KUMPULAN CONTOH KARYA TULIS ILMIAH SASTRA INDONESIA LENGKAP 2014




Seri  Roman dalam sejarah Bahasa Indonesia


Pendahuluan

Makalah ini membicarakan tentang seri roman dalam sejarah Bahasa Indonesia.
Sesuai dengan tujuan dan judul seminar hari ini, untuk memperingati hari kelahiran Bahasa Indonesia, maka analisis dititikberatkan pada posisi utamanya dalam sejarah Bahasa Indonesia, tepatnya posisi seri roman dalam sejarah sosial Bahasa Indonesia.

Periodisasi adalah satu aspek yang penting dalam penataan sejarah, demikian pula untuk sejarah  bahasa dan sastra sebuah bangsa. Tentu saja bukan maksudnya dengan periodisasi ini kita akan mengotak-ngotakkan jenis atau pun ragam bahasa tertentu, tetapi justru memberikan masukan tentang  adanya  sebuah ragam bahasa yang khas yang pernah berkembang dalam sejarah dunia bacaan Indonesia, munculnya dan perkembangannya, karena bahasa itu adalah sesuatu yang berkembang, dari jaman ke jaman, dari periode ke periode.
Sebelum Sumpah Pemuda diikrarkan pada 28 Oktober 1928, para pionir telah sepakat untuk mengangkat bahasa Melayu menjadi bahasa persatuan dengan nama Bahasa Indonesia.

Pada periode sebelum kemerdekaan Indonesia,  belum dipakai bahasa resmi atau bahasa negara. Demikian pula belum dibicarakan mengenai bahasa baku.
Berpedoman pada ketetapan tentang peringatan hari kelahiran Bahasa Indonesia, tahun 1926 ini, menambah kepastian bahwa seri roman juga menjadi bagian dari sejarah sosial Bahasa Indonesia.
Seri Roman ini hidup dan berkembang  semasa  dan setelah dicetuskannya kesepakatan bahasa Melayu yang akan dijadikan bahasa persatuan, yang kemudian menjadi bahasa nasional, bahasa resmi bangsa Indonesia dan kemudian menjadi bahasa negara  Indonesia.   

Ada 2 macam seri roman yang pernah berkembang  dalam sejarah dunia bacaan di Indonesia sekitar tahun duapuluan  sampai  menjelang kemerdekaan Indonesia : Seri Roman Indonesia dan Seri Roman Melayu Cina/Tionghoa. 
Dalam makalah ini sengaja dipakai  istilah “dunia bacaan” , untuk dapat mencakup lingkup yang lebih luas,  tanpa merancukannya dengan periodisasi (resmi) Sastra Indonesia  atau pun periodisasi Bahasa Indonesia, tetapi  hanya dan khususnya periodisasi sosial Bahasa Indonesia.

Seri  Roman, tidak pernah digolongkan sebagai karya sastra, walaupun jelas pernah hadir dengan segala kenyataannya dan beredar di kalangan yang cukup luas di kalangan masarakat Indonesia, terutama pada periode sebelum Perang Dunia Kedua atau sebelum Kemerdekaan Indonesia.  
Kita mengetahui bahwa periodisasi sastra Indonesia yang  resmi memasukkan terutama karya sastra yang dianggap bermutu yang sering disebut sebagai karya Sastra dengan S besar. Karya tersebut pada umumnya diterbitkan oleh percetakan atau penerbit yang dianggap resmi.  Pada periode tersebut penerbit Balai Pustaka merupakan lembaga resmi yang diakui.
Namun dalam sejarah sastra Indonesia  sering disinggung  tentang adanya kegiatan karya-tulis yang berkembang sejajar di luar jalur resmi tersebut.  Kegiatan  ini  dilakukan oleh percetakan pribadi, di luar percetakan resmi Balai Pustaka.  Pada periode Balai Pustaka (1920-1930) misalnya kita mengenal roman-roman karya pengarang Hamka, sedang pada periode  Pujangga Baru (1930-1940), ada kegiatan penerbitan yang dikenal sebagai terbitan yang disebut  seri roman.



Seri Roman

Apakah seri roman itu?
Seri  roman adalah sebuah gejala yang khas dan menarik dalam sejarah dunia bacaan di Indonesia.
Seri roman dibedakan dari karya tulis resmi dalam sejarah sastra Indonesia, atau lebih tepat, dalam periodisasi Sastra Indonesia.  Ada pembedaan antara karya sastra dengan S besar, yaitu hasil sastra yang dianggap lebih bermutu dan yang diakui secara resmi,  dengan hasil jenis penerbitan  lainnya . Satu hal yang utama juga ialah bahwa bahan bacaan sastra resmi tersebut  diterbitkan oleh lembaga resmi yang diakui dan berwenang, yaitu penerbit Balai Pustaka pada periode tersebut.  Penerbitan resmi ini dianggap dapat menjamin “keterpeliharaan” jenis bacaan yang beredar, baik dalam mutu bahasanya maupun isinya, karena di bawah pengawasan para pakar bahasa, sastra dan orang yang berwenang secara resmi.

