Bola Tangkas

KUMPULAN JURNAL EKONOMI AKUNTANSI SYARIAH LENGKAP 2014



PRINSIP-PRINSIP AKUNTANSI SYARI’AH:
Suatu Alternatif Menjaga Akuntabilitas Laporan Keuangan
 


Abstrak

            Akuntansi syari’ah adalah wacana baru dalam bidang akuntansi, wacana ini baru muncul ketika bermunculannya lembaga-lembaga ekonomi syari’ah yang mulai berpraktik. Pencarian bentuk akuntansi yang sejalan dengan nilai-nilai syari’ah telah dilakukan oleh beberapa ilmuan dan peneliti, walaupun hasilnya belum dapat dikatakan memuaskan tetapi paling tidak suatu pencarian tersebut telah mendapatkan hasil berupa rumusan-rumusan normatif tentang bagaimana seharusnya sebuah laporan keuangan akuntansi syari’ah disajikan.
Ciri yang melekat dari akuntansi syari’ah adalah mengandalkan etika dan spiritualitas, sehingga dapat terjaga integritasnya dalam menciptakan rasa keadilan bagi semua pengguna laporannya, hal ini tentu menjadi sangat menarik bila dihubungkan dengan fenomena laporan keuangan saat ini yang semakin kehi-langan kepercayaan penggunanya, tentu saja prinsip-prinsip akuntansi syari’ah diharapkan mampu menjadi solusi menjaga akuntabilitas laporan keuangan.

Kata kunci: akuntansi syari’ah, prinsip-prinsip akuntansi syari’ah, etika dan spiritualitas, akuntabilitas, laporan keuangan

I.    Pendahuluan

1.1. Latar Belakang Masalah


            Kewajiban melaksanakan pembukuan (akuntansi) yang tertuang dalam salah satu pernyataan Allah (QS, 2:282), menunjukkan betapa pentingnya akun-tansi bagi masyarakat Muslim, walapun ada yang berpendapat kewajiban tersebut lebih ditekankan dalam rangka menunaikan kewajiban zakat [membersihkan diri dari harta yang tidak halal (QS, 87:14)]. Tetapi apabila dilakukan penelusuran lebih jauh terhadap manfaat laporan keuangan bagi pelaku bisnis, akan terjawab bahwa betapa pentingnya laporan keuangan, karena akan menyangkut hak-hak para pemilik modal terhadap pembagian laba, hak-hak pekerja untuk memperoleh imbalan yang sesuai dengan konstribusi laba yang dihasilkan dari peran sertanya dalam perusahaan, dan lain sebagainya.
Fenomena akuntansi syari’ah diharapkan dapat mewakili kebutuhan akan laporan keuangan yang benar-benar jujur, adil, dan dapat dipercaya kerena laporan keuangan akuntansi syari’ah berbasiskan pada syari’ah, dan syari’ah sendiri memiliki tujuan mulia yakni “menciptakan kemaslahatan bagi umat manusia”. Dengan demikian, tepat kiranya bila prinsip-prinsip akuntansi syari’ah dapat dijadikan solusi alternatif dalam menjaga akuntantabilitas laporan keuangan.
Pengguna laporan keuangan sangat mengharapkan laporan keuangan yang dihasilkan oleh akuntansi benar-benar memberikan informasi yang andal, dapat dipercaya, dan dapat dipertanggungjawabkan, tetapi harapan itu tidak selamanya terpuaskan, bahkan yang terjadi bisa sebaliknya. Bila demikian, para akuntan haruslah bekerja keras untuk tetap menjaga keandalan dari laporan keuangan yang disajikan dengan mengacu pada prinsip-prinsip akuntansi, sayangnya normatif akuntansi yang kongkritnya dibuat dalam bentuk standar [di Indonesia SAK] masih sangat lemah dalam mendorong penegakan moral, padahal benteng terakhir dari kemurnian laporan keuangan adalah penegakan moral. Akuntansi syari’ah memasuki wilayah akuntansi dan penekanan pada nilai-nilai moral dan spiritual, bermodalkan pada dua hal tersebut diharapkan akuntansi syari’ah mampu menjawab kebutuhan pemakai laporan keuangan yang menuntut akuntabilitas laporan keuangan tetap terjaga.

1.2. Identifikasi Masalah
            Dalam rangka menemukan suatu alternatif dalam menjaga akuntabilitas laporan keuangan, dilakukan penelitian terhadap prinsip-prinsip akuntansi syari’ah. Masalah ini dapat diidentifikasi sebagai berikut:
1.    Apakah ada perbedaan prinsip-prinsip akuntansi syari’ah dengan akuntansi konvensional.
2.    Apakah prinsip-prinsip akuntansi syari’ah dapat dijadikan salah satu alternatif dalam menjaga akuntabilitas laporan keuangan.

1.3. Tujuan Penelitan
            Berdasarkan pada identifikasi masalah di atas maka tujuan penelitian dirumuskan sebagai berikut:
1.    Untuk mengetahui apakah ada perbedaan prinsip-prinsip akuntansi syari’ah dengan akuntansi konvensional.
2.    Untuk mengetahui apakah prinsip-prinsip akuntansi syari’ah dapat dijadikan salah satu alternatif dalam menjaga akuntabilitas laporan keuangan.

1.4. Kegunaan Penelitian
            Dengan dilakukan analisis terhadap prinsip-prinsip akuntansi syari’ah sebagai salah satu alternatif dalam menjaga akuntabilitas alporan keuangan, diharapkan dapat memberikan manfaat dalam pengembangan ilmu dan guna laksananya:
1.     Dalam pengembangan ilmu adalah memberi sumbangan bagi pengembangan akuntansi syari’ah, dan dapat menarik minat penelitian lanjutan dan penciptaan teori-teori baru untuk memperdalam studi akuntansi syari’ah.
2.    Kegunaan bagi aspek guna laksana: sebagai bahan rujukan dalam praktek akuntansi syari’ah terutama dalam penyusunan laporan keuangan yang tidak menyimpang dari prinsip-prinsip syari’ah, dan sebagai bahan pertimbangan bagi lembaga profesi akuntan (Indonesia: Ikatan Akuntan Indonesia) dalam penyusunan dan penyempurnaan Standar Akuntansi Keuangan (SAK) khusus [PSAK yang mengatur tentang Akuntansi Syari’ah (bagi praktek ekonomi yang menggunakan prinsip-prinsip syari’ah)].

1.5. Metode Penelitian
            Penelitian ini merupakan basic atau fundamental research karena terutama bertujuan untuk memperoleh lebih banyak pengetahuan dan pemahaman mengenai fenomena-fenomena yang terjadi, secara umum diarahkan kepada usaha untuk mengembangkan dan penemuan teori sebagai dasar pengembangan ilmu pengetahuan (Teguh, 1999:17).
            Penelitian ini dimaksudkan untuk menemukan rasionalitas dan kebenaran hakikat, pengetahuan dan praktik akuntansi, maka penelitian ini menggunakan kajian teori kritis, dan filosofis  (Adnan, 1996:7; Muhammad, 2002:23)

1.5.1. Metode Penelitian yang Digunakan
            Penelitian ini bersifat kualitatif dengan menggunakan metode penelitian deskriptif, data yang dikumpulkan disusun, dijelaskan, dan selanjutnya dilakukan analisa (Surakhmad, 1985:140) dengan pendekatan analisis perbandingan (komparatif) yang berusaha mencari pemecahan melalui penelitian pada faktor-faktor tertentu yang berhubungan dengan fenomena yang sedang diteliti dan membandingkan satu faktor dengan faktor lainnya (Surakhmad, 1985:141) juga dimaksudkan untuk mengetahui hakikat sesuatu, dengan pendekatan analisis proposisi yang mengungkap pernyataan tentang sifat dari realitas (Nazir, 1999:20). Menggunakan data ex post facto. Ex post facto artinya data yang dikumpulkan setelah semua kejadian berlangsung (Nazir, 1999:69)

1.5.2. Jenis dan Sumber Data
            Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data kualitatif yang berbentuk rumusan-rumusan normatif tentang prinsip-prinsip syari’ah, prinsip-prinsip ekonomi syari’ah dan prinsip-prinsip akuntansi syari’ah, aturan atau ketentuan-ketentuan penyajian laporan keuangan yang tidak dapat dinyatakan dalam angka-angka kuantitatif.
            Sumber data diperoleh melalui: Standar Akuntansi Keuangan yang disusun oleh IAI (Ikatan Akuntan Indonesia) sebagai acuan dalam praktik menjalankan akuntansi, literatur atau buku-buku akuntansi keuangan yang beraliran konvensional, dan format laporan keuangan yang dipergunakan oleh institusi ekonomi non syari’ah (konvensional); Accounting and Auditing for Islamic Financial Institution yang disusun oleh AAOIFI (Accounting and Auditing Organization for Islamic Financial Institution) sebagai acuan dalam praktik akuntansi lembaga-lembaga keuangan syari’ah, Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No. 59 tentang Perbankan Syari’ah, literatur atau buku-buku akuntansi keuangan yang berdasarkan ketentuan-ketentuan syari’ah, dan format laporan keuangan yang dipergunkan oleh institusi ekonomi syari’ah.

