.    Plato (427SM - 347SM)
Filsafat adalah pengetahuan tentang segala yang ada (ilmu pengetahuan yang berminat mencapai kebenaran yang asli).
2.    Aristoteles (384 SM - 322SM)
Filsafat adalah ilmu pengetahuan yang meliputi kebenaran, yang di dalamnya terkandung ilmu-ilmu metafisika, logika, etika, ekonomi, politik, dan estetika (filsafat menyelidiki sebab dan asas segala benda).
3.    Al-Farabi (meninggal 950M)
Seorang filusuf muslim terbesar sebelum Ibnu Sina, mengatakan bahwa filsafat adalah ilmu pengetahuan tentang maujud dan bertujuan menyelidiki hakikat yang hakiki.

Dari tiga sudut pandangan di atas dapat disimpulkan bahwa pengertian filsafat adalah:
1.    Sikap dan perilaku manusia dalam mencintai/menyenangi suatu kebenaran/kebijaksanaan, kemudian berupaya mencapai kebenaran/kebijaksanaan itu, selanjutnya mengamalkan kebenaran/kebijaksanaan itu bagi dirinya dan orang lain.
2.    Suatu upaya mencari kebenaran/kebijaksanaan dengan cara berpikir secara rasional, kritis, radikal, dan sistematis. Dalam memahami kebenaran/kebijaksanaan tersebut dilakukan dengan mengajukan pertanyaan mendasar: WHO, WHAT, WHEN, WHERE, WHY, dan HOW.
3.    Nilai-nilai yang diyakini kebenarannya dan dijadikan pandangan/pegangan/prinsip hidup yang dijadikan pedoman manusia dalam berfikir, bersikap, dan bertindak menjalani kehidupan.
4.    Bagi guru pendidikan jasmani olahraga dan kesehatan, memahami filsafat sangat bermanfaat bagi landasan profesinya. Implementasi filsafat bagi guru pendidikan jasmani dapat dijumpai dalam memecahkan suatu masalah. Misalnya dalam mengkaji hakikat pendidikan jasmani dan olahraga,  filsafat dapat digunakan, yaitu dengan mengajukan pertanyaan mendasar:
a)    Apa pendidikan jasmani dan olahraga itu? Apa perbedaan dan persamaannya?
b)    Mengapa perlu menyajikan pendidikan jasmani dan olahraga bagi peserta didik?
c)    Siapa saja yang terlibat dalam pendidikan jasmani dan olahraga?
d)    Dimana pendidikan jasmani dan olahraga dilaksanakan?
e)    Bagaimana cara menyelenggarakan pendidikan jasmani dan olahraga?
f)     Kapan pendidikan jasmani dan olahraga diselenggarakan?

Dengan mengajukan pertanyaan mendasar tersebut dan berupaya menjawabnya, guru pendidikan jasmani akan memperoleh kebenaran tentang hakikat pendidikan jasmani dan olahraga. Kebenaran yang diperoleh dari hasil berfilsafat, dijadikan dasar dalam berpikir, bersikap, dan bertindak dalam mengambil keputusan tentang penyelenggaraan pendidikan jasmani dan olahraga, dengan demikian penyelenggaraan pendidikan jasmani dan olahraga dapat dipertanggungjawabkan dengan baik dan benar.

3.    Tujuan dan Manfaat Filsafat
Tujuan dan manfaat  filsafat dapat dipaparkan sebagai berikut.
a)    Memperoleh pengetahuan atau pemahaman  yang komprehensif tentang suatu hal, yang kemudian dapat dijadikan sebagai sistem nilai dalam mengkaji atau memecahkan suatu masalah terkait.
b)    Melatih sesorang untuk berpikir secara sistematis, rasional, radikal, dan universal dalam menyikapi suatu masalah. Dengan demikian seseorang/pelaku filsafat tersebut akan teruji ketajaman dan keluasan pikirannya, ketelitian dan kehati-hatian dalam berpikir, bersikap dan bertindak, kesalehan dan kesantunan dalam berinteraksi dengan sesama, serta meningkatnya kendali diri. Titik akhir dari semua itu adalah terwujudnya insan yang arif/bijaksana.
c)    Dengan berfilsafat seseorang akan dapat memperoleh kepuasan, ketenangan pikiran dan kemantapan hati karena telah mendapat kebenaran/kebijaksanaan. Tujuan  filsafat adalah untuk mempertajamkan pikiran yang digunakan sebagai dasar-dasar pengetahuan, yang dibutuhkan untuk hidup secara baik. Filsafat harus mengajar manusia, bagaimana ia harus hidup secara baik, bagaimana ia dapat menjadi manusia yang baik dan bahagia.
d)    Bagi guru pendidikan jasmani, dengan berfilsafat akan menjadikannya sosok yang kritis-reflektif, yang ditandai dengan kemudahan memahami konsep-konsep yang ada, mampu menjalankan prosedur-prosedur tertentu, tidak gegabah dalam berfikir, bersikap, dan bertindak, dan mampu menghasilkan kinerja yang baik, yang dapat dipertanggungjawabkan secara rasional.

4.    Aplikasi Filsafat Dalam Pendidikan Jasmani dan Olahraga
Berdasar definisi filsafat di atas penerapan filsafat dalam pendidikan jasmani dan olahraga dapat dipaparkan sebagai berikut.
a)    Dengan filsafat, makna hakiki pendidikan jasmani dan olahraga dapat terjelaskan. Hal itu memudahkan pelaku pendidikan jasmani dan olahraga dalam merumuskan arti, fungsi, dan tujuan dari pendidikan jasmani dan olahraga, sehingga dapat dieliminir tindakan-tindakan yang menyimpang dari makna hakiki tersebut.
b)    Dengan filsafat, bidang kajian pendidikan jasmani dan olahraga dapat terjelaskan. Hal itu membantu guru dalam menyusun serangkaian materi dan kegiatan pembelajaran/pelatihan yang relevan, dan menghindari adanya tumpang tindih cakupan dengan bidang ilmu lain.
c)    Dengan filsafat, pelaku pendidikan jasmani dan olahraga memiliki daya pikir, sikap, dan tindak yang tepat/benar dalam menghadapi suatu persoalan. Melalui pembelajaran filsafat maka seseorang akan mampu pandangan hidup sebagai pedoman hidup. Filsafat sebagai pedoman hidup memberikan semacam panduan jalan yang harus dilalui oleh seseorang sehingga ia dapat melihat hidup itu menjadi bermakna.
d)    Dengan berpikir secara filsafati maka pelaku pendidikan jasmani dan olahraga dapat memecahkan persoalan-persoalan hidup yang dihadapi. Filsafat sebagai pandangan hidup dapat digunakan oleh guru/pelatih untuk memecahkan masalah-masalah kehidupan yang ada di sekitar dirinya.
e)    Dengan berpikir secara filsafati, guru/pelatih dengan bantuan logika tidak mudah untuk tertipu dengan pernyataan-pernyataan retoris yang bersifat menyesatkan.
f)     Dengan berpikir secara filsafati maka guru/pelatih mampu menghargai pendapat dan pemikiran orang lain, baik yang memiliki persamaan maupun perbedaan dengan dirinya. Berpikir filsafat berarti berpikir demokratis. Ini berarti bahwa dalam berpikir filsafat, orang dilatih untuk menghargai pendapat atau pemikiran orang yang berbeda dari dirinya. Orang yang memiliki kemampuan berfilsafat yang tinggi akan menghargai kebenaran berpikir yang diyakini oleh orang lain seperti juga ia menghargai kebenaran berpikir yang diyakini oleh dirinya. Dalam hal ini perbedaan pendapat dan perbedaan pemikiran dianggap sebagai suatu eksistensi wacana berpikir yang bersifat dialektika sebagai upaya manusia sebagai makhluk berpikir untuk mencari kebenaran.

B.   PENERAPAN FILSAFAT DALAM MENGKAJI PENDIDIKAN JASMANI DAN OLAHRAGA
1.    Konsep Pendidikan dan Pendidikan Jasmani
Pendidikan jasmani dan olahraga merupakan dua istilah yang di Indonesia penggunaannya sering silih berganti. Olahraga merupakan istilah asli Indonesia yang sebetulnya mirip dengan pengertian pendidikan jasmani “physical education”, hanya saja penggunaan istilah olahraga lebih banyak di lingkungan masyarakat, sedangkan Pendidikan jasmani (physical education) penggunaannya lebih banyak di lingkungan persekolahan.
Olahraga merupakan bagian dari kehidupan masyarakat yang mencerminkan nilai dan juga sebagai komponen budaya. Shields dan Bredemeier (1995: 1) menjelaskan bahwa sport merupakan “ . . . a highly symbolic and condendsed medium for cultural values,  a vehicle by which many young people come to learn about the core value.   Kata kunci dalam ungkapan tersebut adalah “highly symbolic” dan “core values”. Olahraga dianggap sebagai pengejawantahan cara hidup nyata, dan wahana bagi anak muda untuk belajar nilai-nilai inti.   Prof. Riysdorp, (dalam Lutan 2004) mengatakan bahwa konsep olahraga yang dianut oleh bangsa Indonesia sangat tepat. Olahraga, kata Riysdorp, terdiri dari dua kata, “olah” dan “raga”. Olah, seperti lazim digunakan untuk menyebut proses mengolah tanah dalam pertanian, atau mengolah bahan makanan sehingga menjadi lezat, setara dengan kata “cultivization” dalam bahasa Inggris, yang maknanya dekat sekali dengan makna kata “education” yang diterjemah ke dalam bahasa Indonesia, bermakna pendidikan.
Selanjutnya kata raga lebih menunjuk kepada makna luas, kesatuan jiwa dan raga, yang bersandar pada filsafat monism. Karena itu di bagian lain Risydorp menjelaskan misi pendidikan jasmani merupakan proses pembinaan dan sekaligus pembentukan yang diungkapkannya dalam istilah forming yang arti secara utuhnya sama dengan pengertian dari kata educating dalam istilah Physical  Education.
Implikasi dari pandangan tersebut adalah kita sering menjumpai pengertian pendidikan sebagai proses pengalihan nilai budaya dari generasi tua ke generasi muda. Dalam pembahasannya tentang landasan budaya pendidikan Pai (1990: 4) menjelaskan,  dari perspektif budaya pendidikan itu dapat ditilik sebagai “  . . . a deliberate mean by  which each society attempts to transmit and perpetuate its notion of good life, which is derived from the society’s fundamental beliefs concerning the nature of the world, knowledge, and values.” Upaya sadar dan sengaja serta bertujuan itu dimaksudkan untuk mengalihkan dan sekaligus menanamkan makna hidup yang baik, yang diangkat dari kepercayaan dan keyakinan masyarakat yang sangat mendasar tentang hakikat dunia, pengetahuan dan nilai.
Pendidikan jasmani merupakan terjemahan dari physical education. Penafsiran dan implementasi pendidikan jasmani di sekolah seringkali terjadi perbedaan. Tafsiran pertama, sering disebut sebagai pandangan tradisional, menganggap bahwa pendidikan jasmani hanya semata-mata mendidik jasmani atau sebagai pelengkap, penyeimbang, atau penyelaras pendidikan rohani manusia. Menurut pandangan ini, pelaksanaan pendidikan jasmani cenderung mengarah kepada upaya memperkuat badan; memperhebat keterampilan fisik, atau kemampuan jasmaniahnya saja. Bahkan lebih dari itu, pelaksanaan pendidikan jasmani ini justru sering kali mengabaikan kepentingan jasmani itu sendiri, seperti penggunaan obat-obat terlarang untuk meraih performa yang lebih baik. Namun berdasarkan sudut pandang pendidikan, pandangan ini tidak mendapat pengakuan. Analisis kritis dan pertimbangan logis ternyata kurang mendukung terhadap pandangan dikhotomi tersebut. Fakta dan temuan lapangan cenderung memperkuat pandangan yang bersifat holistik.
Pandangan holistik mengganggap bahwa manusia bukan sesuatu yang terdiri dari bagian-bagian yang terpilah-pilah. Manusia adalah kesatuan dari berbagai bagian yang terpadu. Oleh karena itu pendidikan jasmani tidak dapat hanya berorientasi pada jasmani saja atau hanya untuk kepentingan satu komponen saja. Sebagaimana disebutkan dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP, 2006), sebagai berikut

Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan merupakan bagian integral dari pendidikan secara keseluruhan, bertujuan untuk mengembangkan aspek kebugaran jasmani, keterampilan gerak, keterampilan berfikir kritis, keterampilan sosial, penalaran, stabilitas emosional, tindakan moral, aspek pola hidup sehat dan pengenalam lingkungan bersih melalui aktivitas jasmani, olahraga dan kesehatan terpilih yang direncanakan secara sistematis dalam rangka mencapai tujuan pendidikan nasional.