Seri roman  terbit secara berkala,  sekali atau dua kali sebulan, sehingga dapat juga dianggap sebagai  “majalah”.  Setiap eksemplar memuat hanya satu cerita atau satu roman, sampai tamat (jadi tidak bersambung).  Buku roman ini berukuran saku, 10,5x16,5 cm: jadi semacam  pocket books. Tebalnya antara 60-100 halaman. Harganya sangat murah dibandingkan dengan jenis bacaan atau buku roman lainnya yang ada pada masa itu.  Harganya yang murah inilah yang kemudian memberikan nama “picisan” pada jenis bacaan ini, selain isi roman itu sendiri.   
Dengan bentuknya  dan cara penerbitannya yang mempunyai ciri majalah itu, maka seri roman juga mempunyai staf Redaksi yang bertugas sebagai pemimpin majalah yang mereka sebut dengan nama
Sidang Pengarang. Dari daftar anggota staf redaksi inilah kita dapat mengenali beberapa nama atau tokoh dalam dunia tulis, dunia kepengarangan, tokoh media massa pada periode itu. Beberapa nama kemudian dikenal juga sebagai penulis sastra Indonesia Modern.  Sebagai contoh,  dari Seri Roman Picisan Indonesia, dalam staf Redaksi  majalah Roman Pergaulan, kita temukan nama  Hamka, Suman Hs dan Tamar Djaja. Nama-nama yang  kemudian kita kenal  berkecimpung dan diakui juga dalam sastra Indonesia .

 Seri Roman Indonesia kebanyakan terbit di Sumatra (Medan, Padang Bukittinggi)) sedang seri Roman Melayu-Tionghoa kebanyakan terbit di pulau Jawa (Surabaya,Malang, Kediri), malah ada yang diterbitkan di Kalimantan (Borneo), Sulawesi, Bali dan Flores.
 Selain dijual secara eceran, seri roman memakai cara berlangganan. Jadi pembaca terikat hubungan sebagai pelanggan. Dengan demikian penerbit juga mempunyai  jaminan yang pasti akan hasil terbitan mereka.

Banyak pendapat yang mengatakan bahwa  sistim penerbitan seri roman itu sering dianggap menjadi salah satu penyebab mengapa  jenis bacaan ini  bermutu rendah – kategori ketiga, menurut istilah A. Teeuw-, karena mereka harus memburu waktu, harus siap terbit setiap minggu, setiap  dua minggu minggu atau setiap bulan.  Malah tidak jarang  Sidang Redaksi harus mengisi,  demi terbitnya majalah/roman secara rutin dan tepat waktu.

Mengenai Seri  roman  pertama kali disebutkan oleh R. Roolvink dalam karangannya yang dimuat dalam buku  A. Teeuw  Pokok dan Tokoh  (Roman Picisan Bahasa Indonesia, Pokok dan Tokoh II, Jakarta 1955) .  Roolvink menyebutnya Roman Picisan Bahasa Indonesia  yang dibandingkannya dengan gejala bacaan yang ada di Negeri Belanda yang disebut  “stuiversroman”. Karangan ini yang diberinya judul De Indonesiase “Dubbeltjesroman” ,  pada tahun  1950 inilah yang  menjadi lampiran dalam buku kesusastraan Indonesia  A. Teeuw  Pokok dan Tokoh, dan kemudian  dalam Modern Indonesian Literature II.
Setelah itu, mengenai  jenis bacaan ini disinggung juga dalam Sastra Indonesia sebagai Warga Sastra Dunia HB Jassin dan pada tahun 1976, terbit  di Italia karangan panjang Faizah Soenoto Il romanzo popolare Indonesiano d’anteguerra .






Pakar sastra Indoneia, A.Teeuw  menyebut munculnya seri roman ini dengan “gejala sebuah  kesusastraan liar” dan disebutkannya sebagai sastra kategori ketiga. Semua  gejala roman ini kemudian  disebut sebagai  jenis Roman Indonesia.  A. Teeuw membicarakan pula bahwa dari majalah seri roman dari Padang dan Medan itu terdapat juga seri roman detektif.  Dari contoh roman di bawah dapat kita lihat pengarang Joesoef Sou’yb  pada jamannya sangat dikenal sebagai pengarang roman detektif.

Sekadar memberikan bayangan akan kegiatan produktif jenis seri roman ini, kami cantumkan  beberapa  seri roman yang pernah terbit pada periode tersebut

Seri Roman Picisan Indonesia

Seri/majalah Roman Picisan yang paling populer ialah:
Roman Indonesia  (Padang, 1939-1940)
Lukisan Poedjangga  (Medan, 1939-1942)
Roman Pergaulan (Bukit Tinggi, 1939-1941)
Dunia Pengalaman, Medan, 1938 -1941)
Tjendrawasih (Medan, 1940-1942)
Mizaan Dunia (Gorontalo, 1941) 
Dunia Pengalaman (Solo, 1938-1941)
Mustika Alhambra (Medan?) 
 Perjuangan Hidup (Medan, 1940)
Perdjuangan Hidup (Bukit Tinggi, 1940)
Dunia Pergerakan (Solo, 1940-1941)
Dunia Pergerakan (Medan, 1940)
Gubahan Maya  

Pengarang seri Roman Indonesia yang  cukup dikenal  antara lain:   Hamka, Suman Hs., Tamar Djaja, Joesoef Sou’yb, Merayu Sukma, A. Damhuri, Matumona,  A.Hasjmy, Surapati, S. Djarens, Qasim Ahmad, Mohammad Dimyati dan lain-lain.