1.5.3. Teknik Pengumpulan Data
            Sesuai dengan metode yang digunakan dalam penelitian ini, data yang digunakan adalah berupa pernyataan-pernyataan para ahli yang relevan. Pe-ngumpulan data dengan teknik purposif sampling/data, yang selanjutnya didukung oleh teknik analisis isi (content analysis) (Adnan, 1996:10-11; Muhammad, 2002:27).
            Penelitian kualitatif setidak-tidaknya memiliki tiga tahapan yang tepat dalam menganalisis, yaitu: data reduction, data display, dan conclution drawing (Miles dan Heberman, 1984; Sutopo, 1988, Syafi’ie, 1988 dalam Muhammad, 2002:27). Tiga komponen tersebut harus saling berkorelasi dan saling mendukung. Gaffikin (1989:119) menyarankan dalam menerapkan metodologis analisis paling tidak ada empat tahapan yang harus dilalui oleh peneliti, 1) logical, 2) environmental, 3) ideological, dan 4) linguistic. Keempat tahapan ini akan menjadikan satu rangkaian yang saling bertaut (koheren), sehingga akan menghasilkan suatu konstruksi teori. 
      Dalam penelitian ini dilakukan pengumpulan data dan informasi melalui studi kepustakaan, yaitu menganalisa isi buku (book survey) serta melakukan kritik interpretatif positif untuk menetapkan maksud pengarangnya. Menganalisa keadaan dan latar belakang buku tersebut serta verifikasi terhadap pernyataan  dan pokok-pokok pikiran pengarangnya.

1.5.4. Analisis Data
            Data-data yang telah ada sesuai dengan kebutuhan penelitian ini, diinventarisir dan dianalisis, sesuai dengan topik penelitian  memperbandingkan antara dua fenomena, merujuk analisis data yang dikemukakan oleh Bisri (1998:61-62), sebagai berikut:
1.    Mengadakan seleksi data yang telah terkumpul serta mencocokkan dengan data yang menunjang pada penelitian ini.
2.    Mengklasifikasikan data, data yang telah diseleksi tersebut diklasifikasikan secara khusus yaitu yang menyangkut pada pembahasan dalam penelitian ini.
3.    Penganalisaan data, data yang sudah diklasifikasikan tersebut kemudian dinalisa keabsahannya. Selanjutnya, dibandingkan untuk didapatkan unsur-unsur persamaan, dan unsur-unsur perbedaan substansi, metodologi, dan penyajian.
4.    Mencari hubungan timbal-balik antara data-data yang diperbandingkan.
Dalam membangun teori sosial yang didalamnya juga termasuk teori akuntansi, maka proses analisis kritis dan rasional sangat dibutuhkan, dalam penelitian ini (perbandingan antara Akuntansi Konvensional dengan Akuntansi Syari’ah), pendekatan kritis merupakan salah satu pendekatan yang relevan dan dianjurkan untuk diterapkan. Untuk memahami praktik dan teori akuntansi yang sesuai dengan tujuan penelitian ini, Lodh (1996:3)  merekomendasikan bahwa penelitian yang lebih tepat untuk digunakan adalah  critical studies in accounting.
           

II. Landasar Teoritis

2.1. Prinsip-prinsip Akuntansi Syari’ah
            Berdasarkan prinsip-prinsip syari’ah masalah akuntansi akan berkait pula dengan prinsip-prinsip syari’ah, karena syari’ah mencakup seluruh aspek kehidupan umat manusia, baik ekonomi, politik, sosial dan falsafah moral. Dengan demikian syari’ah berhubungan dengan seluruh aspek kehidupan manusia termasuk di dalam hal akuntansi (Muhammad, 2002:112). Wan Ismail Wan Yusoh (2001 dalam Harahap, 2001:212) mengemukakan beberapa syarat sebagai dasar-dasar akuntansi syari’ah, sebagai berikut: 1) benar (truth) dan sah (valid), 2) adil (justice), yang berarti menempatkan sesuatu sesuai dengan peruntukannya, diterapkan terhadap semua situasi dan tidak bias, harus dapat memenuhi kebutuhan minimum yang harus dimiliki oleh seseorang, 3) kebaikan (benevolence/ihsan), harus dapat melakukan hal-hal yang lebih baik dari standar dan kebiasaan. Sebenarnya prinsip-prinsip akuntansi konvensional telah mema-sukkan aspek-aspek seperti yang diutarakan di atas hanya saja prinsip conservatism yang selalu membela kepentingan pemilik modal menjadi tidak sejalan dengan prinsip-prinsip akuntansi syari’ah (Adnan, 1997 dalam Harahap, 2001:213).
            Muhammad (2002:114-115) mencoba merumuskan prinsip-prinsip akun-tansi syari’ah dengan membagi dua bagian: 1) berdasarkan pengukuran dan penyingkapan, dan 2) berdasarkan pemegang kuasa dan pelaksana.
            Prinsip akuntansi syari’ah berdasarkan pengukuran dan penyingkapannya terdiri dari, 1) Zakat: penilaian bagian-bagian yang dizakati diukur secara tepat, dibayarkan kepada mustahik sesuai yang dikehendaki oleh Al-Qur’an (delapan asnaf) atau zakat dapat pula disalurkan melalui lembaga zakat yang resmi. 2) Bebas bunga: Entitas harus menghindari adanya bunga dalam pembebanan-pembebanan dari transaksi yang dilakukan, menghindari hal ini akan lebih tepat bila entitas berbentuk bagi hasil atau bentuk lain yang sifatnya tidak memakai instrumen bunga. 3) Halal: menghindari bentuk bisnis yang berhubungan dengan hal-hal yang diharamkan oleh syari’ah, seperti perjudian, alkohol, prostitusi, atau produk yang haram lainnya. Menghindari transaksi yang bersifat spekulatif, seperti bai’ al-gharar; munabadh dan najash.
            Prinsip akuntansi syari’ah berdasarkan pemegang kuasa dan pelaksana terdiri dari: 1) Ketaqwaan: mengakui bahwa Allah adalah penguasa tertinggi. Allah melihat setiap gerak yang akan diperhitungkan pada hari pembalasan. Dapat membedakan yang benar (al-haq) dan yang salah (al-bathil). Mendapatkan bimbingan dari Allah dalam pengambilan keputusan. Mencari ridha dan barakah Allah dalam menjalankan aktivitas. 2) Kebenaran: visi keberhasilan dan kegagalan yang meluas ke dunia mencapai maslahah. Menjaga dan memperbaiki hubungan baik dengan Allah (hablun min Allah) dan menjaga hubungan dengan sesama manusia (hablun min al-nas). 3) Pertanggungjawaban: Pertanggung-jawaban tertinggi adalah kepada Allah, berlaku amanah. Mengakui kerja adalah ibadah yang selalu dikaitkan dengan norma dan nilai “syari’ah”. Merealisasikan fungsi manusia sebagai khalifah di muka bumi dan bertanggung jawab atas perbuatannya. Berbuat adil kepada sesama ciptaan Allah, bukan hanya kepada manusia.
            Merujuk dari investigasi yang dilakukan oleh Syahatah (2001:73-92) kaidah akuntansi yang terpenting berdasarkan hasil istimbath dari sumber-sumber hukum Islam (syari’ah), adalah sebagai berikut:
1.    Independensi jaminan keuangan. Perusahaan hendaklah mempunyai sifat yang jelas dan terpisah dari pemilik perusahaan.
2.    Kesinambungan aktivitas. Kaidah ini memandang bahwa aktivitas suatu per-usahaan itu mesti berkesinambungan (terus beraktivitas).
3.    Hauliyah (pentahunan/penetapan periode). Sesuai dengan firman Allah dalam Al-Qur’an (9:36) “sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah ialah dua belas bulan ...” jadi periode akuntansi syari’ah lebih tepat memakai putaran tahun, karena hal tersebut juga berhubungan dengan nisab zakat yang menggunakan bilangan tahun.
4.    Pembukuan langsung dan lengkap secara detail. Kaidah ini menghendaki pembukuan secara rinci dalam mencatat transaksi, dimuali dari tanggal, bulan, tahun, dan aktivitas-aktivitas yang dilakukan, hal ini disarkan perintah dalam Al-Qur’an (2:282) “uktubuhu” perintah mencatat kemudian “ila ajalin musamma” menunjukkan suatu tanggal kejadian tertentu.
5.    Pembukuan disertai dengan penjelasan atau penyaksian obyek. Kaidah ini menghendaki pembukuan semua aktivitas ekonomi keangan berdasarkan dokumen-dokumen yang mencakup segia bentuk dan isi secara keseluruhan. Dalam fikih Islam, bentuk ini disesbut pencatatan dengan kesaksian.
6.    Pertambahan laba dalam produksi, serta keberadaannya dalam perdagangan. Dalam fikih islam, laba dianggap sebagai perkembangan pada harta pokok yang terjadi dalam masa haul (periode akuntansi), baik setelah harta itu diubah dari barang menjadi uang meupun belum berubah. Kaidah inilah yang dipakai dalam menghitung zakat mal.
7.    Penilaian uang berdasarkan emas dan perak. Al-Qur’an telah mengisyaratkan bahwa emas dan perak adalah sebagai wadah sentral dalam penetapan harga (QS, 12:20, 3:75, 9:34)
8.    Prinsip penilaian harga berdasarkan nilai tukar yang sedang berlaku. Implementasi kaidah ini untuk memelihara keselamatan dan keutuhan modal pokok untuk perusahaan dari segia tingginya volume proses penukaran barang dan kemampuan barang itu untuk berkembang dan menghasilkan laba.
9.    Prinsip perbandingan dalam menentukan laba. Prinsip ini ditujukan untuk menghitung dan mengukur laba atau rugi pada perusahaan mudharabah yang kontinu, serta menentukan aktivitas-aktivitas ekonomi lainnya yang menghen-daki perbandingan antara beban-beban dan uang masuk selama periode tertentu.
10. Prinsip muwa’amah (keserasian) antara pernyataan dan kemaslahatan. Catatan akuntansi harus menjelaskan keterangan-keterangan yang telah dipublikasikan secara wajar, yaitu sesuai dengan kesanggupan dan situasi serta metode yang digunakan yang dapat melindungi kemaslahatan serta tidak menimbulkan kemudharatan.

