Bola Tangkas

CONTOH MAKALAH SOSIOLOGI PENDIDIKAN TERBARU 2013



MAKALAH
SOSIOLOGI PENDIDIKAN

Abstrak
Teaching Sociology's emphasis on the scholarship of teaching and learning has moved the field well beyond simple description of teaching methods. There is no doubt that the journal is more scholarly than in the past. Still, we do not take advantage of our rich theoretical disciplinary work. There is much to learn sociologically about the classroom and other sites of interaction between teachers and students. Our classrooms are social sites and our analysis of them can be of help to scholars both inside and outside the discipline. In this article, we propose a sensitizing concept, the sociology of the college classroom - the application of sociological theory and/or concepts to understand social phenomena that take place at the level of the classroom and other sites of faculty-student interaction. We situate the sociology of the college classroom as a subset of the scholarship of teaching and learning and the sociology of higher education. Sociology of the college classroom can be a place not only where research meets teaching, but it can also be a site where sociological theory meets pedagogical praxis.

A.      Pendahuluan
Sosiologi pendidikan adalah cabang dari ilmu pengetahuan yang membahas prosess interaksi sosial anak mulai dari keluarga, masa sekolah sampai dewasa serta dengan kondisi-kondisi sosiol culturil yang teradapat dalam lingkungannya atau masyarakat dimana ia tinggal atau dibesarkan.
    Untuk menciptakan hubungan yang baik dengan individu maupun terhadap masyarakat maka perlu menggunakan beberapa pendekatan, dengan pendekatan maka akan berinterksi dengan individu dan masyarakat berjalan dengan lancar dan mudah, oleh karena pentingnya pendekatan dalam Sosioli pendidikan maka makalah ini mengambil judul "Ragam Pendekatan Sosial", di dalam makalah ini banyak kekurangan oleh sebab itu kami mengharapkan kritik, saran, maupun tambahan guna kesempurnaan makalah ini.

B.       Sejarah Sosiologi Pendidikan

Sosiologi modern tumbuh pesat di benua Amerika, tepatnya di Amerika Serikat dan Kanada. Mengapa bukan di Eropa? (yang notabene merupakan tempat dimana sosiologi muncul pertama kalinya). Pada permulaan abad ke-20, gelombang besar imigran berdatangan ke Amerika Utara. Gejala itu berakibat pesatnya pertumbuhan penduduk, munculnya kota-kota industri baru, bertambahnya kriminalitas dan lain lain. Konsekuensi gejolak sosial itu, perubahan besar masyarakat pun tak terelakkan. Perubahan masyarakat itu menggugah para ilmuwan sosial untuk berpikir keras, untuk sampai pada kesadaran bahwa pendekatan sosiologi lama ala Eropa tidak relevan lagi.
Mereka berupaya menemukan pendekatan baru yang sesuai dengan kondisi masyarakat pada saat itu. Maka lahirlah sosiologi modern. Berkebalikan dengan pendapat sebelumnya, pendekatan sosiologi modern cenderung mikro (lebih sering disebut pendekatan empiris). Artinya, perubahan masyarakat dapat dipelajari mulai dari fakta sosial demi fakta sosial yang muncul. Berdasarkan fakta sosial itu dapat ditarik kesimpulan perubahan masyarakat secara menyeluruh. Sejak saat itulah disadari betapa pentingnya penelitian (research) dalam sosioloogi.
Lester Frank Woed (1841-191) salah seorang pelopor sisiologi di Amerika diangap sebagai pencetus gagasan lahirnya sosiologi pendidikan di Amerika. Gagasan tersebut muncul dalam bukunya berjudul Applied Sociology (sosiologi terapan) yang mengkaji perubahan-perubahan masyarakat karena usaha manusia. Kemudian dikembangkan oleh John Dewey (1859-1952) yang dikenal sebagai bapak pendidikan dan sebagai pelopor berdirinya sosiologe pendidikan.
Di perguruan tinggi mulai ada mata kuliah tentang sosiologi pendidikan. Kemudian diterbitkan sebuah buku petama tentang sosiologi pendidikan oleh Walter R Smith dengan judul Introduction to Educational Sociology (Tjipto Subandi 2009: 66). Tahun 1928 terbit The Jurnal of Educiation Sociology  sebagai wahana pemikiran sosiologi pendidikan pimpinan E. George Payne.
Minat Durkheim dalam fenomena sosial juga didorong oleh politik. Kekalahan Prancis dalam Perang Prancis-Prusia telah memberikan pukulan terhadap pemerintahan republikan yang sekular. Banyak orang menganggap pendekatan Katolik, dan sangat nasionalistik sebagai jalan satu-satunya untuk menghidupkan kembali kekuasaan Prancis yang memudar di daratan Eropa. Durkheim, seorang Yahudi dan sosialis, berada dalam posisi minoritas secara politik, suatu situasi yang membakarnya secara politik. Peristiwa Dreyfus pada 1894 hanya memperkuat sikapnya sebagai seorang aktivis.
Seseorang yang berpandangan seperti Durkheim tidak mungkin memperoleh pengangkatan akademik yang penting di Paris, dan karena itu setelah belajar sosiologi selama setahun diJerman, ia pergi ke Bordeaux pada 1887, yang saat itu baru saja membuka pusat pendidikan guru yang pertama di Prancis. Di sana ia mengajar pedagogi dan ilmu-ilmu sosial (suatu posisi baru di Prancis). Dari posisi ini Durkheim memperbarui sistem sekolah Prancis dan memperkenalkan studi ilmu-ilmu sosial dalam kurikulumnya. Kembali, kecenderungannya untuk mereduksi moralitas dan agama ke dalam fakta sosial semata-mata membuat ia banyak dikritik.
Tahun 1890-an adalah masa kreatif Durkheim. Pada 1893 ia menerbitkan “Pembagian Kerja dalam Masyarakat”, pernyataan dasariahnya tentang hakikat masyarakat manusia dan perkembangannya. Pada 1895 ia menerbitkan “Aturan-aturan Metode Sosiologis”, sebuah manifesto yang menyatakan apakah sosiologi itu dan bagaimana ia harus dilakukan. Ia pun mendirikan Jurusan Sosiologi pertama di Eropa di Universitas Bourdeaux. Pada 1896 ia menerbitkan jurnal L'Année Sociologique untuk menerbitkan dan mempublikasikan tulisan-tulisan dari kelompok yang kian bertambah dari mahasiswa dan rekan (ini adalah sebutan yang digunakan untuk kelompok mahasiswa yang mengembangkan program sosiologinya). Dan akhirnya, pada 1897, ia menerbitkan “Bunuh Diri”, sebuah studi kasus yang memberikan contoh tentang bagaimana bentuk sebuah monograf sosiologi.
Pada 1902 Durkheim akhirnya mencapai tujuannya untuk memperoleh kedudukan terhormat di Paris ketika ia menjadi profesor di Sorbonne. Karena universitas-universitas Prancissecara teknis adalah lembaga-lembaga untuk mendidik guru-guru untuk sekolah menengah, posisi ini memberikan Durkheim pengaruh yang cukup besar – kuliah-kuliahnya wajib diambil oleh seluruh mahasiswa. Apapun pendapat orang, pada masa setelah Peristiwa Dreyfus, untuk mendapatkan pengangkatan politik, Durkheim memperkuat kekuasaan kelembagaannya pada 1912 ketika ia secara permanen diberikan kursi dan mengubah namanya menjadi kursi pendidikan dan sosiologi. Pada tahun itu pula ia menerbitkan karya besarnya yang terakhir “Bentuk-bentuk Elementer dari Kehidupan Keagamaan”.
Perang Dunia I mengakibatkan pengaruh yang tragis terhadap hidup Durkheim. Pandangan kiri Durkheim selalu patriotik dan bukan internasionalis – ia mengusahakan bentuk kehidupan Prancis yang sekular, rasional. Tetapi datangnya perang dan propaganda nasionalis yang tidak terhindari yang muncul sesudah itu membuatnya sulit untuk mempertahankan posisinya. Sementara Durkheim giat mendukung negaranya dalam perang, rasa enggannya untuk tunduk kepada semangat nasionalis yang sederhana (ditambah dengan latar belakang Yahudinya) membuat ia sasaran yang wajar dari golongan kanan Prancis yang kini berkembang. Yang lebih parah lagi, generasi mahasiswa yang telah dididik Durkheim kini dikenai wajib militer, dan banyak dari mereka yang tewas ketika Prancis bertahan mati-matian. Akhirnya, René, anak laki-laki Durkheim sendiri tewas dalam perang – sebuah pukulan mental yang tidak pernah teratasi oleh Durkheim. Selain sangat terpukul emosinya, Durkheim juga terlalu lelah bekerja, sehingga akhirnya ia terkena serangan lumpuh dan meninggal pada1917.
Dari uraian di atas Durkhein termasuk salah satu pelopor pencetus sosiologi pendidikan di wilayah Eropa. Banyak faham-faham yang bepijak dari ilmu sosial yang mewarnai disiplin ilmu pada waktu itu. Ilmu sosial digunakan oleh institusi untuk mengembangkan kurikulum pendidikan artinya ilmu sosial sudah mulai digunakan dalam dunia pendidikan.

