Bola Tangkas

KUMPULAN KARYA SASTRA TULIS ILMIAH TERBARU LENGKAP 2014



SOSOK KARYA
(ESAI TENTANG KODRAT DAN KONDISI KEADAAN KARYA SASTRA)

Bab I Pendahuluan
            Dalam pembicaraannya mengenai kritik sastra, Andre Hardjana (1981 : 1) menyatakan, bahwa kritik sastra telah ada sejak 500 tahun sebelum Masehi. Hal itu sesuai pendapat Abrams (1979 : 3) yang mengatakan, bahwa kritik sastra telah ada sejak 2500 tahun yang lalu. Atas dasar itu, kritikus sastra yang awal, yang banyak menjadi bahan pembicaraan adalah Plato. Sebagaimana diketahui (Abrams 1979 : 9-10), Plato beranggapan bahwa seni adalah tiruan dari dunia-penampakan. Dunia-penampakan itu sendiri, menurutnya, merupakan tiruan dari dunia- hakiki. Dengan demikian, kata pilosof tersebut, seni mempunyai status yang lebih rendah daripada dunia penampakan yang ditirunya.
            Yang terutama perlu dikemukakan adalah bahwa dalam perkembangannya usaha pemahaman karya sastra telah membuahkan berbagai macam teori dan praktek kritik sastra. Menurut Abrams (1979 : 6), perkembangan itu berkisar pada empat elemen dari situasi seni sastra, yaitu sastra (work), seniman (artist), semesta (universe), dan audiens (audience). Setiap teori kebanyakan berorientasi pada salah satu dari komponen-komponen tersebut. Teori mimetik berorientasi pada semesta, ekspresif pada seniman, pragmatik pada audiens, dan objektif pada karya sastra.
            Di dalam perkembangannya teori-teori sastra muncul kemudian cenderung menganggap, bahwa teori-teori terdahulu sebagai teori-teori yang tidak konsisten (wavering), kacau, dan produk mimpi belaka (phantasmal) (Abrams 1979 : 3). Meskipun Abrams (1979 : 5) mengatakan, bahwa keanekaragaman teori itu tidak perlu ditangisi sebab semuanya memperkaya kesastraan, kenyataan terakhir di atas menunjukkan bahwa teori sastra selalu berkembang kea rah usaha pemahaman yang sebaik-baiknya dan seyepat-tepatnya mengenai karya sastra.
            Di Indonesia kecenderungan itu semua terjadi. Pertentangan pendapat antara Sutan Takdir Alisyahbana dengan Sanusi Pane (Jassin 1967 : 107) merupakan petunjuk awal dari kecenderungan tersebut. Yang pertama melihat seni sebagai alat, sedangkan yang kedua memandangnya sebagai sesuatu yang menjadi tujuan itu sendiri. Faham-faham sastra beraneka ragam. Teori-teori sastra yang bermacam-macam, mengajak para akademisi sastra Indonesia melihat dan memperhatikan kemabali hakikat sastra. Usaha itu penting karena para akademisi sastra selama ini cenderung melupakannya. Teori Wellek dan Warren, misalnya cenderung ditangkap dan dipahami oleh para akademisi sastra Indonesia hanya dari lapisan teknis operasionalnya belaka. Buku ini berusaha mengemukakan masalah ontologis dan epistimologis sastra. Karena kedua masalah itu merupakan masalah dasar dari ilmu pengetahuan pada umunnya.
           