Definisi yang relatif sama, juga dikemukakan oleh Pangrazi dan Dauer (1992) sebagai berikut, “Physical education is a part of the general educational program that contributes, primarily through movement experiences, to the total growth and development of all children. Physical education is defined as education of and through movement, and must be conducted in a manner that merits this meaning”. Apabila definisi pendidikan jasmani ini dielaborasi dan dikaitkan dengan kurikulum pendidikan jasmani yang berlaku di Indonesia dewasa ini (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan/KTSP), penulis sering mengilustrasikannya seperti dalam gambar berikut ini.
Pendidikan jasmani adalah pendidikan melalui dan tentang aktivitas fisik atau dalam bahasa aslinya adalah Physical education is education of and through movement. Terdapat tiga kata kunci dalam definisi tersebut, yaitu 1) pendidikan (education), yang direfleksikan dengan kompetensi yang ingin diraih siswa 2) melalui dan tentang (through and of), sebagai kata sambung yang menggambarkan keeratan hubungan yang dinyatakan dengan berhubungan langsung dan tidak langsung dan 3) gerak (movement), merupakan bahan kajian (aktivitas permainan, aquatik, rithmik, uji diri, dsb) sebagaimana tertera dalam kurikulum pendidikan jasmani.

Berdasarkan definisi tersebut cukup jelas bahwa posisi movement atau dalam kurikulum disebut bahan kajian yang terdiri dari tujuh bahan kajian (aktivitas permainan dan olahraga, aktivitas pengembangan, aktivitas uji diri/senam, aktivitas ritmik, aktivitas air/aquatic, aktivitas luar kelas, dan kesehatan), dapat ditempatkan sebagai alat atau tujuan. Bahan kajian ditempatkan sebagai alat manakala tujuan yang ingin diraih berupa kompetensi personal dan sosial, sedangkan bahan kajian sebagai tujuan manakala tujuan yang ingin diraih berupa kompetensi akademis dan vokasional, lihat contoh yang diilustrasikan dalam gambar berikut ini.

Penekanan tujuan pembelajaran seringkali erat kaitannya dengan jenjang pendidikan. Pada jenjang pendidikan Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Pertama seringkali tujuan pendidikan jasmani lebih banyak pada perolehan kompetensi personal dan sosial dengan menekankan pada ranah perilaku afektif dan psikomotor. Sedang pada jenjang pendidikan Sekolah Lanjutan Tingkat Atas tujuan pendidikan jasmani tidak hanya ditujukan untuk perolehan kompetensi personal dan sosial saja melainkan juga sudah seimbang dengan kompetensi akademis personal dan sosial saja melainkan juga sudah seimbang dengan kompetensi akademis dan vokasi dengan menekankan pada ranah yang lebih menyeluruh meliputi kognitif, afektif, dan psikomotor, hal ini dilakukan sebagai pemberian peluang kepada siswa yang berminat melanjutkan pada jenjang pendidikan bidang keolahragaan yang lebih spesifik lagi seperti masuk FPOK.
Definisi pendidikan jasmani dari pandangan holistik ini cenderung merupakan definisi yang banyak dianut oleh para ahli pendidikan jasmani sekarang ini. Misalnya, Siedentop (1990) mengemukakan, “Modern physical education with its emphasis upon education through the physical is based upon the biologic unity of mind and body. This view sees life as a totality”. Wall dan Murray (1994) mengemukakan hal serupa dari objek yang lebih spesifik, “children are complex beings whose thoughts, feelings, and actions are constantly in a state of flux. Because of the dynamic nature of children as they grow and mature, change in one element often affects the others. Thus, it is a ‘whole’ child whom we must educate, not merely the physical or bodily aspect of the child.”
Koichiro Matsuura (2004; dalam Gerber dan Puhse, 2005; 9) menyebutkan, “quality education – a key education for all goals that underpins all the others – and the achievement of the overall harmonious development of the individual are nothing without physical education”. Demikian juga dalam Permen no 22 tahun 2006 tentang standar isi, kompetensi pendidikan jasmani dinyatakan, “Pendidikan memiliki sasaran pedagogis, oleh karena itu pendidikan kurang lengkap tanpa adanya pendidikan jasmani, olahraga dan kesehatan, karena gerak sebagai aktivitas jasmani adalah dasar bagi manusia untuk mengenal dunia dan dirinya sendiri yang secara alami berkembang searah dengan perkembangan zaman”.


2.    Perkembangan Orientasi Nilai Pendidikan Jasmani dan Olahraga
Pendidikan jasmani dan olahraga memiliki dua keuntungan utama yaitu keuntungan fisik dan edukasi (Bailey, 2009). Keuntungan fisik meliputi: kebugaran, keterampilan gerak, dan kebiasaan melakukan aktivitas fisik (gaya hidup aktif). Sedangkan keuntungan edukasi meliputi: sosial, afektif, dan cognitif.  Pengalaman belajar Pendidikan Jasmani yang diperoleh siswa di sekolah pada dasarnya merupakan proses penanaman nilai-nilai edukasi melalui aktivitas fisik dan olahraga yang disediakan oleh gurunya, yang pada gilirannya kebiasaan baik tersebut dapat dipraktekkan oleh siswa pada kehidupan sehari-hari siswa di masyarakat sepanjang hidupnya.
Sebaliknya praktek salah yang terjadi pada aktivitas fisik dan olahraga di masyarakat hendaknya merupakan feedback bagi pengembangan pembelajaran Pendidikan Jasmani di sekolah. Dengan demikian Pendidikan Jasmani selalu berinteraksi secara positif, reflektif, dan berkelanjutan mendidik satu generasi ke generasi berikutnya menuju kehidupan yang lebih baik. Aktivitas fisik yang dalam Pendidikan Jasmani berfungsi sebagai media pendidikan dapat memberikan banyak keuntungan sebagaimana dikemukakan Martin K. (2010:5), “The benefits of greater physical activity participation include assisting with maximising children’s learning as well as increasing physical, social and mental health which is likely to extend into adolescence and adult life”.
a.      Orientasi Nilai Fisikal dalam Pendidikan Jasmani
Tidak diragukan lagi bahwa dampak utama Pendidikan Jasmani terhadap fisik merupakan dampak Pendidikan Jasmani  yang paling populer di masyarakat dan diposisikan sebagai kontribusi unik dari Pendidikan Jasmani, yang meliputi: kebugaran jasmani, keterampilan gerak, dan pengetahuan tentang kebugaran jasmani dan keterampilan gerak, yang berujung pada pembentukan gaya hidup aktif dan sehat sepanjang hayat. Dampak ini dikatakan unik karena dampak seperti ini tidak didapatkan melalui mata pelajaran lain (Dauer, V. P. & Pangrazi, R. P, 1992; Graham, G., Holt, S. A., Parker, M. 1993). Penekanan dampak fisik (kebugaran, keterampilan gerak, dan gaya hidup aktif) dari Pendidikan Jasmani ini berubah seiring dengan perkembangan tuntutan dan kebutuhan masyarakat.
1)     Orientasi Nilai Kebugaran Jasmani
Berdasarkan perspektif sejarah, tujuan mendapatkan kebugaran jasmani dari Pendidikan Jasmani berlangsung sudah cukup lama (meskipun terminologinya belum menggunakan istilah kebugaran jasmani/physical fitness), dimulai dari tahun 1850an hingga tahun 1950an (Kirk, 1992) yang ditujukan untuk meningkatkan fungsi tubuh secara umum, yang meliputi: membantu pertumbuhan dan perkembangan anak secara alami, peningkatan efektivitas fungsi tubuh, dan yang paling populer adalah untuk perbaikan kelainan postur tubuh, melalui latihan fisik yang salah satunya dikenal dengan nama senam sistem Swedia (Swedish gymnastics). Selain itu, pada saat yang sama diklaim pula bahwa aktivitas fisik merupakan salah satu dari empat elemen penting yang memberi kontribusi terhadap kesehatan. Tiga elemen penting lainnya adalah: nutrisi, sanitasi, dan udara bersih (Thomson, 1979).
Pada tahun 1950an, penelitian-penelitian tentang pengaruh Penjas terhadap kebugaran jasmani makin banyak dilakukan. Istilah kebugaran jasmani menjadi lebih populer dan penekanan dampak fisik kebugaran jasmani dari Pendidikan Jasmani berubah dari penekanan untuk perbaikan postur tubuh menjadi untuk meningkatkan kebugaran jasmani sebagaimana dikenal sekarang, sehingga berbagai program kebugaran jasmani banyak dikembangkan. Beberapa program seperti program keep fit, program gerak bagi kaum perempuan, Circuit Training (Morgan & Adamson, 1961), dan program Aerobics (Cooper, 1982) mulai menjadi fokus Pendidikan Jasmani. Hingga sekarang penekanan dampak fisik berupa peningkatan kebugaran jasmani dari Pendidikan Jasmani tetap sering menjadi tujuan utama dari Penjas meskipun banyak para ahli memperdebatkannya.
Walaupun dampak Penjas terhadap kebugaran jasmani tetap diakui, dipertahankan, dan di USA dampak kebugaran jasmani pernah menjadi fokus utama Pendidikan Jasmani, namun terdapat perubahan dalam penekanannya, yaitu penekanan utnuk meningkatkan status kebugaran jasmani (physical fitness) pada tahun 1960an dan penekanan pada peningkatan gaya hidup aktif  (active life style) pada tahun 1970an hingga sekarang.
2)     Orientasi Nilai Kemampuan Gerak
Pada periode Pendidikan Jasmani memfokuskan diri pada tujuan peningkatan kebugaran, yaitu sekitar tahun 1950an, olahraga mulai digandrungi oleh semua lapisan masyarakat dan para siswa di sekolahpun sangat menyenanginya dan seringkali mereka menuntut guru untuk memberikan aktivitas olahraga dalam Pendidikan Jasmani di sekolah. Untuk itu, dampak fisik berupa perkembangan dan peningkatan keterampilan gerak serta perseptual motor ability dari Pendidikan Jasmani menjadi semarak di lingkungan persekolahan (Knapp, 1963).
Penekanan fokus peningkatan keterampilan gerak dari Pendidikan Jasmani ini hingga sekarang masih tetap kuat. Tujuannya adalah untuk menguasai kompetensi gerak dasar yang diperlukan agar dapat bermain olahraga dan berpartisipasi dalam aktivitas fisik lainnya secara memadai. Pembelajaran Pendidikan Jasmani dengan menggunakan pendekatan teknik untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam menguasai berbagai gerak yang diperlukan dalam olahraga menjadi semarak di sekolah-sekolah. Hingga penilaian terhadap dimensi penguasaan gerak dan olahraga sempat menjadi fokus utama tujuan Pendidikan Jasmani di sekolah-sekolah. Perdebatan sempat muncul terutama yang berhubungan dengan pendekatan dan fokus pembelajaran yang menekankan pada peningkatan penguasaan gerak, peningkatan kemampuan bermain, dan gaya hidup aktif. 
Untuk lebih menjamin kesinambungan fokus pembelajaran dari mulai Sekolah Dasar hingga Sekolah Menengah Atas dan menjamin keseimbangan fokus penguasaan gerak (gerak dasar dan teknik dasar) dan kemampuan bermain ( keterampilan taktik dan strategi) maka muncul berbagai model pembelajaran diantaranya adalah, Teaching Games for Understanding (TGFU), Games Sense Approach, atau Tactical Approach, dan Play Teach Play. Fokus utama pendekatan pembelajaran tersebut adalah peningkatan kemampuan bermain yang berujung pada kesenangan berolahraga, meningkatnya keterampilan gerak berolahraga, dan nilai-nilai pendidikan lainnya. Keunggulan pendekatan ini sudah cukup banyak didukung oleh bukti-bukti hasil penelitian (Metzler, 2000; Gallahue, 1982; Siedentop, 1994).
3)     Orientasi Nilai Gaya Hidup Aktif
Dampak fisik berupa penanaman gaya hidup aktif sepanjang hayat melalui Pendidikan Jasmani pada tahun 1970an di beberapa negara maju menjadi pilihan utama. Pilihan ini didasarkan pada berbagai keyakinan dan hasil kajian. Bailey (2009) mengemukakan bahwa fokus Penjas yang hanya meningkatkan kebugaran jasmani dan keterampilan gerak saja tidaklah lengkap. Kebugaran jasmani dan penguasaan gerak selagi masa kanak-kanak tidak menjamin tertanamnya gaya hidup aktif dan kesehatan di hari tua, kecuali masih tetap memiliki kesenangan dan kebiasaan melakukan aktivitas fisik secara rutin (WHO, 2007).
Kondisi gaya hidup aktif sekarang ini sangat rendah dan efeknya sangat memprihatinkan (depdiknas, 2007). Kondisi ini kecenderungannya akan terus berlanjut dan apabila tidak dicarikan pemecahannya, maka efek negatif dari rendahnya melakukan aktivitas fisik, makin lama akan semakin merugikan berbagai dimensi kehidupan baik secara individual maupun komunal.           
Sebaliknya, gaya hidup aktif yang ditandai dengan partisipasi olahraga merupakan faktor penting penentu kesehatan, kesejahteraan, dan produktifitas kerja. Penurunan kemampuan fisik di masa tua sebagian ditentukan oleh faktor-faktor yang berhubungan dengan gaya hidup, seperti merokok, konsumsi alkohol, diet, lingkungan, dan terutama adalah kesenangan dan kebiasaan melakukan aktivitas fisik. Sebagaimana tercantum dalam dokumen U.S. Department of Health and Human Services (1996: 1), “Successful aging is largely determined by individual lifestyle choices and not by genetic inheritance”. Selanjutnya, dalam rangka promosi gaya hidup aktif di kalangan orang dewasa, dikatakan pula, “No one is too old to enjoy the benefits of regular physical activity”.
Reviu terhadap beberapa hasil penelitian (yang dipublikasikan dari tahun 1997 sampai dengan tahun 2005) tentang keuntungan kebiasaan melakukan aktivitas fisik terhadap kesehatan (Brown, Burton, & Rowan, 2007) menunjukkan bahwa aktivitas fisik yang dilakukan secara teratur mampu menurunkan resiko terkena penyakit kardiovaskuler, diabetes tipe 2, dan beberapa penyakit kanker pada perempuan antara 14–58%.  
Seseorang yang tidak melakukan olahraga memiliki resiko dua kali terkena penyakit kanker daripada seseorang yang aktif melakukan olahraga. Olahraga berpotensi mencegah terjadinya osteoporosis secara dini dan juga berdampak positif terhadap phychological well-being seseorang (Brown, 2008). Peranan utama aktivitas fisik adalah vaskularisasi atau pembentukan saluran-saluran darah lebih banyak. Dengan demikian, walaupun seandainya ada serpihan lemak terlepas dan menyumbat pembuluh darah, masih banyak pembuluh darah di sekitarnya yang dapat mengalirkan darah ke jaringan tubuh yang menderita akibat sumbatan  sebelum kerusakan fatal (antara hidup dan mati) terjadi (Cooper, 1982).
Kebiasaan melakukan aktivitas fisik dapat meningkatkan status kesehatan, kualitas hidup, fungsi tubuh pada usia menengah dan memperoleh keuntungan pencegahan dari berbagai penyakit non infeksi pada masa tua. Brown, Burton, and Heesch (2007) melakukan penelitian longitudinal terhadap kesehatan perempuan di Australia yang berusia 18-23 tahun (early life), usia 45-50 tahun (mid life), dan usia 70-75 tahun (older life), hasilnya diilustrasikan ke dalam gambar 3.
Dari hasil penelitian tersebut dapat disampaikan bahwa, pertama gaya hidup aktif pada masa kanak-kanak dan masa paruh baya berguna untuk memperlambat menurunnya fungsi tubuh, pencegahan dari penyakit kronik, dan hidup ketergantungan dari orang lain. Kedua, bagi mereka yang semasa kanak-kanak terbiasa aktif namun pada masa paruh baya tidak aktif, maka pada usia itu fungsi tubuhnya akan drastis menurun (lihat garis putus-putus pada gambar di atas) mendekati batas kemampuan fungsi tubuh mereka yang tidak memiliki gaya hidup aktif dan memiliki potensi yang sama terkena berbagai penyakit kronis seperti mereka yang tidak memiliki gaya hidup aktif.
Gambar 3. Maintaining functional capacity and good health over the life course. (Sumber: Brown, 2008)