C.      Peletak Dasar Sosiologi
1.        Ibnu Khaldum
Jika kita berbicara tentang seorang cendekiawan yang satu ini, memang cukup unik dan mengagumkan. Sebenarnya, dialah yang patut dikatakan sebagai pendiri ilmu sosial. Ia lahir dan wafat di saat bulan suci Ramadan. Nama lengkapnya adalah Waliuddin Abdurrahman bin Muhammad bin Muhammad bin Abi Bakar Muhammad bin al-Hasan yang kemudian masyhur dengan sebutan Ibnu Khaldun. Pemikiran-pemikirannya yang cemerlang mampu memberikan pengaruh besar bagi cendekiawan-cendekiawan Barat dan Timur, baik Muslim maupun non-Muslim. Dalam perjalanan hidupnya, Ibnu Khaldun dipenuhi dengan berbagai peristiwa, pengembaraan, dan perubahan dengan sejumlah tugas besar serta jabatan politis, ilmiah dan peradilan. Perlawatannya antara Maghrib dan Andalusia, kemudian antara Maghrib dan negara-negara Timur memberikan hikmah yang cukup besar. Ia adalah keturunan dari sahabat Rasulullah saw. bernamaWail bin Hujr dari kabilah Kindah.
Lelaki yang lahir di Tunisia pada 1 Ramadan 732 H./27 Mei 1332 M. adalah dikenal sebagai sejarawan dan bapak sosiologi Islam yang hafal Alquran sejak usia dini. Sebagai ahli politik Islam, ia pun dikenal sebagai bapak Ekonomi Islam, karena pemikiran-pemikirannya tentang teori ekonomi yang logis dan realistis jauh telah dikemukakannya sebelum Adam Smith (1723-1790) dan David Ricardo (1772-1823) mengemukakan teori-teori ekonominya. Bahkan ketika memasuki usia remaja, tulisan-tulisannya sudah menyebar ke mana-mana. Tulisan-tulisan dan pemikiran Ibnu Khaldun terlahir karena studinya yang sangat dalam, pengamatan terhadap berbagai masyarakat yang dikenalnya dengan ilmu dan pengetahuan yang luas, serta ia hidup di tengah-tengah mereka dalam pengembaraannya yang luas pula.
Selain itu dalam tugas-tugas yang diembannya penuh dengan berbagai peristiwa, baik suka dan duka. Ia pun pernah menduduki jabatan penting di Fes,Granada, dan Afrika Utara serta pernah menjadi guru besar di Universitas al-Azhar, Kairo yang dibangun oleh dinasti Fathimiyyah. Dari sinilah ia melahirkan karya-karya yang monumental hingga saat ini.
nama dan karyanya harum dan dikenal di berbagai penjuru dunia. Panjang sekali jika kita berbicara tentang biografi Ibnu Khaldun, namun ada tiga periode yang bisa kita ingat kembali dalam perjalan hidup beliau. Periode pertama, masa dimana Ibnu Khaldun menuntut berbagai bidang ilmu pengetahuan. Yakni, ia belajar Alquran, tafsir, hadis, usul fikih, tauhid, fikih madzhab Maliki, ilmu nahwu dan sharaf, ilmu balaghah, fisika dan matematika.
Dalam semua bidang studinya mendapatkan nilai yang sangat memuaskan dari para gurunya. Namun studinya terhenti karena penyakit pes telah melanda selatan Afrika pada tahun 749 H. yang merenggut ribuan nyawa. Ayahnya dan sebagian besar gurunya meninggal dunia. Ia pun berhijrah ke Maroko selanjutnya ke Mesir; Periode kedua, ia terjun dalam dunia politik dan sempat menjabat berbagai posisi penting kenegaraan seperti qadhi al-qudhat (Hakim Tertinggi). Namun, akibat fitnah dari lawan-lawan politiknya, Ibnu Khaldun sempat juga dijebloskan ke dalam penjara. Setelah keluar dari penjara, dimulailah periode ketiga kehidupan Ibnu Khaldun, yaitu berkonsentrasi pada bidang penelitian dan penulisan, ia pun melengkapi dan merevisi catatan-catatannya yang telah lama dibuatnya. Seperti kitab al-’ibar (tujuh jilid) yang telah ia revisi dan ditambahnya bab-bab baru di dalamnya, nama kitab ini pun menjadi Kitab al-’Ibar wa Diwanul Mubtada’ awil Khabar fi Ayyamil ‘Arab wal ‘Ajam wal Barbar wa Man ‘Asharahum min Dzawis Sulthan al-Akbar.
Kitab al-i’bar ini pernah diterjemahkan dan diterbitkan oleh De Slane pada tahun 1863, dengan judul Les Prolegomenes d’Ibn Khaldoun. Namun pengaruhnya baru terlihat setelah 27 tahun kemudian. Tepatnya pada tahun 1890, yakni saat pendapat-pendapat Ibnu Khaldun dikaji dan diadaptasi oleh sosiolog-sosiolog German dan Austria yang memberikan pencerahan bagi para sosiolog modern. Karya-karya lain Ibnu Khaldun yang bernilai sangat tinggi diantaranya, at-Ta’riif bi Ibn Khaldun (sebuah kitab autobiografi, catatan dari kitab sejarahnya); Muqaddimah (pendahuluan atas kitabu al-’ibar yang bercorak sosiologis-historis, dan filosofis); Lubab al-Muhassal fi Ushul ad-Diin (sebuah kitab tentang permasalahan dan pendapat-pendapat teologi, yang merupakan ringkasan dari kitab Muhassal Afkaar al-Mutaqaddimiin wa al-Muta’akh-khiriin karya Imam Fakhruddin ar-Razi).
DR. Bryan S. Turner, guru besar sosiologi di Universitas of Aberdeen, Scotland dalam artikelnya “The Islamic Review & Arabic Affairs” di tahun 1970-an mengomentari tentang karya-karya Ibnu Khaldun. Ia menyatakan, “Tulisan-tulisan sosial dan sejarah dari Ibnu Khaldun hanya satu-satunya dari tradisi intelektual yang diterima dan diakui di dunia Barat, terutama ahli-ahli sosiologi dalam bahasa Inggris (yang menulis karya-karyanya dalam bahasa Inggris).” Salah satu tulisan yang sangat menonjol dan populer adalah muqaddimah (pendahuluan) yang merupakan buku terpenting tentang ilmu sosial dan masih terus dikaji hingga saat ini. Bahkan buku ini telah diterjemahkan dalam berbagai bahasa. Di sini Ibnu Khaldun menganalisis apa yang disebut dengan ‘gejala-gejala sosial’ dengan metoda-metodanya yang masuk akal yang dapat kita lihat bahwa ia menguasai dan memahami akan gejala-gejala sosial tersebut. Pada bab ke dua dan ke tiga, ia berbicara tentang gejala-gejala yang membedakan antara masyarakat primitif dengan masyarakat moderen dan bagaimana sistem pemerintahan dan urusan politik di masyarakat.
Bab ke dua dan ke empat berbicara tentang gejala-gejala yang berkaitan dengan cara berkumpulnya manusia serta menerangkan pengaruh faktor-faktor dan lingkungan geografis terhadap gejala-gejala ini. Bab ke empat dan kelima, menerangkan tentang ekonomi dalam individu, bermasyarakat maupun negara. Sedangkan bab ke enam berbicara tentang paedagogik, ilmu dan pengetahuan serta alat-alatnya. Sungguh mengagumkan sekali sebuah karya di abad ke-14 dengan lengkap menerangkan hal ihwal sosiologi, sejarah, ekonomi, ilmu dan pengetahuan. Ia telah menjelaskan terbentuk dan lenyapnya negara-negara dengan teori sejarah.
Ibnu Khaldun sangat meyakini sekali, bahwa pada dasarnya negera-negara berdiri bergantung pada generasi pertama (pendiri negara) yang memiliki tekad dan kekuatan untuk mendirikan negara. Lalu, disusul oleh generasi ke dua yang menikmati kestabilan dan kemakmuran yang ditinggalkan generasi pertama. Kemudian, akan datang generasi ke tiga yang tumbuh menuju ketenangan, kesenangan, dan terbujuk oleh materi sehingga sedikit demi sedikit bangunan-bangunan spiritual melemah dan negara itu pun hancur, baik akibat kelemahan internal maupun karena serangan musuh-musuh yang kuat dari luar yang selalu mengawasi kelemahannya.
Ada beberapa catatan penting dari sini yang dapat kita ambil bahan pelajaran. Bahwa Ibnu Khaldun menjunjung tinggi ilmu pengetahuan dan tidak meremehkan akan sebuah sejarah. Ia adalah seorang peneliti yang tak kenal lelah dengan dasar ilmu dan pengetahuan yang luas. Ia selalu memperhatikan akan komunitas-komunitas masyarakat. Selain seorang pejabat penting, ia pun seorang penulis yang produktif. Ia menghargai akan tulisan-tulisannya yang telah ia buat. Bahkan ketidaksempurnaan dalam tulisannya ia lengkapi dan perbaharui dengan memerlukan waktu dan kesabaran. Sehingga karyanya benar-benar berkualitas, yang di adaptasi oleh situasi dan kondisi.
Karena pemikiran-pemikirannya yang briliyan Ibnu Khaldun dipandang sebagai peletak dasar ilmu-ilmu sosial dan politik Islam. Dasar pendidikan Alquran yang diterapkan oleh ayahnya menjadikan Ibnu Khaldun mengerti tentang Islam, dan giat mencari ilmu selain ilmu-ilmu keislaman. Sebagai Muslim dan hafidz Alquran, ia menjunjung tinggi akan kehebatan Alquran. Sebagaimana dikatakan olehnya, “Ketahuilah bahwa pendidikan Alquran termasuk syiar agama yang diterima oleh umat Islam di seluruh dunia Islam. Oleh kerena itu pendidikan Alquran dapat meresap ke dalam hati dan memperkuat iman. Dan pengajaran Alquran pun patut diutamakan sebelum mengembangkan ilmu-ilmu yang lain.” Jadi, nilai-nilai spiritual sangat di utamakan sekali dalam kajiannya, disamping mengkaji ilmu-ilmu lainnya. Kehancuran suatu negara, masyarakat, atau pun secara individu dapat disebabkan oleh lemahnya nilai-nilai spritual. Pendidikan agama sangatlah penting sekali sebagai dasar untuk menjadikan insan yang beriman dan bertakwa untuk kemaslahatan umat. Itulah kunci keberhasilan Ibnu Khaldun, ia wafat di Kairo Mesir pada saat bulan suci Ramadan tepatnya pada tanggal 25 Ramadan 808 H./19 Maret 1406 M.
2.        Auguste Comte
Augusute Comte adalah orang yang pertama kali menggunakan istilah sosiologi dan orang yang pertama kali pula memberikan suatu pemikiran filsafat yang membantu perkembangan sosiologi. Auguste Comte dikenal sebagai ilmuwan yang memiliki sifat pemarah dan arogan, yang sering terlibat pertengkaran dengan guru-gurunya, termasuk Saint-Simon. Karena sifat kerasnya ini, Comte mengalami kegilaan terlebih dahulu sebelum akhirnya dianggap sebagai salah satu ahli ilmu sosial yang penting.
               Ilmuwan yang mempengaruhi pemikiran Comte antara lain adalah Hobbes,Kant, dan Saint-Simon. Paham-paham yang dikonsep oleh Comte bertolak kepada dasar-dasar pemikiran yang sudah terlebih dahulu dikonsep oleh ilmuwan-ilmuwan tersebut. Seperti misalnya, teori kapitalisme klasik yang digagas oleh Kant, berbicara tentang kebebasan individu yang pemikirannya dipengaruhi oleh pengalaman. Atau teori individualisasi oleh Saint-Simon yang mengatakan bahwa kehidupan manusia sangat dipengaruhi oleh situasi dan kondisi individu-individu tersebut.
               Comte mempunyai keyakinan bahwa untuk bisa menemukan pemikiran yang baru, kita harus bisa keluar dari pemikiran-pemikiran sebelumnya. Dengan kata lain, kita harus objektif terhadap paham yang kita konsep tersebut. Oleh karena itu, Comte kemudian mengatakah bahwa tinggalkan filsafat dan lakukan penelitian empiris yang berdasarkan fakta dan kenyataan yang ada. Penelitian yang terjun langsung ke dalam masyarakat (empirical approach to society). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengamati struktur dan fungsi yang ada untuk memberikan ramalan atau prediksi di masa depan (observe structure and function to predict future events). Meskipun Comte menganggap sturuktur dan fungsi tidak stabil, tetapi dia berpendapat individualisme seseorang terhadap intervensi ke struktur dan fungsi tersebut tidak boleh berlebihan. Comte mengkritik keras paham individualisme pencerahan yang berusaha mendobrak teokrasi dan otokrasi (critical of enlightenment individualism).
               Pemikiran Comte juga dipengaruhi oleh Montesquieu, tentang pembagian kekuasaan dan hukum masyarakat (laws of society). Penggunaan metode ilmiah dan sains dalam ilmu sosial yang digagas oleh Comte dipengaruhi oleh Condorcet tentang suatu kemajuan melalui sains. Dalam hal ini, metode ilmiah yang dilakukan dalam sain (science) juga harus diterapkan dalam ilmu-ilmu sosial untuk memahami laws of societytersebut, dan untuk memberikan gambaran masa depan tentang kehidupan masyarakat serta mengarahakan masyarakat tersebut (apply science to directing society).
               Ciri dan karakter sosioolgi Comte adalah sosiologi pendidikan karena fokusnya adalah bagaimana mengubah sesuatu menjadi lebih baik. Konsep dan kontribusi Comte terhadap ilmu pengetahuan sosial ini antara lain adalah menciptakan istilah sosiologi dan menekankan “the social physics of society” (apa yang ada di dalam fisik itu yang bermaknda sosial). Comte juga menolak paham metaphysics dan theology. Dalam mencapai kemajuan masyarakat, ilmu pengetahuan harus dilibatkan. Comte juga berpegang teguh pada positivism, yaitu studi masyarakat dengan cara-cara yang sama dengan ilmu pengetahuan alam (natural law dan objective observation).
            Comte melihat satu hukum universal dalam semua ilmu pengetahuan yang kemudian ia sebut sebagai ‘hukum tiga fase’
Law of three stages (hukum tiga fase)
·         Theological             : Rule by religion
·         Metaphysical          :  Rule by mystic
·         Positive                  :  reason, observation, natural laws of society that can predict future events.
 Ilmu yang dikaji oleh Comte terklasifikasi menjadi dua bagian, yaitu social static dansocial dynamics.
·         social static adalah sebuah ilmu yang mempelajari hubungan timbale balik antara lembaga-lembaga kemasyarakatan
·         social dynamic adalah ilmu yang meneropong bagaimana lembaga-lembaga tersebut berkembang dan mengalami perkmebangan sepanjang masa.
 Religion of humanity
·         agama menyumbang kea rah stabilitas sosial
·         kebutuhan untuk meninggalkan theocracy
·         positive religion : humanistic approach, yaitu agama yang dapat menyelesaikan permasalahan kemanusiaan dan mengangkat harkat dan martabat manusia
·          the “new clergy” adalah sosiolog.

