Bola Tangkas

SKRIPSI EKONOMI PENGARUH EXTRINSIC MOTIVATION, ABSORPTIVE CAPACITY, DAN CHANNEL RICHNESS TERHADAP SIKAP INDIVIDU ATAS PERILAKU SHARING KNOWLEDGE



1. Latar Belakang
Informasi adalah salah satu kebutuhan yang paling penting bagi individu maupun organisasi untuk proses pengambilan keputusan. Informasi yang berkualitas ditentukan oleh kemampuannya yang akurat, tepat waktu dan relevan. Pada era perkembangan teknologi dan sistem informasi yang demikian cepat, saat ini memungkinkan pembagian informasi khususnya pengetahuan yang makin efektif. Untuk tujuan kelangsungan usaha, suatu organisasi atau perusahaan mau tidak mau harus mampu bersaing dalam mengumpulkan dan memanfaatkan informasi yang ada baik dari pihak intern maupun ekstern perusahaan.
Sharing knowledge adalah pengumpulan dari semua knowledge yang ada dari kelompok, tim, divisi dan unit bisnis, dengan tujuan untuk menghasilkan nilai tambah bagi perusahaan.  Sharing knowledge merupakan pendekatan yang efektif untuk mencapai keuntungan kompetitif yang diperoleh dari pemeliharaan organsisasi (Liebowitz, 2003; O’Dell dan Grayson, 1998; Song, 2002). Sharing knowledge dari seorang individu atas sistem informasi atau teknologi informasi, semakin lama akan dapat memberikan pembaharuan bagi keseluruhan knowledge suatu organisasi, yang pada gilirannya akan memberikan karakteristik organisasi yang unik bagi perusahaan pesaingnya dan selanjutnya dapat meningkatkan kinerja (Cohen, 1990; Feng et al., 2004; Gottschalk dan Khandelwal, 2002; Nelson dan Cooprider, 1996). Untuk dapat mencapai sharing knowledge yang efektif tidaklah mudah (Szulanski, 1995). Sulit bagi individu untuk melakukan aktivitas sharing knowledge selama mereka bekerja kecuali jika mereka menemukan aktivitas tersebut cukup berguna dan menguntungkan. Kesulitan terbesar dari pengaturan knowledge adalah untuk mengubah perilaku dari orang-orang (Ruggles, 1998).
            Berdasarkan Theory of Reasoned Action (Fishbein dan Ajzen, 1975; Korzaan, 2003), perhatian dari seorang individu untuk melakukan suatu perilaku tertentu dengan perilaku sesungguhnya dapat ditentukan oleh bagaimana mereka menanggapi perilaku tersebut. Individu dapat melakukan tindakan yang berbeda saat diberi perubahan atas sikap keperilakuan. Individu akan cenderung melakukan suatu perilaku bila dipengaruhi sikap yang positif, dan sebaliknya akan tidak melakukan suatu perilaku bila dipengaruhi sikap yang negatif. Berdasarkan teori ini, pada konteks sharing knowledge, dapat diharapkan bahwa individu yang dihubungkan dengan sistem informasi atau teknologi informasi dapat menunjukkan perilaku sharing knowledge yang lebih bila mereka melakukan sikap positif terhadap sharing knowledge.