2.2. Tujuan Laporan Keuangan Akuntansi Syari’ah
            Sesuai dengan tujuan syari’ah yang berusaha untuk menciptakan maslahah terhadap seluruh aktivitas manusia tidak terkecuali dalam aktivitas ekonomi yang didalamnya juga melingkupi aktivitas akuntansi, maka akuntansi yang direfleksikan dalam laporan keuangan memiliki tujuan yang tidak bertentangan dengan tujuan syari’ah. Untuk merealisasikan tujuan tersebut Harahap (1999:120) menyebutkan bahwa pemberian informasi akuntansi melalui laporan keuangan harus dapat menjamin kebenaran, kepastian, keterbukaan, keadilan diantara pihak-pihak yang mempunyai hubungan ekonomi hal ini sejalan dengan pernyataan Harahap (2001:120) inti prinsip ekonomi syari’ah menurut Al-Qur’an adalah: keadilan, kerjasama, keseimbangan larangan melakukan transaksi apapun yang bertentangan dengan syari’ah, eksploitasi dan segala bentuk kedhaliman (penganiayaan). Secara tegas Triyuwono (2000:25) menyampaikan bahwa tujuan akhir akuntansi syari’ah [laporan keuangan] adalah untuk mengikat para individu pada suatu jaringan etika dalam rangka menciptakan realitas sosial (menjalankan bisnis) yang mengandung nilai tauhid dan ketundukan kepada ketentuan Tuhan, yang merupakan rangkaian dari tujuan syari’ah yaitu mencapai maslahah (Hidayat, 2002b:431).
            Tujuan akuntansi syari’ah sangat luas, namun demikian penekanannya adalah pada upaya untuk merealisasikan tegaknya syari’ah dalam kegiatan ekonomi yang dijalankan oleh manusia (Adnan, 1997, Triyowono, 2000 dalam Harahap, 2001:120). Selanjutnya Adnan (1996) untuk menspesifikkan tujuan akuntansi syari’ah membagi menjadi dua tingkatan yaitu 1) tingkatan ideal, dan 2) tingkatan pragmatis. Pada tataran ideal tujuan akuntansi syari’ah adalah sesuai dengan peran manusia dimuka bumi dan hakekat pemilik segalanya (QS, 2:30, 3:109, 5:17, 6:165), maka sudah semestinya yang menjadi tujuan ideal dari laporan keuangan adalah pertang-gungjawaban muamalah kepada Tuhan Sang Pemilik Hakiki, Allah swt. Namun karena sifat Allah Yang Maha Tahu segalanya, tujuan ini bisa dipahami dan ditransformasikan dalam bentuk pengamalan apa yang menjadi perintah syari’ah. Dengan kata lain, akuntansi [laporan keuangan] terutama harus berfungsi sebagai media penghitungan zakat, karena zakat merupakan bentuk manifestasi kepatuhan seseorang hamba atas perintah Tuhan. Tujuan pragmatis dari Akuntansi Syari’ah [laporan keuangan] diarahkan pada upaya menyediakan informasi kepada stakeholder dalam mengambil keputusan (Adnan, 1999:4 dalam As’udi dan Triyuwono, 2001:87).
            Khan (1992) mengidentifikasi tujuan laporan keuangan akuntansi syari’ah, sebagai berikut:
1.    Penentuan laba-rugi yang tepat. Kehati-hatian harus dilaksanakan dalam menyiapkan laporan keuangan agar dapat mencapai hasil yang sesuai dengan syari’ah, dan konsisten dalam pemilihan metode yang digunakan sehingga dapat menjamin kepentingan semua pihak (pengguna laporan keuangan). Penentuan laba rugi yang tepat juga sangat urgen dalam rangka menghitung kewajiban zakat, bagi hasil, dan pembagian laba kepada pihak-pihak yang berkepentingan.
2.    Meningkatkan dan menilai efisiensi kepemimpinan. Sistem akuntansi harus mampu memberikan standar untuk menjamin bahwa manajemen mengikuti kebijakan-kebijakan yang sehat.
3.    Ketaatan pada hukum syari’ah. Setiap aktivitas yang dijalankan oleh entitas usaha harus dapat dinilai hukum halal-haramnya.
4.    Keterikatan pada keadilan. Dalam rangka mewujudkan tujuan utama dari syari’ah adalah menciptakan maslahah, dan keadilan adalah bagian yang terpenting dalam mencapai maslahah, maka penegakan keadilan adalah mutlak adanya.
5.    Melaporkan dengan benar. Entitas usaha selain bertanggung jawab terhadap pemilik juga harus bertanggung jawab kepada masyarakat secara keseluruhan. Dengan demikian berarti pula bahwa entitas usaha memiliki tanggung jawab sosial yang melekat. Informasi harus berada dalam posisi yang terbaik untuk melaporkan hal ini.
6.    Adaptable terhadap perubahan. Peranan akuntansi yang sangat luas menuntut akuntansi agar peka terhadap tuntutan kebutuhan, agar akuntansi senantiasa dapat difungsikan oleh masyarakat sesuai tuntutan kebutuhannya.
            Dalam merealisasikan tujuan Harahap (2001:120) membagi fungsi Akuntansi Syari’ah sebagai berikut: 1) untuk menegakkan keadilan dan kebenaran, 2) untuk memberikan informasi, 3) untuk melakukan pencatatan, dan 4) untuk memberikan pertanggungjawaban.
            Dalam pendekatan sumber-sumber fikih Islam dan riset ilmiah Akuntansi Syari’ah, Syahatah (2001:44) membagi tujuan Akuntansi Syari’ah [laporan keuangan] dalam 1) hifzul amwal (memelihara uang), para ahli tafsir menafsirkan  kata faktubuhu (QS,2:282) yang berarti “tuliskanlah” perintah tersebut adalah untuk menuliskan satuan uang (nilai dari harta), 2) bukti tertulis [pencatatan] ketika terjadi perselisihan, Ibnu Abidin dalam kitabnya al-amwal yang dikutip (Syahatah, 2001:46) si penjual, kasir, dan agen adalah dalil (hujjah yang dapat dijadikan bukti) menurut kebiasaan yang berlaku, diperkuat dengan firman Allah (2:282) “... [pencatatan itu] lebih dapat menguatkan persaksian dan lebih dekat kepada tidak [menimbulkan] keraguanmu ...”, 3) dapat membantu dalam pengambilan keputusan, salah satu fungsi pencatatan adalah menghilangkan keragu-raguan yang berarti pula bahwa dengan dasar catatan yang dapat dipercaya akan dapat menghasilkan keputusan yang lebih baik, dan 4) menentukan besarnya peng-hasilan yang wajib dizakati,  pada periode awal akuntansi tujuan laporan keuangan lebih ditekankan pada pemenuhan kewajiban zakat.
            Dari beberapa pendapat mengenai tujuan akuntansi syari’ah [laporan keuangan] yang memiliki dua titik tekan, tekanan ideal adalah pemenuhan kewajiban yang langsung berhubungan kepada Allah seperti pemenuhan kewajiban zakat, dan tekanan praktis adalah memperoleh informasi dari aktivitas usaha yang diperlukan oleh pemilik (stakeholder) dan tujuan penting lainnya adalah mewujudkan hubungan sosial yang harmonis tanpa sengketa dan perselisihan.
            Karakteristik penting yang harus dimiliki oleh organisasi [syari’ah] dalam melaksanakan akuntansinya menurut Widodo dan Kustiawan (2001:28) adalah sebagai berikut:
1.    Ketaatan pada prinsip-prinsip dan ketentuan syari’ah Islam.
2.    Keterikatan pada keadilan.
3.    Menghasilkan pelaporan yang berkualitas (dapat dipahami, relevan, andal, keterbandingan, dapat diuji kebenarannya.
            Menurut Hidayat (2002b:431) dalam bentuk konkritnya akuntansi syari’ah harus dapat menyajikan laporan keuangan yang berlandaskan pada keadilan, kejujuran, dan kebenaran sebagai bentuk pelaksanaan tanggungjawab kepada sesama manusia dan pelaksanaan perintah (kewajiban) dari Tuhan, sehingga dapat dijadikan dasar dalam memperhitungkan kewajiban zakat secara benar dalam tinjauan syari’ah, juga tidak menimbulkan kerugian pihak-pihak yang terkait dengan informasi laporan keuangan [akuntansi syari’ah]. Untuk mewujudkan hal ini keterikatan kepada syari’ah adalah hal yang utama walaupun disisi lain akuntansi syari’ah juga harus memenuhi Standar Akuntansi Syari’ah yang berlaku akan tetapi penekanan kebenaran bukan hanya sekedar memenuhi (tidak menyimpang) dari standar tetapi benar secara hakikat syari’ah (substantif).