3.        Emile Durkhein
Perhatian Durkheim yang utama adalah bagaimana masyarakat dapat mempertahankan integritas dan koherensinya di masa modern, ketika hal-hal seperti latar belakang keagamaan dan etnik bersama tidak ada lagi. Untuk mempelajari kehidupan sosial di kalangan masyarakat modern, Durkheim berusaha menciptakan salah satu pendekatan ilmiah pertama terhadap fenomena sosial. Bersama Herbert Spencer Durkheim adalah salah satu orang pertama yang menjelaskan keberadaan dan sifat berbagai bagian dari masyarakat dengan mengacu kepada fungsi yang mereka lakukan dalam mempertahankan kesehatan dan keseimbangan masyarakat – suatu posisi yang kelak dikenal sebagai fungsionalisme.
Durkheim juga menekankan bahwa masyarakat lebih daripada sekadar jumlah dari seluruh bagiannya. Jadi berbeda dengan rekan sezamannya, Max Weber, ia memusatkan perhatian bukan kepada apa yang memotivasi tindakan-tindakan dari setiap pribadi (individualisme metodologis), melainkan lebih kepada penelitian terhadap "fakta-fakta sosial", istilah yang diciptakannya untuk menggambarkan fenomena yang ada dengan sendirinya dan yang tidak terikat kepada tindakan individu. Ia berpendapat bahwa fakta sosial mempunyai keberadaan yang independen yang lebih besar dan lebih objektif daripada tindakan-tindakan individu yang membentuk masyarakat dan hanya dapat dijelaskan melalui fakta-fakta sosial lainnya daripada, misalnya, melalui adaptasi masyarakat terhadap iklim atau situasi ekologis tertentu.
Dalam bukunya “Pembagian Kerja dalam Masyarakat” (1893), Durkheim meneliti bagaimana tatanan sosial dipertahankan dalam berbagai bentuk masyarakat. Ia memusatkan perhatian pada pembagian kerja, dan meneliti bagaimana hal itu berbeda dalam masyarakat tradisional dan masyarakat modern[1]. Para penulis sebelum dia seperti Herbert Spencer danFerdinand Toennies berpendapat bahwa masyarakat berevolusi mirip dengan organisme hidup, bergerak dari sebuah keadaan yang sederhana kepada yang lebih kompleks yang mirip dengan cara kerja mesin-mesin yang rumit. Durkheim membalikkan rumusan ini, sambil menambahkan teorinya kepada kumpulan teori yang terus berkembang mengenai kemajuan sosial, evolusionisme sosial, dan darwinisme sosial. Ia berpendapat bahwa masyarakat-masyarakat tradisional bersifat ‘mekanis’ dan dipersatukan oleh kenyataan bahwa setiap orang lebih kurang sama, dan karenanya mempunyai banyak kesamaan di antara sesamanya. Dalam masyarakat tradisional, kata Durkheim, kesadaran kolektif sepenuhnya mencakup kesadaran individual – norma-norma sosial kuat dan perilaku sosial diatur dengan rapi.
Dalam masyarakat modern, demikian pendapatnya, pembagian kerja yang sangat kompleks menghasilkan solidaritas 'organik'. Spesialisasi yang berbeda-beda dalam bidang pekerjaan dan peranan sosial menciptakan ketergantungan yang mengikat orang kepada sesamanya, karena mereka tidak lagi dapat memenuhi seluruh kebutuhan mereka sendiri. Dalam masyarakat yang ‘mekanis’, misalnya, para petani gurem hidup dalam masyarakat yang swa-sembada dan terjalin bersama oleh warisan bersama dan pekerjaan yang sama. Dalam masyarakat modern yang 'organik', para pekerja memperoleh gaji dan harus mengandalkan orang lain yang mengkhususkan diri dalam produk-produk tertentu (bahan makanan, pakaian, dll) untuk memenuhi kebutuhan mereka. Akibat dari pembagian kerja yang semakin rumit ini, demikian Durkheim, ialah bahwa kesadaran individual berkembang dalam cara yang berbeda dari kesadaran kolektif – seringkali malah berbenturan dengan kesadaran kolektif.
Durkheim menghubungkan jenis solidaritas pada suatu masyarakat tertentu dengan dominasi dari suatu sistem hukum. Ia menemukan bahwa masyarakat yang memiliki solidaritas mekanis hokum seringkali bersifat represif: pelaku suatu kejahatan atau perilaku menyimpang akan terkena hukuman, dan hal itu akan membalas kesadaran kolektif yang dilanggar oleh kejahatan itu; hukuman itu bertindak lebih untuk mempertahankan keutuhan kesadaran. Sebaliknya, dalam masyarakat yang memiliki solidaritas organic, hukum bersifat restitutif: ia bertujuan bukan untuk menghukum melainkan untuk memulihkan aktivitas normal dari suatu masyarakat yang kompleks.
Jadi, perubahan masyarakat yang cepat karena semakin meningkatnya pembagian kerja menghasilkan suatu kebingungan tentang norma dan semakin meningkatnya sifat yang tidak pribadi dalam kehidupan sosial, yang akhirnya mengakibatkan runtuhnya norma-norma sosial yang mengatur perilaku. Durkheim menamai keadaan ini anomie. Dari keadaan anomie muncullah segala bentuk perilaku menyimpang, dan yang paling menonjol adalah bunuh diri.
Durkheim belakangan mengembangkan konsep tentang anomie dalam "Bunuh Diri", yang diterbitkannya pada 1897. Dalam bukunya ini, ia meneliti berbagai tingkat bunuh diri di antara orang-orang Protestan dan Katolik, dan menjelaskan bahwa kontrol sosial yang lebih tinggi di antara orang Katolik menghasilkan tingkat bunuh diri yang lebih rendah. Menurut Durkheim, orang mempunyai suatu tingkat keterikatan tertentu terhadap kelompok-kelompok mereka, yang disebutnya integrasi sosial. Tingkat integrasi sosial yang secara abnormal tinggi atau rendah dapat menghasilkan bertambahnya tingkat bunuh diri: tingkat yang rendah menghasilkan hal ini karena rendahnya integrasi sosial menghasilkan masyarakat yang tidak terorganisasi, menyebabkan orang melakukan bunuh diri sebagai upaya terakhir, sementara tingkat yang tinggi menyebabkan orang bunuh diri agar mereka tidak menjadi beban bagi masyarakat. Menurut Durkheim, masyarakat Katolik mempunyai tingkat integrasi yang normal, sementara masyarakat Protestan mempunyai tingat yang rendah. Karya ini telah memengaruhi para penganjur teori kontrol, dan seringkali disebut sebagai studi sosiologis yang klasik.
Akhirnya, Durkheim diingat orang karena karyanya tentang masyarakat 'primitif' (artinya, non Barat) dalam buku-bukunya seperti "Bentuk-bentuk Elementer dari Kehidupan Agama" (1912) dan esainya "Klasifikasi Primitif" yang ditulisnya bersama Marcel Mauss. Kedua karya ini meneliti peranan yang dimainkan oleh agama dan mitologi dalam membentuk pandangan dunia dan kepribadian manusia dalam masyarakat-masyarakat yang sangat 'mekanis' (meminjam ungkapan Durkheim)