2. Rerangka Teoretis dan Pengembangan Hipotesis
Sharing knowledge dalam suatu organisasi dimaksudkan sebagai suatu jenis perilaku extra-role dan jarang diasosiasikan dengan kompensasi dari karyawan atau evaluasi kinerja (Huber, 2001). Individu mempunyai pilihan untuk membagi knowledge yang mereka miliki dengan individu yang lainnya dalam rutinitas pekerjaan mereka sehari-hari. Pilihan tersebut akan dipengaruhi oleh bagaimana mereka bersikap terhadap perilaku sharing knowledge. Sikap seorang individu terhadap suatu perilaku tertentu dapat mempengaruhi perhatian mereka untuk melakukan perilaku sharing dan kemudian mempengaruhi kinerja pekerjaan aktual (Ajzen dan Fishbein, 1980).          Theory of Reasoned Action (Ajzen dan Fishbein, 1980), menyatakan bahwa sikap seseorang terhadap suatu perilaku ditentukan oleh satu susunan dari salient beliefs mengenai outcome tertentu yang disebabkan oleh perilaku dan evaluasi yang berhubungan sesuai outcome. Dengan mempengaruhi salient beliefs dari seorang individu mengenai perilaku, beberapa variabel dapat menentukan sikap dari seorang individu terhadap perilaku untuk beberapa hal tertentu. Variabel ini adalah extrinsic motivation, absorptive capacity, dan channel richness (Cohen dan Levinthal,1990; Huber, 2001; Robertson, Swan dan Newell, 1996).
2.1. Extrinsic Motivation
Berdasarkan teori motivasi, motivasi dapat dikelompokkan menjadi dua yaitu extrinsic motivation (motivasi ekstrinsik) dan intrinsic motivation (motivasi intrinsik) (Valerand, 1997). Teori motivasi mengasumsikan bahwa perilaku individu ditujukan untuk memenuhi kebutuhan dan mencapai tujuan tertentu. Extrinsic motivation adalah dorongan seseorang untuk mencapai tujuan tertentu (penghargaan) misal peningkatan tugas, upah, promosi, dll. (Deci dan Ryan, 1987). Extrinsic motivation dapat dikatakan sebagai kinerja aktivitas dimana aktivitas tersebut dirasakan dapat menjadi alat untuk mencapai outcome yang berbeda nilai.
Extrinsic motivation mencerminkan strategi insentif organisasi untuk perilaku sharing knowledge. Istilah motivasi ekstrinsik menunjuk pada kinerja dari aktivitas yang dilakukan untuk mencapai beberapa konsekuensi. Luasnya tindakan yang dilakukan tidak dapat dipisahkan dari tindakan yang dilakukan diluar aktivitas untuk mencapai sasaran. Tindakan tersebut dikaitkan pada satu hal yang tidak sekadar hanya untuk mencapai tujuan itu sendiri (Deci, 1975; Kruglanski, 1978; Ryan dan Deci, 2000; Vallerand dan Bissonnette, 1992). Perilaku yang termotivasi secara ekstrinsik tidak akan muncul secara spontan dan kemudian akan jadi masukan melalui suatu permintaan atau melalui beberapa konsekuensi yang teradministrasi secara eksternal seperti tanda terima atas suatu reward atau penghindaran dari hukuman.
Motivasi ekstrinsik dipahami sebagai suatu variabel pada level organisasi sebagai suatu strategi mengenai reward eksternal atau penghukuman untuk perilaku tertentu yang harus dibentuk dan diterapkan pada level organisasional. Administrasi suatu organisasi menggunakan motivasi ekstrinsik untuk mendorong atau mencegah terjadinya beberapa perilaku walaupun motivasi tersebut tidak benar-benar masuk ke dalam perilaku itu sendiri. Sejak motivasi ekstrinsik dikenai dengan beberapa kekuatan eksternal, contohnya, administrasi, perilaku yang termotivasi secara ekstrinsik secara khas lebih sedikit otonomi dan tidak diaktifkan oleh individu itu sendiri, dan ditunjukkan untuk outcome yang dapat terpisah seperti penghukuman atau rewards (Deci dan Ryan, 1987; 1995).
            Strategi motivasional ekstrinsik dapat jadi efektif diterapkan pada keadaan dimana tugas ditentukan lebih kreatif, ada pengawasan yang ketat, dan peraturan yang terinci saat perilaku dilakukan. Oleh karena itu, individu yang termotivasi secara ekstrinsik cenderung untuk menghasilkan stereotyped works dan kemampuan pembelajaran yang kian lama semakin rendah (Amabile, 1996, 1998; Schwartz, 1990). Pekerjaan mereka dapat jadi rutin dan dapat diukur secara kuantitatif dan manajer hanya dapat memberi atau menahan beberapa reward eksternal atau penghukuman menurut kinerja aktual mereka.
Riset psikologis ekstensif telah memberikan bukti atas keburukan dari motivasi ekstrinsik (Deci, 1999). Diduga bahwa reward eksternal atau penghukuman akan mempunyai efek minor bahkan negatif dalam memfasilitasi sharing knowledge, dan proses pembelajaran interaktif. Hasil dari beberapa riset manajemen knowledge telah menunjukkan efek-efek dari motivasi ekstrinsik atas sharing knowledge dan transfer antar organisasi (Bock dan Kim, 2002; Huber, 2001; Rappleye, 2000). Kohn (1993) menyatakan bahwa insentif eksternal pada dasarnya tidak mengubah sikap yang mendasari perilaku. Oleh karena itu, diajukan hipotesis sebagai berikut:
H1:  Extrinsic motivation akan secara negatif mempengaruhi sikap seorang individu terhadap perilaku sharing knowledge.

