Kumpulan Skripsi Ekonomi Akutansi PENERAPAN ACTIVITY BASED COSTING UNTUK MENINGKATKAN AKURASI HARGA POKOK


PENERAPAN ACTIVITY BASED COSTING UNTUK MENINGKATKAN AKURASI DALAM PERHITUNGAN HARGA POKOK KONSRTUKSI DI PT. X

BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Tujuan suatu perusahaan adalah untuk dapat menjaga kelangsungan hidup perusahaan, melakukan pertumbuhan serta dapat meningkatkan profitabilitas dari waktu ke waktu dimana ketiganya adalah pedoman menuju arah strategis semua organisasi bisnis. Semakin derasnya arus teknologi dan informasi, menuntut setiap perusahaan untuk lebih dapat mempertahankan kelangsungan hidup perusahaan tersebut dalam persaingan global. Salah satu strategi yang dilakukan oleh perusahaan agar dapat bersaing dalam bisnis global ini adalah dengan efisiensi biaya, meningkatkan produktivitas, meningkatkan kualitas produk dan meningkatkan kemampuan untuk memberi respons terhadap berbagai kebutuhan pelanggan. Dengan demikian, agar perusahaan dapat mengelola usahanya dengan efektif dan efisien membutuhkan sistem informasi yang sistematik untuk dapat terus bertahan guna menghadapi persaingan global yang pesat dan kompleks.
Perusahaan jasa khususnya perusahaan jasa konstruksi adalah salah satu yang juga harus bersaing dalam persaingan global yang semakin lama semakin pesat perkembangannya guna mempertahankan kelangsungan hidup perusahaan. Perusahaan jasa konstruksi adalah perusahaan yang berbeda dengan perusahaan jasa lainnya. Hal ini disebabkan adanya karakteristik yang khas yaitu terletak pada ukuran periode akuntansi yang umumnya lebih dari satu periode akuntansi atau lebih dari satu tahun. Di lain pihak, perusahaan harus menyediakan informasi mengenai posisi keuangan yang dibutuhkan oleh perusahaan itu sendiri atau oleh pihak-pihak yang berkepentingan dalam kurun waktu satu tahun atau satu periode akuntansi.
Melihat kondisi diatas, agar perusahaan jasa konstruksi dapat menyajikan  jumlah laba yang wajar, maka dalam proses penyusunan laporan keuangan perlu melakukan proses mempertemukan antara pendapatan dan pembebanan biaya-biaya. Penentuan harga pokok produksi merupakan hal yang sangat penting dalam hal ini. Akuntansi biaya memiliki fungsi untuk menyajikan secara rinci informasi tentang pendapatan yang diperoleh dengan berbagai biaya sumber daya yang dikonsumsi untuk menyelesaikan satu pesanan. Salah satu bentuk informasi penting dalam operasi perusahaan antara lain berupa informasi harga pokok produksi.Yang merupakan faktor penting dalam pengambilan keputusan manajerial. Harga pokok produksi atau dalam perusahaan jasa konstruksi lebih dikenal dengan istilah harga pokok konstruksi terdiri dari tiga macam biaya, yaitu biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung, dan biaya overhead. Perhitungan harga pokok konstruksi yang akurat merupakan hal yang penting terutama bagi perusahaan jasa konstruksi yang proses produksinya berdasarkan pesanan yang berbeda-beda. Perhitungan harga pokok konstruksi berkaitan dengan sistem akuntansi biaya yang digunakan oleh perusahaan.
Dalam functional based system atau sistem tradisional, perhitungan  biaya didasarkan asumsi bahwa produk individual menyebabkan timbulnya biaya. Dengan asumsi seperti diatas, sistem tradisional membebankan biaya ke produk berdasarkan konsumsi biaya yang berhubungan dengan jumlah unit yang diproduksi. Apabila kita menghitung biaya bahan baku langsung dan biaya tenaga kerja langsung, hal ini tidak menjadi masalah jika menggunakan sistem tradisional. Namun, akan menjadi masalah jika kita menghitung biaya overhead. Dalam sistem tradisional, biaya overhead diasumsikan proporsional dengan dengan jumlah unit yang diproduksi. Namun pada kenyataannya banyak sumber daya-sumber data atau biaya-biaya yang timbul dari aktivitas-aktivitas yang tidak berhubungan dengan volume produksi. Sehingga, sistem tradisional tidak lagi sesuai dengan kondisi perusahaan yang semakin berkembang dari waktu ke waktu, apalagi perusahaan dituntut untuk menyelesaikan pesanan sesuai dengan permintaan pelanggan yang pasti berbeda antara pelanggan yang satu dengan yang lain.
Sistem tradisional tidak dapat menunjukkan berapa biaya yang sesungguhnya dikonsumsi dalam tiap pesanan yang dikerjakan oleh perusahaan. Hal ini akan sangat merugikan perusahaan khususnya perusahaan jasa konstruksi yang mengerjakan berbagai jenis pesanan dari pelanggan yang berbeda-beda. Alokasi biaya dengan sistem ini mengakibatkan penyimpangan karena tiap pesanan atau produk tidak mengkonsumsi biaya overhead secara proporsional terhadap unit yang diproduksi. Kondisi seperti ini mengakibatkan kekeliruan dalam perhitungan harga pokok konstruksi yang berimbas pada strategi penetapan harga jual, keputusan manajerial yang tepat, alokasi sumber daya yang tidak efektif, bahkan hilangnya keunggulan kompetitif.
Untuk mengatasi kelemahan sistem tradisional, maka digunakan metode perhitungan biaya produksi berdasarkan aktivitas atau Activity Based Costing (ABC) yang akan membantu pihak manajemen untuk mengalokasikan biaya overhead yang lebih akurat. Perhitungan biaya berdasarkan aktivitas diperkenalkan dan didefinisikan sebagai suatu sistem perhitungan biaya di mana tempat penampungan biaya overhead yang jumlahnya lebih dari satu dialokasikan menggunakan dasar yang memasukkan satu atau lebih faktor yang tidak berkaitan dengan volume. Dibandingkan dengan akuntansi biaya tradisional, ABC memiliki penerapan penelusuran biaya yang lebih menyeluruh. Perhitungan biaya produk tradisional menelusuri hanya biaya bahan baku langsung dan biaya tenaga kerja langsung ke setiap unit output. Tetapi, ABC mengakui bahwa banyak biaya-biaya lain yang pada kenyataannya dapat ditelusuri tidak ke unit output, tetapi ke aktivitas yang diperlukan untuk memproduksi output. Dengan demikian, penggunaan metode Activity Based Costing ini akan mampu memberikan informasi harga pokok konstruksi yang lebih akurat.
PT “ X “ yang berada di Surabaya merupakan perusahaan yang bergerak dalam bidang jasa konstruksi, dimana aktivitas yang dilakukan berdasarkan pesanan yang diterima dari pemberi proyek. PT “X” terlebih dahulu menentukan pelaksana yang akan bertugas melaksanakan jalannya proyek. Pelaksana yang ditunjuk kemudian mengestimasi bahan-bahan, mengestimasi jumlah tenaga kerja serta biaya-biaya yang diperkirakan akan timbul saat proyek dilaksanakan. Hasil estimasi tersebut dipergunakan sebagai anggaran biaya proyek. Dengan demikian, setiap proyek memiliki volume, tingkat kompleksitas, dan karakteristik yang berbeda-beda. Maka dari itu perusahaan membutuhkan suatu metode perhitungan harga pokok konstruksi yang dapat membebankan biaya tidak langsung (biaya overhead) dengan lebih tepat  sehingga akan memberikan informasi mengenai harga pokok konstruksi yang lebih akurat. Kebutuhan informasi yang lebih akurat terkait dengan usaha perusahaan yang dimaksudkan untuk dapat mempertahankan kelangsungan hidup perusahaan dalam persaingan global yang semakin kompleks, khususnya dalam proyek pelaksanaan pengecatan.

1.2  Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang yang telah dikemukakan diatas, maka penulis membuat rumusan masalah sebagai berikut :
“Bagaimana penerapan Activity Based Costing untuk meningkatkan akurasi dalam perhitungan harga pokok konstruksi pada pelaksanaan pengecatan perusahaan jasa konstruksi PT “ X “ di Surabaya?”

1.3  Tujuan Penelitian
1.      Untuk memperoleh gambaran yang jelas mengenai penerapan Activity Based Costing dalam penentuan harga pokok konstruksi pada pelaksanaan pengecatan di PT “ X “.
2.      Untuk membuktikan keakuratan perhitungan harga pokok konstruksi dan mengetahui manfaat yang dihasilkan dari penerapan metode Activity Based Costing.

1.4  Manfaat Penelitian
  1. Bagi perusahaan, penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan yang dapat digunakan oleh perusahaan mengenai perhitungan harga pokok konstruksi dengan metode Activity Based Costing.
  2. Bagi penulis, penelitian diharapkan dapat memberikan tambahan wawasan dan pengetahuan mengenai perhitungan harga pokok konstruksi dengan metode Activity Based Costing.
  3. Bagi pihak lain, penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai acuan dan pembanding bagi peneliti selanjutnya.

1.5  Sistematika Penulisan Skripsi
      Dalam penulisan proposal ini, secara garis besar dapat diuraikan secara singkat terdiri dari lima (5) bab dimana antara satu bab dengan bab lainnya saling berhubungan. Uraian tersebut adalah sebagai berikut :
BAB I             PENDAHULUAN
Bab ini akan menjelaskan mengenai latar belakang permasalahan, perumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian dan sistematika penulisan penelitian.
BAB II                        TINJAUAN KEPUSTAKAAN
Bab ini akan menjelaskan mengenai teori-teori dan konsep-konsep yang berhubungan dengan masalah yang dirumuskan, yang meliputi tentang definisi, konsep dasar, asumsi, manfaat, serta langkah-langkah dalam penerapan Activity Based Costing. Di samping itu akan ada sedikit penjelasan mengenai perbandingan antara sistem tradisional dengan Activity Based Costing dalam perhitungan harga pokok konstruksi.

BAB III          METODE PENELITIAN
Bab ini akan menjelaskan mengenai metode penelitian yang akan digunakan dalam mengadakan penelitian. Bab ini juga akan menjelaskan jenis dan pendekatan penelitian, jenis data yang dikumpulkan, prosedur pengumpulan data, serta teknik analisis data.
BAB IV          HASIL DAN PEMBAHASAN
Dalam bab ini dibahas tentang gambaran umum PT “X” yang terdiri dari sejarah singkat perusahaan, lokasi perusahaan, struktur organisasi serta pembahasan tentang permasalahan yang ada berdasarkan konsep-konsep yang telah dijelaskan dalam tinjauan kepustakaan berdasarkan teori dan konsep-konsep yang relevan.
BAB V            SIMPULAN DAN SARAN
Bab ini akan menguraikan kesimpulan mengenai hasil penelitian yang telah dibahas dan juga memberikan saran-saran yang sekiranya dapat bermanfaat bagi perusahaan.


