Bola Tangkas

kumpulan skripsi matematika STUDI PERBANDINGAN PRESTASI BELAJAR SISWA ANTARA YANG DIAJAR DENGAN METODE PENEMUAN TERBIMBING DAN METODE EKSPOSITORIS TOPIK TEOREMA PYTHAGORAS DI KELAS VIII SMP

STUDI PERBANDINGAN PRESTASI BELAJAR SISWA ANTARA YANG DIAJAR DENGAN METODE PENEMUAN TERBIMBING DAN METODE EKSPOSITORIS TOPIK TEOREMA PYTHAGORAS DI KELAS VIII SMP NEGERI 1 LABUAPI TAHUN PELAJARAN
 2008/2009


BAB I
PENDAHULUAN

1.1   Latar Belakang
Sekolah merupakan salah satu wadah kegiatan yang dapat berfungsi untuk mengembangkan kemampuan-kemampuan dasar siswa. Dengan adanya sekolah diharapkan dapat menghasilkan sumber daya manusia yang berkualitas sehingga dapat mengimbangi kemajuan teknologi. Matematika merupakan salah satu mata pelajaran yang diajarkan di sekolah dengan harapan dapat menjadi wahana bagi para siswa untuk berfikir kritis, logis dan kreatif. Hal ini dapat tercapai apabila proses pembelajarannya dapat melibatkan siswa secara aktif dan mengembangkan potensi intelektual siswa. Selain itu matematika merupakan ilmu yang sangat penting  dan dapat digunakan di segala bidang. Soedjadi (1994) mengatakan, "matematika sebagai salah satu ilmu dasar baik aspek terapannya maupun aspek penalarannya, mempunyai peranan yang penting dalam upaya penguasaan ilmu dan teknologi".
Mengingat begitu pentingnya matematika, maka dalam proses belajar mengajar matematika juga harus diperhatikan. Dalam memberikan materi kepada siswa selain guru harus menguasai materinya, juga harus dapat merencanakan dan melaksanakan pembelajaran dengan baik. Sehubungan dengan pembelajaran matematika guru perlu dan dapat melaksanakan dengan baik berbagai pedoman tentang (1) strategi pembelajaran, (2) pendekatan pembelajaran, (3) metode pembelajaran, serta (4) teknik pembelajaran.
Belajar matematika tidak bisa berdiri sendiri tetapi berkelanjutan satu dengan yang lainnya, sebagaimana diungkapkan Hudojo (1988: 4): " untuk mempelajari suatu materi matematika baru, pengalaman belajar yang lalu dari seorang itu akan mempengaruhi terjadinya proses belajar materi matematika tersebut". Sebagai misal suatu kejadian anak-anak di Afrika: Some African children were lerning the theorem of phytagoras. They had copied right-angled triangle from the blackboard, and were told to make a square on each side. This they did easly enough for the two shorter sides; but they were nearly all in difficulty when they tried to draw the square on the hypotenuse. Many of them drew something like figure c. (Richard R. Skemp, 1971: 33). Artinya Beberapa anak Afrika sedang mempelajari teorema Pythagoras. Setelah mereka menyalin dengan benar dari papan tulis sebuah segitiga siku-siku, dan diminta melukis bujursangkar pada setiap sisinya. Mereka dengan mudah melukis untuk dua sisi pendeknya, tetapi hampir semua mengalami kesulitan melukis bujursangkar pada sisi miring. Kebanyakan menggambar seperti c.