Bab II ILMU DAN ILMUWAN
2.1. Ilmu dan Ragam-ragamnya
            Menurut Suriasumantri (1984 : 4), ilmu adalah kumpulan pengetahuan yang mempunyai ciri-ciri tertentu yang membedakannya dari pengetahuan yang lain. Kekhasan ciri-ciri itu meliputi kekhasan ontologi dan epistimologinya. Ontologi adalah cabang filsafat pengetahuan yang mempelajari perihal cara mendapatkan penegetahuan mengenai objek itu. Objek ilmu adalah seluruh aspek kehidupan yang dapat diuji dengan pancaindera manusia (Suriasumantri 1981 : 5). Objek yang tidak bersifat material tidak dapat dianggap sebagai objek ilmu.
            Di samping harus bersifat material, objek ilmu harus pula mempunyai ciri-ciri tertentu yang lain. Menurut Sriasumantri (1981 : 7-8), ciri-ciri lain itu adalah : (1) mempunyai keserupaan satu sama lain, (2) relatif tidak mengalami perubahan dalam jangka waktu tertentu, (3) mempunyai pola-pola tertentu dan tetap dengan urut-urut kejadian yang sama. Karena merupakan fakta material, usaha pemahaman objek ilmu harus dilakukan dengan metode empirik, yang dimaksudkan dengan metode empirik adalah cara mendapatkan pengetahuan dengan dasar pengalaman inderawi. Metode empirik bukanlah cara yang sepenuhnya memenuhi syarat bagi pencapaian pengetahuan ilmiah, menurut Sriasumantri (1981 : 12), rasio memberikan kerangka pemikiran yang koheren dan logis. Hingga sekarang ini objek ilmu dapat dibedakan menjadi bermacam-macam. Popper (Bertens 1981 : 77) membedakan adanya tiga yang dapat menjadi objek ilmu, yaitu dunia alam fisik, dunia proses pemikiran, dan dunia isi pikiran. Dilthey (Seung 1982 : 46) membedakan dunia yang menjadi objek ilmu menjadi dua, yaitu alam (natural world) dan dunia manusia (human world).
            Menurut Dilthey (Seung 1982 : 47), aspek fisik dari objek non fisik itu disebut ekspresi atau aspek luar, sedangkan aspek non fisiknya disebut aspek dalam. Aspek luar itu dapat berupa ekspresi verbal, facial, dapat berupa kehidupan dan pengalaman. Di dalam teori ilmu pengetahuan, pengertian objek kadang-kadang dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu objek forma dan objek materia, (Poedjawijatna 1982 : 41). Objek materia adalah lapangan penyelidikan, sedangkan objek forma adalah sudut yang diambil dalam usaha memahami objek materia itu. Objek materia yang berupa manusia dapat menjadi beberapa objek forma yang pada gilirannya melahirkan beberapa ilmu.
            Perbedaan objek materia dan objek forma dari masing-masing ilmu menuntut perbedaan cara atau metode untuk mendapatkan pengetahuan mengenainya. Ilmu alam dan ilmu sosial yang behavioral, yang mempelajari hubungan antara fakta fisik yang satu dengan yang lain oleh Dilthey disebut metode eksplanasi.

2.2. Ilmu dan Ilmuwan
            Sesuai dengan objeknya, ilmu hanya dapat diperoleh dengan cara empirik dan rasional. Karena merupakan subjek pengetahuan, ilmuwan harus mampu menempuh kedua cara itu. Objek ilmu sastra setidaknya menuntut indera pendengaran dan penglihatan. Indera yang pertama dibutuhkan untuk objek yang berupa sastra lisan, sedangkan yang kedua untuk sastra tertulis.