Beberapa hasil penelitian lainnya sejalan dengan hasil penelitian di atas, Brown, Burton, & Rowan (2007) mengatakan bahwa, mereka yang melakukan aktivitas fisik kategori moderat selama 30 menit dengan frekuensi minimal 4 kali per minggu dapat mengurangi kemungkinan terjangkitnya penyakit kardiovaskuler, kencing manis, dan beberapa penyakit kanker. Mereka menambahkan bahwa, aktivitas fisik pada katagori moderat juga dapat mencegah kemungkinan terjangkitnya radang persendian. Selanjutnya,  U.S. Department of Health and Human Services (1996) mengatakan bahwa  aktivitas fisik pada kategori vigorous pada mereka yang berusia 50 tahunan memberikan keuntungan signifikan terhadap penghambatan menurunnya fungsi tubuh pada masa tua.    
Promosi peningkatan kesehatan melalui penanaman gaya hidup aktif tidak hanya penting untuk alasan peningkatan kualitas hidup dan kesehatan seseorang, tetapi juga memberi dampak dimensi ekonomi. Kondisi tubuh yang sehat menyebabkan seseorang memiliki resistensi yang lebih kuat terhadap stress, berbagai penyakit degeneratif, dan dapat menjalani kegiatan sehari-hari menjadi lebih bergairah, dan produktivitas akan semakin meningkat. Bagi mereka yang memasuki usia lanjut, kebiasaan melakukan aktivitas fisik secara rutin dapat menjaga kesehatan dan kebugarannya, mereka akan lebih siap menghadapi usia tua, lebih mandiri, kuat dan ceria sehingga proses penuaan dapat diperlambat. Morris (1994) mengemukakan, “physical activity is the best buy in public health”.  
Dilihat dari biaya perawatan kesehatan, Lutan (2001) mengemukakan, penghematan ongkos kesehatan per kapita per tahun karena aktif berolahraga ditaksir sekitar $ 330 di AS. Di Kanada, penghematan diperkirakan mencapai $ 364 per orang yang aktif berolahraga.       Lebih lanjut Australian Government Department of Health and Aging, (2008), melaporkan, “in the US, the total cost of overweight and obesity in 2000 by some estimates was $117 billion (12% of the national health care budget), with $61 billion direct and $56 billion indirect costs”.  
Penelitian yang dilakukan Department of Medical Economics of the Institute of Social and Preventive Medicine and the University Hospital of Zurich (2001), terungkap bahwa aktivitas fisik yang dilakukan oleh sebagian besar populasi bangsa Swiss sudah mampu mencegah sebanyak 2,3 juta kasus penyakit, 3300 kematian, dan menghemat ongkos pengobatan 2,7 milyar francs setiap tahun.     Hasil studi keuntungan ekonomik dari aktivitas jasmani di Australia melaporkan bahwa “every dollar invested by the state government in the Community Sporting and Recreation Facilities Fund (CSRFF) generate $2.36 in direct economic activity and $6.51 in total economic activity”. Sport in Australia generated a net income of $8.8 billion in 2004/2005” (Department of Sport and Recreation/dsr.wa.gov.au).             Beberapa hasil penelitian lainnya dilaporkan majalah Business New Hampshire Magazine, 10469575, Feb93, Vol. 10, Issue 2, bahwa ongkos pengobatan bagi pekerja perusahaan yang masuk sebagai anggota klub kebugaran 55% lebih rendah daripada mereka yang tidak masuk klub kebugaran dengan rata-rata selisih $478.61 for participants vs. $869.98 for non-participants”.
Berbagai bukti dampak positif dari kebiasaan melakukan aktivitas fisik inilah yang selanjutnya penekanan tujuan Pendidikan Jasmani sedikit demi sedikit berubah. Tujuan Pendidikan Jasmani yang semula lebih berorientasi untuk meningkatkan kebugaran jasmani dan penguasaan gerak menjadi lebih berorientasi untuk menanamkan kesenangan dan kebiasaan melakukan aktivitas fisik sepanjang hayat. Tujuan untuk meningkatkan kebugaran jasmani dan penguasaan gerak untuk dapat berolahraga tetap diperhitungkan, namun lebih ditempatkan sebagai dampak positif dari Pendidikan Jasmani.  
Bahkan untuk merealisasikan tujuan Pendidikan Jasmani pada dimensi gaya hidup aktif tersebut, konferensi internasional tentang “Physical Activity Guidelines for Adolescents”, merekomendasikan target aktivitas fisik bagi masyarakat pada tahun 2000, sebagai berikut

all adolescents...be physically active daily, or nearly every day, as part of play, games, sports, work, transportation, recreation, physical education, or planned exercise, in the context of family, school, and community activities" and that "adolescents engage in three or more sessions per week of activities that last 20 minutes or more at a time and that require moderate to vigorous levels of exertion (Sallis, J.F., 1994).