Roman Indonesia (Padang, 1939-1940), telah menerbitkan roman-roman:

Berebut Harta                                                   A.R.A.Tahir
Berebut Palestina                                            Boerhanoeddin
Buddha Gaya                                                    Suska
Dalam genggaman doea komplot           Emhy
Dibawah kaki M erapi                                    Boerhanoeddin
Ditepi Djoerang kematian                            Sjamsoeddi Nst.
Djajanagara                                                      A. Damhuri
Gagak Hitam contro Elang Merah            Decha
Gagak hitam menjoesoel                             Decha
Keris Poesaka                                                    Sjamsoeddin Nst.
Kutjing Poetih                                                   An. A Djapri
Perantaian                                                         Decha                                                                                  
Soempah Iboe                                                   D. Chairat
Telaga Air Mata                                               D. Chairat
Tragedi dilayar pergerakan                         Decha





Lukisan Poedjangga  (Medan, 1939 – 1942)

Anak Poekat                                                                      Ammin Hussein Daoed
Asmara Karma                                                                 I Made Otar
Belgrado lautan api                                                        Joesoef Sou’yb
Berlindung dibalik tabir                                                 Merayu Sukma
Darah Atjeh                                                                       Surapaty
Derita                                                                                    Joesoef Sou’yb
Elang Emas dikota Medan                                           Joesoef Sou’yb
Elang Emas ketawa                                                        Joesoef Sou’yb
Elang Emas 101 Muka                                                    Joesoef Sou’yb
Elang Emas di Pagarrujung                                         Joesoef Sou’yb
Memikat Elang Emas                                                     Joesoef Sou’yb
Elang Emas ke Rangoon                                               Joesoef Sou’yb
Elang Emas di India                                                         Joesoef Sou’yb
Gadis Komedie                                                                  Joesoef Sou’yb
Gelang Kepala Ular                                                         D.E. Manuturi
Gerakan Merah di Rome                                              Abwart Satyaputra
Hadji Dadjal                                                                       Abdul Karim Ms.
Hati tertambat ditanah Bugis                                     Andi Penjamin
Keadilan Ilahi                                                                     Hamka
Kelana Larat                                                                      Sjamsoeddin Nst.
Kolonne Kelima                                                                 Joesoef Sou’yb
Koebawa mati Mariah                                                  Shafar Yasin
Leburnja kota warsawa                                                                Joesoef Sou’yb
Melati                                                                                   Thaher Samad
Memperebutkan Peta Lautan                                    Joesoef Sou’yb
Menanti kekasih dari Mekah                                      Merayu Sukma
Menentang Maut di Budapest                                   Abwart Satyaputra
Patjar Merah                                                                     Yusdja
Pelarian dari kota Mekah                                             Joesoef Sou’yb
Pengalamanku  masa Perang Atjeh                        Joesoef Sou’yb
Penumpang Rahasia                                                      A. Rasjid Hilmy
Perawan Rimba                                                                                A.D. Chandu
Perkawinan penuh rahasia                                         Bachtiar Yunus
Purnamawati                                                                    I Made Otar
Rahasia Mantel Biru                                                       Dali
Ratu Kembang                                                                  Inangda
Resep Dukun yang hilang                                             A. Damhuri
Rimba Sumatera                                                              Joesoef Sou’yb
Rustam Digulist                                                                                D.E. Manuturi
Senyuman diatas pelaminan                                      N. Sulan
Serikat Teh Gelap                                                             D.E. Manuturi                                                   
Sihir dari Lhama                                                               Joesoef Sou’yb
Sinar memetjah Rahasia                                              Merayu Sukma
Spion Perang Dunia                                                        Abwart Satyaputra
Terbeli mahal                                                                     A. Damhuri
Tuan Direktur                                                                    Hamka





Seri Roman Melayu Cina

Seri Roman Melayu Cina, pertama kali diperkenalkan oleh Nio Joe Lan dalam karangannya tahun 1937
“De Indo-Chineesche Literatuure”  dan yang diterbitkan kemudian pada tahun 1962 dengan judul Sastra Indonesia-Tionghoa. Seri roman ini kadang-kadang disebut juga seri roman Melayu Tionghoa.  Sama halnya dengan seri roman Picisan, tidak banyak perhatian atau pun studi mengenai  jenis bacaan ini.  Jauh sesudah  Nio Joe Lan,  disusul oleh  J.B. Kwee  membuat studi tentang seri roman ini. Kemudian Claudine Salmon telah membuat penelitian terperinci mengenai jenis bacaan ini yang disusul oleh studi yang dilakukan oleh Dede Oetomo dan Myra Sidharta. Sementara itu tahun 1979 Faizah Soenoto membawakan makalah tentang tema ini  dalam seminar di Paris, London dan Swiss yang kemudian diterbitkan.

Seri Roman  Melayu Cina ini berkembang terutama di pulau  Jawa (Surabaya,Malang, Kediri), malah ada juga yang diterbitkan di Kalimantan (Borneo), Sulawesi, Bali dan Flores. Puncak kesuburan jenis bacaan ini ialah sekitar 1925 – 1942. Sebagai contoh misalnya:
Tjerita Roman (Surabaya, 1929-1937)
Moestika Panorama (Jakarta/Batavia-1930)
Moestika Romans (sebagai pengganti Moestika Romans)
Penghidoepan (Surabaya)
Tjerita Pilihan (Bandung)
Senang (Surabaya)
Menurut C. Salmon, Tjerita Pilihan dan Senang,  tidak bertahan lama.

Pengarang yang paling produktif ialah Njoo Cheong Seng dan Liem Khing Hoo, yang disusul kemudian oleh Chen Wen Zwan, Ong Ping Lok, Soe Lie Piet, M. Novel, Gan San Hok, Kwee Kheng Liong, Chen Hue Ay.
Diantara pengarang- pengarang tersebut ada juga  yang aktif dalam menulis novel  independen, jadi tidak termasuk  dan tidak dalam bentuk seperti  seri roman.