2.3. Pengungkapan Aspek-aspek Syari’ah
            Hal mendasar dalam penyajian laporan keuangan akuntansi syari’ah adalah kewajiban untuk mengungkapkan aspek-aspek syari’ah, yang dimaksudkan adalah agar laporan keuangan benar-benar dapat mematuhi ketentuan syari’ah sehingga tidak menyimpang dari prinsip-prinsip syari’ah, prinsip-prinsip ekonomi syari’ah, dan prinsip-prinsip akuntansi syari’ah.
                Menurut yang direkomendasikan oleh Accounting and Auditing for Islamic Financial Institution (1998) laporan keuangan yang disampaikan oleh perusahaan harus dapat mengungkapkan (memberikan informasi-informasi) mengenai (1) Ketaatan perusahaan terhadap ketentuan syari’ah dan informasi mengenai pendapatan dan pengeluaran yang tidak diperbolehkan ketentuan syari’ah bila terjadi serta bagaimana cara penyalurannya (2) Sumber daya ekonomi perusaha-an serta kewajiban yang berkaitan dengan sumber daya tersebut, dan pengaruh transaksi atau situasi tertentu terhadap sumber daya perusahaan serta kewajiban yang berkaitan dengan sumber daya tersebut. Informasi ini bermanfaat untuk membantu pengguna informasi mengevaluasi kecukupan modal perusahaan untuk mengantisipasi kerugian dan resiko bisnis, memperkirakan resiko yang melekat dengan investasi yang dilakukan, dan mengevaluasi tingkat likuiditas kekayaaan perusahaan, serta likuiditas yang diperlukan untuk menutup kewajibannya. (3) Informasi yang membantu pihak yang berkepentingan dalam menentukan dana zakat perusahaan serta cara pendistribusiannya. (4) Informasi yang membantu untuk melakukan estimasi arus kas yang mungkin diperoleh, waktu perolehan arus kas tersebut, serta resiko yang berkaitan dengan realisasi arus kas tersebut. Informasi ini bermanfaat untuk membantu pengguna informasi mengevaluasi kemampuan pertusahaan menghasilkan laba dan mengubahnya menjadi arus kas serta kecukupan arus kas tersebut untuk didistribusikan sebagai profit. (5) Informasi yang membantu mengevaluasi pelaksanaan tanggungjawab yang diemban untuk mengamankan dana dan meng-investasikan dana tersebut ke dalam investasi yang layak, serta memberikan informasi mengenai tingkat pengembalian yang dihasilkan bagi seluruh jenis dana yang menjadi  tanggung jawab perusahaan. (6) Pelaksanaan tanggung jawab sosial perusahaan, termasuk kewajiban membayar pajak (Widodo, et. al., 1999).

III. Pembahasan

3.1. Perbedaan Akuntansi Syari’ah dengan Akuntansi Konvensional

Menurut Hidayat (2002a:88) perbedaan yang terjadi antara akuntansi konvensional dengan akuntansi syari’ah karena kemungkinan informasi akuntansi syari’ah (laporan keuangan syari’ah) adalah suatu bentuk tujuan dan konsep akuntansi yang disusun berda-sarkan pada pencapain tujuan syari’ah, tujuan ekonomi Islam serta tujuan lingkungan sosial masyarakat Islam. Hal itu akan menuntut perbedaan kebutuhan dari Islamic user dengan non Islamic user (Harahap, 2001:216). Lebih lanjut Harahap (2001:216) menggambarkan salah satu perbedaan akuntansi syari’ah dengan akuntansi konvensional adalah pada karakter dan praktik bisnis, dalam hal ini kecenderungan bisnis Islam adalah mudharabah, musyarakah ataupun kontrak syari’ah lainnya, sehingga konsep akuntansi syari’ah cenderung menggunakan current value dan bentuk laporan keuangannya menyajikan laporan yang sesuai dengan sifat-sifat dari transaksi bisnis dalam konsep syari’ah tersebut.    
Secara prinsip terjadi beberapa perbedaan yang mendasar, akuntansi kon-vensional lebih memberi kelonggaran penilaian laporan keuangan dengan menilai hanya terbatas pada kewajaran (kebenaran relatif) yang merujuk pada standar yang berlaku, sedangkan akuntansi syari’ah tuntutannya adalah kebenaran hakiki (al-haq) atau kebenaran moral yang harus dipertanggungjawabkan dihadapan Allah, walaupun di satu sisi akuntansi syari’ah juga harus merujuk pada standar tetapi standar tidak dimaksudkan sebagai pembenaran, artinya laporan yang dibuat sesuai dengan standar tidak selalu benar menurut syari’ah, bila secara substansi laporan menyimpang dari prinsip-prinsip syari’ah (Hidayat, 2002a:88-89).
            Akuntansi konvensional lebih pada pemenuhan ketentuan standar-standar yang dibuat oleh manusia, sedangkan akuntansi syari’ah, mencoba menemukan apa yang seharusnya dibuat sesuai dengan anjuran Tuhan (wahyu), dalam tataran ini akuntansi syari’ah tidak hanya diikat agar berada pada koridor standar akun-tansi tetapi diikat pula dengan pertanggungjawaban dihadapan Tuhan (normatif religius).
            Dari segi tujuan, antara akuntansi konvensioanal dengan akuntansi syari’ah memiliki kemiripan yang hampir sepadan, karena beberapa poin tujuan memang sama, seperti dalam hal laporan keuangan sebagai pemasok informasi, hanya pada titik tekan tertentu akuntansi konvensional memberikan laporan kinerja historis yang memberikan informasi bagi pihak-pihak yang membutuhkan sebagai alat dalam pengambilan keputusan bisnis, sedangkan akuntansi syari’ah bukanlah merupakan tujuan, tetapi sarana untuk mencapai tujuan yakni pemenuhan kewajiban zakat secara benar, hal ini menjadikan akuntansi syari’ah memiliki titik tekan tujuan pada pertanggungjawaban (akuntabilitas) dihadapan Tuhan. Dengan kata lain laporan keuangan akuntansi konvensional titik tekan tujuan pada pemberian informasi, sedangkan laporan keuangan akuntansi syari’ah titik tekannya pada pertanggungjawaban (akuntabilitas).       
            Laporan keuangan pokok akuntansi konvensional yang terdiri dari neraca, laporan laba-rugi, dan laporan arus kas, sedangkan pada akuntansi syari’ah masih ditambah lagi laporan keuangan lainnya yang harus disampaikan yaitu laporan zakat. Bahkan ada beberapa laporan keuangan yang dibutuhkan oleh bank syari’ah antara lain laporan investasi tidak bebas penggunaan, laporan sumber dan penggunaan dana qardh (Media Akuntansi,  2000:21).
            Perbedaan secara umum antara Akuntansi Konvensional dan Akuntansi Syari’ah dapat dilihat dalam gambar 3.1.