Menindaklanjuti rekomendasi tersebut, USA membuat target program yang berjudul “Healthy People 2000, yang isinya berbunyi “Every US adult should accumulate 30 minutes or more of moderate-intensity physical activity on most, preferably all, days of the week”, (Pate, et.al, 1995: 6). Pernyataan tersebut diperkuat lagi di dalam pedoman melaksanakan aktivitas fisik, “in order to achieve health benefits, American adults should try to accumulate 2 ½ hours per week of moderate physical activity (or 1 1/4 hours of vigorous activity) and engage in activities that strengthen the majormuscles of the body twice per week”.(Moore, 2009: 2). Bahkan, untuk menanamkan kebiasaan hidup aktif, hingga sekarang di USA dan Canada digulirkan program dengan nama  Presidential Active Lifestyle Award+Nutrition (PALA+).
Sebagai tambahan, yang dimaksud aktivitas fisik pada kategori moderat adalah setara dengan jalan cepat 3 hingga 4 MPH (Mile Per Hour). Manakala satu mile = 1,609 kilometer, maka kecepatan jalan kaki tersebut sekitar 4,5 s/d 6,5 kilometer per jam setara dengan 100 hingga 130 langkah per menit.
Sementara itu, di Australia, target keterlibatan anak dalam aktivitas fisik adalah 60 menit setiap harinya sebagaimana dikatakan, “Nearly three quarters of children (68%) do not meet national physical activity recommendations of 60 minutes of physical activity each day” (Martin, K., 2010: 4). 
Terkait dengan aktivitas fisik di Indonesia, Departemen Kesehatan Republik Indonesia (2008) mengemukakan bahwa partisipasi dalam aktivitas fisik meliputi aktivitas yang dilakukan oleh penduduk umur 15 tahun ke atas yang bersifat aktivitas “berat”, “sedang” maupun berjalan paling sedikit 10 menit tanpa henti untuk setiap kegiatan, dan kumulatif > 150 menit selama 5 hari dalam seminggu.
b.      Orientasi Nilai Sosial dari Pendidikan Jasmani
Pendidikan jasmani dan olahraga selain terbukti memberi keuntungan terhadap dimensi fisik tetapi juga diyakini memberi keuntungan terhadap pengembangan dimensi sosial seperti kerjasama, leadership, dan empathy yang pada gilirannya berujung pada pembentukan perilaku gaya hidup aktif. Nauer (2010:1) melaporkan “Middle school children who scored highest in leadership skills were more physically active (≥ 20 min/day) on a weekly basis. These children were also apt to show high scores in empathy.” Terkait dengan aktivitas Pendidikan Jasmani dalam bentuk olahraga kelompok (team sport) yang didalamnya unsur kerjasama merupakan penentu meraih kemenangan, dilaporkan juga bahwa “Moderate exercise (≥ 30 min/day) and participation in team sports also correlated to higher leadership and empathy scores”.
Di Australia Barat, olahraga dijadikan instrumen untuk mengatasi berbagai masalah sosial dan hasilnya dilaporkan bahwa, “Sport and recreation can help to divert young people from crime and anti-social behaviours. It can also target those young people most at risk of committing crime and help their rehabilitation and development” (DSR, 2010). Hal serupa dilakukan oleh Presiden Nelson Mandela dan hasilnya dikemukakan, “Sport has the power to unite people in a way little else can. Sport can create hope. Breaks down racial barriers . . . laughts in the face of discrimination and speaks to people in a language they can understand” (Nelson Mandela dalam DSR, 2010).  Dalam konteks ini olahraga tidak lagi ditempatkan untuk kepentingan politis melainkan untuk kemaslahatan hidup, “Sport . . . is not about winning it’s about helping to build stronger, healthier, happier, and safer communities. Sport and recreation is not a luxury” (DSR, 2010).  Mereka berkeyakinan bahwa modal sosial harus dikembangkan untuk membangun kehidupan yang lebih baik, Hager P.F. (1995: 5) mengatakan, “The children should play competitive sports so they will learn to live and work successfully in our competitive society”.
Melalui olahraga, siswa belajar hidup dan bekerja kompetitif dan kolaboratif agar siap hidup dalam kehidupan yang penuh kompetisi. Kompetisi adalah persaingan yang dilandasi oleh dasar-dasar fair play. Kemenangan akan kurang bermakna kecuali atas landasan fair play yang merupakan tradisi hakiki dari sport. “Winning means little unless it is accomplished within the fair play conventions that govern the traditions of the sports.” (Simon, 1991: 7).
Pengalaman kompetisi yang dilandasi fair play tersebut diharapkan dapat diimplementasikan dalam kehidupan sehari-harinya. Siedentop (1994) mengatakan pelajaran yang sangat berharga yang dapat dipetik dari olahraga kompetitif adalah, “. . . Selalu bekerja keras, fair play, menghargai lawan, menerima kenyataan, ‘when the contest is over, it is over’. Esensi utamanya adalah partisipasi secara sportif dan penuh penghargaan, bukannya siapa atau tim mana yang menang atau kalah. Pelaku betul-betul menghargai fair play dan menjunjung tinggi nilai-nilai olahraga.
Sementara itu, Simon (1991) mengungkapkan bahwa olahraga yang dilakukan dengan baik dapat menanamkan nilai-nilai persatuan secara signifikan bagi kehidupan manusia. Melalui olahraga, kita dapat belajar mengatasi kekalahan/ketidak beruntungan dan menghargai keunggulan. Kita dapat belajar menilai olahraga dari aktivitasnya itu sendiri, atau bagian dari ‘intrinsic reward’ yang terkandung di dalamnya, dan dapat belajar menghargai kontribusi orang lain sekalipun kita di pihak lawan. Kita dapat mengembangkan dan mengekspresikan kebajikan moral dan mendemonstrasikan nilai-nilai tersebut ‘as dedication, integrity, fairness, and courage”.
Siedentop (1994) mengungkapkan, “partisipasi dalam olahraga dapat membantu siswa menjadi lebih terampil dalam bermain, menjadi lebih sadar akan fair play, menjadi cerdas dan terampil pada aspek lain dari olahraga, dan lebih pandai berperilaku baik sebagai pemimpin maupun sebagai anggota team”. Dengan demikian tidak terlalu mengherankan manakala Adolf Ogi, mantan Presiden Swiss, pada saat masih bertugas sebagai Penasehat khusus, Sekretaris Jendral Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengenai Olahraga untuk Pembangunan dan Perdamaian menyatakan bahwa nilai-nilai olahraga identik dengan nilai-nilai PBB, dan karena itu olahraga perlu terus dipromosikan demi kemaslahatan umat manusia. Lebih  jauh ia menyatakan: “Sport teaches life skill – sport remains the best school of life.” Sementara itu, Robert Putnam (dalam DSR, 2010) mengatakan  places with high level of social capital are safer, better governed and more prosperous, compared to those places with low levels of social capitals”.
Keyakinan akan keuntungan sosial ini sebenarnya sudah berlangsung sejak adanya istilah Pendidikan Jasmani dan keyakinan ini semakin kuat seiring dengan semakin tersedia dan lengkapnya bukti-bukti hasil penelitian di lapangan. Berdasarkan perspektif sejarah, Bailey, et all. (2009) melaporkan bahwa pada tahun 1900an, pada saat kesadaran masyarakat terhadap pendidikan sangat rendah,  kehadiran Pendidikan Jasmani mampu meningkatkan fungsi sosial sekolah dan kehadiran masyarakat untuk bersekolah. Kirk (1998) melaporkan bahwa latihan fisik seperti Senam Sistem Swedia, yang merupakan salah satu bentuk Pendidikan Jasmani pada tahun 1900an, sudah mampu meningkatkan kepatuhan dan kedisiplinan siswa. Karena keunikannya itu, Senam Sistem Swedia ini diadopsi di lingkungan militer, dan sekarang sudah menjadi tradisi latihan fisik di lingkungan militer yang bertujuan untuk meningkatkan disiplin, kepatuhan, dan karakter anggota militer. 
Selain Senam Sistem Swedia, aktivitas fisik dalam bentuk permainan, khsususnya permainan tradisonal, dilaporkan oleh Mangan (1986) terbukti dapat mengembangkan kualitas kepemimpinan, semangat kelompok (team spirit), kepuasan, dan karakter. Karena dampak positif nilai sosialnya, aktivitas permainan ini untuk selanjutnya banyak dimodifikasi dan diberikan kepada siswa pada berbagai jenjang pendidikan. Selain itu, yang juga tidak kalah pentingnya dilaporkan pula bahwa aktivitas  permainan dan permainan tradisional dijadikan alat untuk mencegah kenakalan remaja dan sebagai alat pemersatu antar etnis dan status sosial ekonomi. Hal ini sejalan dengan “klaim” bahwa Pendidikan Jasmani dapat menjadi instrumen pemersatu bangsa.
Miller, Bredemeier, and Shields (1997) meyakini bahwa partisipasi olahraga dan kemampuan bekerja secara kolaboratif, kohesif, dan konstruktif dalam olahraga dapat mendorong sejumlah keterampilan seperti belajar mempercayai orang lain, belajar bermasyarakat, empati, tanggung jawab individu dan sosial, and kerjasama. Lebih dari itu, para ahli Pendidikan Jasmani (Hellison 1995; Goodman 1999; Bailey 2005a) meyakini bahwa keterampilan sosial melalui Penjas dapat berfungsi sebagai bekal utama bagi individu dalam mengembangkan kemampuan mengatasi berbagai tuntutan lingkungan kehidupan.
Pada tahun 2004, Indonesia telah meluncurkan berbagai program yang berhubungan dengan pengembangan dimensi sosial melalui olahraga, seperti Community Sport Development (CSD), School Sport Development (SSD), dan pemulihan trauma psikologis pasca tsunami. Beberapa tempat yang dijadikan pilot studi waktu itu antara lain Aceh, Ambon, Poso, dan beberapa kabupaten kota yang tidak sedang konflik. Program tersebut cukup mendapat sambutan yang baik dari daerah dan sekolah walaupun program tersebut sudah lama terhenti, tidak jelas nasibnya.
Hasil penelitian juga cukup banyak mendukung keterkaitan Penjas dengan perkembangan keterampilan sosial seperti kerjasama, empati, dan tanggungjawab sosial dan pribadi (lihat Ennis, 1999). Andrews and Andrews (2003) mengemukakan bahwa program Penjas dapat membantu meningkatkan angka kehadiran masuk sekolah, bersikap dan berperilaku positif di sekolah, dan dapat mengurangi perilaku anti sosial.
Pemanfaatan Pendidikan Jasmani sebagai media penanaman tanggung jawab personal dan sosial serta keterampilan sosial diperkuat dengan berbagai usaha inovasi baik dalam bidang kurikulum maupun pembelajaran Penjas yang beberapa diantaranya di Indonesia cukup populer seperti Teaching Personal and Social Responsibility (Hellison, 1995), Sport Education (Siedentop, 1994), Physical Education for Lifelong Fitness (AAHPERD, 1999), Sport for Peace (Ennis, 1999), Adventure and Outdoor Education (Dyson and Brown 2005; Stiehl and Parker, 2005). Sedangkan produk dalam bentuk model pembelajaran misalnya Tactical Games Models/TGM (Metzler, 2001) atau disebut juga Teching Games for Understanding/TGFU (Bunker & Thorpe, 1982) di Indonesia sering disebut pendekatan taktis, Sport Education (Siedentop, D., 1994), Peer Teaching Model yang dalam Penjas lebih populer dengan nama Reciprocal Style (Mosston and Ashworth, 1994), Cooperative learning dan Teaching Responsibility (Robert Slavin, 1995; Hellison, 1995; Martinek and Hellison, 1997; Lawson, 1999).
Untuk kepentingan penyelesaian studi, khususnya mahasiswa S2 dan S3 program studi Pendidikan Olahraga, Sekolah Pascasarjana UPI, penelitian yang ditujukan untuk mengungkap dimensi sosial dari Pendidikan Jasmani ini sudah sering dilakukan termasuk melalui program PLPG Penjas (Program Latihan dan Pendidikan Guru Pendidikan Jasmani dan Olahraga) di FPOK UPI. Meskipun berdasarkan data yang ada masih belum lengkap dan cukup kuat untuk memperkuat keyakinan akan dampak sosial dari Penjas, namun para pemangku profesi Pendidikan Jasmani tetap memiliki keyakinan kuat akan dampak sosial positif dari Penjas. Beberapa hasil penelitian menyarankan bahwa variabel konteks dan pedagogis merupakan faktor utama yang harus diperhatikan agar dapat memfasilitasi pengalaman positif anak didik dalam program Penjas yang didapatkannya.
c.      Orientasi Nilai Afektif dari Pendidikan Jasmani
Bidang kajian afektif yang sering menjadi sorotan dalam Pendidikan Jasmani sinomim dengan ranah psikologis yang di dalamnya antara lain meliputi kesehatan mental, harga diri, keterampilan mengatasi masalah, motivasi, kebebasan, moral, karakter, percaya diri, emosi, kesenangan, pilihan dan perasaan, keyakinan, aspirasi, sikap, dan apresiasi (NRCIM 2002; Beane, 1990). Para ahli Penjas meyakini bahwa aktivitas fisik dapat meningkatkan kesehatan psikologis anak.
