Bola Tangkas

PENGERTIAN KONSELOR DAN PERSYARATAN MENJADI KONSELOR ( BK )



1.      Pengertian konselor
Seorang profesional yang terlatih danmemiliki keahlian dan kewenangan dalam bidang praktek konseling. Di mana dalam kerjanya bertujuan untuk membantu konseli memecahkan kesulitan yang dimilikinya, (Darminto Eko, 2007: 16).
Pengertian di atas, mengisyaratkan bahwa seorang konselor merupakan sebuah profesi yang membutuhkan keahlian tertentu, terutama yang berkaitan dengan psikologis seseorang (siswa). Sebab, pembelajaran yang efektif adalah pembelajaran yang terlepas dari suatu beban atau minimal pembelajar tidak terbebani dengan suatu masalah yang dialaminya.
2.      Persyaratan menjadi konselor
Bagi seorang konselor profesional dalam biddang pendidikan khususnya dalam mebimbing siswa yang mengalami berbagai permasalahan, maka bagi seseorang konselor perlu melewati syarat-syarat keilmuan akademis yang memadai untuk menjawab permasalahan peserta didik.
Menurut Ahmad (1998) syarat-syart bagi seorang konselor adalah sebagai berikut:Text Box: 6
a)      Seorang konselor memiliki pengetahuan dan wawasan yang luas tentang kegiatan yang mengandung pokok-pokok pengetahuan yang luas yang menyangkut kegiatan membimbing dan konseling di sekolah.
b)      Seorang konselor harus memiliki mental dan sikap bijaksana yang matang.
c)      Bagi seorang yang membimbing dan menasehati orang lain, maka secara material seorang konselor harus memiliki kesehatan jasmani dan rohani serta performance yang menarik.
d)     Seorang konselor harus memiliki sikap dan sifat afektif yang baik, ramah, sopan santun, dan ikut merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain.
e)      Seorang konselor harus siap menjalankan kode etik dalam bimbingan dan konseling, (Ahmad: 1998 dalam Tasrif, 2011: 163).
3.      Tugas konselor di sekolah
Sesuai dengan ketentuan Surat Keputusan Bersama Menteri Pendidikan dan Kebudayaan dan Kepala Badan Administrasi Kepegawaian Negara Nomor: 0433/P/1993 dan Nomor 25 Tahun 1991 diharapkan pada setiap sekolah ada petugas yang melaksanakan layanan bimbingan yaitu guru pembimbing/konselor dengan rasio satu orang guru pembimbing/Konselor untuk 150 orang siswa.
Dengan demikian, kehadiran konselor dalam suatu sekolah merupakan suatu keharusan. Sebab, dengan adanya  pembimbing/konselor, tentu guru mata pelajaran yang ditugaskan oleh kepala sekolah sebagai pembina/pembimbing dapat tergantikan. Kondisi ini dilaksanakan dengan tujuan agar guru mata pelajaran dapat lebih fokus dengan melaksanakan kegiatan belajar mengajar (KBM). Selain hal tersebut, program ini bertujuan untuk menghindari terjadinya kontaminasi antara emosi guru pada kegiatan bimbingan dengan kegiatan belajar mengajar yang mengakibatkan tidak terahnya kegiatan KBM tersebut.
Selanjutnya, oleh karena kekhususan bentuk tugas dan tanggung jawab guru pembimbing/konselor sebagai suatu profesi yang berbeda dengan bentuk tugas guru mata pelajaran, maka beban tugas tersebut meliputi:
a.       Kegiatan penyusunan program pelayanan dalam bidang bimbingan pribadi-sosial, bimbingan belajar, bimbingan karier, serta semua jenis layanan, termasuk kegiatan pendukung yang dihargai sebanyak 12 jam.
b.      Kegiatan melaksanakan pelayanan dalam bimbingan pribadi, bimbingan sosial, bimbingan belajar, bibingan karier serta semua jenis layanan termasukkegiatan pendukung yang dihargai sebanyak 18 jam.
c.       Kegiatan evaluasi pelaksanaan layanan dalam bimbingan pribadi, bimbingan sosial, bimbingan belajar, bibingan karier serta semua jenis layanan termasukkegiatan pendukung yang dihargai sebanyak 6 jam.
d.      Sebagaimana guru mata pelajaran, guru pembimbing/Konselor yang membimbing 150 orang siswa dihargai sebanyak 18 jam, selebihnya dihargai sebagi bonus dengan ketentuan sebagai berikut:
1)      10 – 15 siswa              = 2 jam
2)      16 – 30 siswa              = 4 jam
3)      31 – 45 siswa              = 6 jam
4)      46 – 60 siswa              = 8 jam
5)      61 – 75 siswa              = 10 jam
6)      76 – atau lebih             = 12 jam, (Sukardi, 2008: 96).
4.      Material Pelayanan Bimbingan dan Konseling
Pelaksanaan layanan bimbingan dan konseling (BK) bagi seorang konselor merupakan pelaksanaan kegiatan yang cukup kompleks adanya. Konselor tidak hanya membutuhkan kecakapannya saja atau keahliannya, akan tetapi juga membutuhkan daya dukung lainnya berupa materi – materi tertentu, sehingga sesuatu yang direncanakan dapat berjalan lancar dan dapat mencapai tujuan yang dicita – citakan.
Dalam hal ini seorang ahli menyatakan bahwa “Kegiatan layanan bimbingan dan konseling di sekolah akan berjalan dengan lancar sesuai dengan yang direncanakan, apabila didukung oleh prasrana dan sarana yang memadai. Salah satu diantaranya adalah perlengkapan material yang dapat berupa sarana fisik dan sarana teknis, (Sukardi, 2008: 97)”. Selanjutnya, dapat dijelaskan sebagai berikut:
a.       Sarana fisik
1)      Ruang bimbingan dan konseling
Untuk keperluankegiatan pemberian bantuan kepada siswa khususnya dalam rangka pelaksanaan konseling perseorangan, mutlak diperlukan ruangan khusus dengan perlengkapan yang memadai dan nyaman, meskipun wujudnya sangat sederhana.
Adapun ciri – ciri ruang pembimbing/konselor diantaranya adalah sebagai berikut:
a)      Ruang bimbingan dan konseling itu harus harus menyenangkan dan nyaman dalm arti tidak memberikan kesan yang sama dengan kantor atau pengadilan.
b)      Ruang bimbingan dan konseling itu sedapat mungkin bersifat artisttik, sederhana, bersih dan rapi.
c)      Ruang bimbingan dan konseling itu hendaknya ditata sedemikian rupa, sehingga siswa dan konselor dalam keadaan rileks, tenang, dan damai selama proses konseling itu berlangsung.
d)     Ruang bimbingan dan konseling itujhendaknya mendapat penerangan atau sinar yang cukup.
e)      Ruanganbimbingan dan konseling itu hendaknya tidak terganggu dengan suasana keributan di luar.
f)       Dinding ruangan bimbingan dan konseling dan hiasan dihiasi dengan warna yang lembut, dan sederhana serta tetap menarik, (Sukardi, 2008: 98).
2)      Bagan ruang bimbingann dan konseling
Untuk mendapatkan gambaran yang cukup memadai tentang ruangan bimbingan dana konseling, di bawah ini akan diketengahkan beberapa bagan ruangan yang dapat dipergunakan sebagai acuan kepala sekolah dan koordinator guru pembimbing dalam pengadaan ruang bimbingan dan konseling.