BAB II
TINJAUAN KEPUSTAKAAN

2.1 Landasan Teori

2.1.1  Pengertian dan Fungsi Akuntansi Biaya
”In the past, cost accounting was widely regarded as the calculation of the inventory cost presented in balance sheet and cost of goods sold figure in the income statement”. Seperti yang diungkapkan oleh Carter dan Usry (2002:7) tersebut, akuntansi biaya pada mulanya hanya dipandang sebagai sebuah cara perhitungan atas nilai persediaan yang dilaporkan di neraca dan nilai harga produk penjualan yang dilaporkan dalam laporan laba rugi.
Perkembangan akuntansi biaya selanjutnya mampu menyediakan berbagai informasi dan data yang dapat dimanfaatkan oleh manajemen untuk berbagai tujuan termasuk perencanaan, pengendalian serta penentuan biaya produk. Sehingga, akuntansi biaya menjadi partner manajemen yang utama dalam kegiatan perencanaan dan pengawasan dengan memberikan manajemen alat yang diperlukan untuk merencanakan, mengawasi, melakukan penilaian atas berbagai kegiatan perusahaan serta pengambilan keputusan. Berdasarkan uraian diatas dapat dikatakan bahwa akuntansi biaya memberikan informasi biaya kepada pihak manajemen dan akuntansi manajemen sebagai salah satu tipe informasi yang digunakan untuk membantu manajemen.
Menurut Mulyadi (2005:7) definisi akuntansi biaya adalah: “Akuntansi biaya adalah proses pencatatan, penggolongan, peringkasan dan penyajian biaya pembuatan dan penjualan produk atau jasa dengan cara-cara tertentu, serta penafsiran terhadapnya”.
Menurut Horngren, Datar, dan Foster (2003:3) “Cost Accounting provides information for management accounting and financial accounting. Cost Accounting measures and reports financial and non financial information relating to the cost acquiring or utilization resource in organizations”.
Berdasarkan kedua pendapat di atas maka dapat ditarik kesimpulan bahwa akuntansi biaya adalah kegiatan yang terdiri dari prosedur sistematis mengenai pencatatan, penggolongan, peringkasan dan penyajian biaya maupun sumber daya yang digunakan dalam operasi perusahaan. Dengan demikian, akuntansi biaya merupakan bagian dari akuntansi manajemen.

2.1.2 Definisi Akuntansi Manajemen
Akuntansi manajemen di definisikan oleh Hansen dan Mowen (2003:7) adalah “The management accountant identifies, collects, measures, classifies, and reports information that is useful to internal users in planning, controlling and decision making activities”.
Berdasarkan definisi tersebut dapat dikatakan bahwa akuntansi manajemen adalah suatu kegiatan atau proses yang menghasilkan informasi keuangan bagi manajemen yang digunakan  manajer untuk :
  1. Perencanaan, yaitu pernyataan lengkap suatu kegiatan yang akan dilaksanakan untuk mencapai tujuan dan identifikasi metode untuk mencapai tujuan tersebut.
  2. Pengendalian, yaitu aktivitas untuk mengarahkan kegiatan agar berjalan sesuai dengan yang direncanakan.
  3. Pengambilan keputusan, yaitu proses memilih diantara beberapa alternatif.
Informasi akuntansi manajemen meliputi data historis maupun estimasi yang digunakan oleh manajemen untuk melaksanakan operasi sehari-hari, perencanaan operasi di masa datang, dan mengembangkan strategi bisnis secara menyeluruh. Akuntansi manajemen mampu membantu manajer mengenali masalah-masalah, menyelesaikan masalah-masalah tersebut dan mengevaluasi kinerja. Dengan demikian, akuntansi manajemen diharapkan mampu membantu perusahaan menghadapi perubahan lingkungan operasi sehingga perusahaan dapat terus bertahan

2.1.3  Konsep Biaya dan Cara Penggolongan Biaya
Para akuntan telah mendefinisikan biaya sebagai suatu nilai tukar, prasyarat atau pengorbanan yang dilakukan untuk memperoleh manfaat. Terdapat dua istilah yang sering digunakan oleh akuntan manajemen, yaitu: biaya (cost) dan beban (expense). Menurut Hansen dan Mowen (2003:4) definisi cost dan expense adalah: “Cost is the cash or cash-equivalent value sacrified for goods and services that are expected to bring a current or future benefit to organization… As cost are used up in the production of revenues they are said to expired. Expired costs are called expense”.
Dari definisi diatas dapat dikatakan bahwa biaya (cost) adalah kas atau nilai setara kas yang dikorbankan untuk barang dan jasa yang diharapkan memberikan manfaat pada saat ini atau pada masa yang akan datang bagi perusahaan. Sedangkan beban (expense) menunjukkan biaya yang telah dihabiskan dalam proses menghasilkan pendapatan atau bagian pengorbanan yang diberikan untuk suatu periode akuntansi tertentu.
Untuk memudahkan dalam penyajian informasi biaya yang dibutuhkan manajemen agar dapat mengelola perusahaan secara efektif, maka dalam mencatat dan menggolongkan biaya haruslah selalu diperhatikan untuk tujuan apa manajemen memerlukan informasi biaya tersebut. Maka sebaiknya selalu diterapkan konsep “different cost for different purpose” yaitu, untuk tujuan yang berbeda kita harus menggunakan konsep biaya yang berbeda pula. Tidak ada satu konsep biaya yang dapat digunakan untuk semua tujuan. Maka dari itu, dalam akuntansi biaya dikenal berbagai macam klasifikasi atau penggolongan biaya.
Klasifikasi biaya sangat diperlukan untuk mengembangkan data biaya yang dapat membantu pihak manajemen dalam mencapai tujuannya. Menurut Mulyadi (2005:13) terdapat lima cara penggolongan biaya yaitu diantaranya sebagai berikut:
1.      Penggolongan biaya menurut objek pengeluaran:
Merupakan dasar penggolongan biaya yang terdiri dari:
  1. Biaya bahan baku
  2. Biaya tenaga kerja langsung
  3. Biaya overhead
2.      Penggolongan biaya menurut fungsi pokok dalam perusahaan:
  1. Biaya produksi. Merupakan biaya-biaya yang terjadi untuk mengolah bahan baku menjadi produk jadi yang siap untuk dijual.
  2. Biaya pemasaran. Merupakan biaya-biaya yang terjadi untuk melaksanakan kegiatan pemasaran produk.
  3. Biaya administrasi dan umum. Merupakan biaya-biaya untuk mengkoordinasikan kegiatan produksi dan pemasaran produk.

3.      Penggolongan biaya menurut hubungan biaya dengan sesuatu yang dibiayainya:
  1. Biaya langsung. Biaya langsung adalah biaya yang terjadi, yang penyebab satu-satunya adalah karena adanya sesuatu yang dibiayainya. Jika sesuatu yang dibiayainya tersebut tidak ada, maka biaya langsung ini tidak akan terjadi.
  2. Biaya tidak langsung. Biaya tidak langsung adalah biaya yang terjadinya tidak hanya disebabkan oleh sesuatu yang dibiayainya. Biaya tidak langsung dalam hubungannya dengan produk disebut dengan istilah biaya produksi tidak langsung atau biaya overhead pabrik (factory overhead costs).
4.      Penggolongan biaya menurut perilakunya dalam hubungannya dengan perubahan   volume aktivitas:
  1. Biaya variabel.Biaya variabel adalah biaya yang jumlah totalnya berubah sebanding dengan perubahan volume kegiatan
  2. Biaya semivariabel. Biaya semivariabel adalah biaya yang berubah tidak sebanding dengan perubahan volume kegiatan.
  3. Biaya semifixed. Biaya semifixed adalah biaya yang tetap untuk tingkat volume kegiatan tertentu dan berubah dengan jumlah yang konstan pada volume produksi tertentu.
  4. Biaya tetap. Biaya tetap adalah biaya yang jumlah totalnya tetap dalam kisar volume kegiatan tertentu.
5.      Penggolongan biaya atas dasar jangka waktu manfaatnya:
  1. Pengeluaran modal (capital expenditure). Pengeluaran modal adalah biaya yang mempunyai manfaat lebih dari satu periode akuntansi (biasanya periode akuntansi adalah satu tahun kalender).
  2. Pengeluaran pendapatan (revenue expenditure). Pengeluaran pendapatan adalah biaya yang hanya mempunyai manfaat dalam periode akuntansi terjadinya pengeluaran tersebut.

2.1.4  Harga Pokok Produk atau Jasa
Hansen dan Mowen (2003:44) memberikan definisi harga pokok produksi adalah: “The cost of goods manufactured represent the total cost assigned to good completed during the current period”. Menurut Hilton (1999:43) mengemukakan sebagai berikut: “Product cost is a cost assigned to goods that were either purchased or manufactured for sale”.
Jadi, harga pokok produksi atau jasa adalah biaya-biaya yang timbul karena adanya aktivitas produksi. Proses produksi suatu perusahaan akan mengeluarkan biaya-biaya yang akan digunakan untuk menghasilkan barang atau jasa. Biaya-biaya yang timbul tersebut dinamakan biaya produksi atau biaya jasa.
Menurut Hansen dan Mowen (2003:40), unsur-unsur yang membentuk harga pokok produk atau jasa adalah: ” The only cost assigned to goods and service completed are the manufacturing costs of direct material, direct labor and overhead”. Unsur-unsur biaya produk atau jasa menurut Hansen dan Mowen (2003:42), dapat diklasifikasikan dalam tiga jenis, yaitu:
1.            Biaya Bahan Baku
Bahan baku merupakan dasar yang akan digunakan untuk membentuk bagian yang menyeluruh menjadi produk jadi. Bahan baku yang digunakan untuk memproduksi dapat diperoleh melalui pembelian lokal, impor atau dari pengolahan sendiri. Biaya bahan baku meliputi harga pokok semua bahan yang dapat diidentifikasi dengan pembuatan suatu jenis produk, dengan mudah dapat ditelusuri atau dilihat perwujudannya di dalam produk selesai. Biaya bahan baku memiliki bagian yang signifikan dari total biaya suatu produk.
2.            Biaya Tenaga Kerja Langsung
Tenaga kerja merupakan kegiatan fisik yang dilakukan oleh karyawan untuk mengolah suatu produk. Biaya tenaga kerja langsung meliputi biaya-biaya yang berkaitan dengan penghargaan dalam bentuk upah yang diberikan kepada semua tenaga kerja yang secara langsung ikut serta dalam pengerjaan produk yang hasilnya kerjanya dapat ditelusuri secara langsung pada produk dan upah yang diberikan merupakan bagian yang besar dalam memproduksi produk.
3.            Biaya Overhead
Pada umumnya dalam suatu perusahaan biaya bahan baku dan biaya tenaga kerja langsung merupakan biaya produksi langsung. Semua biaya selain biaya bahan baku dan biaya tenaga kerja langsung yang berhubungan dengan produksi adalah biaya produksi tidak langsung. Istilah ini sesuai dengan sifat biaya overhead yang tidak dapat atau sulit untuk ditelusuri secara langsung kepada produk atau aktivitas-aktivitas pekerjaan. Biaya tidak langsung ini terkumpul dalam suatu kategori yang disebut biaya overhead pabrik (BOP) dan membutuhkan suatu proses alokasi yang adil untuk tujuan perhitungan harga pokok produksi atau jasa.

2.1.5  Metode Pengumpulan Harga Pokok Produksi
Harga pokok produksi merupakan salah satu informasi yang penting bagi perusahaan yang akan digunakan oleh manajer untuk tujuan yang beraneka ragam. Sebagai contoh, harga pokok produk dari sebuah produk jadi berguna untuk menetapkan harga jual produk. Di samping itu, harga pokok produksi yang akurat juga memungkinkan bagi manajer untuk mengelola operasi secara efektif dan efisien, serta merupakan faktor penting dalam pembuatan laporan keuangan.
Ada dua jenis sistem akuntansi biaya yang digunakan untuk menentukan harga pokok, yaitu: job order cost systems dan process cost systems. Jenis mana yang digunakan untuk menentukan harga pokok sangat tergantung pada jenis proses produksi perusahaan yang bersangkutan.
2.1.5.1 Job Order Cost Systems
      Metode harga pokok pesanan adalah cara penentuan harga pokok produksi dimana biaya-biaya produksi dikumpulkan untuk sejumlah produk tertentu, atau suatu jasa yang dapat dipisahkan identitasnya dan yang perlu ditentukan harga pokoknya secara individual. Metode ini tepat digunakan bila produksi terdiri dari atau merupakan pesanan khusus serta waktu yang dikehendaki untuk memproduksi suatu unit produksi relatif panjang dimana harga jual banyak tergantung dari biaya produk.
Oleh karena itu metode job order cost systems adalah metode yang paling tepat untuk dipergunakan dalam perhitungan harga pokok pada perusahaan kontraktor. Dalam perhitungan biaya produksi pesanan, biaya diakumulasikan menurut pekerjaan atau pesanan tertentu. Metode ini mengasumsikan bahwa semua pesanan yang dikerjakan dapat diidentifikasi secara fisik dan setiap pesanan dapat dibebani dengan biaya yang hanya berkaitan dengan pesanan itu sendiri.