2.2. Absorptive Capacity
Secara umum telah diketahui bahwa perusahaan yang dapat belajar dengan cepat akan mengalami perkembangan yang lebih baik dibandingkan perusahaan yang lambat dalam belajar. Sharing knowledge adalah suatu proses yang terjadi antara dua orang, yaitu kontributor knowledge dan penerima knowledge. Proses ini dapat diperlihatkan sebagai suatu proses pembelajaran. Proses dimulai dengan sharing knowledge dari kontributor dengan penerima, dan kemudian penerima mempelajari bagian relevan dari knowledge yang dibagikan. Hasil dari keberhasilan proses pembelajaran atas knowledge yang baru akan memberikan manfaat kompetitif bagi suatu organisasi. Keberhasilan dari pemanfaatan akhir pembagian knowledge pada konteks diri penerima adalah berasosiasi dengan tingginya kemampuan si penerima apakah dia dapat menyerap dan menguasai knowledge yang dibagikan. Jika penerima tidak dapat berhasil mempelajari knowledge yang dibagikan dan mengasimilasi isi yang berharga dari hal tersebut, berarti knowledge tersebut kurang dapat digunakan untuk mengatasi masalah yang dihadapi oleh orang yang bersangkutan. Oleh karena itu, bagi penerima, pembelajaran dan pemanfaatan sharing knowledge harus dievaluasi untuk keberhasilan dari suatu proses sharing knowledge yang lengkap.
            Absorptive capacity pada konteks administrasi bisnis digunakan untuk mengukur kemampuan dari suatu perusahaan untuk menilai, mengasimilasi, dan menerapkan knowledge baru, yang dipelajari pada berbagai tingkatan baik individu, kelompok, perusahaan, dan nasional. Penelitian yang dipimpin oleh Torben Pedersen dari Copenhagen Business School, menemukan bahwa knowledge management tidak terjadi secara spontan, tapi melalui proses perubahan dinamis yang dapat dan harus diatur. Salah satu kunci dari transfer knowledge adalah absortive capacity. Dalam Theory of Absorptive Capacity (Cohen dan Levinthal, 1990), didefinisikan bahwa absorptive capacity seseorang adalah kemampuan yang bukan hanya ditujukan untuk memperoleh dan mengasimilasi tapi juga untuk menggunakan knowledge. Kemampuan seorang individu untuk mengevaluasi dan memanfatkan knowledge yang berasal dari luar dengan lebih baik merupakan tingkatan fungsi dari knowledge terdahulu yang saling berhubungan. Knowledge terdahulu yang saling berhubungan ini memberikan suatu kemampuan untuk mengenali nilai knowledge baru dan untuk mengasimilasi dan menerapkan pengaturan baru. Secara spesifik, knowledge terdahulu tersebut dapat mencakup keahlian dasar, pembagian bahasa, atau knowledge apapun dari perkembangan teknologi atau perkembangan ilmiah yang paling terbaru pada bidang yang berkaitan.
Zahra dan George (2002) menyatakan bahwa absorptive terdiri dari kapasitas asimilasi, akusisi, transformasi dan eksploitasi. Absorptive capacity mencerminkan satu macam dari hubungan kemampuan individual yang dapat mempengaruhi kinerja dari individu dari pembelajaran dan pemakaian knowledge. Oleh karenanya, absorptive capacity seseorang ditentukan oleh knowledge yang dahulu telah dimilikinya. Individu-individu telah membentuk absorptive capacity-nya sendiri sebelum mereka terlibat dengan suatu aktivitas dari sharing knowledge. Antara individu yang satu dengan yang lainnya akan dapat berbeda level absorptive capacity-nya, hal tersebut antara lain dikarenakan adanya perbedaan kondisi seperti pengalaman profesional atau latar belakang pendidikan.
            Individu-individu dengan absorptive capacity yang besar, atau dengan knowledge terdahulu yang lebih relevan akan lebih mampu untuk belajar, mengasimilasi dan memanfaatkan knowledge yang dibagikan pada proses sharing knowledge. Suatu organisasi dapat memanipulasi variabel ini dengan maksud bahwa suatu organisasi dapat hanya menyewa atau menugaskan orang-orang tertentu yang mempunyai keinginan knowledge lebih untuk melaksanakan tugas-tugas yang dapat menentukan sharing dari knowledge tertentu. Orang-orang dengan absorptive capacity dan keinginan yang besar untuk berkompetisi ini, akan cenderung menyukai sharing knowledge. Oleh karena itu, diajukan hipotesis sebagai berikut:
H2:  Absorptive capacity akan secara positif mempengaruhi sikap seorang individu terhadap perilaku sharing knowledge.

