PENGERTIAN BELAJAR DAN KAJIAN PUSTAKA SKRIPSI FISIKA TERBARU



Winataputra (2008) mengemukakan bahwa,  belajar memiliki tiga atribut pokok yaitu:
a.       Belajar merupakan proses mental dan emosional atau aktivitas pikiran dan perasaan.
b.      Hasil belajar berupa perubahan perilaku, baik yang menyangkut kognitif, psikomotorik, maupun afektif.
c.       Belajar berkat mengalami, baik mengalami secara langsung maupun mengalami secara tidak langsung (melalui media). Dengan kata lain belajar terjadi di dalam interaksi dengan lingkungan. (lingkungan fisik dan lingkungan sosial).
Menurut Hamalik (2001), Belajar adalah merupakan suatu proses, suatu kegiatan dan bukan suatu hasil atau tujuan modifikasi atau memperteguh tingkah laku atau kepribadian melalui pengalaman. Belajar bukan hanya mengingat akan tetapi lebih luas dari pada itu, yakni mengalami. Hasil belajar bukan suatu penguasaan hasil latihan, melakukan perubahan kelakuan. Pendapat lain mengatakan “Belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh perubahan tingkah laku yang secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya (Slameto, 2003).
Selanjutnya menurut Sardiman (2006), belajar dapat dilihat dalam arti luas maupun sempit/khusus. Dalam pengertian luas belajar dapat diartikan sebagai kegiatan psiko-fisik menuju perkembangan pribadi seutuhnya. Kemudian dalam arti sempit, belajar dimaksudkan sebagai usaha penguasaan materi ilmu pengetahuan yang merupakan sebagian kegiatan menuju terbentuknya kepribadian seutuhnya.
Pengajaran fisika yang dilaksanakan oleh guru hendaknya benar-benar menjamin terjadinya kegiatan belajar bagi siswa, untuk menjamin terjadinya kegiata belajar pada siswa, guru perlu mengusahakann situasi atau proses yang memungkinkan siswa untuk berperan aktif selama proses pembelajaran, karena pada dasarnya proses belajar adalah berbuat, berkreasi, menjalani, mengalami. Hal ini mengisyaratkan bahwa dalam pembelajaran guru hendaknya mampu menjamin terjadinya pemahaman siswa melalui kegiatannya sendiri, bukan semata-mata akibat informasi verbal guru. Dalam hal ini diharapkan bukan peran guru yang mendominasi, artinya bahwa ada peran rekan kelas mereka dalam perubahan tingkah laku dalam hal ini adalah diharapkan meningkatnya prestasi belajar siswa.
Menurut Sudjana (2004), belajar dan mengajar sebagai suatu proses mengandung tiga unsur yang dapat dibedakan, yaitu tujuan pengajaran (intruksional), pengalaman (proses) belajar mengajar, dan hasil belajar. Tujuan intruksional pada hakikatnya adalah perubahan tingkah laku yang diinginkan pada diri siswa. Dengan mengetahui tercapainya tujuan instruksional, dapat diambil tindakan perbaikan pengajaran dan perbaikan siswa yang bersangkutan. Sedangakan hasil belajar siswa pada hakikatnya adalah perubahan tingkah laku siswa, yang mencakup kognitif, afektif dan psikomotoris. Penilaian proses belajar mengajar adalah upaya memberi nilai terhadap kegiatan belajar mengajar yang dilakukan oleh siswa dan guru dalam mencapai tujuan pembelajaran. (Sudjana, 2004) menyebutkan fungsi penilaian yaitu : 1) alat untuk mengetahui tercapai tidaknya tujuan instruksional; 2) umpan balik bagi perbaikan proses belajar mengajar; 3) dasar dalam menyusun laporan kemajuan belajar siswa kepada orang tuanya.
Sehingga secara umum proses belajar merupakan kegiatan atau aktivitas yang dilakukan sekelompok orang atau individu baik secara sadar ataupun tidak yang terorganisir dengan baik, di dalamnya ada interaksi pengajar dan yang diajar dalam rangka terjadinya perubahan tingkah laku pada individu tersebut.