Gambar 3.1

Perbedaan Akuntansi Konvensional dengan Akuntansi Syari’ah
(Laporan Keuangan)

            Menurut Haniffa dan Hudaib (2001); Muhammad (2002:16) Perbedaan Postulat antara akuntansi konvensional dengan akuntansi syari’ah, yang meliputi: (1) Entitas, akuntansi konvensional mengakui adanya pemisahan antara entitas bisnis dan pemilik, dalam akuntansi syari’ah entitas tidak memiliki kewajiban yang terpisah dari pemilik. (2) Going concern, bisnis terus beroperasi sampai dengan tujuan tercapai (akuntansi konvensional), kelangsungan usaha tergantung pada kontrak dan kesepakatan yang didasari oleh saling ridha (akuntansi syari’ah). (3) Periode akuntansi, meskipun ada kesamaan dalam menentukan periode akuntansi selama 12 bulan (satu tahun) namun akuntansi konvensional periode dimaksudkan mengukur kesuksesan kegiatan perusahaan, sedangkan dalam akuntansi syari’ah periodisasi bertujuan untuk penghitungan kewajiban zakat. (4) Unit pengukuran, akuntansi konvensional menggunakan unit moneter sebagai unit pengukuran, akuntansi syari’ah menggunakan harga pasar untuk barang persediaan, dan emas sebagai alat ukur dalam penghitungan zakat. (5) Pengungkapan penuh (menye-luruh), pengungkapan ini ditujukan sebagai alat dalam pengambilan keputusan, dalam akuntansi syari’ah pengungkapan penuh ditujukan untuk memenuhi kewajiban kepada Allah swt., kewajiban sosial, dan kewajiban individu. (6)  Obyektivitas, bebas dari bias subyektif, dalam akuntansi syari’ah obyektivitas dimaknai dengan konsep ketakwaan, yaitu pengeluaran materi maupun non-materi untuk memenuhi kewajiban, (7) Meterialitas, ukuran materialitas dihubungkan dengan kepentingan relatif mengenai informasi terhadap pengambilan keputusan, sedangkan akuntansi syari’ah mengakui materialitas berkaitan dengan pengu-kuran yang adil dan pemenuhan kewajiban kepada Allah, sosial, dan individu. (8) Konsistensi, yang dimaksudkan adalah pencatatan dan pelaporan secara konsisten sesuai dengan prinsip-prinsip akuntansi yang diterima oleh umum, dalam akuntansi syari’ah konsistensi dimaknai dengan pencatatan dan pelaporan secara konsisten sesuai dengan prinsip syari’ah. (9) Konservatisme, akuntansi konvensional memilih teknik akuntansi yang paling memberikan pengaruh kecil terhadap pemilik, sedangkan akuntansi syari’ah memilih teknik akuntansi yang paling mengun-tungkan (berdampak posistif) bagi masyarakat. Secara jelas perbandingan dapat diamati dalam tabel 3.1.


                                                             Tabel 3.1







                        Perbedaan Postulat antara Akuntansi Konvensional
                                                dengan Akuntansi Syari'ah






No.
Postulat
Akuntansi Konvensional
Akuntansi Syari'ah






1
Entitas
Pemisahan antara entitas bisnis
Entitas didasarkan pembagian laba



dan pemilik
Entitas tidak memiliki kewajiban




terpisah dari pemilik.






2
Going Concern (Kesi-
Bisnis terus beroperasi sampai ter-
Kelangsungan usaha tergantung pa-


nambungan)
capai tujuan dan semua asset ter-
da kontrak persetujuan anatar pihak



jual.
yang terlibat dalam kegaiatan bagi




hasil.






3
Periode Akuntansi
Akuntansi tidak dapat menunggu
Tahun hijriyah untuk perhitungan



sampai akhir kehidupan perusahaan
zakat, kecuali untuk sektor pertani-



untuk mengukur sukses-tidaknya
an berdasarkan musim panen



kegiatan perusahan







4
Unit Pengukuran
Pengukuran nilai moneter
Kuantitas atau harga pasar untuk




ternak, barang pertanian, dan emas




untuk memenuhi kewajiban zakat.






5
Pengungkapan Penuh
Untuk tujuan pengambilan keputu-
Untuk menunjukkan pemenuhan


(Menyeluruh)
san.
kewajiban kepada Allah, kewajiban




sosial, dan kewajiban individu.






6
Obyektivitas
Kepercayan terhadap pengukuran
Berhubungan erat dengan konsep



yaitu bebas dari bias subyektif
ketaqwaan, yaitu pengeluaran mate-




ri maupun non-materi untuk meme-




nuhi kewajiban.






7
Materialitas
Dihubungkan dengan kepentingan
Berkaitan dengan pengukuran yang



relatif mengenai informasi terhadap
adil dan pemenuhan kewajiban ke-



pengambilan keputusan
pada Allah, sosial, dan individu.






8
Konsistensi
Dicatat dan dilaporkan secara kon-
Dicatat dan dilaporkan secara kon-



sisten sesuai GAAP
sisten sesuai dengan prinsip syari'ah






9
Konservatisme
Memilih teknik akuntansi yang paling
Memilih teknik akuntansi yang paling



memberikan pengaruh kecil terhadap
menguntungkan (dampak posistif)



Pemilik
bagi masyarakat.











Haniffa dan Hudaib (2001); Harahap (2001:226); Muhammad (2002:116)

Perbedaan postulat akuntansi syari’ah tersebut di atas karena secara karakteristik antara akuntansi konvensional dengan akuntansi syari’ah juga memiliki perbedaan. Menurut Baydoun dan Willet (1994:82) memetakan perbe-daan karakteristik akuntansi konvensional dengan akuntansi syari’ah sebagai berikut: (1) Sistem akuntansi, akuntansi konvensioanal berdasarkan ekonomi yang rasional, sedangkan akuntansi syari’ah berdasarkan pada ketauhidan. (2) Prinsip, prinsip akuntansi konvensional yang sekuler, individualis, memaksimalkan keuntungan, dan penekanan pada proses, akuntansi syari’ah berdasarkan pada prinsip syari’ah, kepentingan umat, keuntungan yang wajar, persamaan, dan rahmatan li al-‘alamin. (3) Kriteria, akuntansi konvensional berdasarkan pada hukum perdagangan masyarakat kapitalis modern, penyajian informasi yang sangat terbatas, informasi yang diajukan atau pertanggungjawaban kepada pemilik, dalam akuntansi syari’ah kriteria berdasarkan pada etika yang bersumber pada hukum Al-Qur’an dan Sunnah, pengungkapan yang menyeluruh (full disclosure) untuk memenuhi kebutuhan informasi keuangan yang sesuai dengan syari’ah dan memenuhi kebutuhan Islamic Finance Report User, pertanggungjawaban kepada umat (masyarakat luas) [khususnya dalam memanfaatkan sumber daya] (lihat tabel 3.2).








Tabel 3.2

Perbedaan Karakteristik Akuntansi Konvensional dengan Akuntansi Syari'ah






No.
Karakteristik
Akuntansi Konvensional
Akuntansi Syari'ah






1
Sistem Akuntansi
Ekonomi yang rasional
Ketauhiddan (unity of God)






2
Prinsip Akuntansi
Sekuler
Syari'ah



Individualis
Kepentingan umat



Memaksimalkan keuntungan
Keuntungan yang wajar



Survival of the fittest
Persamaan



Penekanan pada proses
Rahmatan li al-'alamin






3
Kriteria
Berdasarkan pada hukum perdaga-
Berdasarkan pada etika yang ber-



ngan masyarakat kapitalis modern
sumber pda hukum Al-Qur'an dan




Sunnah



Penyajian informasi yang sangat
Full disclosure untuk memenuhi



Terbatas
ketuhan informasi keuangan yang




sesuai dengan syari'ah dan memenuhi kebutuhan Islamic




Financial Report User  








Informasi yang ditujukan pada per-
Pertanggungjawaban kepada umat/



tanggungjawaban kepada pemilik
masyarakat luas (khususnya da-



modal
lam memanfaatkan sumberdaya).