2.3. Channel Richness
Channel richness dapat didefinisikan sebagai luasnya media komunikasi yang dipakai sebagai sarana penghubung dari informasi baik secara verbal maupun non verbal. Penyelenggaraan sharing knowledge dapat dilakukan melalui beberapa channel yang bertindak sebagai penghubung antara partner dari pembagian dan memfasilitasi transfer dari knowledge dari sumber ke target. Oleh karena itu, ketersediaan dan channel richness akan mampu menunjang keberhasilan dari sharing knowledge untuk beberapa tujuan tertentu. Secara umum, channel tidak hanya berarti beberapa pengaturan fisik, sebagai contoh, telepon, ruang diskusi atau jaringan komputer, tapi juga berarti koneksi sebenarnya (virtual connections) antara karyawan dan bahkan suatu sharing knowledge budaya ramah dalam organisasi.
            Channel richness mengindikasikan keberadaan dan ketersediaan dari pendekatan yang beragam untuk pembagian knowledge antara individu. Holtham dan Courtney (1998) meringkas empat macam dari saluran transmisi yang berupa informal dan formal, personal atau impersonal. Saluran informal dapat jadi pertemuan yang tidak terjadwal, seminar informal, atau percakapan santai (coffee break). Mekanisma ini efektif untuk mempromosikan sosialisasi, khususnya pada organisasi kecil (Fahey dan Prusak, 1998). Mekanisma formal dapat meliputi sesi pelatihan atau peninjauan lapangan, yang dipercaya untuk memastikan distribusi yang lebih besar dari knowledge. Saluran impersonal, secara kontras, adalah lebih efektif untuk sharing knowledge yang dapat dipersiapkan secara umum untuk konteks lainnya.
            Keberhasilan sharing knowledge dapat dilakukan dengan cara yang paling sederhana seperti halnya percakapan atau dialog sehari-hari. Dengan kata lain, luasnya channel richness dapat bervariasi pada kondisi yang berbeda dan dapat jadi memudahkan untuk membagi knowledge satu dengan lainnya. Ketersediaan channel yang sangat banyak dapat membantu orang yang mencari knowledge dan yang memberikan akses untuk knowledge tersebut (Robertson, Swan dan Newell, 1996). Hal tersebut juga memungkinkan orang untuk menyelenggarakan sharing knowledge secara praktis dan fleksibel pada istilah waktu dan tempat. Mereka tidak dapat dihalangi oleh isu dari jam kerja dan lokasi kantor.
            Banyak dari riset sistem informasi telah dilakukan untuk fokus pada saluran untuk sharing knowledge karena perjanjian peranan dari teknologi informasi pada area ini. Secara keseluruhan, semakin banyaknya channel untuk sharing knowledge, maka hal tersebut makin menyenangkan dan mampu menunjang bagi seorang individu untuk melakukan perilaku sharing knowledge dan makin memungkinkan mereka untuk bersikap positif terhadap perilaku sharing tersebut. Oleh karena itu, diajukan hipotesis berikut:
H3: Channel richness akan secara positif mempengaruhi sikap seorang individu terhadap perilaku sharing knowledge.
Model Penelitian