Pengakuan dampak positif afektif ini dituangkan dalam sejumlah dokumen kebijakan Penjas baik nasional maupun internasional. Dalam dokumen World Health Organisation (1998) dikatakan bahwa partisipasi dalam olahraga meningkatkan self-esteem, self-perception and psychological well-being, sementara itu dalam dokumen Council of Europe yang dilaporkan oleh Svoboda (1994) dikatakan bahwa kontribusi penting dari partisipasi dalam olahraga adalah proses perkembangan kepribadian. Demikian juga dalam dokumen Kurikulum Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan yang berlaku di Indonesia dikatakan bahwa  Pendidikan jasmani, olahraga, dan kesehatan merupakan media untuk mendorong perkembangan psikis, . . ., penghayatan nilai-nilai (sikap-mental-emosional-sportivitas-spiritual-sosial), serta pembiasaan pola hidup sehat yang bermuara untuk merangsang pertumbuhan dan perkembangan kualitas fisik dan psikis yang seimbang (Depdiknas, 2006).          Fox (2000) mengemukakan bahwa self-esteem anak dapat meningkat sebagai akibat dari partisipasi dalam olahraga, namun demikian, self-esteem dipengaruhi oleh persepsi individu terhadap keterjangkauan target yang akan diraihnya (Harter, 1987), demikian juga pengalaman menyenangkan selama melakukan aktivitas fisik dan olahraga dapat menumbuhkan self-esteem yang pada gilirannya dapat memunculkan motivasi untuk terus berpartisipasi dalam aktivitas fisik dan olahraga (Williams and Gill 1995; Sonstroem 1997). Penelitian serupa juga dilakukan oleh para mahasiswa dalam penyelesaian tesis dan disertasinya dengan target partisipasi dalam olahraga seperti: senam aerobik, jantung sehat, jalan kaki, B2W, PPLP, PPLM, dan ekstra kurikuler baik setting sekolah nasional dan internasional (Kompilasi Hasil Penelitian Prodi POR SPS UPI).
Hanin (2000) mengemukakan  bahwa emosi juga merupakan faktor yang mempengaruhi pertisipasi dalam aktivitas fisik dan olahraga, khususnya manakala dikaitkan dengan mood dan affect. Gilman (2001) menyatakan bahwa mereka yang biasa berolahraga secara signifikan memiliki perasaan gembira daripada mereka yang tidak biasa berolahraga. Hal ini sejalan dengan sudut pandang neuroscience bahwa aktivitas fisik berkorelasi dengan neurogenesis dan neurogenesis berbanding terbalik dengan depresi (Jensen, 2008). Penelitian lain mengungkapkan bahwa mereka yang biasa berolahraga juga memiliki sikap yang lebih baik di sekolahnya (Mars and Kleitman, 2003), memiliki angka kehadiran yang lebih tinggi, dan menyenangi berbagai pengalaman belajar yang diberikan di sekolahnya (Fejgin, 1994).   Perlu menjadi perhatian juga bahwa pelaksanaan Pendidikan Jasmani dan Olahraga yang tidak berkualitas di sekolah dapat menyebabkan munculnya perkembangan self-concept yang negatif yang berujung pada sikap tidak senang berolahraga. Walaupun kecenderungan sikap (negatif atau positif) terhadap pengalaman dalam berolahraga sifatnya individual, namun struktur dan konteks dari aktivitas fisik atau olahraga itu sendiri  banyak mempengaruhi kecenderungan sikap negatif atau positif yang akan muncul (Mahoney and Stattin, 2000).
Berdasarkan sudut pandang neurosain, aktivitas fisik juga dapat memicu pelepasan neurotrofin, NGF (nerve growth factor), dopamine, dan adrenalin-noradrenalin yang dapat meningkatkan pertumbuhan, mempengaruhi suasana hati, menyimpan memori, dan meningkatkan koneksi antar neuron, struktur otak, serta efisiensi persyarafan (brain structure and neural efficiency). Demikian juga dikatakan bahwa berolahraga dapat mengurangi perasaaan depresi dan penurunan fungsi kognisi (Brown, Burton & Heesch, 2007).
Wankel and Kreisel (1985) mengingatkan bahwa bagi anak-anak, faktor intrinsik seperti kepuasan personal, perasaan gembira, bergerak sesuai kemampuannya, berlatih untuk menguasai materi (bukan untuk mengalahkan orang lain) lebih penting dari pada faktor ekstrinsik seperti kemenangan, penghargaan, dan menyenangkan orang lain. Faktor intrinsik tersebut merupakan elemen penting untuk membentuk sikap positif siswa dan berpengaruh terhadap tingkat kesenangan, percaya diri, dan perkembangan sikap positiff terhadap gaya hidup aktif. Sebaliknya manakala anak-anak terlalu banyak tekanan atau tuntutan untuk menang, maka perasaan tidak mampu dan rendah diri seringkali muncul pada sebagian besar anak-anak (karena juara hanya satu sebagian besar kalah), yang pada gilirannya dapat meningkatkan ketidaksenangan, ketidakpuasan, dan mangkir sekolah (Kirk et al. 2000).   Terkait dengan itu, tantangan besar bagi para pendidik Penjas adalah bagaimana memanfaatkan aktivitas jasmani yang sudah menjadi tradisi namun potensi memiliki efek negatif (Brown & Grineski, 1992; Hager, 1995; Graham & Parker, 1993) terhadap dimensi afeksi, seperti olahraga khususnya olahraga kompetisi. Simon (1991; 28) mengemukakan: 
  Sports play a significant role in the lives of millions of people throughout the world. Many men and women participate actively in sports, and still more are spectators, fans, and critics of sports. Even those who are uninvolved in sports, bored by them, or critical of athletic competition often will be significantly affected by them, either because of their relationships with enthusiasts or, more important, because of the impact of sports on our language, thought, and culture
Menghilangkan suatu tradisi yang sudah mengakar kuat bukanlah sesuatu yang mudah dilakukan meski kritik dengan berbagai bukti-buktinya sudah banyak dilontarkan. Lebih-lebih tradisi olahraga dalam bentuk kompetisi yang kini sudah biasa dilaksanakan di lingkungan persekolahan. Tidak banyak pilihan, guru harus pandai merubah faktor resiko tadi menjadi faktor keberuntungan. Olahraga dalam bentuk kompetisi tetap diperkenalkan karena memang tidak bisa dihilangkan, namun para guru perlu menyadari bahwa aktivitas kompetisi dalam konteks pendidikan bertujuan untuk mendidik, membiasakan anak mempraktekkan nilai-nilai pendidikan seperti kompetitif fair play, ulet, tekun, namun tetap respek dan kolaboratif dalam aktivitas kompetsisi di lingkungan sekolah sehingga diharapkan berimbas pada perbaikan tradisi olahraga kompetisi di masyarakat yang sementara ini banyak dikecam. Usaha tersebut dimulai dari penanaman pengetahuan, penyadaran, kemampuan melakukan, dan mempraktikkannya pada aktivitas kompetisi dalam setting yang dimodifikasi atau yang sebenarnya.
Graham, Holt, and Parker, (1993) mengemukakan salah satu tantangan mengajar Penjas melalui olahraga kompetisi adalah “merubah mind set anak yang tadinya benci kompetisi, takut kalah, selalu ingin menang dengan menghalalkan berbagai cara, berubah menjadi senang tantangan, senang berjuang, selalu berfikir reflektif, kekalahan dan kesenangan merupakan bagian integral dari kesenangan dalam menghadapi tantangannya itu. Dengan demikian, anak tidak lagi histeris menangis secara berlebihan ketika kalah dan tidak sombong ketika menang. Kompetisi dan kolaborasi merupakan bagian yang menyatu dalam kehidupannya. Dengan demikian semua pengalaman aktivitas fisik dalam konteks Pendidikan Jasmani merupakan pembelajaran yang sangat berharga sebagai bekal dalam menempuh kehidupan yang akan dilaluinya “Sport is not about winning it’s about helping to build stronger, healthier, happier, and safer communities”.
d.      Orientasi Nilai Kognitif dari Pendidikan Jasmani
Pendidikan jasmani di lingkungan persekolahan sering diklasifikasikan sebagai kelompok mata pelajaran bidang non akademik, hal ini menyebabkan guru Penjas jarang dan bahkan tidak pernah memikirkan dan mencari dampak positif dari pendidikan jasmani terhadap dimensi kognitif. Lebih-lebih dalam kenyataan intensitas belajar bidang kognitif dari siswa yang aktif olahraga relatif kurang daripada siswa pada umumnya karena kurang mendapat dorongan dari lingkungan dan gurunya. Untuk itu tidak mengherankan terdapat wacana yang beredar bahwa partisipasi siswa dalam olahraga berpengaruh negatif terhadap rata-rata nilai akademik. Namun demikian, ternyata masih banyak para ahli Pendidikan Jasmani dan disiplin lain yang konsisten berusaha mencari tahu kebenaran dari pernyataan yang berbunyi bahwa Pendidikan Jasmani memberi dampak keuntungan kognitif.
Beberapa diantara alasannya adalah didasarkan pada perspektif teori proses informasi (information-processing perspective), yang mengatakan bahwa untuk dapat menampilkan gerak yang baik, pelaku perlu mengidentifikasi data dan informasi (stimulus identification stage), memilih respon (respon selection stage) apa yang sesuai, mengorganisir sistem gerak untuk melakukan gerakan yang dipilihnya (respon programing stage), dan melakukan gerakannya itu sendiri sebagai produk dari proses informasi (Smith, 2000). Untuk itu, tidak mengherankan, Bailey ( 2009: 6) mengatakan, belajar olahraga perlu konsentrasi, tekun, ulet, teliti dan melakukan tahapan dengan cara-cara yang sama seperti yang dilakukan ilmuwan dari disiplin ilmu lain,  learning to perform physical activities demands concentration and requires the learner to be disciplined in a similar way to scholars of other subjects”.
Proses ini berlangsung sangat cepat, sehingga kualitas gerak yang dihasilkannya bergantung pada kemampuan memproses informasi dan menampilkan gerakan yang dipilihnya. Dalam permainan tennis, penerima servis harus mengidentifikasi jenis servis yang dilakukan server, lambungan bola, kecepatan bola, putaran bola, arah bola, dan dengan cepat diputuskan respon apa yang harus dilakukan, bagaimana melakukannya, dari sebelah mana melakukannya, top atau spin, dan sebagainya, sebelum bola melewati net dan lewat begitu saja. Lemahnya proses kognitif pelaku olahraga untuk menampilkan gerak menyebabkan rendahnya kualitas gerak yang dihasilkannya.
Alasan berikutnya berawal dari semboyan klasik “men sana in corpore sano” atau “a healthy body leads to a healthy mind”. Pandangan ini meyakini peningkatan hasil akademik siswa yang mengikuti program Pendidikan Jasmani menggambarkan perubahan dalam fungsi kognitifnya, seperti meningkatnya sirkulasi darah dalam otak, meningkatnya semangat, dan meningkatnya stimulasi perkembangan otak, serta faktor lain yang didapatkan secara tidak langsung dari meningkatnya energi tubuh dan berkurangnya rasa bosan karena dilakukan di luar ruangan kelas.             Berbagai keyakinan tersebut, berujung pada makin semaraknya para ahli neuroscience melakukan berbagai kajian dan penelitian untuk menjelaskan perilaku manusia dari sudut pandang aktivitas yang terjadi di dalam otak.
Jensen (2008), dari New York Academy of Sciences dan the President’s Club at the Salk Institute of Neuroscience, mengatakan bahwa neuroscience mampu menjelaskan keterkaitan aktivitas fisik dan keberfungsian kognitif yang tidak terungkap melalui disiplin ilmu manapun, yaitu: 1) “exercise is highly correlated with neurogenesis, the production of new brain cells, . . . 2) exercise upregulates a critical compound called brain-derived neurotrophic factor (BDNF), . . . 3) neurogenesis is correlated with improved learning and memory, . . . 4) neurogenesis appears to be inversely correlated with depression.
Lebih lanjut Jensen (2008: 413) mengemukakan, “When the studies are well designed, there is support for physical activity in schools. So the interdisciplinary promotion of physical activity as a’brain-compatible’ activity is well founded. . . . brains benefit from physical activity in many ways.
Jensen (2008) mempertegas bahwa aktivitas fisik masih merupakan salah satu cara terbaik untuk menstimulasi otak dan meningkatkan pembelajaran. Aktivitas fisik bukan saja memperbaiki kebugaran tubuh tetapi juga memperbaiki struktur dan fungsi memori, yang pada akhirnya berdampak terhadap kemampuan belajar siswa.  Beliau juga menambahkan bahwa aktivitas jasmani dapat memicu pelepasan neurotrofin, NGF (nerve growth factor), dopamine, dan adrenalin-noradrenalin yang dapat meningkatkan pertumbuhan, mempengaruhi suasana hati, menyimpan memori, dan meningkatkan koneksi antarneuron, struktur otak, serta efisiensi persyarafan (brain structure and neural efficiency). Gage, et al., (1998) seorang neurobiologis dan ahli genetika di Institut terkemuka di dunia, Salk Institute di La Jolla, California, mengatakan bahwa olahraga yang teratur dapat menstimuli pertumbuhan sel-sel otak baru dan memperpanjang ketahanan sel-sel yang masih ada.
Hopkins, et.al., (2012) mengemukakan bahwa “Regular physical exercise enhanced recognition memory and decreased stress”. Temuan lainnya yang juga sama pentingnya dikatakan bahwa aktivitas jasmani dapat memicu pelepasan BDNF (Brain Derive Neutropic Factors), yaitu suatu protein yang dijuluki sebagai “Miracle-Growth for the Brain”. BDNF dikatakan sebagai “a crucial biological link between thought, emotion, and movement”.  BDNF merupakan faktor penting untuk meningkatkan kognisi dengan memacu kemampuan neuron-neuron untuk berkomunikasi satu sama lain dan pertumbuhan syaraf baru terutama pada bagian hipokampus, “BDNF are important for synaptogenesis and neurogenesis, especially in the hippocampal region”.
Gabriel (2010:1) mengemukakan “Daily aerobic exercise is best but including intervals of sprints are even better”. Pernyataan ini didasarkan pada hasil penelitian  terhadap  dua kelompok sampel yang secara rutin melakukan treadmill selama 40 menit setiap latihan, namun pada salah satu kelompok ditambahkan lari interval sprint selama 2 x 3 menit di antara latihan tredmill yang dilakukannya. Hasilnya menunjukkan bahwa sampel yang diberi tambahan latihan lari print menunjukkan peningkatan BDNF yang lebih tinggi daripada sampel yang tidak mendapatkan tambahan latihan sprint. Tidak hanya itu, sampel yang memperoleh tambahan latihan tersebut juga memiliki kemampuan menghafal kata lebih cepat daripada sampel satunya lagi. Dishman, et.al. (2006) dari Department of Exercise Science, The University of Georgia melaporkan:

Voluntary physical activity and exercise training can favorably influence brain plasticity by facilitating neurogenerative, neuroadaptive, and neuroprotective processes. . . . These adaptations in the central nervous system have implications for the prevention and treatment of . . . the decline in cognition associated with aging, and neurological disorders.


Hasil penelitian Kirk, et. al. (1996) mengemukakan bahwa berolahraga bagi orang tua  dapat menghambat kerusakan syaraf, dan bagi anak-anak dapat meningkatkan perkembangan pembuluh darah dan jumlah sinaps syaraf dalam otak. Sedangkan Brown, Burton & Heesch (2007) mengemukakan bahwa berolahraga dapat mengurangi perasaaan depresi dan penurunan fungsi kognisi. Kemampuan belajar seseorang sangat ditentukan oleh  keberfungsian organ yang disebut “otak”. Otak memiliki area-area penting seperti: basal ganglia, cerebellum, cortex, system limbic, hipocampus dan corpus collosum (Jensen, 2008). Area-area dalam otak tersebut memiliki peran penting dalam proses pembelajaran. Sehingga makin baik fungsi organ otak makin baik pula hasil belajarnya.
Di Indonesia kajian neuroscience ini masih sangat kurang kalau tidak dikatakan belum ada, keterbatasan mahalnya dan kecanggihan peralatan yang sangat langka meskipun dilakukan melalui kerjasama, merupakan faktor utama kemandekan perkembangan penelitian pada bidang ini.
Sementara itu, kajian keterkaitan Pendidikan Jasmani dengan perolehan hasil akademik sudah dilakukan sejak lama. Hervet (1952) mengemukakan hasil penelitiannya bahwa dengan mengganti waktu belajar akademik sebanyak 26% oleh program Pendidikan Jasmani ternyata tidak menyebabkan menurunnya perolehan hasil akademik, malah sebaiknya dapat mengurangi masalah ketidakdisiplinan siswa, meningkatkan perhatian siswa, dan menurunkan angka bolos belajar siswa. Demikian juga dari hasil penelitian Dwyer et al. (1983) terungkap bahwa meskipun waktu mengajar berkurang antara 45 hingga 60 menit setiap hari karena diisi dengan  program Pendidikan Jasmani, ternyata tidak ada tanda-tanda berpengaruh terhadap menurunnya kemampuan matematik dan bahasa.
Hasil penelitian terkini menunjukkan bahwa peningkatan kemampuan akademik siswa meningkat manakala mendapat peningkatan program Pendidikan Jasmani di sekolahnya (Shephard, 1996; Sallis et al. 1999; Amirullah, 2012). Selanjutnya Shephard (1997) mengemukakan bahwa peningkatan frekuensi program Pendidikan Jasmani berpengaruh terhadap terpeliharanya perolehan hasil akademik dan bahkan terkadang meningkat meskipun waktu belajar akademik dikurangi. Untuk lebih melengkapi informasi tentang hasil penelitian yang berhubungan dengan Pendidikan Jasmani dan hasil belajar siswa, dapat dilihat pada  http://www. dsr.wa.gov.au yang dihimpun oleh the University of Western Australia.
Berdasarkan reviu hasil peneitian di atas terdapat beberapa kesimpulan 1) peningkatan intensitas dan frekuensi program Pendidikan Jasmani tidak mengganggu perolehan hasil akademik siswa pada mata pelajaran lain meskipun waktu belajar mata pelajaran tersebut dikurangi; 2) dan bahkan pada beberapa outcome tertentu (konsentrasi, kesiapan belajar, semangat belajar), penambahan intensitas dan frekuensi Pendidikan Jasmani dapat menguntungkan bagi peningkatan perolehan hasil akademik; 3) keterkaitan fungsi kognitif dan aktivitas fisik semakin kuat manakala program Pendidikan Jasmani dilakukan terus menerus dalam jangka waktu yang cukup lama.
Martin K. (2010: 5) dari University of Western Australia membuat rekomendasi dari beberapa hasil penelitiannya, “schools can be encouraged to maximise time children spent in physical activity and sport; and reassured that replacing academic time with physical activity and sport will not have a detrimental effect on children’s academic success, and may actually support and optimise learning”.

C.   ISU-ISU KEKINIAN KAJIAN FILOSOFISPENDIDIKAN JASMANI DAN OLAHRAGA
1.    Profesionalisme Guru Penjasor
Peranan guru sangat menentukan dalam usaha peningkatan mutu pendidikan formal. Untuk itu guru sebagai agen pembelajaran dituntut untuk mampu menyelenggarakan proses pembelajaran dengan sebaik-baiknya, dalam kerangka pembangunan pendidikan. Guru mempunyai fungsi dan peran yang sangat strategis dalam pembangunan bidang pendidikan, dan oleh karena itu perlu dikembangkan sebagai profesi yang bermartabat.
Undang-Undang No. 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen Pasal 4 menegaskan bahwa guru sebagai agen pembelajaran berfungsi untuk meningkatkan mutu pendidikan nasional. Untuk dapat melaksanakan fungsinya dengan baik, guru wajib untuk memiliki syarat tertentu, salah satu di antaranya adalah berkompetensi. Kompetensi merujuk kepada kemampuan yang dimiliki untuk dapat melaksanakan tugas dan kewajiban sesuai bidang tugas secara profesional. Guru, dalam artian secara umum didefinisikan sebagai pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah. Profesional merujuk kepada kapasitas kepakaran secara keilmuan dan keterampilan. Lebih lanjut guru Penjasor sebagai garda terdepan dalam pendidikan diwajibkan untuk memiliki kompetensi berkaitan dengan bidang tugasnya sehingga akan disebut sebagai guru profesional.
Terlepas dari pendefinisian sebelumnya, terdapat istilah yang menjadi kajian utama yaitu profesional, profesionalisme, dan profesionalisasi. Profesional mengarah kepada kualitas kepakaran seseorang dalam penguasan substansi ilmu. Sedangkan profesionalisme mengarah kepada sifat profesional untuk menjalankan peran keprofesiannya dengan totalitas penuh dan tanggung jawab. Untuk dapat menjadi seorang guru Penjasor yang profesional diperlukan upaya untuk meningkatkan dan mengembangkan ranah keilmuan, wawasan, pengalaman dan keterampilan melalui kegiatan pendidikan dalam jabatan dan kegiatan pra jabatan. Kegiatan ini berupa seminar, pelatihan, workshop dan atau kegiatan-kegiatan sejenis yang memiliki tujuan peningkatan kualitas guru. Istilah kompetensi menunjuk pada suatu kemampuan sebab “competence means fitness or ability” yang berarti kemampuan atau kecakapan.
Dalam PP No.19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, pada pasal 28 disebutkan bahwa “pendidik harus memiliki kualifikasi akademik dan kompentensi sebagai agen pembelajaran, sehat jasmani dan rokhani, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional” (PP No.19 Th 2005, ps 28). Kemudian yang dimaksud kualifikasi akademik adalah tingkat pendidikan minimal yang harus dipenuhi oleh seorang pendidik yang dibuktikan dengan ijazah atau sertifikat keahlian yang relevan, yang sesuai dengan bidang studi yang menjadi tugas pokok. Oleh sebab itu, seorang pendidik, minimal memiliki : (a) kualifikasi akademik serendah-rendahnya sarjana (S1) atau Diploma IV, (b) latar belakang pendidikan sesuai dengan tugas pokok, dan (c) sertifikat profesi. Jika yang bersangkutan tidak memiliki ijazah atau sertifikat yang dipersyaratkan namun memiliki keahlian khusus yang diakui dan diperlukan, yang bersangkutan dapat diangkat sebagai pendidik setelah menempuh uji kelayakan dan kesetaraan.
Kualifikasi kompetensi yang harus dimiliki pendidik adalah kompetensi sebagai agen pembelajaran, yakni kemampuan pendidik untuk berperan sebagai fasilitator, motivator, pemacu dan pemberi inspirasi belajar bagi peserta didik. Kompetensi ini terdiri atas (a) kompetensi pedagogi, (b) kompetensi kepribadian, (c) kompetensi professional dan (d) kompetensi sosial. sebelum membicarakan lebih jauh mengenai kompetensi yang harus dikuasai guru, dalam pandangan epistemologi kompetensi guru adalah kecakapan untuk menunjukan daya kinerja yang berkembang melalui proses belajar dan melaksanakan tugas dalam memfasilitasi berkembangnya potensi siswa melalui rekayasa suasana belajar dan proses pembelajaran yang dapat memenuhi kebutuhan siswa belajar.
Kompetensi pedagogi merupakan kemampuan seseorang dalam mengelola pembelajaran peserta didik yang meliputi pemahaman terhadap peserta didik, perancangan dan pelaksanaan pembelajaran, evaluasi hasil belajar, dan pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan potensi yang memiliki peserta didik. Kompetensi kepribadian merupakan kemampuan seseorang yang diwujudkan dalam kepribadian yang mantap dan berwibawa, stabil, dewasa dan beraklaq mulia serta mampu sebagai teladan bagi peserta didik.
Kompetensi professional merupakan kemampuan seseorang yang berkaitan dengan penguasaan materi pembelajaran secara luas dan mendalam, sehingga yang bersangkutan mampu membimbing peserta didik memenuhi standar kompetensi yang ditetapkan dalam Standar Nasional Pendidikan. Sedangkan kompetensi sosial adalah kemampuan seseorang untuk berkomunikasi dan bergaul secara efektif dengan peserta didik, antar sesma pendidik, tenaga pendidikan, orang tua / wali peserta didik serta masyarakat sekitar. Secara lebih spesifik, empat kompetensi bagi guru Penjasor dijelaskan sebagai berikut.
a.      Kompetensi Personal
Kompetensi kepribadian adalah kompetensi yang berkaitan dengan tingkah laku pribadi guru itu sendiri yang kelak harus memiliki nilai-nilai luhur sehingga tercermin dalam kualitas perilaku keseharian. Fungsi kompetensi kepribadian guru adalah memberikan bimbingan dan suri teladan, secara bersama-sama mengembangkan kreativitas dan membangkitkan motif belajar serta dorongan untuk maju kepada anak didik. Oleh karena itu seorang guru dituntut melalui sikap dan perbuatan menjadikan dirinya sebagai panutan dan ikutan orang-orang yang dipimpinnya.
Kepribadian seorang guru adalah kemampuan kepribadian yang mantap, stabil, dewasa, arif, dan berwibawa, menjadi teladan bagi peserta didik, dan berakhlak mulia. Etika yang tercermin pada kepribadian telah menjadi bahan kontemplasi jauh sebelum lahirnya istilah kompetensi personal, adalah Immanuel Kant seorang filusuf modern dengan tiga karya fundamentalnya yaitu the Critique of Pure Reason, the Critique of Practical Reason dan the Critique of the Power of Judgement dimana Immanuel Kant termasuk tokoh yang peduli pada moral. Mengkaitkan dengan paparan Kant dalam ruang lingkup filsafat etika, dimana filsafat Kant termasuk pada filsafat etika aliran deontologi, suatu aliran filsafat yang menilai setiap perbuatan orang dan memandang bahwa kewajiban moral dapat diketahui dengan intuitif dengan tidak memperhatikan konsep yang baik. Kant memandang bahwa perbuatan moral dapat diketahui dengan kata hati, hal ini berarti bahwa hukum moral hanya berjalan sesuai kata hati dalam artian bahwa kata hati menjadi syarat utama kehidupan moral. Agar moral berimplikasi baik seseorang harus berbuat dengan rasa wajib.
Pemikirannya tidak mudah dipahami, namun sangat berpengaruh mulai dari masanya bahkan hingga saat ini. Sehingga dia dianggap sebagai pemikir terbesar di bidang filsafat moral. Menurut Kant kehendak menjadi baik jika ia bertindak menurut kewajiban. Kalau suatu perbuatan dilaksanakan berdasarkan motif lain, maka perbuatan tersebut tidak bisa dikatakan baik.
Betapapun terpujinya hasil dari perbuatan tersebut, maka perbuatan itu secara moral dianggap tidak baik. Misalnya saja ketika kita ingin mensedekahkan sebagian uang kita kepada pengemis, atas dasar iba karena melihat keadaan si pengemis, maka menurut aliran ini, kebaikan yang telah ia lakukan tak patut dikatakan baik. Seharusnya perbuatan dilakukan berdasarkan kewajiban, yang mana perbuatan yang dilandaskan pada kebaikan tadi oleh Kant disebut dengan ‘legalitas’.
Dengan kata legalitas kita memenuhi norma hukum. Tapi sebenarnya tidak cukup hanya karena kewajiban semata. Hal demikian menurut Kant belum memasuki taraf moralitas. Ia baru bisa dikategorikan sebagai perbuatan moral jika ia dilakukan semata-mata “karena hormat untuk hukum moral.” Etika deontologi sendiri berkaitan dengan pandangan etika universalis. Jelasnya, menurut etika deontologis, satu tindakan dinilai baik atau buruk berdasarkan apakah tindakan itu sesuai atau tidak dengan kewajiban yang harus dilakukan. Sebaliknya satu tindakan dinilai buruk secara moral, apabila tindakan itu memang buruk sesuai moral, sehingga tidak menjadi kewajiban untuk dilakukan. Dengan demikian, etika deontologi sama sekali tidak mempersoalkan akibat dari setiap tindakan apakah baik atau buruk. Yang ditentukan adalah bahwa berbuat baik itu merupakan satu kewajiban. Etika deontologi sangat menekankan motivasi, kemauan baik, dan watak yang kuat untuk bertindak sesuai kewajiban. Bahkan menurut Kant, kemauan baik harus dinilai baik.
Dalam bangunan profesional guru, kompetensi personal menempati ruang paling mendasar dalam piramida tersebut, memberikan pondasi karakter dan pranata sikap dalam menjalankan tugas dan kewajiban sebagai seorang guru Penjasor sehingga mampu dan patut menjadi tauladan bagi peserta didik, teman sejawat dan masyarakat.
b.      Kompetensi Pedagogi
Kompetensi pedagogi adalah kemampuan pembelajaran peserta didik.11 Sedangkan dalam penjelasan Pasal 28 atas PP RI No.19 Tahun 2005 tentang standar nasional pendidikan, bahwa yang dimaksud kompetensi pedagogik adalah kemampuan mengelola pembelajaran peserta didik yang meliputi pemahaman terhadap peserta didik, perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran, evaluasi hasil belajar, dan pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilikinya.
Menilik ke masa lalu, pedagogi berasal dari bahasa Yunani kuno, yaitu paedos (anak) dan agogos (mengantar, membimbing, memimpin). Dalam sejarah Yunani kuno, pedagogos dan pedagog adalah sebutan untuk pelayan pada zaman tersebut yang mengantarkan atau membimbing anak dari rumah ke sekolah dan setelah sampai di sekolah anak tersebut di lepas, dibiarkan. Hal ini memberikan tafsiran bahwa pedagog dipandang sebagai aktivitas mengantaran anak menuju kedewasaan.
Memberikan kerangka makna yang berbeda, kompetensi pedagogi adalah kemampuan mengelola pembelajaran peserta didik, perancangan dan pelaksanaan pembelajaran, evaluasi hasil belajar, dan pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilikinya. Dalam jabaran terminologi yang lebih spesifik kompetensi pedagogi memiliki ranah makna sebagai berikut:

1)    Mampu memutuskan mengapa, kapan, dimana, dan bagaimana materi mendukung tujuan pengajaran, dan bagaimana memilih jenis-jenis materi yang sesuai untuk keperluan belajar siswa.
2)    Mampu mengembangkan potensi peserta didik.
3)    Menguasai prinsip-prinsip dasar pembelajaran berbasis Kompetensi.
4)    Mengembangkan kurikulum yang mendorong keterlibatan peserta didik dalam pembelajaran.
5)    Merancang pembelajaran yang mendidik.
6)    Melaksanakan pembelajaran yang mendidik.
7)    Menilai proses dan hasil pembelajaran yang mengacu pada tujuan utuh pendidikan.