Baydoun dan Willet (1994:82); Harahap (2001:216)

                Menurut Syahatah (2001:94-95) segi-segi perbedaan antara akuntansi konvensional dengan akuntansi syari’ah dalam menyajikan laporan keuangan dapat diidentifikasi sebagai berikut: (1) Akuntansi konvensional menganut sistem penilaian aktiva dan modal dengan prinsip historical cost, sedangkan akuntansi syari’ah lebih menghendaki konsep penilaian berdasarkan nilai tukar yang berlaku (current value), hal ini didasari oleh keinginan melindungi modal pokok yang hakiki dari kemampuan produksi di masa akan datang dalam ruang lingkup perusahaan dan kontinuitas. (2) Akuntansi konvensional membagi modal (aktiva) dalam dua golongan yakni, aktiva lancar (modal yang beredar) dan aktiva tetap (modal tetap). akuntansi syari’ah membedakan modal yang terdiri dari harta berupa uang tunai (cash), dan harta berupa barang, harta dalam bentuk barang ini kemudian dibagi lagi menjadi barang milik dan barang dagangan. (3) Konsep akuntansi syari’ah menilai mata uang seperti emas, perak, dan barang-barang lain yang sama kedudukannya, bukanlah merupakan tujuan, melainkan hanya sebagai alat tukar, perantara untuk pengukuran dan penentuan nilai. (4) Konsep akuntansi konvensioanal mempraktikkan teori pencadangan dan ketelitian dari menanggung semua kerugian (conservatisme), dan mengabaikan laba-laba yang belum direalisasi. Perbedaannya akuntansi syari’ah sangat memperhatikan hal-hal cara menentukan harga dengan berdasarkan pada nilai tukar yang berlaku serta membentuk cadangan untuk kemungkinan-kemungkinan bahaya dan risiko. (5) Akuntansi konvensional menerapkan laba secara menyeluruh, yang terdiri dari laba usaha, laba dari modal pokok, dan lain sebagainya. Konsep akuntansi syari’ah membedakan antara laba dari aktivitas pokok dan laba yang berasal dari modal. Juga wajib memberikan penjelasan pendapatan-pendatan yang diperoleh yang tidak sesuai dengan syari’ah laba dari aktivitas ini tidak boleh dibagikan kepada mudharib dan musyarik (stakeholder) atau dicampurkan pada modal pokok. (6) Konsep akuntansi konvensional menerapkan prinsip bahwa laba itu hanya ada ketika adanya jual-beli (aktivitas usaha berjalan), sedangkan konsep akuntansi syari’ah mengakui  laba apabila nilai barang mengalami perkembangan atau pertambahan, baik hal itu terjadi karena adanya proses jual-beli maupun tidak. Akan tetapi, jual-beli adalah suatu keharusan untuk menyatakan laba dan laba itu tidak boleh dibagi kecuali setelah nyata laba itu diperoleh.
            Adanya perbedaan-perbedaan dalam kaidah dan prinsip-prinsip antara akuntansi syari’ah dengan akuntansi konvensional sangat menyentuh pada aspek-aspek pokok dan inti dari persoalan akuntansi, artinya meskipun perbedaan tersebut dilihat dari luarnya hampir tidak tampak namun dari substansi perbedaan ini jauh lebih berarti, karena menyangkut masalah-masalah pokok dan inti.
           
3.2.        Relevansi Prinsip-Prinsip Akuntansi Syariah dalam Menjaga Akun-tabilitas Laporan Keuangan

            Menurut Tuanakotta (1986b:251) salah satu tujuan akuntansi [laporan keuangan] adalah untuk mengkomunikasikan informasi-informasi yang timbul dari transaksi-transaksi perusahaan. Pada dasarnya transaski perusahaan ini terdiri dari pertukaran barang-barang dan pertukaran jasa-jasa antara entitas yang satu dengan lainnya. Namun demikian, bila dikaji lebih mendalam hal ini jelas mengan-dung beberapa kelemahan dan kekurangan, seperti berikut ini: (1) Akuntansi kon-vensional tidak mengakui pertukaran atau perubahan-perubahan modal manusia (human capital). (2) Akuntansi konvensional tidak mengakui atau tidak memperhi-tungkan pertukaran anatara entitas perusahaan dengan lingkungan kemasyara-katan (sosial environment). (3) Transaksi yang diakui adalah transaksi yang telah lewat, sedangkan keadaan keuangan dan hasil usaha dikemudian hari tidak dicer-minkan dalam ikhtisar keuangan. (4)  Akuntansi konvensional mengakui adanya biaya bunga utang (cost of debt) tetapi tidak mengakui biaya modal (cost of capital). (5) Meluasnya penyebaran perusahaan lintas negara dan lintas benua menghendaki adanya suatu prinsip akuntansi yang berlaku secara universal (lihat pula Belkaoui, 1981:338).
            Tuntutan perubahan-perubahan terhadap beberapa hal dalam praktik akuntansi yang selama ini telah menjadi konvensi berkembang sesuai dengan tuntutan penggunanya, serta manfaat yang diharapkan dari informasi yang disaji-kan oleh akuntansi.
Maraknya perkembangan ekonomi Islam (ekonomi syari’ah) menuntut ada-nya suatu sistem akuntansi yang sesuai dengan prinsip-prinsip ekonomi syari’ah, karena syari’ah berfungsi sebagai sebuah referensi etik yang menuntun penilaian dan pemilihan praktek akuntansi (Triyuwono, 2000:322-323). Menurut Harahap (1999:11) mempelajari [akuntansi syari’ah] merupakan suatu keharusan dalam menjalankan ekonomi yang semakin mengglobal. Dengan demikian, menjadi sangat signifikan mendalami akuntansi syari’ah, maka tidak berlebihan bila kecenderungan akuntansi masa depan akan mempertimbangkan pula aspek-aspek  yang berkait dengan ketentuan syari’ah. Alam (1991 dalam Triyuwono, 2000:317) berpendapat bahwa dengan adanya perubahan dalam norma dan keyakinan masyarakat, standar-standar dan konvensi-konvensi perlu disesuaikan agar dapat memenuhi kebutuhan. Sebagai konsekuensi praktik Ekonomi Islam yang mempunyai pengaruh langsung pada kebijakan dan prosedur akuntansi seperti sistem bebas bunga, pelaksanaan zakat, ketaatan pada etika bisnis tertentu, akantansi akan memainkan peranan tertentu untuk mendukung agar praktik ini berjalan sesuai dengan prinsip-prinsip dasar syari’ah yang dianut. Hal ini dapat pula diartikan bahwa kebutuhan untuk merekonstruksi akuntansi agar memenuhi aktivitas bisnis yang didasarkan oleh nilai-nilai syari’ah sangat diperlukan (Triyuwono, 2000:317).
            Secara normatif Al-Qur’an telah berpesan dalam surat (2:282) yang me-wajibkan adanya pembukuan dalam muamalah [transaksi ekonomi] hal ini meru-pakan benang merah yang menguhubungkan perlunya informasi baik dalam ekonomi konvensional maupun dalam praktik ekonomi yang dijalankan dengan menggunakan prinsip-prinsip syari’ah. Kalau Al-Qur’an berbicara akuntansi bukanlah hal yang aneh karena Allah telah menyatakan beberapa kali  bahwa Al-Qur’an merupakan petunjuk bagi manusia,  diantaranya terdapat dalam Al-Qur’an (2:2) dan dalam surat lain Allah menegaskan diturunkannya Al-Qur’an adalah untuk menjelaskan segala urusan [permasalahan] (QS, 16:89). Implementasi dalam praktiknya  untuk menjalankan sesuai dengan apa yang dimaksud oleh Tuhan. Ternyata Nabi Muhammad saw. telah menaruh perhatian [terhadap akuntansi], perhatian tersebut didasari dengan keinginan membersihkan muamalah maliah (keuangan) dari unsur-unsur riba dan dari segala bentuk penipuan (ketidakjujuran), pembodohan, pemerasan, dan segala usaha untuk mengambil harta orang lain secara batil. Perhatian tersebut diwujudkan dengan mendidik secara khusus beberapa orang sahabat untuk menangani profesi (akuntansi) dan diberi sebutan khusus hafazhul al-amwal (Syahatah, 2001:20). 
            Menurut Mannan (1992:21) individu [termasuk perusahaan, karena di dalam perusahaan melibatkan para individu] harus memperhitungkan perintah [syari’ah] kitab suci (Al-Qur’an dan Sunnah) dalam melaksanakan aktivitasnya [termasuk aktivitas ekonomi].   Apa yang dikatakan oleh Mannan di atas sangat relevan dengan pernyataan Allah dalam Al-Qur’an (3:109) hanya kepada Allahlah dikembalikan segala urusan [termasuk urusan ekonomi/akuntansi]. Maka individu [Muslim] sudah sepatutnya menaati perintah membayar zakat (lihat, QS, 2:43) atas harta (kekayaan) yang dimiliki oleh seorang Muslim. Hal ini kemudian berkait dengan bagaimana menghitung dan memberikan informasi tentang harta, utang, modal, perhitungan laba-rugi dan perhitungan kewajiban zakat, yang kesemuanya ini menuntut adanya akuntansi.
            Perkembangan bisnis yang menggunakan prinsip-prinsip syari’ah meru-pakan fenomena baru dalam kancah perekonomian Indonesia, pada awal paradigma ekonomi Islam ditawarkan di Timur Tengah sekitar tahun 1970-an oleh beberapa cendikia Muslim yang konsen terhadap ekonomi semisal MA. Mannan, Yusuf al-Qardhawi, dan yang lainnya, di Indonesia boleh dicatat adanya nama yang cukup populer dalam perkembangan ekonomi Islam antara lain, Syafi’i Antonio dan Dawam Rahardjo, langkah berikutnya berdiri beberapa entitas bisnis bank dan nonbank perkembangan ini menuntut adanya piranti-piranti dan sistem-sistem yang dapat mendukungnya, akuntansi sebagai bagian yang tak terpisahkan dari aktivitas ekonomi menjadi tuntutan untuk dapat memenuhi kebutuhan adanya sistem ekonomi baru (yang disebut ekonomi syari’ah), sehingga apabila ekonomi syari’ah telah menjadi hal yang menyatu dengan aktivitas ekonomi masyarakat maka selayaknya konvensi akuntansi dapat memenuhi kebutuhan pemakainya, walaupun hingga saat ini konvensi masih memberikan proteksi adanya format laporan akuntansi yang berbeda dengan yang telah ada.
            Menurut Mott (1999:5) adanya standar akuntansi adalah bertujuan untuk memperketat peraturan dan menekan penggunaan akuntansi kreatif. Namun lebih lanjut Mott (1999:5) menyatakan standar tersebut akan menambah atau pada beberapa segi akan diganti sepenuhnya standar praktik akuntansi yang lama.
            Karim (1990, dalam Triyuwono, 2000:314) berpendapat bahwa akuntansi [konvensional] yang sudah diadopsi dan diaplikasikan dalam bank Islam [lembaga-lembaga ekonomi syari’ah] mempunyai komitmen untuk menyesuaikan diri dengan ide-ide pokok syari’ah, mempertegas bahwa konvensi akuntansi dapat diaplika-sikan sesuai dengan kebutuhan.  
            Adanya indikasi bahwa kecenderungan akuntansi masa depan (creative accounting) akan mempertimbangkan untuk memasukkan aspek-aspek lainnya dari aspek-aspek yang telah menjadi konvensi (kesepakatan) [mis. aspek syari’ah] bukanlah hal yang mustahil. Bahkan perubahan sistem akuntansi sangat diperlukan dalam waktu yang akan datang untuk memenuhi kebutuhan masyarakat Muslim (Alam 1991 dalam Triyuwono, 2000:319). Dewan Standar Akuntansi telah mnegesahkan PSAK No. 59 tentang Akuntansi Perbankan Syari’ah pada tanggal 1 Mei 2002 dan wajib digunakan secara resmi pada tanggal 1 Januari 2003, ini membuktikan bahwa konvensi telah menyadari kebutuhan terhadap standar akuntansi dalam menjalankan ekonomi dengan prinsip-prinsip syari’ah dan membuktikan betapa akuntansi syari’ah juga turut menjadi perhatian dari berbagai kalangan, termasuk kalangan profesi dan pemerintah.