D.      Teori Sosiologi Makro
1.      Teori Struktural Fungsional
      Perspektif teori ini memiliki akar pemikiran dari Bapak Sosiologi Auguste Comte, tradisinya bisa dilihat lewat karya Herbert Spencer, dan Emile Durkheim. Sedangkan Malinowski dan Radcliffe Brown sebagai antroplog, sangat dipengaruhi teori Durkheim. Mereka kemudian mempengaruhi Sosiolog Amerika Talcott Parsons, yang kemudian memperkenalkannya kepada Robert K Merton. Perpsektif teori struktual fungsional dipandang sebagai perspektif teori yang sangat dominan dalam perkembangan sosiologi dewasa ini. Seringkali, perspektif ini disamakan/dikenal dengan teori sistem, teori equilibrium, teori consensus/terori regulasi.
             Teori Struktual fungsional muncul dilatar-belakangi semangat Renaissance, pada masa Auguste Comte abad ke-17. Pada masa itu muncul kesadaran yang semula beranggapan manusia tidak punya otoritas untuk menjelaskan dan mengelola fenomena yang terjadi dalam masyarakat, semua sudah ditentukan oleh yang “di atas“ bukan selama-lamanya, artinya ada “celah“ yang diberikan oleh yang “di atas” kepada manusia untuk mengelolanya. Pencerahan  pada abad ke 17 ini, manusia bebas mencari dan menemukan “kebenaran” yang mendorong lahirnya ilmu pengetahuan (positivistic) dan teknologi, perkembangan ini membawa perubahan yang besar pada tatanan kehidupan di Eropa, khususnya Perancis.
             Renaissance memunculkan revolusi politik dan perubahan Tatanan Nilai. Menghadapi situsai tersebut mendorong agar pendidikan bisa melahirkan ilmuan social yang sanggup membangun landasan baru dengan lebih berkonsentrasi untuk menciptakan tertib social, harmoni dan keseimbangan. Dengan demikian teori struktual fungsional mewarnai munculnya revolusi pengetahuan, terutama filsafat positivism yang melahirkan ilmu alam, oleh karena itu dalam perkembangannya, teori ini lebih mengambil inspirasi dari teori sistem organis.
             Sistem organik ini menggambarkan masyarakat atau masyarakat diasumsikan seperti sistem tubuh manusia, sistem tubuh manusia ini terdiri dari sub-sub sistem tersebut masing-masing mempunyai fungsi dan peran sendiri-sendiri, begitu juga halnya dengan masyarakat, masyarakat yang terdiri dari individu-individu membentuk simtem social yang tidak bisa terpisahkan, masing-masing sub-sistem mempunyai fungsi dan peran sendiri-sendiri.
             Studi tentang struktur dan fungsi merupakan masalah sosiologis yang telah menyita perhatian para pelopor ilmu Sosiologi. Menurut Auguste Comte, sosiologi adalah mempelajari tentang statika sosial ( struktur ) dan dinamika sosial ( proses/fungsi ), ia mengemukakan landsan pemikiran bahwa “masyarakat adalah laksana organism hidup”. Herbert Spencer, Sosiologi Inggris pada pertengahan abad ke-19, membahas tentang masyarakat sebagai suatu organism hidup, dapat diringkas dalam butir-butir sebagai berikut :
1)        Masyarakat maupun organism hidup sama-sama mengalami pertumbuhan.
2)        Disebabkan oleh pertambahan dalam ukurannya , maka srtuktur tubuh sosial ( social body ) maupun tubuh organism hidup ( living body ) itu mengalami pertambahan pula; dimana semakin besar suatu struktur sosial maka semakin banyak pula bagian-bagiannya, seperti halnya dengan sistem biologis yang menjadi semakin kompleks sementara ia tumbuh menjadi semakin besar. Binatang yang lebih kecli, misalnya cacing tanah, hanya sedikit memiliki bagian-bagian yang dapat dibedakan bila disbanding dengan makhluk yang lebih sempurna, misalnya manusia.
3)        Tiap bagian yang tumbuh di dalam tubuh organisme biologis maupun organisme sosial memiliki fungsi dan tujuan tertentu : “mereka tumbuh menjadi organ yang berbeda dengan tugas yang berbeda pula”. Pada manusia, hati memiliki struktur dan struktur  dan fungsi yang berbeda dengan paru-paru; demikian begitu juga dengan keluarga sebagian struktur institusional memiliki tujuan yang berbeda dengan sistem politik atau ekonomi.
4)        Baik di dalam sistem organism maupun sistem sosial, perubahan pada suatu bagian akan mengakibatkan perubahan pada bagian lain dan pada akhirnya di dalam sistem secara keseluruhan.  Perubahan sistem politik dari suatu sistem pemerintahan demokratis ke suatu pemerintahan totaliter akan mempengaruhi keluarga, pendidikan, agama dan sebagainya. Bagian-bagian itu saling berkaitan satu sama lainnya.
5)        Bagian-bagian tersebut, walau saling berkaitan merupakan suatu struktur mikro yang dapat dipelajari secara terpisah. Demikian  maka sistem peredaran atau sistem pembuangan merupakan pusat perhatian para spesialis biologi dan medis, seperti halnya system politik atau sistem ekonomi merupakan sasaran pengkajian para ahli politik dan ekonomi. ( Margaret M. Poloma, 1992: 24-25)
     Konsep yang penting dalam perspektif ini adalah struktur dan fungsi, yang menunjuk pada dua atau lebih bagian atau komponen yang berbeda dan terpisah tetapi berhubungan satu sama lain. Struktur seringkali dianalogikan dengan  organ atau bagian-bagian anggota badan manusia, sedangkan fungsi menunjuk bagaimana bagian-bagian ini berhubungan dengan bergerak. Misalnya perut adalah struktur, sedangkan pencernaan adalah fungsi. Contoh lain, organisasi angkatan bersenjata adalah struktur, sedangkan menjaga negara dari serangan adalah fungsi. Struktur atas beberapa bagian yang saling berhubungan dan saling bergantung satu sama lain.
     Struktur sosial terdiri dari berbagai komponen dari masyarakat, seperti kelompok-kelompok, keluarga-keluarga, masyarakat setempat/lokal dan sebagainya. Kunci untuk memahami konsep struktur adalah konsep status ( posisi yang ditentukan secara sosial, yang di peroleh baik dari karena kelahiran ( ascribed status ) maupun karena usaha ( achieved status ) sesorang dalam masyarakat. Jaringan dari status sosial dalam masyarakat meruapak sistem sosial, misalnya jaringan status ayah-ibu-anak menghasilkan keluarga sebagai sistem sosial, jaringan pelajar-guru-kepala sekolah-pegawai-tata usaha, menghasilkan sekolah sebagai sistem sosial, dan sebagainya. Setiap status memiliki aspek dinamis yang disebut dengan peran ( role ) tertentu, misalnya seorang yang berstatus ayah memiliki peran yang berbeda dengan seseorang yang berstatus anak.
     Sistem sosial mengembangkan suatu fungsi tertentu yang denga fungsi itu memungkinkan masyarakat dan bagi orang-orang yang menjadi anggota masyarakat untuk eksis. Masing-masing menjalankan suatu fungsi yang berguna untuk memelihara dan menstabilkan masyarakat sebagai suatu sistem sosial. Misalnya lembaga pendidikan berfungsi mengajarkan pengetahuan atau ketrampilan, lembaga agama berfungsi memenuhi kebutuhan rohaniah, keluarga berfungsi untuk sosialisasi anak dan sebagainya. Para penganut struktual fungsional mengasumsikan bahwa sistem senantiasa cenderung dalam keadaan keseimbangan atau equilibrium. Suatu sistem yang gagal dari salah bagian dari sistem itu mempengaruhi dan membawa akibat bagi bagian-bagian lain yang saling berhubungan satu sama lain.
     Setiap sistem sosial pada dasarnya memiliki dua fungsi utama yaitu : (1) apa yang dapat dilakukan oleh sistem itu dan (2) konsekuensi-konsekuensi yang berkaitan dengan apa yang dapat dilakukan oleh sistem itu ( fungsi lanjutan ). Misalnya mata, fungsinya adalah melihat sesuatu dalam lingkungan. Fungsi lanjutan dari mata adalah melihat dengan mata, orang dapat belajar, bekerja dan juga dapat melihat datangnya bahaya. Dalam masyarakat, lembaga pemerintahan memiliki fungsi utama mengakkan peraturan, sedangkan fungsi lanjutan adalah menggerakkan roda perekonomian, menarik pajak, menyediakan berbagai fasilitas sosial dan sebagainya.
     Menurut pandangan Robert Merton salah satu tokoh perspektif ini, suatu sistem sosial dapat memiliki dua fungsi yaitu fungsi manifest, yaitu fungsi yang diharapkan dan diakui, serta fungsi laten, yaitu yang tidak diharapkan dan tidak diakui. Lembaga pendidikan sekolah taman kanak-kanak misalnya memilki fungsi manifest untuk memberikan dasar-dasar pendidikan bagi anak sebelum ke jenjang sekolah dasar. Fungsi latennya, member pekerjaan bagi guru TK membantu orang tua mengasuh anak selagi orang tuanya bekerja dan sebagainya.
     Dalam pandangan Robert Merton, tidak semua hal dalam sistem selalu fungsional, artinya tidak semua hal selalu memelihara kelangsungan sistem. Beberapa hal telah menyebabkan terjadinya ketidakstabilan  dalam sistem, bahkan dapat saja menyebabkan rusak sistem. Ini oleh Merton disebut dengan disfungdi. Misalnya tingkat interaksi yang tinggi, antara lain dalam bentuk kekerasan dan perlakuan kasar atau penyiksaan pada anak.
     Para penganut perspektif srtuktural fungsional ini berusaha untuk mengetahui bagian-bagian atau komponen-komponen dari suatu sistem dan berusaha memahami bagaimana bagian-bagian ini saling berhubungan satu sama lain suatu susunan dari bagian-bagian tersebut dengan  melihat fungsi manifest maupun fungsi latennya. Kemudian mereka melakukan analisis mengenai manakah yang justru menyebabkan kerusakan pada sistem. Dalam hal ini dapat saja suatu komponen menjadi fungsional bagi sistem yang lain. Misalnya ketaatan pada suatu agama merupakan sesuatu yang fungsional dalam pembinaan umat beragama, tetapi tidak fungsional bagi pengembangan persatuan berbagai etnik yang beragam agamanya.
Teori struktual fungsional lebih menekankan pada perspektif harmoni dan keseimbangan. Asumsi yang mendasarinya dapat dikemukakan sebagai berikut :
1)   Masyarakat harus dilihat sebagai suatu sistem yang kompleks, terdiri dari bagian-bagian yang saling berhubungan dan saling tergantung, dan setiap bagian tersebut berpengaruh secara signifikan terhadap bagain-bagian lainnya.
2)   Setiap bagian dan sebuah masyarakat eksis karena bagian tersebut memiliki fungsi penting dalam memelihara eksistensi dan stabilitas. Masyarakat secara keseluruhan; karena itu, ekstensi satu bagian tertentu dari masyarakat dapat diterangkan apabila fungsinya bagi masyarakat sebagai keseluruhan dapat diidentifikasi.
3)   Semua masyarakat mempunyai mekanisme untuk mengintegrasikan diri; sekalipun integrasi sosial tidak pernah tercapai dengan sempurna, namun sistem sosial akan senantiasa berproses ke arah itu.
4)   Perubahan dalam sistem sosial umumnya terjadi secara gradual, melalui proses penyesuaian,dan tidak terjadi secara revolusioner.
5)   Faktor terpenting yang mengintegrasikan masyarakat adalah adanya kesepakatan di antara para anggotanya terhadap nilai-nilai kemasyarakatan tertentu.
6)   Masyarakat cenderung mengarah kepada suatu keadaan equilibrium atau homoestatic. ( Snaderson dalam Zainuddin,.1991:119 )
            Selain itu, menurut Tjipto Subadi, Teori Struktual Fungsional mengacu pada asumsi bahwa :
1)             Masyarakat harus dianalisis sebagai satu kesatuan yang utuh yang saling berinteraksi.
2)             Hubungan yang ada dapat bersifat satu arah atau timbale-balik
3)             Sistem sosial yang ada bersifat dinamis, di mana penyesuaian yang ada tidak perlu mengubah sistem sebagai satu kesatuan yang utuh
4)             Integrasi yang sempurna dalam masyarakat tidak pernah ada, oleh karenanya di masyarakat senantiasa timbul ketegangan dan penyimpangan. Akan tetapi hal tersebut akan dinetralisir lewat kelembagaan.
5)             Perubahan-perubahan yang terjadi akan berjalan secara gradual dan perlahan-lahan sebagai suatu proses adaptasi dan penyesuaian
6)             Perubahan adalah merupakan hasil penyesuaian dari luar, tumbuh oleh adanya inovasi dan deferensiasi, dan
7)             Sistem diintegrasikan lewat nilai-nilai yang sama.
Maka anggapan dasar teori ini dapat disimpulkan sebagai berikut;
Masyarakat adalah suatu sistem dari bagian-bagian yang saling berhubungan. Hubungan dalam masyarakat bersifat ganda dan timbal-balik ( saling mempengaruhi ). Secara fundamental sistem sosial cenderung kearah equilibrium dan besifat dinamis. Disfungsi/ketegangan sosial/penyimpangan sosial/penyimpangan pada akhirnya akan teratasi dengan sendirinya melalui penyesuaian dan proses institusionalisasi. Perubahan-perubahan dalam sistem sosial bersifat gradual melalui penyesuaian dan bukan bersifat revolusioner. Faktor terpenting dalam integrasi adalah konsesus.
Karena asumsi dasar teori struktual fungsional seperti tersebut di atas maka sangat peduli terhadap kontrol efektifitas hokum keteraturan serta factor-faktor yang mempersatukan masyarakat. Oleh karena itu teori ini lebih dikenal sebagai teori consensus ( consensus theory ) atau teori regulasi (  regulation theory ). Pandangan-pandangannya di dasarkan pada filsafat realism, positivism, dan oleh karena itu cenderung deterministic, dimana struktur menentukan tindakan atau perilaku, dan oleh karena itu tradisi ini lebih memilih jenis pengetahuan non ethic dan pada normatif.