2.1.5.2 Process Cost Systems
Metode ini digunakan untuk barang-barang yang diproduksi melalui cara pengolahan yang berkesinambungan atau melalui proses produksi masal karena unit-unit bahan yang dikerjakan tidak dapat dibedakan satu sama lain selama satu proses pabrikasi atau lebih. Oleh karena sifat dari outputnya, biaya per unit harus dihitung tiap proses.
Karakteristik dari kalkulasi biaya proses menurut Carter dan Usry (2002:156) adalah :
1.      Biaya dibebankan ke perkiraan barang dalam proses pada setiap departemen.
2.      Laporan biaya produksi digunakan untuk mengumpulkan, mengikhtisarkan dan menghitung biaya per unit dan biaya total. Biaya per unit diperoleh dengan membagi jumlah biaya yang dibebankan ke suatu departemen dengan total produksi departemen tersebut pada periode tertentu.
3.      Barang dalam proses pada akhir periode akan dinilai kembali dalam satuan unit ekuivalen (artinya dihitung berapa unit barang jadi yang setara dengan barang dalam proses tersebut).
4.      Biaya-biaya dari unit jadi pada suatu departemen akan ditransfer ke departemen pemrosesan berikutnya agar pada akhirnya dapat diketahui total biaya untuk barang jadi selama satu periode, dan biaya yang harus dibebankan ke barang dalam proses.
           
2.1.6 Functional Based Product Costing
Functional Based Product Costing membebankan biaya bahan baku dan tenaga kerja langsung dengan menggunakan direct tracing (penelusuran langsung). Sementara itu, biaya overhead dibebankan ke produk dengan menggunakan penelusuran penggerak dan alokasi. Sistem ini membebankan biaya overhead melalui dua tahap yaitu tahap pertama adalah mengalokasikan biaya overhead yang terjadi ke pusat biaya (cost center) dan tahap kedua mengalokasikan biaya-biaya tersebut dari masing-masing cost center ke produk dengan menggunakan pemicu yang berbasis pada unit produksi, misalkan jam tenaga kerja langsung, jam mesin, biaya bahan baku, dan lain-lain.
            Langkah pertama yang harus dilakukan dalam menghitung biaya produk adalah membebankan biaya bahan baku langsung dan biaya tenaga kerja langsung, karena kedua biaya ini dapat langsung ditelusuri ke produk. Sedangkan pembebanan biaya overhead unit produk dalam berbagai hal merupakan tugas yang sulit. Untuk mengatasinya adalah dengan menggunakan teknik alokasi. Teknik alokasi dikerjakan melalui pemilihan suatu dasar aktivitas yang dikaitkan pada seluruh produk melalui proses produksi pada satu periode, kemudian dihitung tarif overheadnya.
            Tarif overhead yang dipilih menyatakan hubungan dari overhead pabrik dengan dasar yang dipilih. Bila perusahaan banyak menggunakan tenaga kerja sehingga biaya upah pekerjanya dominan dalam struktur biaya produk, maka dasar yang digunakan adalah jam tenaga kerja langsung. Demikian pula jam mesin menjadi unsur yang dominan, maka pembebanan biaya overhead berdasarkan jam mesin.
            Sistem ini mengalokasikan biaya overhead melalui dua pendekatan, yakni dengan menggunakan tarif overhead keseluruhan pabrik (plantwide rate) dan tarif overhead departemen (departemental rate). Kedua pendekatan tersebut mengasumsikan bahwa biaya overhead yang terjadi berhubungan dengan volume unit yang diproduksi. Pendekatan yang digunakan oleh sistem ini sebenarnya bukanlah suatu pendekatan yang salah. Namun seiring dengan perkembangan zaman dan kemajuan teknologi, metode ini sudah menjadi kurang akurat untuk digunakan sebagai penunjang decision making oleh manajemen suatu perusahaan.

2.1.6.1 Functional Based Product Costing: Plantwide Rate
   Perhitungan dengan pendekatan plantwide rate mengasumsikan bahwa semua biaya overhead yang bervariasi dapat dibebankan ke produk dengan satu dasar pengalokasian, pada umumnya menggunakan jam tenaga kerja langsung atau jam mesin. Perhitungan dengan pendekatan ini mengandung dua tahap. Pertama, menghitung tarif overhead terlebih dahulu dengan menggunakan rumus

2.1.6.2 Functional Based Product Costing: Departemental Rate
            Biaya overhead dibagi per departemen dan tarif overhead untuk masing-masing departemen ini menggunakan satuan pengukuran jam mesin atau jam tenaga kerja langsung yang paling dominan pada masing-masing departemen. Metode ini tidak menghasilkan perhitungan harga pokok produk yang akurat.
Functional based costing selama ini dinilai masih mampu untuk mengukur secara akurat sumber daya dikonsumsi dengan jumlah unit yang diproduksi dari suatu produk. Namun, berkaitan dengan perkembangan zaman dan kemajuan teknologi, penggunaan sumber daya dan aktivitas dalam proses produksi tidak lagi tergantung pada volume industri. Akibat pengalokasian dalam sistem biaya ini akan mengalami distorsi, khususnya untuk perusahaan yang multiproduk, dimana produk-produk yang dihasilkan memiliki perbedaan dalam volume produksi.

2.1.6.3 Keterbatasan Functional Based Product Costing
            Menurut Hansen dan Mowen (2003:117), terdapat dua faktor utama yang menyebabkan pembebanan biaya overhead kurang akurat, yaitu:
1.      The proportion of non unit related overhead cost to total overhead cost
Biaya overhead terdiri dari berbagai biaya yang terkait dengan volume unit yang diproduksi (misalnya biaya listrik) dan biaya-biaya yang tidak terkait dengan volume produksi (misalnya biaya set up mesin, biaya penanganan bahan baku, dll). Non unit based cost driver adalah faktor-faktor selain jumlah unit yang diproduksi yang memicu biaya. Oleh sebab itu, tidak semua biaya overhead dapat dikaitkan dengan jumlah unit yang diproduksi. Misalnya, terdapat tiga aktivitas overhead yakni inspeksi, set up mesin, dan tenaga listrik. Tenaga listrik pada umumnya dapat dihubungkan dengan jumlah unit yang diproduksi. Namun, biaya inspeksi dan biaya set up tidak dipengaruhi oleh banyaknya unit yang diproduksi. Biaya set up mungkin lebih dipengaruhi oleh jumlah batch yang diproduksi, jumlah batch merupakan non unit level driver. Oleh karena itu, pengalokasian biaya overhead dengan menggunakan hanya unit level driver akan mengakibatkan distorsi biaya produk. Besarnya distorsi yang terjadi bergantung pada berapa proporsi dan non unit related overhead cost dari total biaya overhead.
2.      The degree of product diversity
Diversifikasi produk berarti bahwa produk-produk mengkonsumsi aktivitas-aktivitas overhead dalam proporsi yang berbeda-beda. Banyak alasan mengapa produk mengkonsumsi biaya overhead dalam proporsi yang berbeda. Misalnya perbedaan ukuran, kelengkapan produk, waktu set up dan ukuran batch semuanya ini menyebabkan biaya overhead yang dikonsumsi produk menjadi berbeda. Harga pokok produk akan terdistorsi jika volume related yang dikonsumsi oleh suatu produk tidak berubah seiring dengan perubahan non unit related yang dikonsumsi oleh produk tersebut. Proporsi dan aktivitas yang dikonsumsi oleh suatu produk disebut ratio konsumsi. Apabila non unit based overhead cost merupakan proporsi yang besar terhadap total biaya overhead, maka biaya produk dapat menyimpang jika unit based cost driver yang digunakan.
            Untuk mengatasi keterbatasan dari Functional Based Product Costing, diperlukan suatu sistem akuntansi biaya yang baru yang mampu menyajikan informasi biaya dengan lebih akurat. Sistem akuntansi biaya tersebut dikenal sebagai sistem perhitungan biaya berdasarkan aktivitas atau Activity Based Costing.
2.1.7  Activity Based Costing
2.1.7.1  Definisi Activity Based Costing
Definisi Activity Based Costing menurut Horngren dan Foster (2003:39) adalah: “An approach to costing that focuses on activities as the fundamental cost objects. It uses the costs these activities as the basis for assigning costs to other cost objects such as products, services or customer”.
Menurut Mulyadi (2003:40) Activity Based Costing systems (ABC systems) adalah:
  Activity Based Costing adalah sistem informasi biaya yang berorientasi pada penyediaan informasi lengkap tentang aktivitas untuk memungkinkan personel perusahaan melakukan pengelolaan terhadap aktivitas. Sistem informasi ini menggunakan aktivitas sebagai basis serta pengurangan biaya dan penentuan secara akurat biaya produk atau jasa sebagai tujuan. Sistem informasi ini diterapkan dalam perusahaan manufaktur, jasa, dan dagang”.

            Garrison dan Noreen (2003:316) mendefinisikan Activity Based Costing sebagai berikut: “Activity Based Costing is a costing method that is designed to provide managers cost information for strategic and other decision that potentially affect capacity and therefore ‘fixed’ costs”. Menurut Hansen dan Mowen (2003:122) adalah: “Activity Based Costing systems first trace cost to activities then to product….”.
            Hilton, Maher, dan Selto (2006:14) memberikan pengertian Activity Based Costing sebagai berikut: “Activity Based Costing or ABC is a costing method that first assigns costs to activies and then to goods services based on how much each good or service use the activities”.

            Berdasarkan definisi-definisi di atas dapat disimpulkan bahwa Activity Based Costing adalah suatu pendekatan terhadap sistem akuntansi yang memfokuskan pada aktivitas yang dilakukan untuk memproduksi produk, dimana aktivitas tersebut merupakan titik akumulasi biaya yang mendasar. Perhitungan biaya berdasarkan aktivitas ini didasarkan pada konsep produk yang mengkonsumsi aktivitas dan aktivitas mengkonsumsi sumber daya. Dengan metode ini diharapkan manajemen dapat mengurangi atau bahkan menghilangkan aktivitas-aktivitas yang tidak bernilai tambah (aktivitas yang dipertimbangkan tidak memberi kontribusi terhadap nilai pelanggan atau terhadap kebutuhan organisasi).