Gambar 3.2

Pengaruh Akuntansi Syari’ah dalam Standar Akuntansi


            Beberapa hal yang disampaikan oleh Belkaoui (1981) dan Tuanakotta (1986b) mengenai tuntutan informasi akuntansi masa akan datang memiliki relevansi yang tinggi bila dihubungkan dengan penuturan Karim (1990), Alam (1991), Triyuwono (2000), dalam hal kebutuhan laporan keuangan akuntansi yang sesuai dengan prinsip-prinsip syari’ah [prinsip-prinsip ekonomi syari’ah dan prinsip-prinsip akuntansi syari’ah],  dan relevan pula dengan apa yang dikatakan oleh Mott (1999) bahwa sesuai dengan tuntutan penggunanya standar-standar akan berubah menyesuaikan dengan kebutuhan. Hal ini akan semakin terang adanya, dengan telah disyahkannya Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No. 59 Akuntansi Perbankan Syari’ah pada tahun 2001. Pengembangan standar akuntansi keuangan bank syari’ah di tingkat Ianternasional telah dimulai sejak tahun 1987. Sedikitnya lima valume telah terkumpul dan tersimpan di perpustakaan Islamic Research and Training Institute, Islamic Development Bank (IDB). Studi ini telah mendorong pembentukan Accounting and Auditing Organization for Islamic Financial Institutions (Organisasi Akuntansi Keuangan untuk Bank dan Lembaga Keuangan Islam) yang didaftarkan sebagai organisasi nirlaba di Bahrain pada tahun 1411 H./1991 (Antonio, 2002:199-200).
            Dengan memadukan prediksi Belkaoui (1981); Tuanakotta (1986b) tentang kebutuhan akuntansi [laporan keuangan] masa akan datang, dan konsep-konsep pemikiran tentang akuntansi syari’ah dalam penyajian laporan keuangan, akan mengarah pada bentuk laporan keuangan yang berisi tentang pertanggungjawaban (akuntabilitas) sosial, juga pertanggungjawaban (akuntabilitas) kepada Tuhan sesuai dengan tuntutan syari’ah. Menurut Harahap (2001:217-218) untuk memfa-silitasi pertanggungjawaban tersebut maka beberapa kemungkinan bentuk dan jenis laporan keuangan akuntansi masa akan datang [syari’ah] adalah sebagai berikut: (1) Neraca yang memuat juga informasi tentang karyawan, dan akuntansi SDM, serta disajikan dengan current value. (2) Laporan nilai tambah sebagai pengganti laporan laba-rugi. (3) Laporan arus kas. (4) Socio economic atau Laporan pertanggungjawaban sosial. (5) Catatan penyelesaian laporan keuangan yang dapat berisi (a) laporan pengungkapan lebih luas tentang laporan keuangan yang disajikan, (b) laporan tentang berbagai nilai dan kegiatan yang tidak sesuai dengan syari’at Islam, dan (c) menyajikan informasi tentang efisiensi, good governance, dan laporan produktivitas.
            Beberapa prediksi dan analisis tentang adanya format laporan keuangan dan standar akuntansi yang berbeda untuk digunakan pada masa akan datang kebenarannya telah dirasakan saat ini, terbukti tuntutan masyarakat [praktik ekonomi syari’ah] yang membutuhkan laporan keuangan akuntansi syari’ah, selanjutnya laporan keuangan akuntansi syari’ah baru akan dapat disusun dengan baik dan dapat diukur dengan baik apabila terdapat standar yang mengatur hal ini. Dengan demikian standar yang tidak atau belum mengatur pelaporan akuntansi syari’ah perlu diubah atau ditambahkan sesuai dengan kebutuhan.
            Dengan demikian, tepat kiranya apabila laporan keuangan yang dibutuhkan pada masa akan datang, akan dapat menyajikan aspek-aspek syari’ah yang lengkap dan jelas, dan standar/konvensi akuntansi masa akan datang juga akan mengatur bagaimana seharusnya menyajikan laporan keuangan yang sesuai dengan prinsip-prinsip syari’ah.        
Penerapan full disclousure yang dikehendaki oleh akuntansi syari’ah adalah keinginan memurnikan laporan keuangan dari unsur-unsur ketidakbenaran, kebohongan, dan manipulasi, baik manipulasi yang kasar dan kasat mata maupun manipulasi yang halus dan sistematis, karena syari’ah tidak saja dimaksudkan memenuhi tuntutan formal tetapi lebih dari itu syari’ah diharapkan mampu menyuguhkan kebenaran hakikat (substansial). Dengan demikian, dengan sendirinya menutup celah rekayasa dan berbagai bentuk manipulasi laporan keuangan. Hal ini tidak saja akan menyuguhkan informasi yang dapat dipercaya bagi pihak-pihak yang membutuhkan laporan keuangan tetapi berbagai pihak akan dapat diuntungkan dengan informasi ini, tidak terkecuali bagi dunia bisnis yang selalu mengandalkan laporan keuangan yang merupakan hasil dari pekerjaan akuntansi (sistem informasi akuntansi).
            Adanya pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab dan melakukan  memanipulasi laporan keuangan sesungguhnya akan dapat teratasi apabila laporan keuangan mengacu pada prinsip-prinsip akuntansi syari’ah dalam menyajikan laporan keuangannya, karena dalam akuntansi syari’ah penekanan kebenaran (objective) dan pengungkapan secara menyeluruh (full disclousure)  adalah menjadi komponen yang mutlak adanya. Dengan demikian laporan keuangan akan senantiasa dapat dijaga akuntanbilitasnya.
           