Kutipan: Sukardi, 2008: 99.
b.      Anggaran biaya pelaksanaan program BK
Material atau bahan – bahan yang diperlkukan dalam pelaksanaan bimbingan dan konseling, terutama dalam pengadaan anggaran sepertia material, peralatan dan pengembangan profesional, adalah sebagai berikut:
1)      Personel
a.       Guru pembimbing /  konselor
b.      Petugas administrasi bimbingan dan konseling
c.       Pembantu teknis
2)      Perabot dan peralatan
a.       Meja kerja / kursi
b.      Meja/kursi
c.       Almari dan perlengkapan kantor lainnya
d.      Perlengkapan media bimbingan

3)      Material
a.       Buku – buku dan bahan – bahan referensi
b.      Surat kabar, majalh, dan jurnal
c.       Games, mainan, boneka, dan lain – lain
d.      Peralatan media
e.       Tes dan inventori
f.       Kits bidang pendidikan
g.      Program komputer
h.      Bahan – bahan pengambilan keputusan pendidikan dan karier
4)      Persediaan ruang bimbingan
a.       Kertas, pensil, tape, TV/DVD
b.      Krayon, cat, markers
c.       Disk komputer
d.      Bermacam – macam persediaan ruang bimbingan, (Sukardi, 2008: 112).