2.1.7.2  Asumsi dan Konsep Dasar Activity Based Costing Systems
Activity Based Costing adalah pendekatan penentuan biaya produk yang membebankan ke biaya atau jasa berdasarkan konsumsi sumber daya yang disebabkan karena aktivitas. Dasar pemikiran pendekatan penentuan biaya ini adalah bahwa produk atau jasa perusahaan dilakukan oleh aktivitas dan aktivitas yang dibutuhkan tersebut menggunakan sumber daya yang menyebabkan timbulnya biaya. Henry Simamora (1999:114) menyatakan bahwa perbedaan komputasional prinsipil antara metode tradisional dengan ABC Systems berkenaan dengan sifat dan jumlah pemicu biaya (cost driver) yang digunakan.
Menurut Robin Cooper dan Robert S. Kaplan (1991:269) menyebutkan bahwa ada dua asumsi penting yang mendasari ABC Systems, yaitu:

1.            Aktivitas menyebabkan timbulnya biaya (activities cause cost)
ABC Systems berangkat dari asumsi bahwa sumber daya pendukung atau sumber daya tidak langsung menyediakan kemampuan untuk melaksanakan aktivitas, bukan sekedar menyebabkan timbulnya biaya yang harus dialokasikan. Tahap pertama dari ABC Systems adalah membebankan biaya-biaya dari sumber daya pendukung ke aktivitas-aktivitas yang menggunakan sumber daya tersebut. Karena itu, ABC Systems berangkat dari asumsi bahwa aktivitas menyebabkan timbulnya biaya.
2.      Produk dan pelanggan menyebabkan timbulnya permintaan atas aktivitas ( product and customers create the demand for activities)
Untuk membuat produk diperlukan berbagai aktivitas dan setiap aktivitas memerlukan sumber daya untuk pelaksanaan aktivitas tersebut. Karena itu, pada tahap kedua dari ABC Systems biaya-biaya aktivitas dibebankan ke produk berdasar konsumsi atau permintaan masing-masing produk terhadap aktivitas tersebut.
Berdasarkan keterangan-keterangan diatas, dapat disimpulkan bahwa pada dasarnya ABC Systems mengatribusikan biaya produk melalui dua tahap, yaitu:
1.            Tahap pertama sistem ini menelusuri beban-beban sumber daya penunjang kepada aktivitas yang dilaksanakan oleh sumber daya.
2.            Tahap kedua, biaya-biaya ditelusuri ke produk berdasarkan penggunaan aktivitas oleh produk-produk terhadap aktivitas.
Activity Based Costing merupakan sistem yang mempertahankan dan memproses data keuangan dan operasional dari sumber daya perusahaan berdasarkan aktivitas, objek biaya, cost driver, dan cost pool.
1.      Activities
Aktivitas merupakan setiap kejadian atau transaksi yang merupakan pemicu biaya, yaitu bertindak sebagi faktor penyebab dalam pengeluaran biaya dalam organisasi.aktivitas dalam ABC Systems menjadi titik dari perhimpunan biaya.
2.      Cost Object
Objek biaya dapat berupa apapun, baik produk, pelanggan, jasa, kontrak, unit kerja, aktivitas, dan sebagainya yang diukur biayanya dan dibebankan untuk tujuan tertentu.
3.      Cost Driver
Pemicu biaya adalah setiap faktor yang menyebabkan perubahan dalam biaya suatu aktivitas. Satu perubahan dalam pemicu biaya akan mempengaruhi total biaya aktivitas. Cost driver digunakan untuk mengalokasikan biaya pada aktivitas atau produk.
4.      Cost pool
Dalam ABC Systems, cost pool merupakan suatu aktivitas tunggal atau sekelompok aktivitas dimana biaya diakumulasikan dan selanjutnya mendistribusikan biaya tersebut ke produk.
Oleh Garrison dan Noreen (2003:322) struktur umum model ABC Identifikasi dan Klasifikasi Aktivitas
Pada tahap pertama untuk mengalokasikan biaya dalam metode Activity Based Costing, biaya-biaya dari sumber daya penunjang dialokasikan ke aktivitas. Oleh sebab itu, mengidentifikasikan aktivitas merupakan langkah pertama yang perlu dilakukan sebelum mengalokasikan sumber daya penunjang tersebut. Pengidentifikasian aktivitas membutuhkan daftar dari semua jenis pekerjaan yang dilakukan, misalnya material handling, inspection, process, engineering, dan sebagainya. Pengidentifikasian aktivitas umumnya dikerjakan dengan mewawancarai para manajer atau wakil dari area kerja fungsional. Suatu rancangan pertanyaan-pertanyaan kunci diajukan, dan jawabannya akan dapat membantu menyediakan berbagai informasi yang diperlukan bagi sistem perhitungan biaya berdasarkan aktivitas.
Identifikasi aktivitas merupakan bagian penting dari proses Activity Based Costing. Dalam tahap identifikasi aktivitas ini, aktivitas yang luas dapat dikelompokkan ke dalam empat kategori aktivitas, yaitu:
1.      Aktivitas tingkat unit
Aktivitas tingkat unit adalah aktivitas yang dilakukan setiap kali suatu unit diproduksi. Sebagai contoh, permesinan dan perakitan adalah aktivitas yang dikerjakan tiap kali unit diproduksi. Biaya aktivitas tingkat unit bervariasi dengan jumlah unit yang diproduksi.
2.      Aktivitas tingkat batch
      Aktivitas tingkat batch adalah aktivitas yang dilakukan setiap suatu batch produk diproduksi. Biaya aktivitas tingkat batch bervariasi dengan jumlah batch tetapi tetap terhadap jumlah unit pada setiap batch. Penyetelan, pengawasan (kecuali apabila setiap unit diperiksa), jadwal produksi, dan penanganan bahan, adalah contoh-contoh aktivitas tingkat batch.
3.      Aktivitas tingkat produk
Aktivitas tingkat produk adalah aktivitas yang dilakukan bila diperlukan untuk mendukung berbagai produk yang diproduksi oleh perusahaan. Aktivitas ini mengkonsumsi input yang mengembangkan produk, atau memungkinkan produk diproduksi atau dijual.aktivitas ini dan biayanya cenderung meningkat sejalan dengn peningkatan jenis produk yang berbeda. Perubahan teknik, pengembangan prosedur pengujian produk, pemasaran produk, rekayasa teknik produk, dan pengiriman, adalah contoh-contoh dari aktivitas tingkat produk.
4.      Aktivitas tingkat fasilitas
Aktivitas tingkat fasilitas adalah aktivitas yang menopang proses umum produksi suatu pabrik. Aktivitas tersebut memberi manfaat bagi organisasi pada beberapa tingkat, tetapi tidak memberikan manfaat untuk setiap produk secara spesifik. Contohnya-contohnya meliputi manajemen pabrik, tata letak, pendukung program komunitas, keamanan, pajak kekayaan, dan penyusutan di pabrik.

2.1.7.3  Pemicu Biaya
Pemicu biaya merupakan faktor-faktor yang akan menyebabkan perubahan dalam biaya total dari objek biaya yang terkait. Suatu aktivitas mungkin mempunyai banyak pemicu biaya yang berhubungan dengannya.
ABC Systems mampu menghasilkan keakuratan pengukuran biaya yang lebih baik bila dibandingkan dengan penggunaan sistem biaya tradisional. Hal ini disebabkan ABC menggunakan lebih banyak cost driver dibandingkan dengan sistem biaya tradisional yang hanya menggunakan satu atau dua cost driver.  Jenis cost driver yang digunakan dalam ABC systems meliputi cost driver yang berkaitan dengan unit (misalnya jam mesin, jam tenaga kerja langsung, dan lain-lain) maupun cost driver yang tidak berkaitan dengan unit misalnya jumlah batch, jumlah persiapan, jumlah perubahan desain dan lain-lain. Karena sangat pentingnya cost driver dalam penentuan biaya supaya menghasilkan ketepatan informasi, maka perlu diperhatikan faktor-faktor yang  harus dipertimbangkan dalam memilih cost driver yang akan digunakan. Menurut Cooper dan Kaplan (1991:383) mengatakan bahwa terdapat tiga faktor yang dapat digunakan dalam memilih cost driver, yaitu:
1.      Kemudahan untuk memperoleh data yang dibutuhkan oleh cost driver tersebut.
Untuk mengurangi biaya dari pengukuran cost driver, Activity Based Costing systems mencoba untuk menggunakan driver dengan kuantitas yang mudah diketahui. Sebagai contoh, driver berupa jam inspeksi dapat digantikan dengan driver berupa jumlah inspeksi. Pergantian ini pada umumnya diterima apabila durasi dari setiap inspeksi adalah sama. Penggunaan cost driver berupa jumlah dari transaksi ini merupakan sebuah teknik untuk mengurangi biaya pengukuran dalam perancangan Activity Based Costing systems. Data yang digunakan untuk pemilihan  cost driver pada umumnya adalah data yang tersedia untuk digunakan supaya menghasilkan informasi yang lebih nyata dan menghindari pengeluaran-pengeluaran untuk mencari informasi baru.
2.      Korelasi antara konsumsi dari aktivitas seperti yang digambarkan melalui cost driver dengan konsumsi yang sesungguhnya.
Penggunaan cost driver yang secara tidak langsung menunjukkan konsumsi aktivitas oleh produk menimbulkan resiko, yakni cost driver tersebut akan mengakibatkan distorsi biaya produk karena tidak mampu menunjukkan secara akurat konsumsi aktual produk terhadap aktivitas. Sebagai contoh, apabila aktivitas inspeksi membutuhkan  durasi waktu yang berbeda-beda, penggunaan jumlah inspeksi sebagai cost driver tidak berkaitan secara tepat dengan penggunaan jam inspeksi sebagai cost driver. Korelasi merupakan bagian penting dalam pemilihan cost driver. Cost driver harus mencerminkan sumber daya yang dikonsumsi.
3.      Pengaruh cost driver terhadap perilaku
Pemilihan cost driver juga harus mempertimbangkan pengaruh dari cost driver tersebut terhadap perilaku individu dalam perusahaan, terutama apabila cost driver tersebut digunakan untuk penilaian prestasi.
Cost driver yang digunakan dalam ABC Systems sangat bergantung pada tingkat keakurasian biaya yang diharapkan yang akan dilaporkan dan tingkat diversifikasi produk yang diproduksi. Semakin tinggi tingkat keakuratan yang diharapkan dan semakin besar tingkat diversifikasi produk, maka semakin banyak cost driver yang harus digunakan. Penerapan dan pemahaman yang tidak tepat mengenai cost driver akan menyebabkan kegagalan dalam ABC systems.

2.1.7.4  Penerapan Activity Based Costing Systems
Menurut Hansen dan Mowen (2003:122-127), proses penerapan Activity Based Costing systems dapat dibagi menjadi dua tahap, yaitu:
1.      Tahap Pertama
Pada tahap pertama dalam penerapan sistem ABC adalah sebagai berikut :
  1. Mengidentifikasi aktivitas
  2. Membebankan biaya ke pool biaya aktivitas
  3. Aktivitas yang berkaitan dikelompokkan untuk membentuk kumpulan sejenis.
  4. Biaya aktivitas yang dikelompokkan dijumlah untuk mendefinisikan kelompok biaya sejenis
  5. Menghitung tarif (overhead) kelompok.
2.      Tahap Kedua
Dalam tahap ini biaya setiap kelompok overhead ditelusuri ke produk dengan menggunakan tarif kelompok yang dikonsumsi oleh masing-masing produk, sehingga biaya aktivitas yang ada dibebankan kepada produk terhadap setiap aktivitas. Kemudian biaya overhead perunit diperoleh dengan menelusuri biaya-biaya overhead dari kelompok-kelompok tertentu pada produk. Total biaya tersebut kemudian dibagi dengan jumlah unit yang diproses dan akan menghasilkan biaya overhead perunit.
Menurut Blocher, Chen, dan Lin (2002:109) terdapat tiga langkah utama dalam merancang sebuah ABC systems, yaitu:
  1. Mengidentifikasi biaya sumber daya dan aktivitas
  2. Membebankan biaya sumber daya ke aktivitas
  3. Membebankan biaya aktivitas ke objek biaya
Garrison dan Noreen (2003:322) membagi proses penerapan Activity Based Costing systems menjadi enam tahap:
  1. Mengidentifikasi dan mendefinisikan aktivitas dan pool aktivitas
  2. Bila mungkin, menelusuri langsung ke aktivitas dan objek biaya
  3. Membebankan biaya ke pool biaya aktivitas
  4. Menghitung tarif aktivitas
  5. Membebankan biaya ke objek biaya dengan menggunakan tarif aktivitas dan ukuran aktivitas.
  6. Menyusun laporan manajemen.
Berdasarkan pendapat-pendapat diatas mengenai langkah-langkah dalam penerapan Activity Based Costing, maka dapat disimpulkan bahwa tahap-tahap penerapan ABC systems secara umum adalah sebagai berikut: (1) mengidentifikasikan aktivitas utama dan membuat kamus aktivitas, (2) menentukan biaya aktivitas-aktivitas tersebut, (3) mengidentifikasikan ukuran konsumsi untuk biaya aktivitas (penggerak aktivitas), (4) menghitung tarif aktivitas, (5) mengukur permintaan aktivitas tiap produk, (6) menghitung biaya produk.