Njoo Cheong Seng , sebagai pengarang roman memakai nama samaran Monsieur d’Amour, sedang Liem Khing Hoo memakai nama samaran Romano.
Kwee Tek Hoay  dan  Liem Khing Hoo, juga dikenal sebagai tokoh yang   banyak melaksanakan  kegiatan budaya lainnya dalam lingkungan masarakat Peranakan.
Beberapa contoh roman dari seri  Roman MelayuCina

Seterusnya setiap seri roman telah menerbitkan 12 sampai 24 setahunnya. Majalah-majalah ini aktif dan menerbitkan secara teratur sampai menjelang tahun-tahun empatpuluhan.

Majalah roman atau seri roman ini, kecuali  berbentuk seperti sebuah majalah, dengan halaman muka yang memperlihatkan “nama majalah” yaitu nama “seri roman”,   dicantumkan pula  jadwal waktu terbitnya,  setiap minggu, satu atau dua kali sebulan dan dicantumkan pula harga eceran setiap majalah. Pada halaman dalam, terdapat daftar nama sidang pengarang atau sidang redaksinya.  Yang  penting juga ialah, “majalah”  ini memuat berbagai iklan,  (semacam) surat pembaca dan komentar sidang redaksi.  Ternyata surat dari sidang pengarang itu cukup  penting. Di sini kita mengetahui bahwa antara golongan jenis seri roman dan kalangan sastra resmi,  ada perhatian dan kepedulian timbal balik. Jadi antara masarakat baca sastra resmi dengan masarakat baca seri roman ada hubungan. Hal ini dapat kita lihat dari artikel yang dilampirkan dan diterbitkan dalam majalah/seri roman itu. Seperti terlihat dalam beberapa kutipan yang  kami cantumkan di sini.
Pihak seri roman, bukannya tidak peduli dan tidak sadar akan eksistensi  jenis bacaan yang lain, malah mereka cukup peduli satu sama lain. Hanya masing-masing sadar bahwa mereka ada di tempat yang berbeda.
Kutipan di bawah ini membuktikan  bahwa mereka saling peduli dan memberikan perhatian pada pihak lain,  yang mereka ungkapkan dalam bentuk komentar, sisipan dan kadang-kadang dialog  dalam roman :

 “ Segala sesoeatoe  oentoek kepentingannja Roman Indonesia senantiasa kita ikhtiarkan,
agar soepaja menambah menarik dan menjenangkan bagi pembatja, jang kemoedian hari betoel –betoel Roman Indonesia akan mewoedjoedkan soeatoe taman kegirangan dan penghiboer hati. Oleh karena itu bahasanja kita pakai bahasa Indonesia (Melayu) rendah, soepaja moedah dan gampang diterima oleh sekalian pembaca.”
                                                                (dimuat dalam  Roman Indonesia, Agustus 1940)

Kedua seri roman ini  memang satu jenis.  Namun walau pun  sama  bentuk atau jenisnya ada beberapa  perbedaan  antara kedua seri roman ini, baik dalam ragam bahasa yang dipakai mau pun dalam isi dan  terutama dalam spiritnya.
Seri  Roman Picisan Indonesia mempunyai sprit yang lebih dekat pada spirit sastra Pujangga Baru. Seri roman ini memuat tema antara lain tentang  sejarah,  politik, cerita detektif selain cerita roman.
Misalnya Darah Atjeh (Surapaty); Gerakan Merah di Rome (A.Satyaputra);  dari Lukisan Pujangga;  Tan Malaka di kota Medan (Emnast)dari Dunia Pengalaman; Indonesia jadi rebutan (Surapati); Masjarakat Angkatan Baru (H. Hasibuan)Sisingamangaraja (Matu Mona) dari majalah Tjendrawasih
(Perhatikan: sudah dipakai istilah ” Indonesia”)
Sedangkan Seri Roman Melayu Tionghoa pada umumnya banyak berisi cerita kehidupan, kemiskinan, malah banyak tentang cerita-cerita  kejahatan atau kriminil.

Seri roman tidak hanya berisi kisah antara sesama  orang Melayu/Indonesia  tetapi  juga antar daerah antar etnis di Nusantara, dengan etnis Cina untuk seri roman Melayu Cina.
Cerita kehidupan yang menarik karena menceritakan kehidupan bersama baik sesama etnis peranakan maupun dengan etnis asli lainnya, tergantung latar belakang cerita. Kisah cinta antara etnis berbeda terutama antara etnis asli dengan etnis pendatang/Tionghoa masih menemukan halangan. Beberapa contoh seperti : Maen Komedie (Kwee Teng Hin); Bidadari (Anak Pedoesoenan);  Bidadari dari Telaga Toba (Soe Lie Piet) sedangkan roman daerah tentang kisah bersama dengan orang dari daerah seperti Akalnya Raden Awiria (Injoo Bian Hien); Kerna Hati Mati, Kerna Mata Boeta (Njoo Cheong Seng); Kartini (L. Suma Tjoe Sing).
Tema kisah percintaan antar etnis dapat dianggap sebagai sesuatu yang cukup berani pada jaman itu, di mana kisah cinta antar etnis masih merupakan tema yang sulit dilaksanakan, juga dalam roman-roman resmi sastra Indonesia baik dari periode Balai Pustaka mau pun Pujangga Baru.