A.    Prestasi belajar
1.      Pengertian prestasi belajar
Prestasi adalah hasil dari suatu kegiatan yang telah dikerjakan, diciptakan, baik secara individual maupun kelompok dan prestasi itu tidak akan pernah dihasilkan selama seseorang (siswa) tidak melakukan suatu kegiatan, (Djamarah, 2004: 19). Sedangkan Poerwadarminta dalam Djamarah berpendapat bahwa prestasi dalah “hasil yang telah dicapai (dilakukan, dikerjakan dan sebagainya).
Sedangkan belajar adalah “suatu aktivitas yang sadar untuk mendapatkan sejumlah kesan dari bahan yang telah dipelajari, (Djamarah, 2004: 21). Sedangkan ahli lain menyatakan bahwa belajar merupakan “perubahan tingkah laku atau penampilan, dengan serangkaian kegiatan, misalnya: membaca, mengamati, mendengarkan, dan meniru, (Sardirman, 2001: 20).
Selain kedua ahli tersebut, belajar juga merupakan sebagai proses memungkinkan danmenghasilkan perubahan perilaku seseorang yang dilakukan dengan sengaja untuk memperoleh pengetahuan, kecakapan, dan pengalaman baru ke arah yang lebih baik, (Uno, 2011: 138).
Pengertian yang disampaikan oleh ahli ini mengisyaratkan bahwa salah satu kesan yang didapt setelah melakukan aktivitas belajar adalah dapat berupa perubahan – perubahan tertentu, baik perubahan tingkat kemampuan, keteranpilan dan juga perubahan sikap serta tingkha laku. Jadi prestasi belajar adalah hasil yang diperoleh berupa kesan – kesan yang mengakibatkan perubahan dalam diri individu  sebagai hasil dari aktivitas dalam belajar.
2.      Ranah perubahan dan prinsip belajar
Adapun ranah perubahan yang diharapkan terjadi setelah mengalami aktivitas belajar, yaitu:
a.       Ranah kognitif, yang mencakup:
1)      Knowledge (pengetahuan, ingatan)
2)      Comprehension (pemahaman, menjelaskan, meringkas, contoh)
3)      Analysis (menguraikan, menentukan hubungan)
4)      Synthesis (mengorganisasikan, merencanakan, membentuk bangunan baru)
5)      Evaluation (penilaian)
6)      Application (menerapkan)
b.      Ranah afektif, ranah ini dapat mencakup:
1)      Receiving ( sikap menerima)
2)      Responding (memberikan respon)
3)      Valuing (nilai)
4)      Organization (organisasi)
5)      Characterization (karakterisasi)
c.       Raah psikomotor, yang melingkupi hal – hal berikut:
1)      Initiatory level
2)      Pre-routine level
3)      Rountinized level, (Sardirman, 2001: 24).
Untuk dapat meraih prestasi yang memuaskan atas ketiga ranah tersebut, maka seorang guru juga perlu memperhatikan tentang prinsip – prinsip yang haru diterapkan dalam kegiatan belajar mengajar, yaitu sebagai berikut:
a.       Belajar pada hakikatnya menyangkut potensi manusiawi dan kelakuannya.
b.      Belajar memerlukan proses dan pentahapan serta kematangan diri pada siswa.
c.       Belajar akan lebih mantap dan efektif, bila didorong dengan motivasi, terutama motivasi dari dalam/dasar kebutuhan/kesadaran atau intrinsic motivastion.
d.      Dalam banyak hal belajar itu merupakan proses percobaan.
e.       Kemampuan belajar seseorang siswa harus diperhitungkan dalam rangka menentukan isi pelajaran, (Sardirman, 2001: 24-25).
Terjadinya atau munculnya suatu masalah tentu tidak mungkin terjadi dengan sendirinya, baik masalah pada umumnya maupun yang berkaitan dengan rendahnya prestasi belajar siswa, melainkan dilatarbelakangi oleh berbagai kemungkinan – kemungkinan, di mana kemungkinan tersebut dapat mengakibatkan atas masalah yang dimaksud. Di bawah ini akan diuraikan berbagai rincian, sebab dan kemungkinan akibat tentang rendahnya prestasi belajar siswa, yaitu:
1.      Prestasi belajar rendah
a)      Gambaran yang lebih rinci
·         Nilai rapor banyak merahnya
·         Nilai tugas, ulangan dan ujian rendah
·         Dari waktu ke waktu nilai menurun
·         Mendapat peringkat di bawah rata-rata untuk berbagai atau setiap mata pelajaran
·         Mendapat peringkat di bawah rata – rata untuk keseluruhan murid dalam satu kelas.

b)      Kemungkinan sebab
·         Tingkat kecerdasan di bawah rata – rata
·         Malas belajar
·         Kurang minat dan perhatian
·         Kekurangan sarana belajar
·         Kekurangan waktu belajar
·         Suasana sosio-emosional di rumah kurang memungkinkan untuk belajar dengan baik
·         Proses belajar mengajar di sekolah kurang menyenangkan
c)      Kemungkinan akibat
·         Minatbelajar semakin kurang
·         Tidak naik kelas
·         Dikeluarkan dari sekolah
·         Frustasi yang mendalam
·         Tidak mampu melanjutkan pelajaran
·         Kesulitan mencari kerja
2.      Kurang berminat pada bidang studi tertentu
a)      Gambaran secara rinci
·         Tidak dapat memusatkan perhatian untuk mempelajari materi – materi yang terkait dengan pada bidang studi tersebut
·         Berusaha tidak mengikuti pelajaran tersebut
·         Tidak mengerjakan tugas – tugas dalam pelajaran tersebut