BAB III KONDISI KEBERADAAN KARYA SASTRA
            Karya sastra adalah objek manusiawi, fakta kemanusiaan, atau fakta kultural, sebab  merupakan hasil ciptaan manusia. Mukarosvy (1978 : 82-88) menyebut karya sastra khususnya dan karya seni umumnya sebagai fakta semiotik. Kondisi keberadaan karya sastra sebagai fakta kemanusiaan yang bersifat semiotik itu amat diperhatikan. Sebagai fakta kemanusiaan, karya sastra merupakan ekspresi dari kebutuhan tertentu manusia, sedangkan sebagai fakta semiotik karya itu mempunyai suatu ciri yang khas yang perlu diketahui.
3.1.   Karya Sastra Sebagai Fakta Semiotik
            Sebagai fakta semiotik, karya sastra mempunyai eksisitensi ganda, yakni sekaligus berada dalam dunia inderawi (empirik) dan dunia kesadaran (consciousness) yang nonempirik.
3.1.1.  Aspek Empirik Karya Sastra
            Aspek bunyi dan tulisan itulah yang menjadi aspek empirik karya sastra, yang menjadi aspek yang dapat dialami indera manusia. Tulisan atau bunyi itu tidak berubah dalam jangka waktu tertentu sehingga dapat diuji oleh orang lain pada kesempatan tertentu yang lain. Aspek tersebut mempunyai pola tertentu yang relatif dapat diramalkan dan diklasifikasikan.
3.1.2.  Aspek Nonempirik Karya Sastra
            Aspek nonempirik karya sastra adalah makna. Pada umumnya yang dipandang sebagai lokus makna adalah kesadaran (consciousness) manusia. Ada yang menganggapnya terletak dalam kesadaran individu (pengarang) dan ada pula yang menganggapnya terletak dalam kesadaran kolektif.
3.1.2.1. Kesadaran Individual
            Setelah membela eksistensi pengarang dari anggapan bahwa makna karya sastra itu berubah bahkan bagi pengarangnya, bahwa makna pengarang itu tidak dapat didekati, Hirsch (1979 : 46) akhirnya memutuskan, bahwa penentuan makna karya sastra membutuhkan tindakan kehendak (act of will). Kehendak itu bukan lain daripada kehendak dari pengarang karya sastra itu sendiri.
3.1.2.2. Kesadaran Kolektif
a.   Kesadaran Kolektif Kebahasaan
Schleiermacher (Seung 1982 : 25-26) mengatakan, bahwa hubungan antara tanda dengan makna itu dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu hubungan dari makna ke tanda dan dari tanda ke makna. Hubungan pertama disebut ekspresif, sedangkan yang kedua interpretatif. Oleh karena itu, ia beranggapan bahwa interpretasi makna harus dilakukan dengan dua tahap. Pertama tahap ekspresi, yakni dengan memahami bahasa teks, sedangkan tahap kedua pemahaman terhadap makna dengan melampaui medium bahasa yang umum.
b.   Kesadaran Kolektif Kebudayaan
Yang dimaksud dengan kebudayaan dalam tulisan ini adalah sistem semiotik yang di luar sistem semiotik bahasa dan sastra. Para ahli sastra yang mengakui eksiskebudayaan sebagai salah satu lokus makna antara lain adalah Harthes (1975 : 20), Culler (1977 : 140-145), dan Teeuw (1983 : 13).
c.    Kesadaran Kolektif Kesastraan
      Kode-kode Barthes yang dimasukkan ke dalam kesadaran kolektif kesastraan adalah kode hermeneutik dan simbolik. Yang pertama berkaitan dengan pembentukan enigma (pertanyaan-pertanyaan), pensugestiannya, perumusannya, penundaan pemecahannya, dan pemecahannya.
      Semua uraian di atas menunjukkan bahwa karya sastra mempunyai aspek material/empirik dan nonempirik. Aspek nonempirik karya sastra itu terdiri dari kesadaran individual dan kesadaran kolektif. Kesadaran kolektif itu sendiri dapat dibedakan menjadi tiga macam, yaitu kesadaran kebahasaan, kebudayaan, dan kesastraan.
3.2. Karya Sastra Sebagai Fakta Kemanusiaan
      Menurut Goldman (1981 : 40), sebagai fakta kemanusiaan karya sastra adalah struktur yang berarti (significant structure). Yang dimaksudkan adalah bahwa penciptaan karya sastra adalah untuk mengembangkan hubungan manusia dengan dunia.
      Dari uraian itu jelas bahwa bagi subjek karya sastra bukan individu, melainkan kelompok. Intensi-intensi pengarang adalah intensi-intensi yang dibangun oleh kelompok, oleh norma dan fungsi pragmatik yang berlaku pada ruang, waktu, dan kebudayaan tertentu.