2.      Aktivitas Belajar Siswa
Menurut Hamalik (2003), aktivitas belajar adalah suatu proses atau kegiatan yang dilakukan untuk mencapai pengetahuan, keterampilan, nilai dan si­kap. Hal ini sejalan dengan fungsi dan tugas guru sebagai fasilitator dan mediator dalam pembelajaran. Guru hendaknya mampu menciptakan pembelajaran yang dapat mengikut sertakan siswa secara aktif baik sebagai individu ataupun sebagai kelompok.
               Menurut Sardiman (2006), aktivitas belajar siswa dapat digolongkan sebagai berikut:
a.       Aktivitas visual (visual activities), yang termasuk di dalamnya misalnya, membaca, memperhatikan gambar demonstrasi, percobaan, pekerjaan orang lain.
b.      Aktivitas lisan (oral activities), seperti: menyatakan, merumuskan, bertanya, memberi saran, mengeluarkan pendapat, mengadakan wawancara, diskusi, interupsi.
c.       Aktivitas mendengarkan (listening activities), sebagai contoh mendengarkan: uraian, percakapan, diskusi, musik, pidato.
d.      Aktivitas menulis (writing activities), seperti misalnya menulis cerita, karangan, laporan, angket, menyalin.
e.       Aktivitas menggambar (drawing activities), misalnya: menggambar, membuat grafik, peta, diagram.
f.       Aktivitas gerak (motor activities), yang termasuk didalamnya antara lain: melakukan percobaan, membuat konstruksi, model mereparasi, bermain, berkebun, beternak.
g.      Aktivitas metal (metal activities), sebagai contoh misalnya: menanggapi, mengingat, memecahkan soal, menganalisis, melihat hubungan, mengambil keputusan.
h.      Aktivitas emosional (emotional activities), seperti misalnya, menaruh minat, merasa bosan, gembira, bersamangat, bergairah, berani, tenang, gugup.
Hamalik (2003), mengungkapkan bahwa penggunaan asas aktivitas besar nilainya bagi pengajaran para siswa, karena:
1.      Para siswa mencari pengalaman sendiri dan langsung mengalami sendiri.
2.      Berbuat sendiri akan mengembangkan seluruh aspek pribadi siswa secara integral.
3.      Memupuk kerjasama yang harmonis di kalangan siswa.
4.      Para siswa bekerja menurut minat dan kemampuan sendiri.
5.      Memupuk disiplin kelas secara wajar dan suasana belajar menjadi demokratis.
6.      Mempererat hubungan sekolah dan masyarakat, dan hubungan antara orang tua dengan guru.
7.      Pengajaran diselenggarakan secara realistis dan konkret sehingga mengembangkan pemahaman dan berpikir kritis serta menghindarkan verbalistis.
8.      Pengajaran di sekolah menjadi hidup sebagaimana aktivitas dalam kehidupan di masyarakat.
Aktivitas siswa dalam pembelajaran perlu diperhatikan karena berpengaruh terhadap pencapaian hasil belajar yang optimal. Untuk meningkatkan aktifitas siswa dalam pembelajaran dapat dilakukan dengan memilih model atau metode pembelajaran yang dapat merangsang keaktifan siswa, dimana siswa bukan hanya sebagai pendengar dari ceramah guru namun siswa berperan aktif dalam proses belajar-mengajar.
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa aktivitas belajar adalah suatu perubahan yang terjadi dalam diri individu diamana anak belajar sambil bekerja, memperoleh pengetahuan, pemahaman dan aspek-aspek tingkah laku lainnya, serta mengembangkan keterampilan yang bermakna untuk hidup di masyarakat.