3. Metoda Penelitian
3.1. Pemilihan Sampel dan Pengumpulan Data
Data dikumpulkan melalui pengisian kuesioner oleh mahasiswa  tingkat akhir jurusan teknologi informatika di Jakarta yang dipilih secara purposive sampling. Alasan pemilihan responden dikarenakan mereka telah berpengalaman dalam aktivitas sharing knowledge dan terbiasa dengan metode e-learning. Partisipasi pelajar dalam pengisian kuesioner ini tidak bersifat paksaan, dan partisipan tidak akan mendapatkan imbalan apapun, sehingga memungkinkan pengisian kuesioner yang tidak bias.
           
3.2. Definisi Operasional dan Pengukuran Variabel
a. Extrinsic motivation
Extrinsik motivation adalah dorongan seseorang untuk mencapai tujuan tertentu (penghargaan) misal peningkatan tugas, upah, promosi, dll. (Deci dan Ryan, 1987). Individu yang termotivasi secara ekstrinsik cenderung untuk menghasilkan stereotyped works dan kemampuan pembelajaran yang kian lama semakin rendah (Amabile, 1996, 1998; Schwartz, 1990). Studi pada area psikologis mengungkapkan bahwa aspek reward moneter yang diterima, penghindaran hukuman, dan pembangunan reputasi telah digunakan secara umum untuk menampakkan motivasi ekstrinsik (Deci dan Ryan, 1985;1987; Ryan dan Connell, 1989). Pengukuran variabel ini, dengan menggunakan tiga item yang diadopsi dari Kwok dan Gao (2006). Tiap item diberi kode dengan skala Likert 5 poin dengan tingkatan nilai dari 1 sangat tidak setuju hingga 5 sangat setuju.

b. Absorptive capacity
Theory of Absorptive Capacity (Cohen dan Levinthal, 1990), mendefinisikan bahwa absorptive capacity seseorang adalah kemampuan yang bukan hanya ditujukan untuk memperoleh dan mengasimilasi tapi juga untuk menggunakan knowledge. Variabel absorptive capacity diukur dengan tiga item yang seperti yang digunakan Kwok dan Gao (2006). Pengukuran dilakukan dengan mengunakan skala Likert 5 poin, dimana 1 adalah sangat tidak setuju hingga 5 sangat setuju.

c. Channel richness
Channel richness dapat didefinisikan sebagai luasnya media komunikasi yang dipakai sebagai sarana penghubung dari informasi baik secara verbal maupun non verbal. Pengukuran channel richness dilakukan pada konteks fleksibilitas dan kemudahan yang dirasakan partisipan selama proses sharing knowledge. Variabel ini diukur dengan tiga item yang dikembangkan oleh Kwok dan Gao (2006), semua item diberi kode dengan skala Likert 5 poin, dimana 1 sangat tidak setuju dan 5 sangat setuju.

d. Sharing Knowledge
Sharing knowledge dalam suatu organisasi dimaksudkan sebagai suatu jenis perilaku extra-role dan jarang diasosiasikan dengan kompensasi dari karyawan atau evaluasi kinerja (Huber, 2001). Pengukuran sikap terhadap sharing knowledge diadopsi dari studi yang Ajzen dan Fishbein (1980) seperti yang dilakukan dalam Kwok dan Gao (2006), yang disesuaikan dengan pemilihan kata untuk mencocokkan konteks dari sharing knowledge, yang terdiri dari tiga item. Semua item diberi kode dengan skala Likert 5 poin, dimana 1 menunjukkan sangat tidak setuju dan 5 sangat setuju.

3.3. Teknik Analisis Data
Pengujian Reliabilitas dan Validitas
Hasil pengukuran akan dapat dipercaya bila dalam beberapa kali pelaksanaan pengukuran terhadap kelompok subjek diperoleh hasil yang relatif sama, selama aspek yang diukur dalam diri subjek memang belum berubah. Uji reliabilitas ditujukan untuk mengukur sejauh mana suatu alat dapat diandalkan atau dipercaya untuk mengukur suatu obyek yang akan diukur, secara umum reliabilitas dapat ditunjukkan dengan nilai Cronbach alpha,  adapun nilai Cronbach alpha yang biasanya diterima adalah 0,6 hingga 0,7 (Hair et al., 1998).
Pengukuran terhadap instrumen akan mempunyai ketepatan dan kecermatan yang tinggi bila alat ukur tersebut memberikan hasil ukur yang sesuai dengan maksud dari dilakukannya pengukuran tersebut. Penilaian validitas untuk mengukur sah tidaknya suatu kuesioner pada penelitian ini dilakukan dengan korelasi bivariate antara masing-masing skor indikator dengan total skor konstruk (Ghozali, 2005).