Demikian pula kedua pihak  Seri Roman Indonesia  bukannya tidak peduli  terhadap situasi  tanah air, dan lingkungan hidup pada masa itu.  Sebagai contoh dapat kita lihat dalam dialog roman di bawah ini

Tapi dalem kalangan literatuur Melajoe, orang perempoean masih banjak koerang, ada banjak djoega nama jang tertjantoem, nama-nama perempoean, tapi itu semoea kedok dari penoelis-penoelis lelaki. Ini matjem tida boleh dihargaken sama sekali, malahan moesti dikoetoek dan disingkirken, kerna ia mempoenyai ..... (Sio Sajang oleh Njoo Cheong Seng)

Selaennya bahasa Olanda jang dipladjarkennya di roemah sekola, ia ada perhatiken banjak sekali bahasa Melajoe. “Saja tida pertjaja bahoea katanja bahasa Melajoe ada miskin”begitoelah ia sering berkata kepada kawan-kawannja. “Kaloe besok besar saja, saja boleh hidoep sebagi satoe pengarang, saja nanti bikin pembatja Melajoe mengerti berapa kaja adanja kita poenya bahasa Melajoe, berapa manis adanya perkata’an Melajoe dan berapa tinggi adanya literatuur Melajoe.” (Sio Sajang, Njoo Cheong Seng)

Ia perhatikan styl-styl Melajoe jang bagoes dari boekoe-boekoeyang dikeluarken Balai Poestaka yang dikarang oleh Abdoel Moeis, Adi Negoro, Sjamsoedin etc., sampe pada toelisan-toelisan Melajoe Tinggi, jang diatoernja begitoe roepa, sampe ia sendiri tida dapet pahamken betoel-betoel, maski ia soeda membatjanja berkali-kali. (Sio Sayang oleh Njoo Cheong Seng)


Demikian pula, ada usaha mereka untuk mendekatkan diri  pada segala sesuatu yang di lingkungan hidup mereka. Misalnya, mereka berusaha memperkenalkan pantun daerah dalam bahasa asli dan mencantum- kan juga terjemahannya, seperti dapat kita lihat di bawah ini. 

Poehoen di Goenoeng
Djaidji poko rimontjong,                                                              Sampe banjak poehoen-poehoen di goenoeng

Doe-talloe tjoprong mamo,                                                        Dengen doea tiga jang lebat- daonnya,
Si poke tondji                                                                                     Tapi tjoema ada satoe poehoen,
Koe-tadja koe-palangi                                                                  Jang saja harep boleh menedoe di bawahnja
(Sio Sayang, bahasa Makasser)

“Tjambai oerai dibah djati,                                                          Sirih dan pinang di bawah poehoen djati,
Aboek sakin ngaretis djedjamoe,                                             Ambil piso boeat mengiris djedjamoe,
Rasani makkoeng poeas di ati,                                                  Akoe belon merasa poeas di dalam hati,
Adih saorang makkoeng ketemoe.”                                        Kapan akoe belon bisa kepadamoe.

(Ratoe dari Gedoeng Ratoe, bahasa Lampoeng)




Seperti  juga seri Roman Indonesia, maka seri Roman Melayu Cina, selain menerbitkan karangan asli, menerbitkan juga karangan-karangan  saduran atau salinan. Jenis  terakhir ini sering sulit untuk dipastikan, apakah karya itu asli atau saduran, karena mereka tidak mencantumkan judul asli mau pun nama pengarang aslinya. Kita hanya dapat menduga dari judul romannya (lihat daftar dalam contoh). Saduran banyak diambil baik dari cerita atau roman  Barat mau pun Timur seperti dari Perancis, Inggris, Rusia, Italia.

Bahasa Seri Roman

Bahasa, alasan utama yang menyebabkan jenis bacaan ini tidak dapat dimasukkan dalam kategori hasil sastra Indonesia, selain isi dan temanya.  Melayu Rendah, ragam percakapan  dan ragam komunikasi yang mencampurkan Melayu/Indonesia, bahasa daerah dan bahasa percakapan, benar-benar membuat bahasa seri  roman ini unik dan khas. 

Pada periode itu  “bahasa Balai Pustaka ”, dianggap sebagai bahasa yang rapi, mengikuti dalil tatabahasa tradisionil  karena diawasi dengan ketat oleh sidang redaksi dari Balai Pustaka yang dipegang oleh para pakar bahasa Melayu. Ragam bahasa ini menjadi acuan utama, walaupun  sering disebut sebagai “bahasa buku”.

Sebagai bahasa baku (bahasa standar) bahasa Melayu Tinggi menduduki posisi tinggi dalam skala dan tatanilai masarakat bahasa dan harus menjadi suatu ragam bahasa yang mempunyai kekuatan sanksi sosial dan harus dijadikan acuan oleh masarakat bahasanya.

Demikianlah sebagai bahasa baku, Melayu Tinggi mempunyai aturan bahasa  dan perbendaharaan kata yang baku,  misalnya yang sesuai dengan Kitab Logat Melayu dan perbendaharaan kata seperti  dalam kamus-kamus standar yang ada waktu itu. Dan semua ini tercermin dalam cipta sastra Balai Pustaka. Dengan demikian hasil-hasil terbitan Balai Pustaka pun menjadi acuan bagi dunia buku saat itu (Ajp Rosidi, Kapankah Kesusasteraan Indonesia lahir, Jakarta 1964)

Tradisi ini diteruskan sampai periode Pujangga Baru. Tahun-tahun menjelang periode kesusastraan Pujangga Baru merupakan periode polemik dalam kesusastraan Indonesia. Kesusastraan Indonesia berkembang sejajar dengan perkembangan semangat kebangsaan. Dan Bahasa Indonesia bukan hanya sebagai alat komunikasi tetapi juga sebagai lambang persatuan bangsa.