Manfaat Activity Based Costing systems
ABC systems memperbaiki keakuratan perhitungan biaya produk dengan mengakui bahwa banyak dari biaya overhead tetap, ternyata bervariasi secara proporsional dengan perubahan selain volume produksi. Dengan memahami apa yang menyebabkan biaya-biaya tersebut meningkat atau menurun, biaya tersebut dapat ditelusuri ke masing-masing produk. Hubungan sebab akibat ini memungkinkan manajer untuk memperbaiki ketepatan perhitungan biaya produk, yang dapat secara signifikan memperbaiki pengambilan keputusan. Selain itu, kelompok biaya overhead tetap yang besar tersebut tidak lagi begitu misterius. Mengetahui perilaku biaya-biaya tersebut akan memungkinkan manajer untuk menggunakan lebih banyak pengendalian atas berbagai aktivitas yang menimbulkan biaya-biaya tersebut.
Menurut Cooper dan Kaplan (1991:276), terdapat tiga manfaat ABC systems bagi manajemen perusahaan, yaitu:
1.      Improved Decision, perhitungan biaya produk dengan menggunakan ABC systems menghasilkan informasi yang lebih akurat, sehingga manajemen perusahaan dapat mengambil keputusan dengan tepat karena terhindar dari distorsi yang terjadi pada perhitungan biaya produk menggunakan sistem tradisional.
2.      Continuous Improvement Activities to Reduce Overhead Costs, dalam penerapan ABC systems penghematan biaya secara signifikan dapat dilakukan dengan cara penanganan bahan baku secara lebih efisien tanpa harus menurunkan harga beli bahan baku, mengurangi biaya set up dan membuat penjadwalan produksi. Dengan disertai perbaikan aktivitas secara terus menerus dan penggunaan informasi yang lebih akurat maka seharusnya penghematan biaya tersbut dapat tercapai.
3.      Ease of Determining Relevant Cost, ABC systems mengurangi kebutuhan untuk melaksanakan pembelajaran khusus mengenai analisa yang lebih mendalam untuk mendapatkan informasi yang relevan dalam rangka keputusan tertentu dengan meningkatkan akurasi dari laporan biaya produk dan menghasilkan biaya secara terpisah dari keempat kategori aktivitas.
Agar manfaat-manfaat diatas didapat dengan optimal, Cooper, Robin, dan Kaplan (1991:372) mensyaratkan tiga hal yang harus dipenuhi, yaitu:
1.      Diversitas produk oleh perusahaan termasuk tinggi
Bahwa produk memproduksi berbagai macam jenis atau lini produk yang diproses dengan menggunakan beberapa fasilitas manufaktur yang sama, sehingga akan timbul masalah dalam mengalokasikan sumber daya yang dikonsumsi oleh masing-masing produk.
2.      Perusahaan menghadapi persaingan yang ketat
Bahwa terdapat beberapa perusahaan yang memproduksi produk sejenis, sehingga dalam keadaan persaingan memperbesar pangsa pasar ini informasi tentang harga pokok produk yang akurat akan mendukung berbagai macam pengambilan keputusan manajemen.
3.      Biaya pengukuran dapat dikatakan rendah
Bahwa biaya-biaya pengukuran yang digunakan untuk menghasilkan informasi biaya produk tersebut haruslah lebih rendah dibandingkan dengan manfaat yang akan diperoleh dimasa yang akan datang.

Kelemahan Activity Based Costing systems
Ada beberapa kelemahan yang dimiliki oleh Activity Based Costing systems menurut Carter dan Usry (2002:513), yaitu:
1.      ABC systems mengharuskan manajer membuat perubahan radikal dalam cara berpikir mereka mengenai biaya.
Cara yang paling berguna untuk memahami logika ABC systems adalah dengan mengakui bahwa ABC memperlakukan semua biaya sebagai biaya variabel, karena ABC didesain sebagai alat pembuat keputusan strategis dalam jangka panjang.
2.      ABC systems tidak menunjukkan biaya yang akan dapat dihindari dengan menghentikan suatu produk.
ABC berusaha untuk menunjukkan konsumsi sumber daya dalam jangka panjang dari setiap produk, namun tidak memprediksikan berapa banyak pengeluaran yang akan dipengaruhi oleh keputusan tertentu.
3.      ABC systems memerlukan usaha pengumpulan data melampaui yang diperlukan untuk memenuhi persyaratan pelaporan eksternal
Di perusahaan yang memiliki sejarah sukses yang panjang dengan mengandalkan pada perhitungan biaya tradisional, akan sulit untuk meyakinkan manajemen bahwa sistem perhitungan biaya baru dibutuhkan. Solusi bagi masalah ini adalah untuk terus menggunakan sistem tradisional yang selama ini sudah dikenal, dan melakukan eksperimen dengan ABC secara terpisah, dengan cara menggunakannya pertama-tama untuk satu lini produk, satu fasilitas, atau suatu kategori biaya seperti biaya departemen jasa. Jika wawasan penting baru diperoleh dari ekperimen tersebut, manajer menjadi yakin bahwa ABC pantas diterapkan secara luas.


Perbandingan Antara ABC Systems dan Sistem Perhitungan Biaya Tradisional
Suatu perbedaan umum antara ABC systems dan sistem tradisional adalah homogenitas dari biaya dalam satu tempat penampungan biaya. ABC mengharuskan perhitungan tempat penampungan biaya suatu aktivitas, maupun identifikasi suatu pemicu aktivitas untuk setiap aktivitas yang signifikan dan mahal. Akibatnya, ada lebih banyak kehati-hatian, paling tidak dalam membentuk tempat penampungan biaya dalam ABC systems dibandingkan dalam perhitungan biaya tradisional. Hasil yang biasa ditemukan adalah bahwa semua biaya dalam satu tempat penampungan biaya aktivitas sangat serupa dalam hal hubungan logis antara biaya-biaya tersebut dengan pemicu aktivitas, sementara hal yang sama tidak dapat dikatakan untuk kebanyakan sistem tradisional.
Perbedaan lain antara ABC systems dan sistem tradisional adalah bahwa semua ABC systems adalah sistem perhitungan biaya dua tahap, sementara sistem tradisional bisa merupakan sistem perhitungan satu atau dua tahap. Di tahap pertama dalam ABC systems, tempat penampungan biaya aktivitas dibentuk ketika biaya sumber daya dialokasikan ke aktivitas berdasarkan pemicu sumber daya. Di tahap kedua, biaya aktivitas dialokasikan dari tempat penampungan biaya aktivitas ke produk atau objek biaya final lainnya. Tetapi, sistem biaya tradisional menggunakan dua tahap hanya apabila jika departemen atau pusat biaya lain dibuat. Biaya sumber daya dialokasikan ke pusat biaya di tahap pertama, dan kemudian biaya dialokasikan dari pusat biaya ke produk di tahap kedua. Beberapa sistem tradisional hanya terdiri dari satu tahap karena sistem tersebut tidak menggunakan pusat biaya yang terpisah, tetapi tidak ada ABC systems yang hanya terdiri dari satu tahap.

            Penelitian Sebelumnya
Penerapan metode ABC systems untuk menentukan harga pokok produk telah banyak dilakukan dalam penelitian skripsi. Namun, pada umumnya penelitian tersebut diterapkan pada perusahaan manufaktur, sedangkan penelitian mengenai penerapan Activity Based Costing systems pada perusahaan jasa tidak sebanyak penelitian pada perusahaan mnufaktur.
Aminda Citra Febrianni (2007) melakukan penelitian pada sebuah perusahaan percetakan. Dalam penelitiannya, diungkapkan bahwa perusahaan masih menggunakan metode tradisional dalam menghitung harga pokok produksi. Untuk perhitungan biaya overhead, perusahaan tersebut menggunakan tarif yang diperoleh dengan cara membagi biaya overhead yang telah dianggarkan dengan taksiran jam tenaga kerja langsung selama satu tahun. Tarif ini berlaku untuk semua produk yang dihasilkan perusahaan, jadi perusahaan hanya menggunakan satu jenis cost driver yang berkaitan dengan volume produksi. Sehingga akan menimbulkan masalah karena beberapa biaya meningkat secara tidak proporsional dengan kenaikan volume produksi. Kendala ini akan semakin besar apabila diversifikasi produk semakin meningkat. Dengan penggunaan ABC systems akan dapat memberikan informasi harga pokok produksi dengan lebih akurat. Persamaan dengan penelitian sebelumnya adalah perusahaan yang dijadikan objek penelitian masih menggunakan metode tradisional dalam melakukan perhitungan harga pokok. Sedangkan perbedaannya adalah penelitian sebelumnya dilakukan pada perusahaan percetakan, bukan pada perusahaan jasa konstruksi khususnya painting contractor.  

BAB III
METODE PENELITIAN

3.1        Ruang Lingkup Analisis
Ruang lingkup analisis adalah suatu batasan studi yang menjelaskan fokus studi agar tidak melebar pada masalah yang lain. Sehubungan dengan luasnya permasalahan yang ada, maka penulis membatasi ruang lingkup penelitian hanya sebatas penerapan Activity Based Costing systems dalam penentuan harga pokok konstruksi pada pelaksanaan pengecatan di perusahaan jasa konstruksi  PT “X” di gudang wilayah Surabaya dan membuktikan keakuratan dalam perhitungan harga pokok dengan menggunakan Activity Based Costing systems bila dibandingkan dengan sistem tradisional.

3.2        Rancangan Penelitian
Pendekatan penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif, dimana proses penelitian tersebut memperhatikan konteks studi dengan menitikberatkan pada pemahaman, pemikiran, dan persepsi peneliti. Metode yang diterapkan dalam penelitian ini adalah metode studi kasus. Menurut Yin (2004:1) studi kasus merupakan pendekatan penelitian yang sesuai untuk digunakan apabila pokok pertanyaan suatu penelitian berkenaan dengan “bagaimana” atau “mengapa”, dimana peneliti hanya memiliki sedikit peluang untuk mengontrol peristiwa-peristiwa yang akan diselidiki, dan bilamana fokus penelitiannya terletak pada fenomena kontemporer di dalam konteks kehidupan nyata.
Komponen-komponen rancangan penelitian dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1.      Pertanyaan penelitian
Bagaimana penerapan Activity Based Costing systems untuk meningkatkan akurasi dalam perhitungan harga pokok konstruksi pada pelaksanaan pengecatan PT “X” di Surabaya?
2.      Proposisi Penelitian
  1. Dalam Activity Based Costing systems perhitungan biaya konstruksi dititikberatkan pada aktivitas-aktivitas yang menyebabkan terjadinya biaya tersebut.
  2. Informasi harga pokok konstruksi yang dihasilkan oleh Activity Based Costing systems lebih akurat dibandingkan dengan sistem tradisional sehingga dapat dimanfaatkan untuk pengambilan keputusan secara lebih tepat.
3.      Unit Analisis
Unit analisis dalam penelitian ini adalah perhitungan  harga pokok konstruksi pada pelaksanaan pengecatan perusahaan jasa konstruksi PT ”X” di Surabaya.
4.      Logika yang mengaitkan data dengan proposisi
Data yang diperoleh harus mengacu pada proposisi yang telah ditetapkan. Data yang dikumpulkan berupa data perhitungan harga pokok konstruksi perusahaan, data biaya tidak langsung perusahaan, data aktivitas-aktivitas dalam produksi, data proses produksi, data tentang harga kontrak proyek perusahaan.