Ketujuh jabaran kompetensi pedagogi di atas memberikan deskripsi bahwa pedagogi ini merupakan hal utama yang harus dipahami, dikuasai dan diimplementasikan secara benar kepada para peserta didik dengan harapan besar keberhasilan capaian kompetensi belajar siswa dapat tercapai.
Lebih tegas, secara pedagogis, kompetensi para guru dalam mengelola pembelajaran perlu mendapat perhatian yang serius. Hal ini penting karena pendidikan di Indonesia dinyatakan kurang berhasil oleh sebagian masyarakat, dinilai kering dari aspek pedagogis dan sekolah nampak lebih mekanis sehingga peserta didik cenderung kerdil karena tidak mempunyai dunianya sendiri.
Paulo Freire, seorang ahli critical pedagogy dalam bukunya Pedagogy of Hope mengkritisi kondisi pendidikan seperti ini sebagai penjajahan dan penindasan yang harus dirubah menjadi pemberdayaan dan pembebasan. Freire mengungkapkan bahwa proses pembelajaran nampak seperti sebuah kegiatan menabung, peserta didik sebagai ”celengan” dan guru sebagai ”penabung”. Sehubungan dengan ini guru dituntut untuk memiliki kompetensi yang memadai dalam mengelola pembelajaran dan mengubah paradigma pembelajaran gaya menabung menjadi pembelajaran yang dialogis, bermakna dan implementatif sesuai dengan tumbuh kembang anak.
Memperbincangkan guru artinya memberikan sorotan terhadap ujung tombak pendidikan di Indonesia. Guru merupakan komponen paling menentukan dalam sistem pendidikan secara keseluruhan, yang harus mendapat perhatian sentral, pertama, dan utama. Figur guru akan senantiasa menjadi sorotan yang strategis ketika berbicara masalah pendidikan, karena guru selalu terkait dengan komponen manapun dalam sistem pendidikan. Tentu, guru tidak bisa bekerja sendiri, ada komponen lainnya yang turut serta seperti peserta didik, fasilitas, kurikulum dan kebijakan terkait kependidikan. Kesatuan unsur-unsur tersebut akan memiliki daya keberhasilan yang tinggi. Guru memiliki posisi tawar yang tinggi, jika guru sendiri memposisikan sebagai pendidik profesional, senantiasa memperbarui kapasitas keilmuan dan keterampilan yang dimilikinya.
Berbeda dengan apa yang telah disampaikan di atas, pemikiran will to power dari Friedrich Nietzsche adalah sebuah konsep yang menonjol dalam filsafat Nietzsche. Kehendak untuk berkuasa menggambarkan apa yang oleh Nietzsche mungkin telah diyakini menjadi kekuatan utama penggerak manusia: prestasi, ambisi, yang berjuang untuk mencapai posisi tertinggi dalam kehidupan, kesemuanya adalah manifestasi dari kehendak untuk berkuasa. Dalam bingkai pedagogi, will to power mengkuasakan posisi dan potensi guru untuk optimal dalam mengajar, mendidik, membimbing dan melatih.
c.      Kompetensi Profesional
Dalam bahasa yang sederhana, kompetensi profesional berupa kemampuan untuk menguasai materi pembelajaran secara luas dan mendalam yang memungkinkan untuk membimbing peserta didik memenuhi standar kompetensi yang ditetapkan bagi peserta didik. Kompetensi ini menuntut penguasaan materi pembelajaran secara luas dan mendalam yang meliputi: (a) konsep, struktur, dan metoda keilmuan/teknologi/seni yang menaungi/koheren dengan materi ajar; (b) materi ajar yang ada dalam kurikulum sekolah; (c) hubungan konsep antar mata pelajaran terkait; (d) penerapan konsep-konsep keilmuan dalam kehidupan sehari-hari; dan (e) kompetisi secara profesional dalam konteks global dengan tetap melestarikan nilai dan budaya nasional.
Kontras dengan makna dari kompetensi pedagogi yakni penegasan pada how we teach (bagaimana kita mengajar), kompetensi profesional menekankan pada what we teach (apa yang kita ajarkan). Konsep what we teach berimplikasi pada pengetahuan mengenai materi ajar yang akan diberikan . pengetahuan ini bersifat logis, mudah dimengerti dan dipahami serta bermanfaat bagi masa depan peserta didik. Pengetahuan materi ajar bagi guru Penjasor perlu dikuasai dalam rangka mempertajam analisa kebutuhan materi ajar, dengan demikian guru mampu untuk memilih dan memilah pengetahuan-pengetahuan yang relevan dengan kebutuhan dan karakter peserta didik. Akibatnya, guru tidak akan lagi menjejali peserta didiknya dengan hamburan materi yang tidak semuanya dapat terserap. Pengetahuan yang diperoleh peserta didik akan bermanfaat bagi kehidupan pribadi dan kemasyarakatannya, menentukan masa depan dan mewarnai peradapan. Jadi, dengan pengetahuan, seseorang atau sekelompok orang menjadi mampu memiliki kekuasaan, dan kekuasaan itulah yang pada gilirannya tampil sebagai penentu peradaban (civilization).
Rene Descartes, filusuf kenamaan dari Perancis meyakini bahwa di dalam diri manusia telah ada suatu pengetahuan yang mesti dikembangkan dengan penggunaan akan untuk mendapat suatu kebenaran. Penggunaan akal sebagai sumber untuk mendapat pengetahuan dan kebenaran ini menjadikan posisi akal pada masa Descartes memiliki peran yang sangat signifikan. Sehingga, pencarian kebenaran yang tidak bertumpu pada kekuatan rasional dianggap sebagai sesuatu yang bertentangan dengan kebenaran (benar-salah, baik-buruk dan seterusnya). Baginya, pengetahuan merupakan proses menyangsikan untuk menangkap kebenaran yang diperoleh dari aktivitas berpikir. Hal itu adalah dasar pengetahuan Descartes untuk menuju pada discourse (wacana) mengenai ‘aku’ sebagai sesuatu yang berpikir, cogito ergo sum, ‘aku berpikir maka aku ada’. Berbeda dengan apa yang disampaikan Rene Descartes, Michel Foucault menghadirkan sesuatu yang menarik dalam hipotesis Power of Knowledge bahwa pengetahuan adalah kuasa.
Pengetahuan sendiri memberi ruang untuk memanifestasikan kekuasaan dalam suatu institusi atau lembaga sosial, komunitas tidak terkecuali sekolah. Dalam hal ini, Foucault menyatakan  kuasa sebenarnya adalah kuasa yang positif, produktif, dan tidak menindas. Kuasa dalam hal ini adalah yang menyenangkan dan ditunggu kedatangannya. Tidak ada kuasa yang dijalankan tanpa ditopang oleh pengetahuan, sebaliknya tidak ada pengetahuan yang lepas dari kehendak berkuasa, dan melahirkan kebenaran. Sedangkan wacana merupakan medan bertemunya antar kepentingan dimana kuasa menginvestasikan dirinya terhadap pengetahuan yang sedang ditakar.
Pengetahuan memiliki kekuatan untuk menghebatkan sekaligus menghancurkan. Dua hal yang menjadi satu, namun ketika guru Penjasor mampu memposisikan materi ajar sebagai bentuk pengetahuan yang merupakan materi dasar untuk dikembangkan dan diberikan arah yang benar, maka sangatlah mungkin untuk melihat peserta didik akan maju pada kemampuan logika berpikirnya (kognisi), memiliki daya saing tinggi dengan tanpa memunculkan kontradiksi pada tindakan penyimpangan pengetahuan yang diperolehnya.

d.      Kompetensi Sosial
Secara harfiah, sesuai dengan amanat Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, kompetensi sosial yaitu merupakan kemampuan pendidik sebagai bagian dari masyarakat untuk : (a) berkomunikasi lisan dan tulisan; (b) menggunakan teknologi komunikasi dan informasi secara fungsional; (c) bergaul secara efektif dengan peserta didik, sesama pendidik, tenaga kependidikan, orangtua/wali peserta didik; dan (d) bergaul secara santun dengan masyarakat sekitar.
Pribadi guru memiliki andil yang sangat besar terhadap keberhasilan pendidikan, khususnya dalam kegiatan pembelajaran. Pribadi guru juga sangat berperan dalam membentuk pribadi peserta didik. Hal ini dapat dimaklumi karena manusia merupakan makhluk yang suka mencontoh, termasuk mencontoh pribadi gurunya dalam membentuk pribadinya. Semua itu menunjukkan bahwa kompetensi kepribadian guru sangat dibutuhkan oleh peserta didik dalam proses pembentukan pribadinya. Perilaku imitasi ini adalah peluang bagi guru untuk membentuk karakter peserta didik yang memiliki kepribadian dan kehalusan budi pekerti, terlebih bagi guru Penjasor yang dalam aktivitas pembelajaranya menyediakan ruang gerak untuk mengekspresikan perilaku dan kebutuhan gerak peserta didik. Sisi lain dari kompetensi ini adalah menjalin komunikasi yang harmonis dengan orangtua peserta didik dan stakeholders lainnya. Optimalisasi jati diri guru sebagai makhluk sosial yang hidup dan berkarya berdampingan saling menguatkan tanpa ada friksi.
Untuk menjalin hubungan yang akrab dengan peserta didik seorang guru harus memberikan perhatian kepada masing-masing peserta didik. Guru harus memposisikan dirinya sebagai orang tua yang penuh kasih sayang, menjadi fasilitator bagi peserta didik, sebagai tempat mengutarakan perasaan, serta mampu mengembangkan potensi peserta didik sesuai dengan bakat dan minat. Memaknai secara lebih mendalam mengenai kompetensi sosial guru, pemikiran Ki Hajar Dewantara yang menggunakan semboyan Tut Wuri Handayani, menempatkan pengajar sebagai orang yang berada di belakang siswa, membimbing dan mendorong siswa untuk belajar, memberi teladan, serta membantu siswa membiasakan dirinya untuk menampilkan perilaku yang bermakna dan berguna bagi masyarakatnya. Pengajar, dalam hal ini guru Penjasor harus banyak terlibat dan melibatkan peserta didik agar ia memahami konteks yang melingkupi kegiatan belajarnya. Peran dan fungsi guru di lingkungan sosialnya adalah sebagai motivator dan inovator, perintis dan pelopor pendidikan, penelitian dan pengkajian ilmu pengetahuan, serta pengabdian.