Hasil penelitian kami memperlihatkan adanya perbedaan ragam bahasa dalam ketiga jenis bacaan yang berkembang masa itu. Ketiga jenis bacaan yang berkembang pada periode yang bersamaan, yang ditunjang oleh masarakat bahasa tertentu dan yang dapat dibedakan melalui ragam bahasa yang menjadi ciri khas masing-masing. Hal ini dapat kita lihat dari contoh yang kami cantumkan.

Sebelum kita menilai jenis bacaan ini, baiklah kita lihat pernyataan  baik dari pihak seri roman Picisan Indonesia, mau pun dari pihak seri roman Melayu Cina.

Semangat kebangsaan yang menjadi ciri jaman waktu itu telah merata ke seluruh Nusantara, telah menjiwai pula dunia  bacaan seri roman. Mereka pun turut memperjuangkan perkembangan bahasa nasional dengan cara masing-masing.  Dalam laporan Konperensi Roman, yang diadakan pada tahun 1939 di Medan, di bawah pimpinan Adinegoro – yang tak asing lagi di dunia persuratkabaran – dan dihadiri oleh tokoh-tokoh seperti Hamka, A. Damhuri, M. Dimyati, ditegaskan bahwa, penerbitan roman-roman berfaedah untuk memperluas bahasa. (Roman Pergaulan, Desember  1939).






Pihak seri roman, dengan penuh kesadaran mengakui kekurang sempurnaan mereka.  Mereka pun menyatakan bahwa mereka berusaha keras untuk menyesuaikan diri pada aturan bahasa yang ada. 
Hal ini dapat kita lihat dalam salah satu Berita Redaksi dari seri Roman Indonesia  (Roman Indonesia, Agustus 1940)   

“Segala sesuatu untuk kepentingannya Roman Indonesia senantiasa kita ikhtiarkan, agar supaya menambah menarik dan menjenangkan bagi pembatja, jang kemoedian hari betoel-betoel Roan Indonesia akan mewoejoedkan soeatoe taman kegirangan dan penghiboer hati. Oleh karena itoe bahasanja kita pakai bahasa Indonesia (Melayoe) rendah, soepaja moedah dimengerti dan gampang diterima oleh sekalian pembaca.”


 Perbandingan ragam bahasa, roman Balai Pustaka, Pujangga Baru, seri Roman Indonesia dan seri roman Melayu Cina, dapat kita lihat dalam kutipan di bawah ini:

Pintoe jang berat itoe berderet terboeka dan doea orang gadis masoek ke dalam gedoeng aquarium. Kedoeanja berpakaian tjara Barat ; jang toe jang dahoeloe sekali masoek memakai jurk tobralco poetih bersahadja jang berboenga biroe ketjil-ketjil. …..
                                                                (S. Takdir Alisjahbana, Lajar Terkembang)

Seperti biasa, setibanja di roemah lagi, dokter Soekartono teroes sadja menghampiri medja ketjil, di roeang  tengah, di bawah tempat telepon.
                                                                (Armijn Pane, Belenggoe)


I Lastija dan Ni Nogati ta’adjoeb melihat keadaan hamba, serta menatap moeka hamba dengan kasih mesra. Hilang lenjap sekalian tjemboeroe, sakit hati, iri hati, waswas dan dendam dari dalam kalboe hamba terhadap mereka.
                                                                (I Gusti Njoman Pandji Tisna, I Swasta Setahoen di Bedahoeloe)

 Sebab itoelah toean terkenal teroetama dalam kalangan kami gadis-gadis jang tergolong dalam pergerakan Indonesia Moeda ketika itoe, seorang oelama jang sangat alim, leider akhirat.Piknik dengan gadis-gadis, toean ta’ mau, bergoerau sanda dalam clubhuis kalau bersama perempoean, toen tak hendak, pelesier ke Gedoeng Tanah, ke Kapal rusak, ke Pasar Gambir, ke Bogor, ke Museum, mandi ke Zandvoort dan lain-lainnja, kalau bersama perempoean, toean selaloe menolak. Jadi apakah ertinya perkataan toean itu pada practijk?”
                                                                (Tamar Jaja, Nyonya Dokter)

Tatkala Liang-san jumpahin Tji-nio paling blakang, di soeatoe sore jang sedjoek , dapetken gadis itoe berpakean serba poetih, kaen blatjoe jang sederhana. 
Tapi tidaklah begitoe boeat anggepan Liang-San; dalam ia poenya pengrasa├ín, di itoe waktoe jumpahken Tjip-nio ada membawa apa-apa, yang bagi ia ada mengharoeken rasanja hati, Liang-san merasa, dalem doenia ini jang loewas coema ada Tjio-nio saorang, jang dalem hidoepnja ada membekel sifat-sifat dari kamoelia’an.
                                                                (Tan Sioe Tjhay, Suki)








Roman Picisan Indonesia,  sering disebut memakai  ragam bahasa percakapan, atau biasa juga disebut memakai bahasa Melayu Rendah.  “Bahasa” dianggap kurang teratur, dengan kosakata yang kebanyakan terdiri atas kosakata campuran dari bahasa asing (Belanda),  bahasa daerah atau bahasa Melayu rendah atau bahasa Melayu pasar dan secara gramatika tidak tepat.  Beberapa  para ahli, menyebutnya  dengan bahasa sub-standar.  Sedang Roman Melayu Cina  dikatakan memakai ragam bahasa yang lebih khas lagi, karena selain memakai ragam percakapan Melayu Rendah, juga mencampurkan kosakata dari bahasa Melayu dengan berbagai bahasa daerah  (sesuai dengan tempat terbit atau latar belakang masing-masing roman) yang khas dipakai dalam kalangan masarakat Tionghoa dengan campuran “kosakata  Melayu Cina” (tidak selalu/harus bahasa Tionghoa).