BAB IV KODRAT KEBERADAAN KARYA SASTRA
4.1. Karya Sastra dan Fakta Semiotik Lain
                  Sebagai fakta semiotik, karya sastra adalah sistem tanda. Menurut Pierce (Hawkes 1978 : 126-128) penanda adalah sesuatu yang bagi seseorang menjadi wakil dari sesuatu yang lain atas dasar tertentu.
4.1.1. Jenis Tanda karya Sastra
                  Sebagai sebuah wacana, karya sastra tentu saja termasuk simbol. Wellek dan Warren (1968 : 22) mengatakan bahwa karya sastra bermaterikan bahasa. Materi karya sastra bukanlah benda mati, melainkan ciptaan manusia yang dengan demikian dibebani oleh warisan kultural dari suatu kelompok linguistik tertentu.
                  Seluruh uraian di atas menunjukkan bahwa karya sastra pada hakikatnya adalah jenis simbol yang kompleks, kalau seni rupa merupakan simbol visual, seni suara simbol suara. Karya sastra merupakan simbol visual, suara, bahasa, indikatif, kausal, dan sebagainya. Segala jenis tanda yang terdapat dalam kehidupan menjiwai karya sastra karena wacana itu menampilkan ilusi kehidupan itu sendiri.
4.1.2  Karya Sastra dan Wacana Lain
                  Karya sastra adalah sebuah wacana. Pembicaraan mengenai perbedaan antara wacana sastra dengan wacana lain kiranya dapat dimulai dari Jakobson sebab tokoh itu mengemukakan sebuah skema yang cukup luas. Ciri yang membedakan verbal message yang tidak menjadi karya seni dengan yang menjadi karya seni. Yang tidak menjdi karya seni itu dapat berupa wacana ilmiah, bahasa sehari-hari, dan sebagainya.
                  Demikianlah uraian mengenai kodrat karya sastra sebagai fakta semiotik. Dari seluruh uraian itu dapat disimpulkan hal-hal berikut:
1.      Karya sastra dapat dibedakan dari karya seni lainnya dari ciri-ciri intrinsiknya.
2.      Ciri-ciri intrinsik yang menjadi pembeda itu adalah sebagai berikut : (a) materinya adalah bahasa yang bersifat simbolik, (b) petanda bahasanya dapat menjadi penanda visual, auditori, dan sebagainya, yang juga bersifat simbolik.
3.      Perbedaan antara karya sastra dengan wacana lain tidak dapat ditentukan secara intrinsik, melainkan secara kontekstual
4.      Konteks itu berupa situsi ututr sastra yang terbangun atas tiga faktor sebagai berikut : (a) audiens harus menjadi partisipan pasif dalam komunikasi sastra, (b) kepasifan audiens itu disebabkan oleh kelayakan cerita dari hal yang ditemukan karya sastra, (c) kepasifan itu dimungkinkan pula oleh kepercayaan audiens pada proses persiapan dan seleksi yang telah dialami karya sastra itu.
4.2.      Karya Sastra dan fakta Kemanusiaan Lain
   Perbedaan antara karya sastra dengan fakta kemanusiaan lain dapat dilakukan dengan mudah. Fakta kemanusiaan merupakan aktivitas fisik, sedangkan karya sastra merupakan aktivitas verbal. Meskipun perbedaan antara kedua kutub fakta itu tampak jelas, kasus-kasus yang mengaburkan sering juga terjadi. Kekaburan yang terjadi akibat kasus pertama itu dapat diatasi dengan pembedaan antara peristiwa konstruksi mental manusia dengan peristiwa hasil hukum alam.
   Kekaburan akibat kasus kedua dapat diatasi dengan cara yang sama dengan di atas. Akan tetapi, yang harus menjadi fokus perhatian adalah sifat konstruktifnya. Karya sastra harus dipandang sebagai hasil konstruksi mental manusia. Demikian pula tentunya ilusi peristiwa fisik yang terkandung di dalamnya.

UNTUK KARYA ILMIAH LAINNYA KLIK DISINI

0 Response to "KUMPULAN KARYA SASTRA TULIS ILMIAH TERBARU LENGKAP 2014"

Post a Comment

Agen Bola