3.      Prestasi Belajar
a.       Pengertian Prestasi Belajar
Istilah hasil belajar berasal dari bahasa Belanda “prestatie,” dalam bahasa Indonesia menjadi prestasi yang berarti hasil usaha. Apabila dikaitkan dengan belajar, maka prestasi belajar adalah hasil yang dicapai dari suatu kegiatan atau usaha yang dapat memberikan kepuasan emosional, dan dapat diukur dengan alat atau tes tertentu. Dalam proses pendidikan prestasi dapat diartikan sebagai hasil dari proses belajar mengajar yakni, penguasaan, perubahan emosional, atau perubahan tingkah laku yang dapat diukur dengan tes tertentu. (Abdullah, 2008)
Menurut Slameto (2003), prestasi belajar merupakan suatu perubahan yang dicapai seseorang setelah mengikuti proses belajar. Perubahan itu meliputi perubahan tingkah laku secara menyeluruh dalam sikap, keterampilan dan pengetahuan. Sejalan dengan hal tersebut, Hamalik (2003) mengungkapkan bahwa hasil belajar akan tampak pada perubahan dalam aspek-aspek tingkah laku manusia. Aspek-aspek tersebut antara lain: pengetahuan, pengertian, kebiasaan, keterampilan, apresiasi, emosional, hubungan social, jasmani, etis atau budi pekerti, dan sikap.
Dari uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa prestasi belajar adalah hasil yang diperoleh berupa kesan-kesan yang mengakibatkan perubahan dalam diri siswa sebagai hasil dari aktivitas dalam belajar.
b.      Faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar
Ahmadi dan Supriyono (2004) mengungkapkan,  prestasi belajar yang dicapai seseorang merupakan hasil interaksi berbagai faktor yang mempengaruhinya baik dari dalam diri (faktor internal) maupun dari luar diri (faktor eksternal) individu.
Yang tergolong faktor internal adalah:
1)      Faktor jasmaniah (fisiologi) baik yang bersifat bawaan maupun yang diperoleh. Yang termasuk faktor ini misalnya penglihatan, pendengaran, struktur tubuh, dan sebagainya.
2)      Faktor psikologis baik yang bersifat bawaan  maupun yang diperoleh terdiri atas:
a)      Faktor intelektif yang meliputi : faktor potensial yaitu kecerdasan dan bakat., faktor kecakapan nyata yaitu prestasi yang dimiliki.
b)      Faktor non-intelektif, yaitu unsur-unsur kepribadian tertentu seperti sikap, kebiasaan, minat, kebutuhan, motivasi, emosi, penyesuaian diri.
3)      Faktor kematangan fisik maupun psikis.
Yang tergolong faktor eksternal, ialah:
a)      Faktor sosial yang terdiri dari atas:lingkungan keluarga, lingkungan sekolah, lingkungan masyarakat; lingkungan kelompok;
b)      Faktor budaya seperti adat istiadat, ilmu pengetahuan, teknologi dan kesenian.
c)      Faktor lingkungan fisik seperti fasilitas rumah, fisilitas belajar dan iklim.
4.      Konstruktivisme
a.       Pengertian Konstruktivisme
Salah satu upaya untuk meningkatkan kualitas pembelajaran, perlu adanya penyempurnaan proses belajar mengajar. Untuk menciptakan suasana belajar agar siswa lebih aktif guru menggunakan berbagai macam model pembelajaran  yang diyakini memiliki dampak positif terhadap hasil belajar, salah satunya yaitu konstruktivisme.
Konstruktivisme adalah perkataan bahasa Inggris yaitu "Constructivism" dan berasal dari kata " Construct " yang artinya membina. Konstruktivisme merupakan proses pembelajaran yang menerangkan bagaimana pengetahuan disusun dalam pikiran manusia. Konstruktivisme merupakan pembelajaran yang bermula dari pengetahuan dan pengalaman yang tersimpan dalam memori atau struktur kognitif pelajar kemudian dalam kegiatan belajar mengajar, baru diproses dan diserap untuk dijadikan sebagian struktur kognitif di dalam pikiran pelajar (Zulwali,2007).
Menurut para penganut konstruktif, pengetahuan dibina secara aktif oleh seseorang yang berpikir. Seseorang tidak akan menyerap pengetahuan dengan pasif. Untuk membangun suatu pengetahuan baru, peserta didik akan menyesuaikan informasi baru atau pengetahuan yang disampaikan guru dengan pengetahuan atau pengalaman yang telah dimilikinya melalui berinteraksi sosial dengan peserta didik lain atau dengan gurunya seperti tanya jawab dan diskusi (Yulaelawati, 2004).
Konstruktivisme berfokus pada: bagaimana orang menyusun arti, baik dari sudut pandang mereka sendiri, maupun dari interaksi dengan orang lain. Dengan kata lain, individu-individu membangun struktur kognitif mereka sendiri, persis seperti mereka mengintepretasikan pengalaman-pengalamannya pada situasi tertentu (Suciptoardi, 2007).