2.    Pemberdayaan Profesi
            Pendidikan merupakan faktor utama dalam pembentukkan pribadi manusia. Pendidikan sangat berperan dalam membentuk baik atau buruknya pribadi manusia menurut ukuran normatif. Menyadari akan hal tersebut, pemerintah sangat serius menangani bidang pendidikan, sebab dengan sistem pendidikan yang baik diharapkan muncul generasi penerus bangsa yang berkualitas dan mampu menyesuaikan diri untuk hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
                        Reformasi pendidikan merupakan respon terhadap perkembangan tuntutan global sebagai suatu upaya untuk mengadaptasikan sistem pendidikan yang mampu mengembangkan sumber daya manusia untuk memenuhi tuntutan zaman yang sedang berkembang. Melalui reformasi pendidikan, pendidikan harus berwawasan masa depan yang memberikan jaminan bagi perwujudan hak azasi manusia untuk mengembangkan seluruh potensi dan prestasinya secara optimal guna kesejahteraan hidup di masa depan. Pendidikan pada dasarnya merupakan upaya untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM), walaupun usaha pengembangan SDM tidak hanya dilakukan melalui pendidikan khususnya pendidikan formal (sekolah). Tetapi sampai saat ini, pendidikan masih dipandang sebagai sarana dan wahana utama untuk pengembangan SDM yang dilakukan dengan sistematis, programatis, dan berjenjang (Mustakim, 2008).
            Secara global, pendidikan jasmani mengalami pergerakan dan pembaruan secara sistematis. Esensi dinamika perubahan yang ada terpusat pada model pembelajaran. Muska Mosston pada dekade 1960an memperkenalkan Spectrum of Teaching Styles yang merupakan metode pembelajaran utama pada masa itu. Selanjutnya, menyusul gebrakan pemikiran dengan lahirnya Teaching Games for Understanding (TGfU) pada tahun 1982 yang diprakarsai oleh David Bunker dan Rod Thorpe sebagai sebuah pergerakan signifikan dalam dunia pendidikan jasmani dengan premis utama berupa tawaran pembelajaran pendekatan taktik. Hampir berbarengan dengan lahirnya TGfU, dibelahan dunia yang berbeda tepatnya di Ohio, Amerika Serikat Daryl Siedentop membidani lahirnya Sport Education dengan tujuan utama agar individu yang terlibat di dalamnya, dalam hal ini peserta didik, memiliki kompetensi keterampilan dan pengetahuan, literate, serta insan olahraga yang antusias. Lebih lanjut inti dari pemikiran Siedentop adalah role playing (bermain peran) dengan  pemberian tanggung jawab personal dan sosial. Jadi, sebenarnya dengan mengimplentasikan Sport Education sangat terbuka peluang untuk mengintegrasikan pendidikan karakter dan hasrat bergerak peserta didik sebagai Homo Ludens (makhluk bermain) dengan wahana play, games atau sport. Play bersifat free dimana pemain tidak dapat dipaksa untuk berpartisipasi tanpa permainan tersebut secara tiba-tiba merubah sifatnya. Kedua, dibatasi oleh waktu dan ruang yang sudah dipastikan sebelumnya. Ketiga, merujuk pada aturan yang telah disepakati bersama.
            Huizinga (1950) menjelaskan play sebagai tindakan yang bersifat sukarela atau yang dilakukan dalam batas-batas waktu dan tempat tertentu, menurut aturan main yang diterima secara bebas tetapi sangat mengikat, memiliki tujuan yang berada dalam permainan itu sendiri dan disertai oleh perasaan ketegangan, kesenangan, dan kesadaran bahwa hal tersebut “berbeda” dari kehidupan biasa.
            Selanjutnya games dipandang mempunyai sifat kebebasan yang lebih rendah dari freedom yang ada pada play, cenderung dibatasi dalam batas-batas tertentu ruang dan waktu. Hal yang membedakan games dengan play adalah pada adanya tingkat emosi atau investasi ego yang pada akhirnya memunculkan strategi dan peluang.
Hasil budaya manusia berikutnya adalah olahraga. Olahraga berarti suatu bentuk yang khusus dari perilaku gerak insani (human movement). Tujuan dan  capaiannya, waktu, lokasinya dicirikan oleh perbedaan yang luas; hal ini membuktikan relevansi sosial dari fenomena yg disebut olahraga. Oleh karena itu, olahraga juga harus dilaksanakan bersama kecenderungan yg membawanya ke dalam hubungan yang dekat dengan ideologi, profesi, organisasi, pendidikan, dan Ilmu.

Pendekatan pembelajaran Penjasor bersifat dinamis dan berlaku hukum one size doesn’t fit all, artinya tidak ada satu metode atau model yang paling tepat dan mampu untuk menyasar ranah yang menjadi bidang garapan pendidikan jasmani. Hal ini dipahami oleh Michael W. Metzler yang kemudian menerbitkan Instructional Models for Physical Education dimana buku ini memiliki dua tujuan utama yaitu memberikan dasar pengetahuan tentang model-based instruction dan komparasi mengenai pendekatan yang saat ini dipergunakan dalam pendidikan jasmani. Kedua, mendeskripsikan dengan bahasa yang sederhana dan prosedur pelaksanaan sehingga para penggunanya, dalam hal ini guru pendidikan jasmani dengan kepercayaan diri yang tinggi berani untuk menggunakan model instruksional yang diperkenalkan dalam buku ini, yang akhirnya berimplikasi pada hasil positif pada implementasinya di lapangan. Delapan model pendekatan instruksional yang saat ini menjadi fokus adalah:
1.    Direct Instruction.  
2.    Personalized System of Instruction (PSI)
3.    Cooperative Learning
4.    Sport Education
5.    Peer Teaching
6.    Inquiry Teaching
7.    Tactical Games
8.    Teaching for Personal and Social Responsibility (TPSR)

Terlepas dari paparan di atas, guru yang profesional memiliki tingkat berpikir abstrak yang tinggi, yaitu mampu merumuskan konsep, menangkap, mengidentifikasi, dan memecahkan berbagai macam persoalan yang dihadapi dalam tugas, dan juga memiliki komitmen yang tinggi dalam melaksanakan tugas. Komitmen adalah kemauan kuat untuk melaksanakan tugas yang diiringi dengan rasa penuh tanggung jawab. Profesionalisme guru dalam melaksanakan tugas tercermin pada keahlian, tanggung jawab, kemandirian, dan kemauan guru untuk terus mengembangkan diri secara terus-menerus dalam melaksanakan tugas-tugas jabatan guru.
Guru yang profesional adalah guru yang memiliki kemampuan dan kemauan yang baik dalam melaksanakan tugas-tugas jabatan. Guru akan bisa berkembang, bila ada kebijakan yang diterbitkan untuk menciptakan situasi dan kondisi yang memungkinkan guru bisa berkembang dengan baik. Dengan meningkatnya kemampuan dan semangat kerja guru yang berkelanjutan merupakan kunci tercapainya profesionalisme guru dalam melaksanakan tugas. Dengan profesionalisme guru dalam melaksanakan tugas, akan menjadi sarana tercapainya keefektifan kerja organisasi sekolah, yang secara langsung akan menjadi sarana utama tercapainya tujuan penyelenggaraan pendidikan di sekolah secara optimal.
Peningkatan sikap profesional dapat dilakukan dengan cara formal melalui kegiatan mengikuti penataran, lokakarya, seminar, atau kegiatan ilmiah lainnya, ataupun secara informal melalui media massa televisi, radio, koran, dan majalah maupun publikasi lainnya. Kegiatan ini selain dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilan, sekaligus dapat juga meningkatkan sikap profesional keguruan.
Peningkatan profesionalisme guru dilakukan berdasarkan kebutuhan sekolah, kelompok, maupun individu guru itu sendiri. Pengembangan guru berdasarkan kebutuhan sekolah adalah penting, namun hal yang lebih penting adalah berdasarkan kebutuhan individu untuk menjalani proses profesionalisasi. Karena, substansi kajian dan konteks pembelajaran selalu berkembang dan berubah menurut dimensi ruang dan waktu, guru dituntut untuk selalu meningkatkan kompetensinya.
Peningkatan profesionalisme dalam rangka pemberdayaan guru dapat diartikan sebagai usaha yang dikerjakan untuk memajukan dan meningkatkan mutu, keahlian, kemampuan, dan keterampilan guru demi kesempurnaan tugas pekerjaannya. Peningkatan profesionalisme guru didasarkan atas pertimbangan-pertimbangan sebagai berikut: perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, khususnya arus globalisasi dan informasi, menutupi kelemahan-kelemahan yang tidak nampak pada waktu seleksi calon guru, mengembangkan sikap profesional, mengembangkan kompetensi profesional dan menumbuhkan ikatan humanis antara guru dengan guru dan guru dengan siswa. Upaya pengembangan dan peningkatan kapasitas profesional guru dapat dilakukan dengan melakukan Lesson Study. Lesson study berangkat dari kegelisahan akan efektifitas kegiatan pendidikan dalam jabatan (in-service education) dimana merupakan model pembinaan profesi pendidik melalui pengkajian pembelajaran secara kolaboratif dan berkelanjutan berlandaskan prinsip-prinsip kolegalitas dan mutual learning untuk membangun komunitas belajar.
Lesson study bukan merupakan metode atau strategi pembelajaran, namun lebih kepada pendekatan untuk meningkatkan kompetensi guru (Sumar Hendayana, dkk., 2007: 10). Lebih lanjut Sumar Hendayana, dkk (2007) menegaskan bahwa dalam kegiatan lesson study dapat mengimplementasikan berbagai pendekatan pembelajaran  yang sesuai dengan situasi, kondisi dan permasalahan yang dihadapi oleh guru.  
Lesson study merupakan praktik pengembangan profesional yang merupakan ide berusia seabad yang diadopsi dari Jepang dan menjadi dasar bagi pendidikan sekolah yang berpusat pada siswa (student-centered focus for schooling). Gunawan Widiyanto (2007: 11) mengemukakan bahwa sebagai sebuah pemikiran, lesson study begitu cepat menarik minat publik sebagai sebuah strategi perbaikan dan peningkatan sekolah jangka panjang. Hal ini karena lesson study memberi harapan bagi perubahan secara berkesinambungan dalam pengajaran, terlebih pada pendidikan jasmani.
Pendidikan jasmani pada hakikatnya adalah proses pendidikan yang memanfaatkan aktivitas fisik untuk menghasilkan perubahan holistik dalam kualitas individu, baik dalam hal fisik, mental, serta emosional. Pendidikan jasmani memperlakukan anak sebagai sebuah kesatuan utuh, mahluk total, daripada hanya menganggapnya sebagai seseorang yang terpisah kualitas fisik dan mentalnya. Pada kenyataannya, pendidikan jasmani adalah suatu bidang kajian yang sungguh luas. Titik perhatiannya adalah peningkatan gerak manusia. Lebih khusus lagi, pendidikan jasmani berkaitan dengan hubungan antara gerak manusia dan wilayah pendidikan lainnya: hubungan dari perkembangan tubuh-fisik dengan pikiran dan jiwanya. Fokusnya pada pengaruh perkembangan fisik terhadap wilayah pertumbuhan dan perkembangan aspek lain dari manusia itulah yang menjadikannya unik. Tidak ada bidang tunggal lainnya seperti pendidikan jasmani yang berkepentingan dengan perkembangan total manusia dan guru merupakan garda terdepan. Guru pendidikan jasmani harus memahami bahwa pendidikan jasmani dan olahraga adalah dua hal yang berbeda.  


Daftar Rujukan
Anshari, Endang Saifuddin. 1990.Ilmu, Filsafat dan Agama.Surabaya: Bina Ilmu
Ateng, Abdulkadir. 1989. Pengantar Asas-Asas dan Landasan Pendidikan Jasmani Olahraga dan Rekreasi. Jakarta: Depdikbud, Dirjen Dikti.
Drijarkara, N. 1989. Filasafat Manusia. Yogyakarta: Kanisius
Gazalba, Sidi. 1973. Sistematika Filsafat. Jakarta: Bulan Bintang.
Gie, The Liang. 1991. Pengantar Filsafat Ilmu. Yogyakarta: Liberty.
Haag, Herbert. 1994. Theoritical Foundation of Sport Science as a ScintificDisipline. Schorndorf, Federal Republic of Germany: Hofmann.
Hanurawan, F., Syam, M. N. & Samawi, A. 2006. Filsafat Pendidikan. Malang: Fakultas  Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang.
Kattsoff, Louis O. 1992. Pengantar Filsafat. Terjemahan oleh Soejono Soemargo.    Yogyakarta: Tiara Wacana.
McNamee, M. 2002. Resource Guide to Philosophy of Sport. London: Hospitality, Leisure, Sport and Tourisme Network.
Poedjiadi, Anna. 1987. Sejarah dan Filsafat Sains. Jakarta: Depdikbud, Dirjen Dikti.
Saifullah, Ali. 1977. Antara Filsafat dan Pendidikan, Pengantar Filsafat Pendidikan. Surabaya: Usaha Nasional.
Setijadji. tanpa tahun. Prolegomena Filsafat Olahraga. tanpa penerbit.                 
Wuest, Deborah A. dan Bucher, Charles A. 1995. Foundations of Physical Education and Sport (twelfh edition)t. St. Louis: Mosby-Year Book, INC.

0 Response to "KUMPULAN MAKALAH PENDIDIKAN OLAHRAGA FILSAFAT PENDIDIKAN JASMANI "

Post a Comment

Agen Bola