5.      Kriteria untuk menginterpretasikan temuan
Setelah data terkumpul, kemudian diolah dengan teknik analisis yang kemudian akan menghasilkan suatu temuan di mana temuan tersebut akan diinterpretasikan dengan kriteria tertentu. Hasil analisis data diinterpretasikan dalam bentuk informasi harga pokok konstruksi yang dihasilkan Activity Based Costing systems lebih akurat dibandingkan dengan sistem tradisional. Sehingga dapat digunakan oleh pihak manajemen dalam pengambilan berbagai keputusan.

3.3        Jenis Data dan Sumber Data
Jenis data yang digunakan pada penelitian ini adalah data kuantitatif (data yang dinyatakan dalam bentuk angka) dan data kualitatif (data yang tidak dinyatakan dalam bentuk angka). Yang digunakan adalah sumber data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh secara langsung dari perusahaan dengan wawancara serta observasi langsung, untuk mengetahui informasi yang dibutuhkan untuk mendukung penelitian oleh penulis. Data sekunder, penulis memperoleh secara tidak langsung, dimana data yang diperoleh berasal dari dokumentasi perusahaan. Jenis data yang demikian adalah data dokumenter, yaitu arsip-arsip historis yang berupa company profile laporan keuangan PT ”X” yang berupa arsip-arsip yang berhubungan dengan harga kontrak serta biaya-biaya proyek.



3.4        Prosedur Pengumpulan Data
Prosedur pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
1.      Survei pendahuluan
Peneliti melakukan peninjauan awal untuk mendapatkan data mengenai gambaran umum perusahaan, dan untuk mengetahui informasi mengenai produksi dalam perusahaan, serta mengidentifikasi permasalahan yang ada dalam perusahaan untuk diteliti lebih lanjut. Survei pendahuluan bertujuan untuk memastikan kondisi secara umum perusahaan serta untuk mengetahui tingkat relevansi topik penelitian dengan perusahaan terkait.
2.      Survei Lapangan
Tahapan ini merupakan kelanjutan dari survey pendahuluan dengan melakukan teknik pengumpulan data yang menjadi subyek penelitian dengan tujuan untuk mendapatkan data yang diperlukan. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah :
1. Wawancara, merupakan cara pengumpulan data melalui komunikasi langsung dengan pihak-pihak yang berhubungan dengan permasalahan yang diteliti. Dalam hal ini, dilakukan wawancara secara langsung dengan karyawan PT ”X” bagian akuntansi perihal data-data yang terkait dengan sejarah berdirinya perusahaan, struktur organisasi, perhitungan harga pokok konstruksi, data biaya tidak langsung, data harga kontrak proyek.
2.  Dokumentasi, merupakan cara pengumpulan data yang dilakukan dengan mempelajari dokumen-dokumen atau arsip-arsip yang dimiliki perusahaan.
3.   Observasi langsung, merupakan cara pengumpulan data dengan mengadakan kunjungan langsung ke objek penelitian.Yaitu kunjungan langsung pada perusahaan yang menjadi obyek penelitian yaitu PT ”X” untuk mengamati keadaan perusahaan dari kondisi fisik sebenarnya.  

3.5        Teknik Analisis
Langkah-langkah teknik analisis yang dilakukan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1.      Mengumpulkan, mempelajari dan memahami data-data mengenai aktivitas-aktivitas produksi serta data-data yang terkait dengan proses pelaksanaan pengecatan.
2.      Melaksanakan tahap-tahap Activity based Costing dalam rangka perhitungan harga pokok konstruksi:
a.       Mengidentifikasikan aktivitas-aktivitas yang terkait dengan proses produksi.
b.      Mendaftar total biaya tidak langsung.
c.       Menentukan cost driver yang tepat.
d.      Mengalokasikan biaya tidak langsung ke aktivitas-aktivitas berdasarkan cost driver yang tepat.
e.       Menentukan aktivitas driver.
f.       Mengalokasikan biaya aktivitas ke proyek dengan menggunakan aktivitas driver.
g.      Menentukan biaya tidak langsung proyek.
h.      Membandingkan antara harga pokok konstruksi proyek dengan menggunakan sistem tradisional dengan Activity Based Costing.
3.      Membandingkan informasi harga pokok konstruksi yang dihasilkan melalui Activity Based Costing dengan informasi harga pokok konstruksi melalui sistem tradisional

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1    Gambaran Umum Subyek dan Obyek Penelitian
4.1.1 Sejarah Singkat Perusahaan
Perusahaan yang menjadi obyek penelitian dalam skripsi ini adalah berbentuk badan hukum Perseroan Terbatas (PT). Didirikan pada tanggal 22 Oktober 1981, melalui akta notaris Susanti SH, No. 407, 28 Mei 1990, dimana perusahaan tersebut termasuk golongan besar 2 (B2). Kedudukan serta kantornya untuk wilayah Indonesia Timur sampai sekarang berada di daerah Surabaya Selatan, sedangkan untuk gudang proyek wilayah Surabaya dan sekitarnya berada didaerah Taman-Sidoarjo. Dokumen resmi yang dimilikinya diantaranya adalah:
1.      Menteri Kehakiman RI-SK No. C2.2655.HT.01.01.Tahun 1991.
2.      SIUP No. 889/ 13-1/ PB/ XII/ 1990, tanggal 8 Desember 1990.
3.      SIUP No. 503/ 398/ 436.4.12/ 2005, tanggal 19 Oktober 2005.
4.      SIUJK No. 1884/ 306/ 436.4.6/ 2004, tanggal 11 November 2004.
5.      Notaris Shinta Ameliawaty SH, akta No. 49, 7 Mei 2002.
Pada awal pendirian, PT “X” membiayai usahanya dengan modal sendiri, karena perkembangan usaha yang pesat maka dirasa perlu untuk menambah sumber permodalan dengan menggunakan kredit (hutang) bank yang diantaranya adalah Bank Hagakita dan Bank Permata.


4.1.2  Sektor Usaha dan Bidang Pekerjaan Perusahaan
Sesuai dengan akta pendirian perusahaan, maksud didirikannya PT “X” adalah berusaha di sektor usaha jasa kontruksi dimana bidang pekerjaannya antara lain:
1.      Pelaksanaan Pengecatan.
  1. Marine (kapal) dan Industri Plant - Struktur Baja, Tanki dan sebagainya.
  2. Decorative – Bangunan Gedung dan Perumahan.
2.      Pembersihan Baja – Sandblasting, Powertool Cleaning, dan lain-lain.
3.      Pengadaan dan Instalansi Gysumboard Plafon dan Pratisi

4.1.3 Struktur Organisasi
Penciptaan organisasi suatu perusahaan adalah untuk mencapai tujuan tertentu dengan mengkoordinasikan faktor-faktor produksi, termasuk tenaga kerja. Koordinasi ini penting karena tenaga kerja merupakan salah satu faktor yang penting bagi pimpinan (manajemen) sebagai pelaksana dalam pencapaian tujuan perusahaan. Oleh karena itu dibutuhkan adanya pendelegasian wewenang dan tanggung jawab secara tepat yang diwujudkan dalam suatu struktur organisasi. Perusahaan membagi organisasinya dalam departemen keuangan, operasional dan umum. Hal ini dimaksudkan agar perusahaan dapat mendayagunakan kebaikan-kebaikan yang ada secara efektif dan terpadu dalam menangani kegiatannya. 
Dalam pelaksanaan kegiatan proyeknya, PT “X” dipimpin oleh seorang pimpinan perusahaan serta dibantu oleh tiga (3) orang kepala bagian, yang terdiri dari: Kepala Bagian Keuangan, Kepala Bagian Operasional dan Kepala Bagian Umum. Kepala bagian keuangan bertanggung jawab dalam aspek akuntansi dan keuangan setiap proyek yang ditangani. Kepala bagian operasional bertanggungjawab terhadap kegiatan operasional proyek sehari-harinya serta bertanggungjawab terhadap mutu atas pengerjaan proyek. Dan untuk kepala bagian umum bertanggungjawab terhadap permasalahan bersifat umum yang timbul selama pengerjaan proyek.
Dari masing-masing kepala bagian tersebut masih membawahi beberapa bagian. Setiap bagian bertanggungjawab kepada kepala bagiannya. Kepala bagian keuangan membawahi dua (2) bagian, yaitu:
1.      Bagian keuangan atau akuntansi
2.      Bagian administrasi
Kepala bagian operasional membawahi tiga (3) bagian, yaitu:
1.      Bagian operasi dibantu oleh supervisor dan pelaksana
2.      Bagian estimasi
3.      Bagian kendali mutu
Kepala bagian umum membawahi empat (4) bagian, yaitu:
1.      Bagian warehouse
2.      Bagian logistik
3.      Bagian workshop
4.      Bagian security
Masing- masing bagian dibantu oleh beberapa staff dan tenaga penunjang untuk setiap proyek yang ditangani.


            Kegiatan dan Prospek Usaha
PT “X”adalah sebuah perusahaan jasa kontruksi yang bersifat subkontraktor, yaitu suatu pihak yang melaksanakan pekerjaan pembangunan proyek yang dipercayakan kepadanya oleh pihak kontraktor. Secara garis besar, urut-urutan kegiatan yang dilaksanakan perusahaan sejak suatu pekerjaan didapat hingga suatu pekerjaan diselesaikan dan diserahkan kepada kontraktor adalah sebagai berikut:
1.       Setelah pihak kontraktor mengumumkan pemenangan proyek tertentu, maka perusahaan akan memperoleh pelulusan pekerjaan dari kontraktor melalui surat, yang menyatakan bahwa perusahaan telah memenangkan tender.
2.        Berdasarkan pelulusan pekerjaan, kemudian dibuatkan perjanjian antara pihak kontraktor dan pihak perusahaan, yang dilampirkan pada anggaran pelaksanaan proyek yang merupakan penawaran dari pihak perusahaan.
3.       Dalam waktu kurang lebih satu (1) minggu setelah dikeluarkan surat pelulusan pekerjaan, perusahaan memperoleh surat perintah kerja yang diantaranya berisi tentang saat kapan pekerjaan dapat dimulai dan jangka waktu penyelesaian pekerjaan.
4.       Surat perintah kerja diterima maka mulailah perusahaan melaksanakan pekerjaan sesuai dengan prosedur yang ada.
5.       Begitu pekerjaan mencapai 100% maka dibuat Berita Acara Penyerahan (BAP).
6.       Setelah selesai jangka waktu pemeliharaan yang biasanya 90 hari setelah penyerahan akan dibuatkan Berita Acara Penyerahan (BAP) pekerjaan yang kedua.
7.       Berita Acara Penyerahan ( BAP) pekerjaan yang kedua selesai dibuat dan telah disetujui maka selesailah tugas perusahaan dalam hal melaksanakan pekerjaan pembangunan suatu proyek yang dipercayakan kepadanya.

            Uraian Pekerjaan
Dalam pelaksanaan pekerjaan sebagai pedoman yang digunakan adalah gambar detail yang tercantum dalam surat perjanjian serta petunjuk dari direktur, apabila dalam pelaksanaan ada persyaratan-persyaratan lain yang dipandang perlu dan belum termasuk atau belum tercantum dalam persyaratan maka direktur berhak memberikan petunjuk.
Selanjutnya, pekerjaan yang akan dilaksanakan diperjelas dengan uraian pekerjaan yang disetujui oleh direktur. Uraian pekerjaan berisi mengenai bermacam-macam pekerjaan disertai syarat-syarat dan ketentuan yang lebih mendetail mengenai pekerjaan yang akan dilaksanakan serta petunjuk pelaksanaannya.

