Bola Tangkas

KUMPULAN ARTIKEL PENDIDIKAN TENTANG PERMASALAHAN PENDIDIKAN INDONESIA



Pendidikan mempunyai peranan yang sangat menentukan dalam perkembangan untuk mewujudkan diri individu terutama bagi perkembangan bangsa dan Negara. Undang-Undang pasal 3 tahun 2003 tentang tujuan pendidikan nasional adalah mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga Negara yang berdemokratis serta bertanggung jawab. Namun tujuan pendidikan ini sampai sekarang belum terealisasikan sepenuhnya karena masih banyak terdapat permasalahan-permasalahan dalam penyelenggaraan pendidikan.
Salah satu permasalahan pendidikan Indonesia adalah rendahnya mutu pendidikan hal ini dapat dilihat dari prestasi belajar siswa yang masih relative rendah. Ada dua factor yang mempengaruhi prestasi belajar yaitu factor internal yang berupa, intelegensi, minat, bakat dan motivasi sedangkan factor eksternalnya berasal dari lingkungan keluarga, berupa cara orang tua mendidik, suasana rumah, dari lingkungan sekolah berupa metode mengajar, kurikulum, dari lingkungan masyarakat berupa kegiatan siswa dalam masyarakat, teman  bergaul.
Dalam penelitian ini materi pelajaran PKn yang akan diteliti adalah tentang peraturan hokum dan norma. Alasan peneliti mengambil materi tersebut sebagai materi penelitian adalah berdasarkan hasil observasi diperolah nilai rata-rata ulangan harian PKn siswa kelas VII SMPN 10 mataram tahun ajaran 2011 pada materi tersebut adalah 65, selain itu materi ini merupakan materi dasar dalam pembelajaran PKn sehingga dibutuhkan suatu metode mengajar yang dapat membantu siswa untuk menemukan dan memahami konsep.
Pendidikan kewarganegaraan diharapkan mampu menghasilkan kompetensi siswa dalam hal : (1). Berpikir secara kritis, rasional dan kreatif dalam menanggapi isu-isu kewarganegaraan, (2). Berpartisipasi secara aktif, bertanggungjawab dan bertindak secara cerdas dalam kegiatan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, serta anti korupsi, (3). Berkembang secara positif dan demokratis untuk membentuk diri yang berdasarkan karakter masyarakat agar dapat hidup bersama bangsa-bangsa lain. (Fajar, 2005 : 143)
Hariyanto (2007 : 20) mengatakan bahwa pendidikan kewarganegaraan berfungsi untuk membentuk warga negara secara cerdas dan terampil, berkarakter baik serta seti kepada bangsa dan negara indonesia berdasarkan pancasila dan UUD
Berdasarkan hasil observasi awal yang dilakukan oleh peneliti di kelas VII-B SMP N 10 Mataram dalam proses pembelajaran pendidikan kewarganegaraan ditemukan permasalahan yang dihadapinya antara lain : (1). Rendahnya partisipasi siswa dalam proses pembelajaran PKn seperti bertanya dan menjawab pertanyaan guru, (2). Rendahnya daya nalar siswa, hal ini terlihat ketika menjelaskan tentang materi baik secara lisan maupun tulis, (3). Kurangnya minat baca siswa
Hal-hal tersebut mengidentifikasi bahwa proses pembelajaran yang telah berlangsung selama ini kurang memberi makna pada diri siswa. Permasalahan ini disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya : (1). Kreatifitas bertanya kurang, (2). Kurangnya perhatian siswa pada saat kegiatan belajar mengajar, (3). Penggunaan media pembelajaran kurang optimal
Permasalahan ini tidak hanya berasal dari siswa saja melainkan dari guru juga yaitu kurangnya kemampuan dan kreatifitas guru dalam mengembangkan metode pembelajaran sehingga prestasi siswa berkurang. Disamping itu juga guru lebih sering memposisikan siswa sebagai pendengar ceramah. Hal ini dikemukakan oleh Mukhtar Buchari (kompas, 28 feb 2003) bahwa banyak guru disekolah selama ini hanya memberikan kemampuan menghafal dan bukan kemampuan berfikir secara kreatif sehingga hasil pendidikan kita tidak mempunyai makna
Untuk mencapai tujuan dan fungsi tersebut proses pembelajaran pendidikan kewarganegaraan mestinya dapat membantu siswa dalam mengembangkan potensi yang dimilikinya baik kognitif, afektif dan psikomotorik agar menjadi warga negara yang memahami, mampu menyikap dan berprilaku sesuai dengan hak dan kewajiban sebagai warga negara. Maka dari itu diperlukan adanya metode yang bisa membuat prestasi anak itu bisa meningkat yaitu dengan menggunakan metode Jigsaw karena dimana metode ini merupakan metode yang cukup bagus dalam meningkatkan prestasi anak 

Bakat merupakan faktor yang besar pengaruhnya terhadap hasil belajar seseorang. Hampir tidak ada orang yang membantah, bahwa belajar pada bidang sesuai dengan bakat akan memperbesar kemungkinan keberhasilannya. Sesuai dengan definisi yang diutarakan oleh Crow and Crow adalah suatu kualitas yang nampak pada tingkah laku manusia pada suatu lapangan seperti musik, seni pengarang, kecakapan dalam matematika, keahlian dalam bidang mesin, atau yang lainnya. (Nurkancana dan Sumartana, 2002:190-191)
Dari beberapa pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa bakat adalah kemampuan seseorang dalam berbagai bidang seperti dalam halnya menyanyi, menari dan belajar atau yang merupakan sesuatu yang melekat dalam diri seseorang
 Kecerdasan adalah kemampuan belajar disertai kecakapan untuk menyesuaikan diri dengan keadaan yang dihadapinya. Kemampuan ini sangat ditentukan oleh tinggi rendahnya intelegensi yang normal selalu menunjukkan kecakapan sesuai dengan tingkat perkembangan sebaya. Adakalany perkembangan ini ditandai oleh kemajuan-kemajuan yang berbeda antara satu anak dengan anak yang lainnya, sehingga seseorang anak pada usia tertentu sudah memiliki tingkat kecerdasan yang lebih tinggi dibandingkan dengan kawan sebayanya. Oleh karena itu jelas bahwa faktor intelegensi merupakan suatu hal yang tidak diabaikan dalam kegiatan belajar mengajar.
Menurut Kartono (1995:1) kecerdasan merupakan “salah satu aspek yang penting, dan sangat menentukan berhasil tidaknya studi seseorang. Kalau seorang murid mempunyai tingkat kecerdasan normal atau di atas normal maka secara potensi ia dapat mencapai prestasi yang tinggi.”
Slameto (1995:56) mengatakan bahwa “tingkat intelegensi yang tinggi akan lebih berhasil daripada yang mempunyai tingkat intelegensi yang rendah.”
Muhibbin (1999:135) berpendapat bahwa intelegensi adalah “semakin tinggi kemampuan intelegensi seseorang siswa maka semakin besar peluangnya untuk meraih sukses. Sebaliknya, semakin rendah kemampuan intelegensi seseorang siswa maka semakin kecil peluangnya untuk meraih sukses.”
Dari pendapat di atas jelaslah bahwa intelegensi yang baik atau kecerdasan yang tinggi merupakan faktor yang sangat penting bagi seorang anak dalam usaha belajar atau modal awal untuk bakat tertentu

0 Response to "KUMPULAN ARTIKEL PENDIDIKAN TENTANG PERMASALAHAN PENDIDIKAN INDONESIA "

Post a Comment

Agen Bola