IV. Kesimpulan

Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan, sebagai berikut:
1.    Akuntansi syari’ah tuntutannya adalah kebenaran hakiki (al-haq) atau kebenaran moral yang harus dipertanggungjawabkan dihadapan Allah, walaupun di satu sisi akuntansi syari’ah juga harus merujuk pada standar tetapi standar tidak dimaksudkan sebagai pembenaran, artinya laporan yang dibuat sesuai dengan standar tidak selalu benar menurut syari’ah, bila secara substansi laporan menyimpang dari prinsip-prinsip syari’ah. Akuntansi syari’ah, mencoba menemukan apa yang seharusnya dibuat sesuai dengan anjuran Tuhan (wahyu), dalam tataran ini akuntansi syari’ah tidak hanya diikat agar berada pada koridor standar akun-tansi tetapi diikat pula dengan pertanggungjawaban dihadapan Tuhan (normatif religius).
2.    Tujuan mulia syari’ah menciptakan kemaslahatan adalah rujukan utama dalam perumusan prinsip-prinsip akuntansi syari’ah, dan buah dari akuntansi syari’ah adalah laporan keuangannya. Bila kemudian laporan ini dijadikan dasar dalam transaksi bisnis akan sangat terjaga akuntabilitasnya. Apabila prinsip-prinsip akuntansi syari’ah dapat diadopsi dalam menyajikan laporan keuangan, tentu saja harapannya adalah menjaga eksistensi laporan keuangan agar tetap dapat dijadikan rujukan utama dalam pengambilan keputusan bisnis.

Daftar Pustaka
Accounting  and   Auditing  Organization  for  Islamic   Financial  Institution,  (1998),
Accounting and  Auditing  Standard for Islamic Financial Institutions, Bahrain

Adnan, Muhammad Akhyar, (1996).  An  Investigation  of  Accounting Concepts
and Practices in Islamic Bank, Disertasi Doktor, (tidak dipublikasikan)

________, (1997) The  Shari’ah,  Islamic  Bank  and  Accounting  Concept,  Jurnal
Akuntansi dan Auditing Indonesia [JAAI], vol. 1 No. 1 Mei hal. 47-80,
            Yogyakarta: UII

Alam, K.Firoz, (1991). Shari’ah Financial Dealing and Accounting Practice: South         East Asia University Accounting Teacher Conference

Al-Qur’an

Antonio, Muhammad Syafi’i, (2002). Bank  Syari’ah  dari  Teori  sampai  Praktek,
            Jakarta: GIP
Baydoun, N dan Willet, Roger,  (1994).  Islamic   Accounting  Theory,  The AAANZ

            Annual Conference,  3-4 Juli 1994,  Australia:  University of Wollongong

Belkauoi, Ahmed, (1981). Accounting Theory , New York: Harcourt Jovanovich,

Bisri, Cik Hasan, (1998). Penuntun  Penyusunan  Rencana  Penelitian  dan  Pe-
nulisan Skripsi, Bandung: Logos

Gaffikin,  M.J.R.,  (1989).  Accounting  Methodology  and    The   Work  of  R.J.
Chambers, New York: Garland Publishing, Inc.

Haniffa, Ross, dan Hudaib, (2001).  A Conceptual  Framework  for Islamic Account-

ting: The Syari’ah Paradigme, The Accounting, Commerce, and Finance: The Islamic Perspective, International conference IV,  12-14 Pebruari 2001, New Zealand: Massey University


Harahap, Sofyan Syafri, (1999). Akuntansi Islam, Jakarta: Bumi Aksara

________, (2001). Menuju Suatu Teori Akuntansi Islam, Jakarta: Pustaka          Quantum

Hidayat, Nur, (2002a). Urgensi Laporan Keuangan (Akuntansi Syari’ah) dalam   Praktek Ekonomi Islam, Simposium Nasional I Sistem  Ekonomi           Islami,           13-14 Maret 2002, Yogyakarta: P3EI FE UII

________, (2002b).  Analisis  Antara  Akuntansi  Konvesnional  dengan Akun-
tansi Syari’ah dalam Penyajian Laporan Keuangan, Tesis Magister, Bandung: IAIN Sunan Gunung Djati

________, (2003). Laporan Keuangan Akuntansi Syari’ah: Solusi Manipulasi  Lapo-
ran Pajak Jurnal Perpajakan Indonesia, Vol. 2 No.6 Januari 2003, hal. 18-24 Jakarta: Salemba Empat

IAI, (1994). Standar Akuntansi Keuangan, Buku Satu-Buku Dua, Jakarta:           Salemba Empat

________, (2002). Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No.59    Perbankan Syari’ah

Karim, Rifaat A.A, (1990). Standard Setting for the Financial Reporting or Religi- ous Business Organization: The Case of Islamic Banks, Accounting and  Business Research, 20(80) hal. 299-305

Khan, Muhammad Akaram, (1992).   An  Introduction   to   Islamic   Economics,
Islamabad: International Institute of Islamic Thought and Institute of Policy Studies

Lodh,  Sudhir  C., (1985).  Critical   Studies  in   Accounting   Research,  Rationality

            and  Hubermas:  A  Methodological   Reflection.  The Fourth CPA Confere-

ce, 26-28 April 1985, New York


Mannan, Muhammad Abdul, (1993). Islamic Economics, Theory and Practice,             (terjemahan), Yogyakarta:   Dana Bhakti Wakaf

 

Media Akuntansi, (2000).  Akuntansi  Bank  Syari’ah:  Ditunggu  Kehadirannya,
            No.15/Th.VII/November-Desember, hal. 21

Mott, Graham, (1999). Accounting for Managers, Jakarta: Elekmedia Kompu-    tindo

Muhammad, (2002). Pengantar Akuntansi Syari’ah, Jakarta: Salemba Empat

Nazir, Mohammad, (1999). Metode Penelitian, Jakarta: Galia Indonesia

Surakhmad, Winarno, (1985). Pengantar Penelitan Ilmiah: Dasar, Metode, dan            Teknik, Bandung: Tarsito

Syahatah, Husein, (2001). Usul al-Fikr al-Muhasab al-Islami  (terjemahan),  Ja- karta: Akbar Media Sarana

Teguh, Muhammad, (1999). Metode Penelitian Ekonomi, Jakarta: RajaGrafindo            Persada

Triyuwono, Iwan, (2000). Organisasi dan Akuntansi Syari’ah, Yogyakarta:          LKiS

Triyuwono, Iwan dan As’udi, Moh.(2001). Akuntansi  Syari’ah  Memformulasikan
            Konsep  Laba  dalam  Konteks  Metafora  Amanah,  Jakarta:  Salemba Empat

Tuanakotta, Teodorus M., (1998). Teori Akuntansi,  Buku Dua,  Jakarta: Lembaga
Penerbit  FEUI

Wan Yusoh, Wan Ismail, (2001). Islamic accounting, Paper:  International  Confe-
rence on Islamic Banking and Finance, LAP dan EKABA FE Univer-sitasTrisakti, Jakarta: 11-12 Juni 2001

Widodo, Hertanto, et.al., (1999). Pedoman Akuntansi Syari’ah, Bandung: Mizan

Widodo, Hertanto, dan  Kustiawan, Teten, (2001).  Akuntansi  dan  Manajemen             Keuangan untuk Organisasi Pengelola Zakat, Jakarta: Institut   Manajemen Zakat

0 Response to "KUMPULAN JURNAL EKONOMI AKUNTANSI SYARIAH LENGKAP 2014"

Post a Comment

Agen Bola