            Hasil Produksi
Selama tahun 2006, PT ”X” menyelesaikan beberapa proyek dengan karakteristik dan spesifikasi yang berbeda-beda. Dalam menyelesaikan proyek-proyeknya, PT ”X” mengutamakan mutu atas pengerjaan proyek dengan memperhatikan kualitas bahan baku yang digunakan, kualitas sumber daya manusianya dan ketepatan waktu dalam menyelesaikan suatu proyek. Hasil pengerjaan proyek PT ”X” selama tahun 2006 untuk gudang wilayah Surabaya Deskripsi Hasil Penelitian
            Sistematika Harga Pokok Konstruksi Pada PT. ” X”
Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya bahwa PT ”X” merupakan perusahaan yang bergerak dalam bidang jasa konstruksi, dimana aktivitas yang dilakukan berdasarkan pesanan yang diterima dari pemberi proyek. Maka dari itu  PT ”X” menggunakan metode harga pokok pesanan dalam mengumpulkan biaya proyeknya. Dengan menggunakan harga pokok pesanan, setiap jenis proyek dihitung harga pokok konstruksinya secara individual pada saat pesanan selesai dikerjakan.
Pada perhitungan harga pokok konstruksinya, PT ”X” mengelompokkan biaya-biayanya ke dalam tiga bagian utama, yaitu biaya bahan, kemudian biaya tenaga kerja langsung, dan biaya tidak langsung.
Biaya bahan yang dimaksud disini adalah biaya bahan baku langsung yang digunakan dalam proses pengerjaan suatu proyek, yang meliputi cat, alkaplast, plamir pasta, dan lain-lain. Di dalam menentukan biaya suatu bahan sebuah proyek, bagian pelaksana terlebih dahulu mengestimasi banyaknya bahan baku yang dibutuhkan untuk menyelesaikan suatu proyek. Setelah mengetahui estimasinya, biaya pemakaian bahan baku suatu proyek dapat dihitung dengan cara mengalikan kuantitas bahan yang digunakan dengan harga bahan yang digunakan untuk menyelesaikan suatu proyek. Karena setiap proyek yang dikerjakan disesuaikan dengan spesifikasi dan karakteristik tertentu berdasar keinginan pemberi proyek, maka jenis dan kuantitas bahan-bahan yang digunakan tidaklah sama untuk setiap proyek.
Biaya tenaga kerja langsung merupakan biaya tenaga kerja yang secara langsung terlibat dalam proses pengerjaan suatu proyek. Biaya tenaga kerja langsung dibebankan ke masing-masing proyek berdasarkan jumlah hari kerja yang dibutuhkan untuk menyelesaikan suatu proyek dikalikan dengan tarif  tenaga kerja per hari. Rincian untuk biaya bahan dan biaya tenaga kerja langsung selama tahun 2006 dapat dilihat pada tabel 4.2.
Biaya tidak langsung adalah biaya proyek selain biaya bahan baku dan biaya tenaga kerja langsung. Untuk perhitungan biaya tidak langsung, PT ”X” menggunakan tarif yang ditentukan di muka dan dasar pembebanan yang digunakan adalah jumlah hari tenaga kerja langsung. Tarif diperoleh dengan cara membagi total biaya overhead yang dianggarkan dengan estimasi jumlah hari tenaga kerja langsung selama setahun. Tarif ini berlaku untuk semua proyek yang diselesaikan oleh perusahaan. Pendekatan ini mengasumsikan bahwa perubahan biaya tidak langsung dapat dijelaskan dengan menggunakan satu tarif biaya overhead atau satu jenis cost driver.
Sebagaimana yang dijelaskan di atas bahwa tarif tunggal mengasumsikan bahwa biaya tidak langsung dapat dijelaskan dengan hanya menggunakan satu jenis cost driver yang berkaitan dengan volume pengecatan. Hal ini dapat menimbulkan masalah karena beberapa biaya meningkat secara tidak proporsional dengan kenaikan volume pengecatan. Rincian biaya tidak langsung yang dikeluarkan oleh PT ”X” selama tahun 2006 dapat dilihat pada tabel 4.3.
Harga Pokok Konstruksi PT “X” untuk proyek gudang wilayah Surabaya dan sekitarnya selama tahun 2006 dapat dilihat pada tabel 4.4 berikut
            Perhitungan Harga Pokok Konstruksi dengan Activity Based Costing
Untuk dapat menyelesaikan proyek-proyek dari para pemberi proyek serta untuk meningkatkan mutu atas pengerjaan proyek, dalam melaksanakan proses pengerjaan proyeknya PT “X” menggunakan beberapa alat bantu dengan tipe yang berbeda-beda setiap proyeknya, yaitu :
a.       Roll Budget
b.      Busa Roll Budget
c.       Kertas Gosok
d.      Kuas
e.       Majun
f.       Isolasi
g.      Roll Mini
h.      Busa Roll Mini
Selama tahun 2006 perusahaan secara umum mampu menyelesaikan sebanyak 24 proyek untuk gudang wilayah Surabaya dan sekitarnya yang terdiri dari proyek gedung kantor, pertokoan, dan rumah pribadi. Tabel 4.5 berikut akan menyajikan data mengenai proyek-proyek PT “X” berdasarkan jenis bangunan selama tahun 2006 untuk gudang wilayah Surabaya dan sekitarnya,yaitu:




   Di dalam penulisan ini disadari adanya keterbatasan bahwa data yang disajikan masih jauh dari sempurna dan masih adanya data yang menggunakan asumsi-asumsi. Hal tersebut disebabkan adanya pengolahan data yang terjadi pada PT “X” masih kurang memadai.

Pembahasan
            Perhitungan Harga Pokok Konstruksi Dengan Metode Activity Based Costing
Activity Based Costing systems merupakan suatu metode perhitungan harga pokok konstruksi yang mengukur biaya dan kinerja dari aktivitas, sumber daya, dan obyek biaya. Dalam metode ABC aktivitas-aktivitas mengkonsumsi sumber daya, dan selanjutnya aktivitas dibebankan ke masing-masing proyek berdasarkan penggunaannya. Dalam perhitungan harga pokok konstruksi dengan menggunakan metode ABC, diperlukan berbagai informasi mengenai aktivitas –aktivitas apa saja, biaya-biaya, serta tingkat konsumsi masing-masing proyek terhadap aktivitas. Sehingga, metode ABC membutuhkan proses pengidentifikasian aktivitas-aktivitas yang dikonsumsi oleh masing-masing proyek, menghitung biaya atas dasar aktivitas-aktivitas tersebut serta menelusuri biaya dari setiap aktivitas ke masing-masing proyek sesuai dengan tingkat konsumsi tiap proyek.
Perhitungan harga pokok konstruksi berdasarkan ABC merupakan metode yang mengasumsikan bahwa aktivitas merupakan penyebab timbulnya biaya, sedangkan proyek-proyek yang dihasilkan mengkonsumsi aktivitas-aktivitas tersebut. Dengan menggunakan metode ABC manajemen dapat memperoleh informasi yang lebih akurat mengenai harga pokok konstruksi sehingga dapat digunakan untuk proses pengambilan keputusan secara lebih bijaksana. Perhitungan harga pokok konstruksi dengan menggunakan metode ABC dapat dibagi menjadi dua tahapan. Masing-masing tahapan akan diuraikan sebagai berikut:
Tahap Pertama
   Dalam tahap awal metode ABC ini, yang akan dilakukan antara lain adalah mengidentifikasi aktivitas-aktivitas yang terkait dengan proses produksi yang dapat dilihat pada tabel 4.6, mendaftar total biaya tidak langsung yang ditampilkan pada tabel 4.7, menentukan cost driver yang tepat seperti tampak pada tabel 4.8, dan mengalokasikan biaya tidak langsung ke aktivitas berdasarkan cost driver yang dapat dilihat pada Tabel 4.9. Sementara rincian dari atribusi biaya-biaya tidak langsung
Pada tahap ini juga dilakukan pengklasifikasian aktivitas-aktivitas ke dalam kategori-kategori yang akan memudahkan perhitungan biaya proyek. Berbagai aktivitas pada PT “X” akan dikelompokkan berdasarkan kriteria tingkatan dan aktivitas drivernya ke dalam empat kelompok berikut,yaitu:
a.       Kelompok aktivitas yang merupakan aktivitas tingkat unit, yaitu aktivitas yang dilakukan setiap kali suatu unit diproduksi. Aktivitas-aktivitas yang bersifat unit level antara lain:
1.      Pemeriksaan ulang bahan di gudang proyek
Aktivitas yang dilakukan oleh bagian pengawas proyek untuk memeriksa segala keperluan bahan baku yang diperlukan dalam menyelesaikan suatu proyek. Aktivitas drivernya adalah jam inspeksi.
2.      Pemeriksaan pemenuhan syarat sebelum proses pengecatan dan pengecekan lahan proyek
Aktivitas yang dilakukan untuk mengetahui standar kelembaban dinding pada proyek yang akan diselesaikan. Aktivitas drivernya adalah jam inspeksi.
3.      Pembersihan dan penggosokan dinding.
Aktivitas yang dilakukan untuk membersihkan dinding proyek sebelum melakukan segala proses yang dibutuhkan untuk menyelesaikan suatu proyek. Aktivitas drivernya adalah jumlah hari pembersihan.
4.      Pengaplikasian plamir
Aktivitas yang dilakukan dengan melapisi dinding dengan plamir. Aktivitas drivernya adalah jumlah hari pengecatan.
5.      Penghalusan dengan menggunakan kertas gosok tahap I sampai halus.
Aktivitas yang dilakukan untuk memperhalus dinding proyek sebelum proses pengecatan. Aktivitas drivernya adalah jumlah hari penggosokan.
6.      Pengecatan dasar tahap I
Aktivitas pengecatan tahap I. Aktivitas drivernya adalah jumlah hari pengecatan.
7.      Revisi pada beberapa area yang kurang rapi.
Aktivitas yang dilakukan untuk memperbaiki beberapa hasil pengecatan tahap awal yang kurang rapi. Aktivitas drivernya adalah jumlah hari revisi.
8.      Penggosokan dan penghalusan dengan kertas gosok tahap II
Aktivitas yang dilakukan untuk memperhalus hasil pengecatan yang telah direvisi. Aktivitas drivernya adalah jumlah hari penggosokan.
9.      Pengecatan tahap II dengan mesin kompresor (pengecatan dengan spray).
Aktivitas pengecatan tahap II dengan menggunakan mesin kompresor sebagai tahap akhir. Aktivitas drivernya adalah jam mesin.
10.  Perhitungan volume hasil pengecatan.
Aktivitas yang dilakukan setelah semua proses pengecatan selesai dilakukan. Aktivitas drivernya adalah jumlah pengecatan.
b.      Kelompok aktivitas  yang termasuk aktivitas tingkat batch adalah aktivitas yang dilakukan setiap suatu batch produk diproduksi. Antara lain adalah sebagi berikut:
  1. Pemesanan bahan ke kantor
Aktivitas yang dilakukan untuk memesan bahan baku langsung yang dibutuhkan untuk menyelesaikan proyek yang diterima. Aktivitas drivernya adalah jumlah pesanan.
  1. Pemeriksaan stock di gudang
Aktivitas yang dilakukan setelah adanya pemesanan bahan dari kantor. Aktivitas drivernya adalah jam inspeksi.
c.       Kelompok aktivitas yang merupakan aktivitas tingkat produk adalah aktivitas yang dilakukan untuk mendukung produk yang diproduksi oleh perusahaan.
  1. Jika tidak ada stock melakukan pembelian sesuai order.
Aktivitas yang dilakukan apabila di gudang, stock yang dibutuhkan untuk menyelesaikan proyek-proyek tidak tersedia. Aktivitas drivernya jumlah permintaan
  1. Pengiriman bahan ke lokasi proyek.
Aktivitas pengiriman bahan baku langsung ke lokasi proyek. Aktivitas drivernya adalah jumlah perpindahan.
  1. Pembuatan faktur penjualan
Aktivitas yang dilakukan setelah volume hasil pengecatan diketahui. Aktivitas drivernya adalah jumlah faktur.
d.      Kelompok aktivitas yang merupakan aktivitas tingkat fasilitas adalah aktivitas yang menopang proses umum produksi suatu proyek .
  1. Kesejahteraan
Aktivitas pemberian kesejateraan bagi para tenaga kerja langsung. Aktivitas drivernya adalah jumlah tenaga kerja langsung.
  1. Penghunian
Aktivitas penghunian meliputi biaya penyusutan gudang dan pemeliharaan gudang. Aktivitas drivernya adalah M².
Setelah aktivitas dikelompokkan berdasarkan tingkatan dan aktivitas drivernya, biaya untuk masing-masing kelompok dijumlahkan untuk mendapatkan perhitungan biaya tiap pool. Kemudian, hasil dari kalkulasi biaya tersebut dibagi dengan total aktivitas yang dikonsumsi oleh masing-masing kelompok.Hasil dari pembagian tersebut merupakan biaya per aktivitas. Rincian kelompok aktivitas, aktivitas driver, dan biaya per aktivitas dapat dilihat pada tabel 4.10. Sementara itu rincian konsumsi masing-masing proyek terhadap aktivitas dapat dilihat pada tabel 4.11.