Java dalem taoen 1850- ..
Ini koetika oeroesan perdagangan masih belon begitoe majoe; hasil satoe=satoenja jang djadi reboetan antarasoedagar-soedagar Tionghoa adalah pachter tjandoe, pachter gade, toekang rangsoem dan sebaginya.
Dengen mempoenjai harta f10’000.- sadja itoe waktoe soeda teranggep “wan-gwee” atawa “hartawan besar”.  Memang bener, dengen kakaja’an sabegitu marika Hoakiauw soeda bisa idoep seperti radja, piara saprangkat gamelan dengen bebrapa wijaya (toekang taboeh) serra satoe waktu piara satoe doea tandak jang tjantik ..
Teroetama dalem oeroesan pacht “tjandoe” dan “pagadean” ada djadi soember terutama boeat Hoakiauw maoe djadi kaja. (Pengorbanan oleh Liem Khing Hoo)

Boeat loekisken atawa bajangken kombali kaada’an penghidoepan oemoem dari kita Hoakiauw, sabenernja di halaman ini ada terlaloe sempit. Maka tjoekoep kalau saja ambil ringkesnja sadja: Itoe pelatoeran memake pas adalah jang bikin Hoakiauw hidoep seperti ajam dalem koeroengan dan itu politie-rol bikin marika teranggep seperti satengah manoesia. (Pengorbanan oleh Liem Khing Hoo)

Seri Roman memakai ragam yang dianggap mengandung  ciri-ciri sub-standar, seperti  misalnya mengacaukan pemakaian tidak/bukan; awalan/akhiran yang tidak tepat; pemakaian “poenja” untuk posesif;  ini/itoe; pemakaian “ada”, misalnyai:

                -“Kau tidak anakkoe lagi, dan akoe boekan ajahmoe”
-“Biarpoen dokter Sjam tidak seorang seni ...)
-“ …, sangatlah besar  faedah  yang diperdapatnja”

                -berdoedoek
                -perkoenjoengan
                -ia seorang pelacuran

... kau poenja penghidoepan ...
... dalam ia poenja pengrasaan ...
... saja musti utarakan saja poenja girang hati ...

Saja harep itoe penjakit ada enteng
... itu roemah pergoeroean di mana ia ada toeroet beladjar
... di ini waktoe ...
... kita semoea berada dalam ini doenia ...

Demikianlah Seri  Roman, tidak pernah digolongkan sebagai  karya sastra jamannya, walau pun ada dan hadir dengan segala kenyataannya dan beredar di kalangan masarakat luas  pada periode tertentu dalam masarakat Indonesia, terutama pada periode sebelum Perang Dunia Kedua atau sebelum kemerdekaan Indonesia.  

Tentu kita sadari pula bahwa pada periode tersebut, ada lapisan masarakat yang dianggap sebagai tingkat intelek yang sudah berikrar untuk menjunjung tinggi bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan. Merekalah penjunjung tinggi  yang telah berjasa. 
Sementara itu  kita pun maklum,  bahwa pada periode itu  ada lapisan masarakat -  kaum intelek – yang menguasai bahasa asing, paling sedikit bahasa Belanda;  sedang di pihak lain, ada golongan masarakat yang bukan saja tidak menguasai bahasa asing, malah juga belum  tentu menguasai bahasa Melayu dengan fasih, karena mereka  dari bukan etnis Melayu atau pun berasal dari daerah lain. Jadi mereka pun  mungkin masih harus belajar bahasa Melayu. Lalu yang ketiga, ialah mereka, para pendatang, baik dari daerah kepulauan Nusantara sendiri mau pun dari luar Nusantara, yang tidak menguasai bahasa Melayu dan tidak menguasai salah satu bahasa daerah di Indonesia, dan  juga mungkin sudah tidak menguasai bahasa negeri asal mereka, seperti etnis Tionghoa, masa itu. Mereka inilah yang membutuhkan bahasa komunikasi atau semacam lingua franca.   
Bahasa komunikasi  inilah satu-satunya  alat komunikasi  yang mereka kuasai untuk  berkomunikasi.
Karena itu pula mereka memberikan komentar bahwa bahasa Balai Pustaka cukup kaku dan tidak jarang kurang dipahami oleh masarakat kebanyakan.  Sebab mereka memang kurang memahaminya.

Masing-masing menyerap ciri khas setiap daerah tempat mereka bermukim.
Dari isi dan cerita dalam seri roman, dapat kita lihat bahwa kebanyakan roman-roman itu membawakan  tema daerah tempat bermukim dan juga memuat kosakata yang khas dari masing-masing daerah.



Kedua Seri roman ini mencapai puncak gemilangnya  sekitar tahun 1940-1945, karena setelah itu, sesudah  periode kemerdekaan Indonesia,  karya sastra jauh lebih terfokus, menjadi hanya sastra Indonesia, dengan bahasa kesatuannya Bahasa Indonesia.

Hal ini merupakan kenyataan yang tidak dapat kita ingkari bahwa pada periode pra-kemerdekaan pun, ada  berbagai macam ragam bahasa yang berkembang dalam masarakat Bahasa Indonesia.


 Produksi dari kedua seri  roman ini cukup besar dan menarik untuk dijadikan bahan studi.   Jenis bacaan ini merupakan satu fenomena yang unik dalam sejarah perkembangan dunia bacaan maupun sejarah Bahasa Indonesia, terutama sejarah sosial Bahasa Indonesia.

