2.      Teori Konflik
      Kata “konflik” berasal dari kata conflict yang berarti  saling benturan, arti kata ini menunjuk pada semua bentuk benturan, tabrakan, ketidakserasian, ketidaksesuaian, pertentangan, perkelahian, interaksi antagonis ( Kartini Kartono, 1991:213 ) konflik semacam ini konflik yang negatif. Konflik yang positif bisa diartikan; pometisi;berlomba, fastabiku khairot/ berlomba dalam kebaikan. Pada dasarnya teori konflik beransumsi bahwa setiap manusia memiliki potensi untuk berkompetisi, bersaing, berlomba, berbeda dengan orang lain.
      Daniel Webter mendifinisikan konflik sebagai; (1) persaingan atau pertentangan antara pihak-pihak yang tidak cocok satu sama lain (2) keadaan atau perilaku yang bertentangan (3) perselisihan akibat kebutuhan, dorongan, keinginan, atau tuntunan yang bertentangan, dan (4) perseteruan sementara ( Said 1998: 153 ). Sebenarnya teori konflik tidak selalu berdimensi negatif, tetapi ada yang positif, misalnya seorang guru memberikan ujian mid semester, orang tua menjanjikan anak-anaknya jika lulus ujian dengan prestasi yang baik akan diberi hadiah. Margaret M. Poloma ( 1992: 108 ) menjelaskan bahwa konflik  secara positif akan membantu struktur sosial san jika terjadi secara negatif akan memperlemah kerangka masyarakat.
      Berdasarkan manfaatnya konflik dapat dikelompokkan ke dalam konflik fungsional dan konflik disfungsional, Gibson ( 1996 ) menjelaskan; konflik fungsional adalah suatu konfrontasi di antara kelompok yang menambah keuntungan kerja. Pertentangan antar kelompok yang fungsional dapat memberikan manfaat bagi peningkatan efektifitas dan prestasi organisasi. Konflik ini tidak hanya membantu tetapi juga merupakan suatu kondisi yang diperlukan untuk menumbuhkan kreativitas. Kelompok yang anggotanya heterogen menimbulkan adanya suatu perbedaan pendapat yang menghasilkan solusi lebih baik dan kreatif. Konflik fungsional padat mengarah pada penemuan cara yang lebih efektif untuk menyesuaikan diri dengan tuntutan perubahan lingkungan sehingga organisasi dapat hidup terus berkembang.
      Adapun konflik disfungsional adalah konfrontasi atau pertentangan antar kelompok yang merusak, merugikan, dan menghalangi pencapaian tujuan organisasi. Sehubungan dengan itu setiap organisasi harus mampu menangani dan mengelolaserta mengurangi konflik agar memberikan dampak positif, dan meningkatkan prestasi, karena konflik yang tidak dikelola dengan baik dapat menurunkan prestasi dan kinerja organisasi.
3.      Teori Marxian
      Latar belakang pribadi Marx, ia lahir dari suatu keluarga Rabbi Yahudi di kampong Trier, Rhineland pada tahun 1918, yang kemudian beralih ke Kristen untuk menghindari hokum-hukum yang diskriminatif. Sebagai mahasiswa hukum dan filsafat di Berlin. Jurnalistik politiknya sering menyerang hokum penyensoran dan karenanya dibuang ke Paris dan bergabung dengan para Sosialis dan buruh industry di London. Hidupmiskin bersama aktivis, mengorganisir gerakan-gerakan sosialis dan mengartikulasikan gagasan-gagasannya dan lahir kemudian Communist Manifesto ( 1948 ).
a.      Kontek Sosial
            Konteks sosial tempat lahir Marxisme. Marxisme lahir sebagai suatu produk masyarakat abad 19 di berbagai negara Eropa ( Inggris, Perancis, dan Jerman ) suatu jaman perkembangan industri yang sangat pesat, masa pergolakan politik dan perubahan sosial yang besar-besaran. Marxisme muncul di tengah-tengah situasi sosial tempat buruh industri di kota-kota yang sengsara dan tercabut hak-haknya ( deprivation ), kemiskinan yang tidak manusawi oleh pemilik pabrik. Marx sendiri pernah hidup sengsara sebagai orang buangan di Paris, Brussel dan London ( Campbell:1981: 135 )
b.      Asumsi-Asumsinya
                   Marxian modern telah menformat dan mengelaborasi gagasan gagasan Marx dengan asumsi-asumsi sebagai berikut :
1)        Kehidupan sosial pada dasarnya merupakan arena konflik atau pertentangan di antara dan di dalam kelompok yang bertentangan.
2)        Sumber-sumber daya ekonomi dan kekuatan-kekuatan politik merupakan hal yang penting yang berbagai kelompok berusaha merebutnya.
3)        Akibatnya tipikal dari pertentangan ini adalah pembagian masyarakat menjadi kelompok determinan dan kelompok yang tersubordinasi.
4)        Pola-pola sosial dasar suatu masyarakat sangat ditentukan oleh pengaruh sosial dari kelompok yang secara ekonomi merupakan kelompok determinan.
5)        Konflik dan pertentangan sosial di dalam dan di antara berbagai masyarakat melahirkan kekuatan-kekuatan yang menggerakan perubahan sosial.
6)        Karena politik dan pertentangan merupakan cirri dasar kehidupan sosial, maka perubahan sosial menjadi hal yang umum dan sering terjadi ( Sanderson, 1995: 12 )
            Marx dengan asumsi-asumsi tradisionalnya menggambarkan masyarakat dalam konsep materialism histories dengan menyatakan bahwa sejarah manusia dipengaruhi oleh kebutuhan material yang harus dipenuhi dan ini melahirkan pertentangan kelas ( konflik ), revolusi,lalu muncul masyarakat tanpa kelas, masyarakat komunis yang bebas konflik, kreatif.
            Marx berasumsi bahwa konflik harus diselesaikan dengan konflik. Sejarah kekerasan, revolusi akan melahirkan kedamaian, harmoni. ( Campbell, 1994: 134 ). Revolusi penting untuk menghancurkan tatanan sosial yang tidak rasional, serta mengentaskan kaum tertindas. ( Lauer, 1993: 297 ).
            Teori konflik Marxian mengajukan pertanyaan-pertanyaan tentang; bagaimana hubungan antara; being ( keberadaaan ), spiritual, though ( pikiran ) dan materi? Mana yang lebih dahulu mempengaruhi; matter ( material ) mempengaruhi kesadaran atau kesadaran mempengaruhi material? Apakah dunia ini dapat diketahui; apakah penalaran ( reason ) mampu menembus rahasia-rahasia alam ( realities ) dan mengungkapkannya. ( Avanasyet, 1965: dalam Praja, 1987: 63 ). Mengapa masyarakat melewati berbagai tahap, dengan proses tiap tahap menghancurkan, kemudian membangun di atas tahap sebelumnya, dengan kecenderungan hokum besi dan hasil yang tidak terelakkan. ( Campbell, 1994:138 ), atau dalam kondisi apa yang terjadi pergantian satu bentuk masyarakat dengan bentuk lainnya ( Worsley, 1992: 265 ).
            Berdasarkan pertanyaan-pertanyaan itu, maka teori konflik Marxian menjelaskan tentang adanya perbedaan ( kelas ), pertentangan antara kaum borjuis dan proletar, penindasan-penindasan. Titik berat teori konflik Marxian ada pada konflik kepentingan ekonomi, sehingga lebih berada pada tatanan yang bersorder dalam bentuk interaksi yang menghasilkan perubahan sosial.
c.         Konsep Pokok Marxian
  Karl Marx adalah seseorang materialistic, sebab dia berpendapat bahwa hukum-hukum ekonomi berpengaruh terhadap berkelangsungan suatu proses atau lahirnya kecenderungan-kecenderungan yang menggambarkan berbagai fenomena dan pada tahap tertentu memprediksi. Kekuatan-kekuatan yang bertentangan atau bersintesis dalam masyarakat adalah kekuatan-kekuatan ekonomi atau material.
Konsep-konsepnlain diantaranya tentang :
1)   Materialisme Dialektika
2)   Materialisme Historis
3)   Perjuangan kelas
4)   Teori Nilai ( nilai suatu barang terletak dalam jumlah tenaga yang diperlukan     untuk membuat.
5)   Teori Nilai Lebih ( ada nilai yang tak diberikan pabrik kepda buruh)
6)   Alinasi, yaitu terlepasnya manusia dari benda hasil kreasinya, bahkan dari masyarakat dan negaranya.
d.        Pembentukan Masyarakat
            Menurut Marx, terbentuknya suatu masyarakat ( social formation ) berbasis pada kekuatan-kekuatan produksi sebagai suatu proses sebab-akibat yang mencangkup; apa yang dihasilkan? Bagaimana sesuatu dihasilkan? Di dalamnya termasuk bahan mentah, hasil pikir metode proses produksi, peralatan dan keahlian-keahlian para pekerjanya. Semuanya membentuk hubungan-hubungan kerja antara suprastuktur dan infrastruktur ekonomi, atau antara pemilik, penguasa sarana-sarana produksi dan yang bukan. Suprastruktur menciptakan ideologi, negara, kebudayaan, menggunakan agama, dan moralitas sebagai suatu kepentingan yang berlaku bagi semua kelas dalam mempertahankan kedudukannya, yang oleh Marx disebut sebagai “kesadaran palsu” karena semua kelas secara keliru yakin akan objektifitas dan inuversalitas peraturan-peraturan, yang pada hakekatnya untuk kepentingan kelas yang berkuasa.
Sejarah manusia melukiskan bahwa yang berkuasa, kelas –ekonomi selalu berperilaku keras dalam mempertahankan kondisi ekonominya. Dalam hal ini Marx menggambarkan skema sejarah manusia berawal dari masyarakat ( komunisme ) primitif, berkembang menjadi masyarakat perbudakan, kemudian menjadi masyarakat feodalisme, lalu lahir masyarakat kapitalisme dan berakhir dengan datangnya masyarakat komunisme. Kecuali dalam masyarakat komunisme, masyarakat selalu dalam keadaan konflik antara budak dan pemilik budak, pemilik tanah dan petani penggarap, buruh dan pabrik. Menurut Marx proses perkembangan masyarakat yang demikian itu terutama perkembangan feodalisme menjadi kapitalisme diwarnai pertentangan kelas ( konflik ). Suprastruktur menciptakan kesadaran palsunya, sedangkan infrastruktur oleh Marx agar bersatu melawan melakukan revolusi.
e.         Proposi Teorinya.
Secara garis besar masyarakat kapitalis mempunyai dua kelas yaitu kelas borjuis, sebagai pemilik, penguasa, alat dan pola produksi Kelas proletar, hanya sebagai pemilik tenaga kerja, dianggap sebagai commodity yang nilainya tergantung hokum permintaan-perlawanan. Persainagn antar proletar menjadikan upah tenaga buruh rendah dan kelas borjuis semakin melimpah kekayaannya, sebab memperoleh nilai-nilai ( surplus value ). Fenomena ini melahirkan :
1)   Hukum Penimbunan Modal ( Law of Capitalist Accumulation )
2)   Hukum Konsentrasi Modal ( Law of Concentration of Capital )
3)   Hukum Meningkatkan Kemelaratan ( Law of Increasing of Struggle )
            Konsekuen logisnya kata Marx lalu muncul Class Struggle, yakni bersatunya kaum proletar di tingkat serikat buruh nasional bahkan seluruh dunia untuk menghancurkan supremasi kaum borjuis dengan revolusi, untuk menuju masyarakat sosialis, kemudian komunis.
f.     Metode dan Jenis Hubungan Konsepnya
Metode mengkaji perkembangan masyarakat didasarkan pada materialisme dialektika. Perkembangan manusia tunduk pada materialisme dialektika dank arena itu para kajian sejarah manusia, sampailah Marx pada konsep materialisme histori, sebagai puncak prestasi ilimiahnya. Dengan demikian metodenya positivistik. Hubungan konsepnya adalah hubungan pengaruh atau deterministic ( sebab-akibat ) yakni materi menentukan ide ( kesdaran ).
Pandangan materialisme yang menyatakan bahwa realitas seluruhnya terdiri dari materi, berarti bahwa tiap-tiap benda atau kejadian dapat dijabarkan kepada materi atau salah satu proses material ( K. Bertens, 1983: 77 ). Namun  demikian Marx nampak ada dua listik; ia menganggap alam ini terdiri dari dua kenyataan; materi dan ide. Materi diartikan sebagai segala sesuatu yang berupa objek atau fenomena. Pendeknya segala kenyataan objektif, yaitu segala sesuatu yang ada di luar kesadaran manusia. Adapun ide diartikan sebagai “kesadaran” manusia atau kegiatan rohaniah manusia yang meliputi : pikiran, perasaan, kemauan, watak, sensasi,  cita-cita, dan sebagainya ( Avanasyev, 1965: 71 ). Atas dasar pandangan di atas, timbul persoalan mengenai hubungan antar materi ( matter ) dan ide ( copiousness ). Manakah yang terlebih dahulu ada ( primer ) dan manakah yang datang kemudian ( sekunder ) atau diciptakan? Menurut Marx materilah yang primer sedangkan ide atau “kesadaran” sekunder. Dengan demikian pandangan Marx disebut materialisme dialektik. Dikatakan dialektik, karena Marx menilai bahwa dunia material ini konstan, baik dalam gerak perkembangan dan regenerasinya.
Kajian Marx tentang masyarakat menfokuskan pada struktur sistem, institusi, karena itu level paradigmanya adalah mikro-objektif yaitu tentang fungsi  struktur-struktur yang ada dalam masyarakat  baik yang fungsional maupun yang mal-fungsional, sedangkan paradigm sosiologisnya adalah fakta sosial.
g.    Pemikiran Filsafat yang Mempengaruhi
1)        Positivisme, sebab yang dikaji adalah realitas sosial, observasi atau kejadian-kejadian nyata dalam masyarakat.
2)        Rasionalisme, sebab tindakan-tindakan tertentu yang diajukan sebagai pemecahan penuh dengan pernyataan-pernyataan yang beralasan.
3)        Reformisme Sosial dan Evolusionisme, karena Marx menghendaki adanya suatu masyarakat menjadi komunisme dan untuk menuju kea rah itu melalui perjuangan kelas menuju sosiolisme, jadi bertahan tetapi pada saat suatu tatanan penindasan berubah menjadi detato prolrtariat Marx adalah seorang revolusioner.
4)        Humanisme, pada masyarakat komunis Marx mengehendaki adanya kebebasan dan kreatifitas manusia, kehidupan sejati yang bebas bahagia, penuh persaudaran.
5)        Materialisme, materi menentukan berbagai aspek kehidupan dan ini oleh Marx hendak digeneralisasikan secara mondial seperti fenomena alam fisik.