Menurut Budiningsih (2004), pembelajaran konstruktivisme menekankan peran utama dalam pembelajaran adalah aktivitas siswa dalam mengonstruksi pengetahuannya sendidri. Segala sesuatu seperti bahan, media, peralatan, lingkungan dan fasilitas lainnya disediakan untuk membantu pembentukan tersebut. Siswa diberi kebebasan untuk mengungkapkan pendapat dan pemikirannya tentang sesuatu yang dihadapinya. Dengan cara demikain, siswa akan terbiasa dan terlatih untuk berfikir sendiri, memecahkan masalah yang dihadapinya, mandiri, kritis, kreatif, dan mampu mempertanggungjawabkan pemikirannya secara rasional.
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa konstruktivisme adalah suatu pembelajaran yang memandang bahwa pengetahuan itu dibangun sendiri secara aktif dalam diri setiap individu melalui pengalamannya dari hasil interaksi dengan lingkungannya.
b.      Model Pembelajaran konstruktivisme
Menurut Depdiknas (2004), model merupakan suatu konsep untuk mengajar suatu materi dalam mencapai tujuan tertentu. Joyce & Weil dalam Santyasa (2007), mendefinisikan model pembelajaran sebagai kerangka konseptual yang digunakan sebagai pedoman dalam melakukan pembelajaran. Model pembelajaran pada dasarnya merupakan bentuk pembelajaran yang tergambar dari awal sampai akhir yang disajikan secara khas oleh guru. Dengan kata lain, model pembelajaran merupakan bungkus atau bingkai dari penerapan suatu pendekatan, metode, dan teknik pembelajaran (Sudrajat, 2008).
Model pembelajaran konstruktivisme telah mendapatkan perhatian yang besar dikalangan peneliti pendidikan sains. Daya tarik dari model konstruktivisme ini adalah pada kesederhanaanya. Model pembelajaran konstruktivisme memperlihatkan bahwa pembelajaran merupakan proses aktif dalam membuat sebuah pengalaman menjadi masuk akal, dan proses ini sangat dipengaruhi oleh apa yang sudah diketahui orang sebelumnya.  Karena itu, dalam setiap kegiatan pembelajaran guru harus memperoleh, atau sampai pada, persamaan pemahaman dengan murid (Mulyasa, 2006).
Dalam belajar sains, proses konstruktif menghendaki partisifasi aktif dari siswa, sehinggga disini peran guru berubah dari sumber dan pemberi informasi menjadi pendiagnosis dan fasilitator belajar siswa (Sutarno, 2003).
      Adapun fungsi dan peranan guru sebagai fasilitator dan mediator dalam pembelajaran adalah menyiapkan kondisi yang kondusif pada saat proses belajar dengan menyajikan problem-problem yang menantang, berupaya untuk menggali dan memahami pengetahuan awal siswa dan menggunakannya sebagai rujukan dalam merancang dan mengimplementasikan dalam pembelajaran. Selain itu juga guru berusaha untuk merangsang dan memberikan kesempatan yang luas bagi siswa untuk mengemukakan gagasan dan argumentasi agar siswa menjadi orang yang kritis dan aktif membangun pengetahuannya.
Menurut Hidayat (2003), ciri-ciri pembelajaran konstruktivisme adalah keaktifan dan keterlibatan siswa belajar dalam proses upaya belajar sesuai dengan kemampuan, pengetahuan awal dan gaya belajar masing-masing dengan bantuan guru sebagai fasilitator yang membantu warga belajar apabila warga belajar mengalami kesulitan dalam kegiatan belajar.
( Rusdy, 2009) menjelaskan, Belajar menurut model konstruktivis merupakan proses aktif siswa untuk mengkonstruksi pikirannya. Belajar juga merupakan proses mengasimilasikan dan menghubungkan pengalaman pengalaman yang telah dimilikinya. Ciri-ciri pembelajaran dalam pandangan konstruktivisme adalah sebagai berikut:
1)      Menyediakan pengalaman belajar dengan mengkaitkan pengetahuan yang telah dimiliki sehingga dapat membentuk pengetahuan siswa.