KESIMPULAN

Jadi ada 2 seri roman yang pernah hidup dalam dunia bacaan masarakat sebelum perang dunia kedua/sebelum kemerdekaan Indonesia: seri roman Picisan dan seri roman Melayu Cina
Kedua seri roman ini hidup dan tumbuh bersama pada periode yang bersamaan, walau pun tidak berarti  bahwa seri roman Picisan sama  dengan seri roman Melayu Cina.  Dapat dibedakan misalnya:
Roman Picisan  menampakkan spirit nasional yang lebih jelas , sehingga dapat dikatakan lebih dekat pada semangat atau spirit Pujangga Baru. Demikian pula ragam bahasanya lebih mirip ragam bahasa Indonesia yang dipakai dalam periode itu

 “Segala sesuatu untuk kepentingannya Roman Indonesia senantiasa kita ikhtiarkan, agar supaya menambah menarik dan menjenangkan bagi pembatja, jang kemoedian hari betoel-betoel Roan Indonesia akan mewoejoedkan soeatoe taman kegirangan dan penghiboer hati. Oleh karena itoe bahasanja kita pakai bahasa Indonesia (Melayoe) rendah, soepaja moedah dimengerti dan gampang diterima oleh sekalian pembaca.”

Jadi Roman Picisan dianggap picisan terutama karena tidak diterbitkan oleh Balai Pustaka
Tema cerita dan spiritnya mendekati Pujangga Baru (banyak perjuangan nasional/kemerdekaan) . Bahasanya, walau pu tidak serapih bahasa Balai Pustaka, lebi ke bahasa percakapan..............

Makalah ini tidak membahas periodisasi sastra, yang masing-masing mempunyai pertimbangan dan titik tolak sendiri, misalnya seperti  yang kita kenal dari periodisasi Teeuw, Hb Jassin, Umar Yunus, Nugroho Notosusanto, Slamet Mulyana, Ahar, Ajip Rosidi, sekadar menyebutkan beberapa saja .

Makalah ini hanya ingin menunjukkan eksisnya jenis bacaan dengan ragam bahasanya  dalam sejarah perkembangan sosial Bahasa Indonesia. 

Bahwa  jenis bacaan seri roman tidak pernah diakui sebagai hasil sastra Indonesia.
Namun,  bagaimana pun jenis atau ragam bahasa seri roman telah hadir di kalangan masarakat pada periode  sebelum Perang Dunia kedua dan demi kelengkapan, telah menjadi bagian, tidak saja dari sejarah Sastra Indonesia,  telah menjadi bagian dari sejarah Bahasa Indonesia dan khususnya sejarah sosial Bahasa Indonesia

Namun,  bagaimana pun jenis atau ragam bahasa seri roman telah hadir dalam periode sebelum Perang Dunia kedua dan demi kelengkapan, telah menjadi bagian, tidak saja dari sejarah Sastra Indonesia,  bagian dari sejarah Bahasa Indonesia dan khususnya sejarah sosial Bahasa Indonesia



Penutup

Sebagai kesimpulan, penelitian tentang Seri Roman Indonesia sebelum perang tidak hanya bermanfaat bagi  sejarah kesusastraan,   isi dan tema roman menjadi bahan studi  sosiologi sastra Indonesia sebelum perang; cara penerbitan seri roman dapat menjadi bagian dari sejarah media massa Indonesia dan ragam bahasa seri roman ini dapat menjadi bahan penelittian bahasa untuk periodisasi  Bahasa Indonesia dalam  Sejarah Sosial  Bahasa Indonesia.                     










Kepustakaan
    
C.W. Watson, “S0ome preliminary remarks on the antecedents of Modern Indonesian Literature”, B.K.I., 1971, Deel 127
Nio Joe Lan, “De Indo-Chineesche Literatuur,” De Indische Gids, Amsterdam, Januari 1937.
Nio Joe Lan, Sastera Indonesia-Tionghoa, Jakarta, Guning Agung, 1962
R. Roolvink, Roman Pitjisan Bahasa Indonesia, Pokok dan Tokoh II< Jakarta 1955.
A. Teeuw, Pokok dan Tokoh I, Jakarta, 1955
Faizah Soenoto, Il Romanzo Popolare Indonesiano D’Anteguerra, Annali vol.36 (1967), supplemento n.8, , Napoli, 1967.
Faizah Soenoto, Seri Roan Melayu Cina, Ethnologica Bernensia 4, Bern Instituut fur Ethnologie, 1994
Faizah Soenoto, Sino-Malay community and the pre-war novel series, Dipartimento di Studi Asiatici, IUO, Napoli, 1996
C. Lombard Salmon, “Societe peranakan et utopie: deux romans sino-malais, (1934-1939)”, Archipel 3, 1972
 Claudine Salmon, Literature in Malay by the Chinese of Indonesia, Paris EHESS, 1981
Claudine Salmon, Sastra Cina Peranakan dalam Bahasa Melayu, Balai Pustaka, Jakarta, 1985
N.Tanner, “Speech and society among the Indonesian elite: a case study of a mullilingual community”, Antropolocical Linguistics, vol 9, no.3, 1967, p 15-39

WATSON, dalam  penelitiannya mengatakan bahwa tradisi cerita roman di Indonesia telah dikenal sejak akhir abad ke 19 (C.W. Watson, Some preliminary remarks on the antecedents of Modern Indonesian Literature”, B.K.I., Deel 127)

0 Response to "KUMPULAN CONTOH KARYA TULIS ILMIAH SASTRA INDONESIA LENGKAP 2014"

Post a Comment