E.       Metode Penelitian Sosiologi Pendidikan (Teori Mikro)
1.      Teori Fenomenologi
            Penelitian yang menggunakan pendekatan fenomenologis berusaha untuk memahami makna peristiwa serta interaksi pada orang-orang biasa dalam situasi tertentu. Pendekatan ini menghendaki adanya sejumlah asumsi yang berlainan dengan cara yang digunakan untuk mendekati perilaku orang dengan maksud menemukan “fakta” atau “penyebab”. Penyelidikan fenomenologis bermula dari diam. Keadaan “diam” merupakan upaya untuk menangkap apa yang dipelajari dengan menekan pada aspek-aspek subyektif dari perilaku manusia. Fenomenologis berusaha untuk bisa masuk ke dalam dunia konseptual subyek penyelidikannya agar dapat memahami bagaimana dan apa makna yang disusun subek tersebut disekitar kejadian-kejadian dalam kehidupan sehari-harinya. Singkatnya, peneliti berusaha memahamisubyek dari sudut pandang subyek itu sendiri, dengan tidak mengabaikan membuat penafsiran, dengan membuat skema konseptual. Hal ini berarti bahwa peneliti menekankan pada hal-hal subyektif, tetapi tidak menolak realitas “di sana” yang ada pada manusia dan yang mampu menahan tindakan terhadapnya. Para peneliti kualitatif menekankan pemikiran subyektik karena menurut pandangannya dunia itu dikuasai oleh angan-angan yang mengandung hal-hal yang bersifat simbolis dari pada konkret ( Mike S. Arifin, 1994: 46 ). Jika peneliti menggunakan perspektif fenomenologi dengan paradigma definisi sosial biasanya penelitian ini bergerak pada kajian mikro.
            Perspektif fenomenologi dengan paradigma definisi sosial ini akan memberi peluang individu sebagai subyek penelitian ( informan penelitian ) melakukan interpretasi, dan kemudia peneliti melakukan interpretasi terhadap interpretasi itu sampai mendapatkan makna yang berkaitan dengan pokok masalah penelitian, dalam hal demikian Berger menyebutkan dengan first order understanding dan second order understanding. Pendekatan fenomenologi mengakui adanya kebenaran empirik etik yang memerlukan akal budi untuk melacak dan menjelaskan serta berargumentasi. Akal budi di sini mengandung makna bahwa kita perlu menggunkan criteria lebih tinggi lagi dari sekedar true or false ( benar atau salah ) (Muhadjir, 1996: 83 ).