Uji Asumsi Klasik
Pengujian asumsi klasik yang dilakukan pada penelitian ini meliputi uji multikolinearitas, uji autokorelasi, uji heterokedastisitas, dan uji normalitas data. Uji multikolinearitas dilakukan dengan menganalisis matrik korelasi antar variabel independen dan perhitungan nilai Tolerance dan VIF. Uji autokorelasi dilakukan dengan Durbin-Watson. Uji heterokedastisitas dilakukan dengan Uji Glejser. Uji normalitas dilakukan dengan Kolmogorov-Smirnov Test.

Uji Regresi Linier Berganda
Pengujian hipotesis akan dilakukan dengan analisis regresi berganda, dengan persamaan sebagai berikut:
Y = a + β1X1 + β2X2+ β3X3 + Ɛ
Keterangan:
Y  = sharing knowledge
X1= extrinsic motivation
X2= absorptive capacity
X3= channel richness






4. Hasil Penelitian dan Pembahasan
4.1. Statistik Deskriptif
Kuesioner sebanyak 100 disebarkan kepada para pelajar di dua univeristas swasta terkemuka di Jakarta. Dari seluruh kuesioner yang disebar semuanya kembali, namun hanya 72 yang memenuhi syarat untuk diuji dan digunakan untuk analisis selanjutnya.
deskriptif data dapat dilihat dalam Tabel 1.
Masukkan Tabel 1 disini


4.2. Uji Asumsi Klasik
Uji Reliabilitas
Hasil uji reliabilitas untuk semua variabel menunjukkan nilai Cronbach Alpha lebih besar dari 0,6 yang berarti bahwa variabel reliabel (Nunnaly, 1967). Tabel 2 menunjukkan besarnya nilai Cronbach Alpha tiap variabel.
Masukkan Tabel 2 disini

Uji Validitas
Hasil uji validitas konstruk yang dilakukan dengan korelasi bivariate ditunjukkan pada Tabel 3.
Masukkan Tabel 3 disini


Hasil pengujian yang diperoleh pada Tabel 4 dengan menggunakan Uji KMO dan Bartlett juga mengindikasikan tidak adanya heterokedastisitas, karena nilai KMO di atas > 0,5, dan nilai Tes Bartlett dengan Chi-Square= 278,291 signifikan pada 0,000.
Masukkan Tabel 4 disini

Uji Multikolinearitas
Hasil pengujian atas multikolinearitas meenunjukkan tidak adanya multikolinearitas, hal ini ditunjukkan dari nilai tolerance yang rendah dan nilai VIF yang tinggi. Hasil pengujian diperlihatkan pada Tabel 5.
Masukkan Tabel 5 disini

Uji Autokorelasi
Hasil pengujian atas autokorelasi yang diperlihatkan pada Tabel 6 menunjukkan tidak adanya autokorelasi. Nilai DW sebesar 1,790 memperlihatkan nilai DW yang lebih besar dari batas atas (du= 1,706) dan kurang dari 2,294 (4-du).
Masukkan Tabel 6 disini

Uji Heterokedastisitas
Tabel 7 memperlihatkan hasil pengujian atas heterokedastisitas, hasil dari Uji Glejser mengindikasikan tidak adanya heterokedastisitas, karena probabilitas signifikansi variabel independen semuanya di atas 5%.
Masukkan Tabel 7 disini

Uji Normalitas
Hasil normalitas yang ditunjukkan pada Tabel 8 mengindikasikan bahwa data terdistribusi normal, dapat dilihat dari besarnya nilai Kolmogorov-Smirnov yang dihasilkan.
Masukkan Tabel 8 disini