2)      Menyediakan berbagai alternatif pengalaman belajar, tidak semua pengerjaan tugas atau masalah harus sama misalnya suatu masalah dapat diselesaikan dengan berbagai cara.
3)      Mengintegrasikan pembelajaran dengan melibatkan pengalaman konkrit, misalnya untuk memahami suatu konsep fisika melalui kenyataan kehidupan sehari-hari.
4)      Mengintegrasikan pembelajaran sehingga memungkinkan terjadinya transmisi sosial yaitu terjadinya interaksi dan kerja sama seseorang dengan orang lain atau dengan lingkungannya, misalnya interaksi dan kerjasama antara siswa, guru, dan siswa-siswa.
5)      Memanfaatkan berbagai media pembelajaran termasuk komunikasi lisan dan tertulis sehingga pembelajaran menjadi lebih aktif.
6)      Melibatkan siswa secara emosional dan sosial dengan mengadakan demonstrasi atau eksperimen, diskusi sehingga pembelajaran menjadi menarik.
Nanang Wahid (2009) mengemukakan, Secara garis besar, prinsip-prisip konstruktivisme yang diterapkan dalam belajar mengajar adalah:
1.      Pengetahuan dibangun oleh siswa sendiri
2.      Pengetahuan tidak dapat dipindahkan dari guru kemurid, kecuali hanya dengan keaktifan murid sendiri untuk menalar
3.      Murid aktif megkontruksi secara terus menerus, sehingga selalu terjadi perubahan konsep ilmiah
4.      Guru sekedar membantu menyediakan saran dan situasi agar proses kontruksi berjalan lancar
5.      Menghadapi masalah yang relevan dengan siswa
6.      Struktur pembalajaran seputar konsep utama pentingnya sebuah pertanyaan
7.      Mencari dan menilai pendapat siswa
8.      Menyesuaikan kurikulum untuk menanggapi anggapan siswa.
Adapun tahapan belajar-mengajar konstruktivism menurut (Mulyasa, 2004) adalah sebagai berikut:
a.       Apersepsi yaitu: pelajaran dimulai dengan hal-hal yang diketahui dan dipahami peserta didik dengan memberikan suatu pertanyaan atau masalah tertentu yang dapat membangun pengetahuan
peserta didik, memotivasi peserta didik dengan bahan ajar yang menarik dan berguna bagi peserta didik misalnya mengadakan demonstrasi singkat atau menunjukkan gambar-gambar.
b.      Eksplorasi yaitu: materi atau keterampilan baru dikenalkan kemudian mengkaitkan materi baru ini dengan pengetahuan yang sudah ada pada peserta didik. Pada tahap ini peserta didik diperlihatkan langkah kerja untuk melakukan eksperimen membimbing proses eksperimen.
c.       Diskusi dan penjelasan konsep yaitu: melibatkan peserta didik secara aktif dalam menafsirkan dan memahami materi ajaran baru dan melibatkan siswa secara aktif dalam problem solving serta meletakkan penekanan antara materi ajar yang baru dengan berbagai aspek kegiatan/kehidupan di dalam kehidupan sehari-hari. Pada tahap ini peserta didik diajak untuk diskusi dan merencanakan penyelidikan/eksperimen, menjawab beberapa permasalahan selama penyelidikan/eksperimen dan hasil eksperimen didiskusikan.
d.      Pengembangan dan aplikasi yaitu: Peserta didik didorong untuk menerapkan konsep atau pengertian yang sudah dipelajari dalam kehidupan sehari-hari. Pada tahap ini, peserta didik melaporkan hasil eksperimen dan menyajikan dalam diskusi kelas serta membrikan penguatan, penegasan dan penerapan terhadap setiap jawaban dan menarik kesimpulan dari diskusi tersebut.
e.       Penilaian formatif yaitu: mngembangkan cara-cara untuk menilai hasil pembelajaran peserta didik dan menggunakan hasil penilaian tersebut untuk melihat kelemahan dari peserta didik atas model yang digunakan.

0 Response to "PENGERTIAN BELAJAR DAN KAJIAN PUSTAKA SKRIPSI FISIKA TERBARU "

Post a Comment