2.      Teori Interaksi Simbolis
            Interaksi simbolik ( dalam sosiologi pendidikan ) juga menunjang dan mewarnai akitivitas akademik riset kualitatif. Sejalan dengan pendekatan fenomenologis, sifat yang paling mendasar bagi pendekatan interaksi simbolis adalah asumsi yang menyatakan bahwa pengalaman manusia itu diperoleh dengan perantara interpretasi atau penafsiran, dan penafsiran menjadi esensial dari interaksi simbolik. Interaksi simbolik juga menjadi paradigma konseptual melebihi dorongan dari dalam, sifat pribadi, motivasi yang tidak disadari, kebetulan, status sosial ekonomi, kewajiban peranan, mekanisme pengawasan masyarakat, atau lingkungan fisik lainnya.Faktor tersebut sebagian adalah konstrak yang digunakan para ilmuan sosial dalam usaha untuk memahami dan menjelaskan perilaku. ( Lexi J. Moleong, 1994: 11 )
            Benda ( obyek ), orang, situasi dan peristiwa atau kejadian tidak memiliki maknanya sendiri. Adanya makna dari berbagai kejadian tersebut karena diberi berdasarkan interpretasi. Interpretasi bukanlah kerja otonom dan juga tidak ditentukan oleh suatu kekuasaan khusus manusia ataupun yang lain. Makna yang diberikan orang kepada pengalamannya dan prosesnya menginterpretasi merupakan hal yang esensial dan konstitutif, bukan hal yang kebetulan atau bersifat sekunder terhadap pengalaman itu. Orang berbuat sesuatu selalu diiringi dengan menginterpretasikan, mendefinisikan, bersifat simbolis yang tingkah lakunya hanya dapat dipahami peneliti dengan jalan masuk ke dalam proses mendefinisikan melalui pengobservasian terlibat ( participant observation ). ( Mike S. Arifin 1994:47 ).
            Interpretasi sangat esensial, interaksi sombolis menjadi paradigma konseptual dari pada dorongan-internal, sifat-kepribadian motif tidak sadar, kewajiban peran, preskripsi budaya, mekanisme pengendalian sosial, atau lingkungan fisik. Faktor-faktor tersebut merupakan beberapa dari konstruk-konstruk yang direla ilmuwan sosial dalam upaya untuk memahami tingkah laku.
            Bagian penting dari teori interaksi simbolik adalah konstruksi tentang “diri pribadi” ( self ). Diri tidak dipandang terletak di dalam individu seperti ego atau kebutuhan, motif, norma internalisasi dan nilai. Diri adalah definisi yang diciptakan orang ( melalui interaksi dengan orang lain ) mengenai siapa dia itu. Dalam membentuk atau mendefinisikan diri, orang berusaha melihat dirinya sebagai orang-orang lain melihat dirinya dengan menafsirkan gerak isyarat dan perbuatan yang ditunjukan kepadanya dan dengan jalan menempatkan dirinya pada peranan orang lain. Dengan singkat, kita melihat diri kita sendiri sebagai bagian dari orang lain melihat kita. Jadi, diri sendiri juga merupakan konstruksi sosial, merupakan hasil dari mempersepsidiri sendiri kemudian menyusun definisi melalui proses interaksi. Cara fulfilling prophecy dan membiarkan latar belakang bagi apa yang disebut perdekatan terlabel ( labeling approach ) terhadap perilaku menunjang.
            Menurut Noeng Muhadjir ( 1989: 54 ) bahwa konsep interaksi simbolik bertolak dari tujuh proposisi dasar, yaitu :
a.         Bahwa perilaku manusia itu mempunyai makna di balik yang menggejala, sehingga diperlukan metoda untuk mengungkap perilaku yang terselubung.
b.        Pemaknaan kemanusiaan manusia perlu dicari sumbernya pada interaksi sosial manusia. Manusia membangun lingkungannya , manusia membangun dunianya, dan kesemuanya dibangun berdasarkan simpasi, dengan bentuk tertinggi mencintai sesame manusia ( Menschenliebe ) dan mencintai Tuhan ( Gottesliebe ).
c.         Bahwa masyarakat manusia itu merupakan proses yang berkembang holistic, tidak terpisahkan, tidak linier, dan tidak terduga.
d.        Perilaku manusia itu berlaku berdasarkan penafsiran fenomenologik, yaitu berlangsung atas maksud, pemaknaan dan tujuan, bukan didasarkan atas proses mekanik atau otomatik, perilaku manusia bertujuan dan tidak terduga.
e.         Konsep mental manusia itu berkembang dialetik, mengakui adanya tesis, antithesis, dan sistesis; sifanya idealistik bukan materialistik.
f.         Perilaku manusia itu wajar dan konstruktif kreatif, bukan elementer-reaktif.
g.        Perlu digunakan metoda instropeksi simpatetik; menekankan pendekatan intuitif untuk menangkap makna ( Muhadjir, 1989 ).
            Dari perspektif interaksi simbolik semua organisasi sosial terdiri dar para pelaku yang mengembangkan definisi tentang suatu situasi atau perspektif lewat proses interprets dan mereka bertindak dalam makna definisi tesebut. Orang bisa bertingkahlaku dalam kerangka kerja organisasi. Tetapi yang menentukan aksinya adalah interpretasi, bukan organisasinya. Peran sosial, norma-norma, nilai, dan tujuan , mungkin meletakkan kondisi dan konsekuensi bagi suatu aksi,namun tidaklah demikian apa yang dilakukan oleh seseorang. Misalnya suatu Universitas mungkin memiliki suatu sistem penilaian, jadwal kuliah, kurikulum, dan bahkan suatu motto resmi yang semuanya memberi arti bahwa Universitas tersebut sebagai tempat belajar dan pendidikan sarjana. Tentu saja simbol-simbol tersebut akan bisa mempengaruhi bagaimana orang merumuskan apa yang  mereka lakukan. Namun orang akan berperilaku berdasarkan makna organisasi baginya, dan bukan pada apa yang dipikirkan oleh para pejabatatas mengenai makan yang seharusnya. Beberapa mahasiswa member arti Universitas tersebut sebagai tempat untuk mendapat modal ketrampilan bekerja, atau mungkin sekedar sebagai tempat untuk mendapatkan pasangan hidup. Bagi kebanyakan yang lain mungkin ia merupakan tempat untuk mendapatkan nilai yang tinggi untuk memenuhi standar bagi wisuda sarjana ( Bogda & Taylor, 1975. Dalam H.B. Sutopo, 1999: 31-32 ).
            Contoh praktis yang diberikan Bogda dan Biklen adalah tentang “makan”, yang tidak hanya ditafsiri sebagai dorongan untuk makan, tetapi juga ada definisi budaya tertentu mengenai bagaimana, apa, dan kapan orang harus makan. Lebih jauh, “makan” dapat dihubungkan dengan situasi khusus dimana orang itu berada, didefinisikan dalam berbagai cara, proses, perilaku, waktu, dan situasi yang berlainan. Contoh lain mungkin dapat dilihat ketika seorang santri bersalaman dengan kyainya, serta “mencium tangan” kyai. Interaksi dengan symbol “mencium tangan” hampir sama dengan contoh “makan” menurut Bogda dan Biklen.
3.      Teori Etnografi
            Etnometodologi bukanlah sebagai metode yang digunakan peneliti untuk mengumpulkan data, melainkan menunjuk pada mata pelajaran yang akan diteliti, atau materi pokok ( subject matter ). Etnometodologi merupakan pendekatan penelitian kualitatif untuk mendiskripsikan bagaimana individu mencipta dan memahami kehidupan sehari-harinya. Subjek penelitian bukanlah suku bangsa primitive melainkan orang-orang dalam berbagai macam situasi dalam masyarakat kita. Etnomerodologi berusaha bagaimana orang-orang muali melihat, menerangkan, dan menguraikan struktur di dunia kehidupan sehari-hari atau menguraikan keteraturan dunia tempat merka hidup.
            Penerapan etnometodologi dalam penelitian kualitatif bahwa etnometodologi memiliki kekuatan sebagai pendekatan yang otonom, terutama untuk mengupas berbagai masalah sosial di samping itu pendekatan ini merupakan model penelitian partisipatif yang menempatkan panghampiran induktif sebagai acuan utama. Beberapa prasyarat dapat dikenakan untuk mendudukkan etnometodologi sebagai model penelitian kualitatif, yaitu :
1.        Etnometodologi merupakan pendekatan dalam penelitian kualitatif yang memusatkan perhatiannya pada realitas yang memiliki penafsiran praktis, atau sebagai pendekatan pada sifat kemanusiaan yang meliputi pemaknaan pada perilaku nyata.
2.        Etnometodologi merupak strategi yang dapat dilakukan melalui analisis wacana ( discourse analysis ). Strategi pengumpulan data yang paling tepat dengan dialog, sumber data dapat diperoleh melalui observasi partisipan dengan pencatatan data yang teratur yang disebut field note atau catatan lapangan.
3.        Etnometodologi memiliki keunggulan dalam menghadapi kehidupan empirik, sebab pengambilan datanya langsung dari lapangan melalui model interaksi antar periset dan aktor sosial.
4.        Dalam hubungan dengan peningkatan eksistensi studi sosiologi, etnometodologi menitik-beratkan pada pemahaman diri dan pengalaman hidup sehari-hari, pengambilan data melalui in-depth interview akan menggali semua masalah kehidupan sehari-hari dalam bentuk wacana percakapan terbuka.
5.        Etnometodologi tidak diartikan sebagai metode yang digunakan peneliti untuk mengumpulkan data, melainkan menujuk pada materi pokok ( subject matter ) yang akan diteliti.
6.        Ketika Harold Garfinkel mempelajari arsip silang budaya di Yale, ditemukan kata ethnobotany, ethnophysic, ethnomusic, dan ethnoastronomy. Istilah-istilah seperti ini mempunyai arti bagaimana para warga suatu kelompok tertentu  ( biasanya kelompok suku yang terdapat dalam arsip Yale ) memahami, menggunakan, dan menata segi-segi lingkungan mereka; dalam hal etnobotani, subyek atau pokok kajiannya adalah tanaman.
7.        Terkait dengan uraian ( 6  ) etnometodologi berarti studi tentang bagaimana individu-individu menciptakan dan memahami kehidupan mereka sehari-hari, seperti cara mereka menyelesaikan pekerjaan di dalam hidup sehari-hari.
8.        Subjek bagi etnometodologi bukan warga suku-suku primitif; mereka orang-orang dari berbagai situasi di dalam masyarakat kita sendiri.
9.        Para ahli etnometodologi berupaya memahami bagaimana cara orang memandang, menjelaskan, dan mediskripsikan tatanan di dunia tempat mereka hidup.
            Terdapat sejumlah orang dalam bidang pendidikan telah terpengaruh dengan pendapatan ini. Pekerjaan mereka kadang-kadang sukar dipisahkan dari kerja peneliti-peneliti kualitatif lainnya, mereka cenderung melakukan pekerjaan-pekerjaan tentang isu yang bersifat mikro, dengan pengungkapan dan kosa kata khusus, dan dengan tindakan yang mendetail dan dengan pemahaman. Peneliti-peneliti yang menggunakan cara ini menggunakan ungkapan seperti “pemahaman akal sehat ( common sense understanding )”, “kehidupan sehari-hari ( everyday life )”, “pencapaian kerja paktis ( practical accomplishments )”, “landasan rutin untuk tindakan sosial ( routine grounds for social action )”, dan “memperhitungkan ( accounts )”. Menurut para etno-metodolog, telah berhasil membuat peneliti menjadi peka terhadap isu, yakni bahwa penelitian itu sendiri bukanlah merupakan usaha ilmiah yang unik, melainkan lebih dapat dipelajari sebagai “suatu penyelesaian paktis ( practical accomplishments )”. Mereka menyarankan agar kita berhati-hati dalam memandang pemahaman akal sehat sebagai dasar pengumpulan data. Mereka mendorong para peneliti yang menggunakan cara kualitataif agar peka terhadap keperluan untuk “mengurung batas ( bracket )” atau menunda sementara asumsi akal sehat mereka, pandangan dunianya sendiri, daripada menganggapnya sebagai hal yang sudah semestinya.