4.3. Hasil Pengujian Hipotesis
Hasil pengujian atas semua hipotesis yang diajukan ternyata mendapatkan dukungan. Hasil pengujian dengan regresi berganda ditunjukkan pada Tabel 9. Diperlihatkan bahwa variabel extrinsic motivation meski hasilnya positif, namun tidak signifikan, sehingga hasil ini dapat diinterpretasikan bahwa pada dasarnya perilaku sharing knowledge tidak dipengaruhi oleh besar kecilnya reward yang akan diberikan. Untuk variabel absorptive capacity dan channel richness ternyata hasilnya positif dan signifikan, masing-masing pada p= 0,004 dan p= 0,060.
Masukkan Tabel 9 disini

Selain pengujian dengan regresi berganda, penelitian ini juga menguji apakah perbedaan gender ikut memberikan pengaruh terhadap variabel-variabel yang diteliti. Hasil pengujian yang dilakukan dengan menggunakan uji beda ternyata menunjukkan tidak ada perbedaan signifikan antara wanita dan pria terhadap extrinsic motivation, absorptive capacity, dan sharing knowledge, sedangkan untuk channel richness ada perbedaan signifikan p= 0,084 (p < 0,1).
Masukkan Tabel 10 disini


5. Penutup
5.1. Kesimpulan
Hasil penelitian yang dilakukan dengan menggunakan sampel mahasiswa teknologi informatika di Jakarta ini mendukung hasil penelitian terdahulu yang telah dilakukan oleh Kwok dan Gao (2006). Hasil uji beda dengan mempertimbangkan pengaruh gender ternyata menunjukkan tidak adanya perbedaan signifikan untuk variabel extrinsic motivation, absorptive capacity, dan sharing knowledge, hanya variabel channel richness yang ditemukan signifikan pada p= 0,084.

5.2. Keterbatasan
Pengukuran variabel-variabel dalam penelitian ini hanya menggunakan pengukuran yang dibuat oleh Kwok dan Gao (2006). Sampel penelitian yang hanya meliputi mahasiswa teknologi informatika di Jakarta, menjadikan hasil penelitian ini tidak dapat digeneralisasikan.

5.3. Saran
Penelitian selanjutnya akan lebih baik bila dapat mengembangkan pengukuran variabel ke pengukuran yang lebih kompleks. Sampel penelitian dapat diganti dengan menggunakan populasi yang lain, misalnya manajer-manajer perusahaan, mengingat adanya perbedaan antara manfaat dan cara praktik sharing knowledge yang terjadi di dunia pendidikan dengan dunia kerja.


DAFTAR PUSTAKA

Ajzen, I. and M. Fishbein. 1975. Belief, Attitude, Intention and Behavior: An Introduction to Theory and Research. California: Addison-Wesley.

_____, 1980. Understanding Attitudes and Predicting Social Behavior. Englewood Clfifs, NJ: Prentice-Hall.

Amabile, T. M. 1996. Creativity in Context: Update to the Social Psychology of Creativity. Boulder, CO: Westview.

_____, 1998. How to Kill Creativity, Harvard Business Review, 76:5, pp. 76-87.

Bock, G. W. and Y. G. Kim. 2002. Breaking the Myths of Rewards: An Exploratory Study of Attitudes about Knowledge Sharing, Information Resource Management Journal, 15:2, pp. 14-21

Cohen, W. M. and D. A. Levinthal. Absorptive Capacity: A New Perspective on Leaming and Innovation, Administrative Science Quarterly, 35:1, 1990, pp. 128- 152.

Deci, E. L. 1999. A Meta-analytic Review of Experiments Examining the Effects of Extrinsic Rewards on Intrinsic Motivation, Psychological Bulletin, 125:6, pp. 627- 668.

Deci, E. L. and R. M. Ryan. 1985. Intrinsic Motivation and Self-determination in Human Behavior. New York: Plenum.

Deci, E. L. and R. M. Ryan. 1987. The Support of Autonomy and the Control of Behavior, Journal of Personality and Social Psychology, 53:6, pp. 1024-1037.

Fahey, L. and L. Prusak. 1998. The Eleven Deadlies Sins of Knowledge Management, California Management Review, pp. 265-276.