Tahap Kedua
Pada tahap ini, biaya untuk setiap cost pool ditelusuri ke masing-masing proyek. Penelusuran ini dapat dilakukan dengan cara mengalikan biaya per aktivitas dengan tingkat konsumsi masing-masing proyek terhadap aktivitas yang dapat dilihat perhitungannya pada bagian lampiran 2.
Setelah tingkat konsumsi aktivitas masing-masing proyek dikalikan dengan biaya per aktivitas, maka langkah selanjutnya biaya untuk masing-masing proyek yang ada dari setiap pool mulai dari pool 1 sampai pool terakhir dijumlahkan untuk mendapatkan total biaya tidak langsung setiap proyek. Hasil penjumlahan tersebut dapat dilihat pada tabel 4.12.
Sebagai contoh perhitungan total biaya tidak langsung dari proyek DTC Wonokromo dapat dirangkum dalam tabel 4.13 sebagai berikut:

Untuk proyek-proyek yang lainnya, perhitungan yang dilakukan juga sama halnya seperti proyek DTC WOnokromo. Sebagaimana dapat dilihat pada bagian lampiran 2, akan tampak jelas perhitungan biaya tiap pool untuk setiap proyeknya, yaitu dengan cara mengalikan konsumsi aktivitas masing-masing proyek dengan tarif per aktivitasnya.
4.3.2 Perbandingan Harga Pokok Konstruksi Antara Sistem Tradisional Dan ABC Systems
Setelah perhitungan dari seluruh pool mulai dari pool 1 sampai pool 15 diketahui, maka besarnya biaya tidak langsung untuk masing-masing proyek berdasar metode ABC dapat diketahui. Hal ini dikarenakan biaya-biaya yang dijumlahkan dari masing-masing pool untuk setiap proyek merupakan biaya tidak langsung dari proyek tersebut.
Jadi apabila diambil satu proyek sebagai contoh yaitu DTC Wonokromo. Tahapannya dimulai dari mendaftar aktivitas dan biaya tidak langsung, kemudian menentukan cost driver dari masing-masing biaya tidak langsung untuk mengalokasikannya ke aktivitas-aktivitas yang menimbulkan biaya.Setelah itu tahap selanjutnya adalah mengelompokkan aktivitas berdasarkan tingkatannya dan menentukan aktivitas drivernya ke dalam cost pool. Dengan demikian dapat ditentukan tarif per aktivitas dari total cost pool dibagi dengan total konsumsi tiap aktivitas.Kemudian biaya untuk masing-masing cost pool ditelusuri ke setiap proyek dengan cara mengalikan tarif per aktivitas dengan tingkat konsumsi aktivitas. Langkah selanjutnya adalah menjumlahkan pool 1 sampai pool terakhir sehingga dapat diketahui total biaya tidak langsung yaitu Rp 12.054.090,97.
Setelah biaya tidak langsung menurut metode ABC diketahui, maka dapat dilakukan perbandingan dengan metode tradisionalnya. Perhitungan harga pokok konstruksi berdasarkan metode ABC akan berbeda dengan harga pokok konstruksi berdasarkan metode tradisional. Rincian mengenai perbandingan antara metode ABC dan metode tradisional dapat dilihat pada tabel 4.14.  
Perbandingan ini menunjukkan perbedaan yang cukup besar atas pengaruh dari metode tradisional yang hanya menggunakan satu cost driver yaitu jumlah hari tenaga kerja langsung dalam pembebanan biaya tidak langsung dibanding metode ABC yang membebankan biaya berdasarkan konsumsi proyek terhadap aktivitas yang memberikan informasi yang lebih akurat dalam perhitungan harga pokok konstruksi.
Penggunaan metode ABC dalam perhitungan harga pokok konstruksi mempertimbangkan perbedaan dalam mengalokasikan aktivitas sesuai dengan yang dikonsumsi oleh setiap proyek yang bersangkutan. Hal ini berkaitan dengan kompleksitas serta karakteristik masing-masing proyek.
 
BAB V
SIMPULAN DAN SARAN

            Simpulan
Berdasarkan pembahasan yang telah dijelaskan pada bab-bab sebelumnya maka penulisan skripsi ini dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:
  1. PT “X” menggunakan metode tradisional dalam perhitungan harga pokok konstruksinya dengan menggunakan jumlah hari tenaga kerja langsung sebagai cost driver untuk membebankan biaya tidak langsung ke masing-masing proyek. Penggunaan metode tradisional dengan menggunakan hanya satu jenis cost driver yaitu jumlah hari tenaga kerja langsung tidaklah relevan mengingat masing-masing proyek yang dikerjakan memiliki kompleksitas dan karakteristik yang berbeda-beda. Proyek berupa gedung perkantoran dan pertokoan relatif lebih kompleks dibanding proyek berupa rumah pribadi.
  2. Dengan menggunakan metode ABC, perusahaan dapat memperoleh informasi yang lebih akurat mengenai perhitungan harga pokok konstruksi. Sebagai perbandingan, metode tradisional menentukan harga pokok konstruksi lebih rendah (undercosted) untuk proyek-proyek seperti DTC Wonokromo, BNI’46 Sidoarjo, Sampoerna Rungkut,Petrokimia M7102, Ketintang Baru I/2, Tenggilis 91-93, Ruko Pemuda, Villa Pakuwon, Hypermart PTC, Margorejo Indah C914, Tegalsari 51, Cipto 10, JW Marriot, Dharmahusada U121, Superindo Delta dan Superindo Rungkut dibanding metode ABC. Sedangkan untuk proyek-proyek seperti  Supra Surya, Murinda-Sukorejo, Office Park 2, BNI Kedungdoro, Citra Jenggolo, Gerbang Citraland, Kantor PP Juanda, Margorejo Indah B301 menentukan harga pokok konstruksi lebih tinggi (overcosted) dibanding metode ABC. Sehingga dapat disimpulkan bahwa dengan metode ABC, sesungguhnya proyek-proyek yang undercosted menyerap biaya tidak langsung lebih banyak dan proyek-proyek yang overcosted menyerap lebih sedikit biaya.
  3. Metode ABC menggunakan lebih banyak pemicu biaya sehingga akan mengalokasikan biaya tidak langsung ke masing-masing proyek dengan lebih akurat, sesuai dengan tingkat kompleksitas dan karakteristik masing-masing proyek. Maka dengan metode ABC harga pokok konstruksi untuk proyek-proyek yang undercosted akan menjadi lebih tinggi. Sedangkan untuk proyek-proyek yang overcosted, harga pokok konstruksinya akan menjadi lebih rendah. Dengan demikian, melalui penggunaan metode ABC dapat menghilangkan distorsi biaya yang terjadi.
            Saran
Berdasarkan kesimpulan yang telah dikemukakan, maka saran-saran yang dapat diberikan adalah  bahwa PT ”X” mulai mengaplikasikan metode ABC dalam perhitungan harga pokok konstruksinya, sehingga harga pokok konstruksi yang ditentukan lebih akurat dan tepat sehingga dapat membantu manajemen dalam mengambil keputusan yang bijak berkenaan dengan harga kontrak suatu proyek. Dengan demikian harga kontrak untuk proyek-proyek perusahaan yang ditetapkan terlalu tinggi akan menjadi lebih rendah. Sementara untuk proyek-proyek yang ditetapkan terlalu rendah akan menjadi lebih tinggi, maka pihak manajemen dapat mengambil keputusan yang bijaksana mengenai harga kontrak suatu proyek. Berdasar metode ABC dapat juga digunakan untuk mengevaluasi kinerja dari manajemen, karena kinerja di PT ”X” salah satunya dilihat dari laba yang dapat dihasilkan. Apabila menggunakan metode tradisional, laba yang dihasilkan tidak sesuai dengan yang sesungguhnya karena informasi mengenai harga pokok konstruksi tidak akurat.

DAFTAR KEPUSTAKAAN

Blocher, Edward, Kung H. Chen, and Thomas W. Lin. 2002. Cost Management: A Strategic Emphasis. International Edition. New York: McGraw- Hill Companies International, Inc.

Carter, William K. and Milton F. Usry. 2002. Cost Accounting. Thirteenth Edition. Ohio : South Western Publishing Co.

Cooper, Robin, and Robert S. Kaplan. 1991. The Design of Cost Management Systems : Text, Cases, and Readings. New Jersey : Prentice Hall, Inc.

Garrison, Ray. H. and Eric W. Noreen. 2003. Concept for Planning, Controling, Decision Making. Managerial Accounting. Tenth Edition. Richard D. Irwin Inc.

Hansen Don R., and Maryanne M. Mowen. 2003. Management Accounting. Sixth Edition. Ohio : South Western Publishing Co.

Hilton, Ronald W. 1999. Managerial Accounting. Fourth Edition. New York. McGraw-Hill Companies International, Inc.

-------, Ronald W., Michael W. Maher, and Frank H. Selto. 2006. Cost Management : Strategies for Business Decision. Third Edition. New York : McGraw- Hill Companies, Inc.

Horngren, Charles T., Srikant M. Datar, and George Foster. 2003. Cost Accounting: A Managerial Emphasis. New Jersey : Prentice Hall, Inc.

Mulyadi. 2005. Akuntansi Biaya. Edisi Kelima. Yogyakarta : UPP AMP YKPN
----------. 2003. Activity Based Cost Systems : Sistem Informasi Biaya Untuk Pengurangan Biaya. Edisi 6. Yogyakarta : UPP AMP YKPN.

Simamora, Henry. 1999. Akuntansi Manajemen. Cetakan Pertama. Jakarta. Salemba Empat.

Yin, Robert K. 2004. Studi Kasus (Desain dan Metode). Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada.











4 Responses to "Kumpulan Skripsi Ekonomi Akutansi PENERAPAN ACTIVITY BASED COSTING UNTUK MENINGKATKAN AKURASI HARGA POKOK"

  1. tabel2nya kok gak ada yak??minta file data tabelnya dunk supaya bisa ikutan analisa tabel..

    buat perbandingan sama skripsi saya.. Thanks.. :)

    ReplyDelete
  2. little Angel : emailnya ya di tulis biar bisa saya kirimikan,,terima kasih

    ReplyDelete
  3. Selamat Pagi..
    skripsi saya juga akan mengangkat topik ABC.
    Boleh minta file-filenya juga ga?
    kalau boleh mau minta alamat email anda. terimakasih..

    ReplyDelete
  4. anonim : ya boleh....email saya wirmanvalkinz@gmail.com

    ReplyDelete