F.       Penutup
Jika dilihat zaman peradaban yunani pada masa Plato (427-327 BC), pendidikannya lebih mengutamakan penciptaan manusia sebagai pemikir, kemudian sebagai ksatria dan penguasa. Pada zaman Romawi, seperti masa kehidupan Cicero (106-43 BC),2 pendidikan mengutamakan penciptaan manusia yang hmanistis. Pada abad pertengahan, pendidikan mengutamakan menjadikan manusia sebagai pengabdi Khalik (baik versi Islam maupun versi Kristiani). Pada abad pertengahan (1600-an-1800-an), melahirkan teori Nativisme (Rousseau, 1712-1778), Empirisme oleh Locke (1632-1704) dan konvergensi oleh Stern (1871-1939). Semuanya cendrung kepada nilai individu anak sebagai manusia yang memiliki karakteristik yang unik.
Menurut Nasution (1999:2-4) ada beberapa konsep tentang tujuan Sosiologi Pendidikan, antara lain sebagai berikut:
1.                  analisis proses sosiologi (2) analisis kedudukan pendidikan dalam masyarakat, (3) analisis intraksi social di sekolah dan antara sekolah dengan masyarakat, (4) alat kemajuan dan perkembangan social, (5) dasar untuk menentukan tujuan pendidikan, (6) sosiologi terapan, dan (7) latihan bagi petugas pendidikan.
Konsep tentang tujuan sosiologi pendidikan di atas menunjukkan bahwa aktivitas masyarakat dalam pendidikan merupakan sebuah proses sehingga pendidikan dapat dijadikan instrument oleh individu untuk dapat berintraksi secara tepat di komunitas dan masyarakatnya. Pada sisi yang lain, sosiologi pendidikan akan memberikan penjelasan yang relevan dengan kondisi kekinian masyarakat, sehingga setiap individu sebagai anggota masyarakat dapat menyesuaikan diri dengan pertumbuhan dan perkembangan berbagai fenomena yang muncul dalam masyarakatnya.
Namun demikian, pertumbuhan dan perkembangan masyarakat merupakan bentuk lain dari pola budaya yang dibentuk oleh suatu masyarakat. Pendidikan tugasnya tentu saja memberi penjelasan mengapa suatu fenomena terjadi, apakah fenomena tersebut merupakan sesuatu yang harus terjadi, dan bagaimana mengatasi segala implikasi yang bersifat buruk dari berkembangnya fenomena tersebut, sekaligus memelihara implikasi dari berbagai fenomena yang ada.
Tujuan sosiologi pendidikan pada dasarnya untuk mempercepat dan meningkatkan pencapaian tujuan pendidikan secara keseluruhan. Karena itu, sosiologi pendidikan tidak akan keluar darim uapaya-upaya agar pencapaian tujuan dan fungsi pendidikan tercapai menurut pendidikan itu sendiri. Secara universalm tujuan dan fungsi pendidikan itu adalah memanusiakan manusia oleh manusia yang telah memanusia. Itulah sebabnya system pendidikan nasional menurut UUSPN No. 2 Tahun 1989 pasal 3 adalah “ untuk mengembangkan kemampuan serta meningkatkan mutu kehidupan dan martabat manusia Indonesia dalam rangka upaya mewujudkan tujaun nasional”. Menurut fungsi tersebut jelas sekali bahwa pendidikan diselenggarakan adalan: (1) untuk mengembangkan kemampuan manusia Indonesia, (2) meningkatkan mutu kehidupan manusia Indonesiam (3) meningkatkan martabat manusia Indonesia, (4) mewujudkan tujuan nasional melalui manusia-masusia Indonesia. Oleh karena itu pendidikan diselenggarakan untuk manusia Indonesia sehingga manusia Indonesia tersebut memiliki kemampuan mengembangkan diri,mmeningkatkan mutu kehidupan, meninggikan martabat dalam ragka mencapai tujuan nasional.
Upaya pencapaian tujuan nasional tersebut adalah untuk menciptakan masyarakat madani, yaitu suatu masyarakat yang berpradaban yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, yang sadar akan hak dan kewajibannya, demokratis, bertanggungjawab, berdisiplin, menguasai sumber informasi dalam bidang iptek dan seni, budaya dan agama (Tilaar, 1999). Dengan demikian proses pendidikan yang berlangsung haruslah menciptakan arah yang segaris dengan upaya-upaya pencapaian masyarakat madani tersebut.
Menurut pandangan Nurcholis Majid mengemukakan bahwa masyarakat madani itu adalah masyarakat yang berindikasi seperti termaktub dalam piagam madinah pada zaman Rasulullah Muhammad SAW (Tilaar, 2000).
Saat ini kita mengalami perubahan yang begitu cepat dan drastic, sehingga terjadi perubahan nilai dan menciptakan perbedaan dalam melihat berbagai nilai yang berkembang dalam masyarakat. Menurut Langgulung (1993:389) “kelompokpertama melihat nilai-nilai lama mulai runtuh sedangkan nilai-nilai baru belum muncul yntuk menggantikan yang lama, sedang kelompok kedua melihat keruntuhan nilali-nilai lama itu, tetapi dalam waktu yang bersamaan dapat melihat bagaimana nilai-nilai lama itu, menyelinap masuk kedalam nilai-nilai baru dan membantu menegakkannya”.
Perubahan nilai-nilai dalam masyarakat bukan berarti tidak terperhatikan oleh masyarakat. Namun dalam memperhatikan nilali-nilai yang berkembang tersebut, arah yang menjadi anutan antara satu masyarakat dengan masyarakat lainnya tidaklah sama. Tidak semua masyarakat secara terarah memahami arah dan tujuan hidup secara benar. Arah dan tujuan yang benar menurut Mulkham (1993:195) adalah “secara garis besar arah dan tujuan hidup manusia dapat dikelompokkan menjadi tiga tahap. Tahap pertama, mengenai kebenaran, tahap kedua, memihak kepada kebenaran dan tahap terakhir adalah berbuat ikhsan secara dan secara individual maupun social yangb terealisasi dalam laku ibadah”.
Sampai saat ini pendidikan dianggap dapat dijadikan sebagai sarana yang efektif dalam menyadarkan manusia baik sebagai individu maupun sebagai anggota komunitas dan masyarakat. Pendidikan akan mengembangkan kecerdasan dan penguasaan ilmu pengetahuan, pada sisi yang lain agama akan semakin popular dan terinternalisasi dalam diri setiap pemeluknya, jika diberikan melalui pendidikan.

Daftar Pustaka
Tjipto Subandi, 2009, Sosiologi dan Sosiologi Pendidikan, Fairuz Media, Solo

§  Durkheim, The Division of Labor in Society, (1893) The Free Press reprint 1997, ISBN 0-684-83638-6
§  Durkheim, Rules of Sociological Method, (1895) The Free Press 1982, ISBN 0-02-907940-3
§  Durkheim, Suicide, (1897), The Free Press reprint 1997, ISBN 0-684-83632-7
§  Durkheim, The Elementary Forms of the Religious Life, (1912, English translation by Joseph Swain: 1915) The Free Press, 1965. ISBN 0-02-908010-X, new translation by Karen E. Fields 1995, ISBN 0-02-907937-3
§  Durkheim, Professional Ethics and Civic Morals, (1955) English translation by Cornelia Brookfield 1992, ISBN 0-415-06225-X
§  Steven Lukes: Emile Durkheim: His Life and Work, a Historical and Critical Study. Stanford University Press, 1985.

0 Response to "CONTOH MAKALAH SOSIOLOGI PENDIDIKAN TERBARU 2013 "

Post a Comment

Agen Bola