Feng, K., E. Chen, and W. Liou. 2004. Implementation of Knowledge Management Systems and Firm Performance: An Empirical Investigation, Journal of Computer Information Systems, 45:2, 2004, pp. 92-104.

Ghozali, Imam. 2005. Aplikasi Analisis Multivariate dengan Program SPSS. Edisi 3. Badan Penerbit Universitas Diponegoro, Semarang.

Gottschalk, P. and V. Khandelwal. 2002. Inter-organizational Knowledge Management: A Comparison of Law Firms in Norway and Australia, Journal of Computer Information Systems, 42:5, pp. 50-58.

Hair, Joseph F., JR., Rolph E. A., Ronald L. Tatham dan William C. Black. 1998. Multivariate Data Analysis. Fifth Edition. Prentice-Hall International, Inc.

Huber, G. 2001. Transfer of Knowledge in Knowledge Management Systems: Unexplored Issues and Suggested Studies, European Journal of Information Systems, pp. 72-79.

Kohn, A. 1993. Why Incentive Plans Cannot Work, Harvard Business Review, 71:5, pp. 54-63.

Korzaan, M. 2003. Going with the Flow: Predicting Online Purchase Intentions, Journal of Computer Information Systems, 43:4, pp. 25-31.

Kruglanski, A. W. 1978. Endogenous Attribution and Intrinsic Motivation. In Greene, D. (Ed. ). Hillsdale, NJ: Lawrence Erlbaum.
Kwok, Sai Ho, dan Sheng Gao, 2006. Attitude Towards Knowledge Sharing Behavior. Journal of Computer Information Systems. Winter 1: 45-51

Liebowitz, J. 2003. A Knowledge Management Strategy for the Jason Organization: A Case Study, Journal of Computer Information Systems, 44:2, pp.1-5

Nelson, K. M. and J. G. Cooprider. 1996. The Contribution of Shared Knowledge to IS Group Performance, MIS Quarterly, 20:4, pp. 409-432.

Nunnally. 1967. Psychometric Methods. New York. McGraw-Hill.

O'Dell, C. and C. L. Grayson. 1998. If Only We Knew What We Know: The Transfer of Internal Knowledge and Best Practice. New York: Free.

Rappleye, W. C. 2000. Knowledge Management: A Force Whose Time Has Come, Conference Board Magazine, January, pp. 59-66.

Robertson, M., J. Swan, and S. Newell. 1996. The Role of Networks in the Diffusion of Technological Innovation, Journal of Management Studies, pp. 335-361.

Ruggles, R. 1998. The State of the Notion: Knowledge Management in Practice, California Management Review, 40:3, pp. 80-89.

Ryan, R. M. and J. P. Connell. 1989. Perceived Locus of Causality and Intemalization: Examining Reasons for Acting in Two Domains, Journal of Personality and  Social Psychology, 57:5, pp. 749-761.

Ryan Richard M., dan Edward L. Deci. 2000. Intrinsic and Extrinsic Motivation: Classics Definition and New Directions. Contemporary Educational Psychology 25: 54-67

Schwartz, B. 1990. The Creation and Destruction of Value, American Psychologist, 45:1, pp. 7-15.

Song, S. 2002. An Internet Knowledge Sharing System, Journal of Computer Information Systems, 42:3, pp. 25-30.

Szulanski, G. 1995. Unpacking Stickiness: An Empirical Investigation of the Barriers to Transfer Best Practice Inside the Firm, Academy of Management Journal, pp. 437-441.

Vallerand, R. J. and R. Bissonnette. 1992. Intrinsic, Extrinsic and Amotivational Styles as Predictors of Behavior: A Prospective Study, Journal of Personality, 60:3, pp. 599-620.

Zahra, S.A., dan George,G. 2002. Absorptive Capacity: A Review, Reconcep-tualization, and Extension, Academy of Management Review, pp. 185-203.

0 Response to "SKRIPSI EKONOMI PENGARUH EXTRINSIC MOTIVATION, ABSORPTIVE CAPACITY, DAN CHANNEL RICHNESS TERHADAP SIKAP INDIVIDU ATAS PERILAKU SHARING KNOWLEDGE "

Post a Comment

Agen Bola