b)      Kemungkinan sebab
·         Tidak memiliki bata dalam bidang tersebut
·         Lingkungan tidak mendukung untuk mengembangkan bidang tersebut
·         Proses belajar mengajar untuk bidang tersebut tidak menyenangkan
·         Siswa sudah berusaha semaksimal mungkin, namun hasil slalu rendah
·         Dorongan dari guru dan sekolah kurang
·         Memilih bidang tersebut ikut – ikutan, atau hanya karena dorongan orang tua/lain
c)      Kemungkinan akibat
·         Terjadi ketidaksesuaian antara keinginan orang tua dengan pilihan siswa
·         Kegiatan belajar untuk bidang – bidang studi lain menjadi terganggu, (Prayitno, 2008: 59).
3.      Jenis-jenis aktivitas belajar
Sekolah adalah salah satu pusata kegiatan belajar. Dengan demikian di sekolah merupakan arena untuk mengembangkan aktivitas. Banyak jenis aktivitas yang dapat dilakukan oleh siswa di sekolah. Aktivitas siswa tidak cukup hanya mendengarkan dan mencatat seperti yang lazim terdapat di sekolah- sekolah tradisional.
Berikut ini disajikan beberapa jenis kegiatan yang disebut aktivitas belajar, yaitu:
a.       Visual aktivities, yang termasuk didalamnya misalnya, membaca, memperhatikan gambar demosntrasi, percobaan, pekerjaan orang lain.
b.      Oral aktivities seperti menyatakan, merumuskan, bertanya, memberi saran, mengeluarkan pendapat, mengadakan wawancara, diskusi interupsi.
c.       Kegiatan mendengarkan, sebagai contoh: mendengarkan, uraian, percakapan, diskusi, musik pidato.
d.      Kegiatan menulis, seperti misalnya menulis cerita, karangan, laporan, angket, dan menyalin.
e.       Kegiatan gerak, yang termasuk didalmnya antara lain: melakukan percobaan, membuat konstruksi, model mereparasi, bermain, berkebun, dan beternak.
f.       Kegiatan mental,  sebagai contoh misalnya: menanggap, mengingat, memecahkan soal, menganalisa, melihat hubungan, dan mengambil keputusan.
g.      Kegiatan emosional, seperti misalnya: menaruh minat, merasa bosan, gembira, bersemangat, bergairah, berani, tenang dan gugup, (Sardirman, 2001: 99).






B.     Rendahnya Prestasi Belajar
1.      Prestasi belajar
Selain penting mengetahui apa yang kita kehendaki dilakukan oleh siswa, penting juga mengetahui sampai seberapa baik siswa diharapkan melakukannya.
Salah satu tugas yang dihadapi guru ialah menentukan taraf prestasi yang diharapkan dari siswa-siswinya dalam mencapai tujuan yang telah dirumuskan secara operasional. Dalam hal ini, ada dua pertanyaan yang perlu dijawab di sini, yaitu; (1) mengenai taraf prestasi seorang siswa dan (2) mengenai taraf prestasi kelompok siswa (seperti kelas). Perlunya kita mengambil keputusan mengenai kedua hal ini tampak jelas apabila kita berhadapan dengan soal-soal yang bertalian dengan perbaikan pengajaran, (James, 2008: 36).
Diandaikan seorang guru sudah menentukan tujuannya secara tepat sekali, merencanakan dan melaksanakan program pengajarannya, dan pada akhir proses pengajaran itu mengukur prestasi siswanya, apakah mereka berprestasi cukup baik sehingga tidak perlu lagi ia merevisi program pengajarannya ?. Jika ia menunda penentuan standar prestasi siswa sampai akhir pengajaran, maka akan ada juga menganggap mereka lakukan.
Mengenai hal tersebut, ahli pendidikan menyebutkan ada dua taraf prestasi siswa, yaitu
(a)    Taraf prestasi minimal siswa
Pertama-tama guru harus menentukan taraf prestasi yang diharapkan dari seorang siswa. Misalnya, jika menghendaki siswa siswanya dapat memecahkan soal-soal pembagian dengan bilangan tiga angka, maka hendaknya ditentukan seberapa banyak dari antara soal-soal tes akhir harus dapat dipecahkan oleh seorang siswa dengan tepat.

0 Response to "PENGERTIAN KONSELOR DAN PERSYARATAN MENJADI KONSELOR ( BK )"

Post a Comment

Agen Bola