Kejadian ini mungkin dialami anak didik kita karena kesalahan konsep yang ia terima, sehingga ia menganggap bujursangkar-bujursangkar yang dilukis sesuai dengan kotak-kotak buku bergaris, begitu juga pada sisi miring.
Jereme Bruner (dalam Hudojo, 1998: 56) menyatakan bahwa, belajar matematika adalah belajar tentang konsep-konsep dan struktur-struktur matematika yang terdapat di dalam materi yang dipelajari serta mempelajari hubungan-hubungan antara konsep-konsep dan struktur-struktur matematika.
Oleh banyak siswa, matematika dikategorikan sebagai mata pelajaran yang cukup sulit. Ada topik-topik tertentu yang sulit dipahami oleh siswa, sehingga menjadikan topik itu sebagai momok bagi siswa.
Dari hasil pengamatan penulis selama melakukan observasi di beberapa sekolah di Kabupaten Lombok Barat khususnya di Sekolah Menengah Pertama dan dari hasil wawancara dengan beberapa guru matematika dijumpai bahwa sebagian besar guru masih mengajar dengan metode konvensional atau metode ekspositoris sehingga siswa kurang aktif. Disamping itu siswa banyak mengeluh pada beberapa pokok bahasan tertentu seperti pada topik Teorema Pythagoras. Para siswa mengatakan bahwa konsep-konsep pada topik Teorema Pythagoras sulit dipahami dan banyak rumus-rumus yang perlu dihafalkan. Pada pokok bahasan ini siswa perlu menghafal rumus Pythagoras beserta aplikasinya pada bidang datar dan pada bangun berdimensi tiga.
Untuk mengatasi kesulitan belajar siswa dan untuk meningkatkan prestasi belajar perlu dipikirkan upaya-upaya yang kongkrit dari seorang guru, salah satunya adalah bagaimana seorang guru dapat membuat inovasi dalam pembelajaran, salah satunya adalah bagaimana memilih metode yang baik dan menggunakan metode belajar yang bervariasi sesuai dengan karakteristik dari materi yang akan disampaikan, sehingga hal ini akan dapat memotivasi belajar siswa. Guru tidak hanya monoton menggunakan satu metode mengajar saja yang mengakibatkan siswa cepat bosan.
Metode mengajar merupakan salah satu komponen yang harus ada dalam kegiatan pembelajaran. Pada dasarnya metode mengajar ini merupakan cara atau teknik yang digunakan guru dalam melakukan interaksi dengan siswa pada saat pembelajaran berlangsung. Dari sinilah timbul keinginan penulis untuk melakukan penelitian tentang Studi Perbandingan Prestasi Belajar Siswa Antara Yang Diajar Dengan Metode Penemuan Terbimbing dan Metode Ekspositoris Topik Teorema Pythagoras Di Kelas VIII SMP Negeri 1 Labuapi. Topik ini meliputi menemukan Teorema Pythagoras, menyatakan Teorema Pythagoras dalam bentuk rumus, menggunakan Teorema Pythagoras untuk menghitung panjang salah satu sisi segitiga siku-siku jika dua sisi lainnya diketahui, menggunakan Teorema Pythagoras untuk menyelesaikan soal-soal pada bangun datar atau bangun ruang, membahas kebalikan Teorema Pythagoras dan mengenal tiga bilangan yang merupakan tripel Pythagoras, dan meyelesaikan soal-soal cerita (dalam kehidupan sehari-hari) yang menggunakan Teorema Pythagoras.
Adapun penelitian ini penting dilakukan dalam rangka untuk mengatasi kesulitan belajar siswa SMP Negeri 1 Labuapi, untuk meningkatkan kualitas proses belajar mengajar di kelas, dan mencari metode mengajar yang sesuai untuk mengajarkan Teorema Pythagoras.
1.2   Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah, dapat dirumuskan masalah sebagai berikut: "Bagaimanakah perbandingan prestasi belajar siswa antara yang diajar dengan metode penemuan terbimbing dan metode ekspositoris pada topik teorema pythagoras ? “
1.3      Tujuan Penelitian
Tujuan dilakukan penelitian ini adalah untuk mengetahui perbandingan prestasi belajar siswa antara yang diajar dengan metode penemuan terbimbing dan metode ekspositoris pada topik teorema pythagoras.

1.4      Manfaat Penelitian
Adapun manfaat penelitian yang diharapkan dalam penelitian ini yaitu:
1.4.1        Manfaat Teoritis
1.4.1.1         Menambah khasanah keilmuan peneliti dan pembaca tentang studi perbandingan prestasi belajar siswa antara yang diajar dengan metode penemuan terbimbing dan metode ekspositoris topik teorema pythagoras di kelas VIII SMP Negeri 1 Labuapi tahun pelajaran 2008 / 2009.
1.4.1.2        Menjadi bahan rujukan bagi peneliti berikutnya yang ingin mendalami tentang metode penemuan terbimbing.
1.4.1.3        Memberikan pengetahuan baru bagi peneliti dan lembaga pendidikan yang terkait guna dijadikan salah satu acuan atau referensi pada masa yang akan datang.
1.4.2        Manfaat praktis
Secara praktis penelitian ini diharapkan bermanfaat bagi :
1.4.2.1    Sekolah
Dapat dijadikan sebagai bahan acuan untuk memperkaya khasanah ilmu pengetahuan, dan dapat menjadi alternatif dalam mengatasi masalah pembelajaran terutama pembelajaran matematika.


1.4.2.2    Guru
Sebagai salah satu pedoman bagi guru untuk meningkatkan aktivitas belajar siswa pada mata pelajaran matematika.
1.4.2.3    Siswa
Dapat membantu siswa untuk meningkatkan pemahaman konsep pada mata pelajaran matematika sehingga standar kompetensi dapat dituntaskan oleh siswa secara optimal.
1.4.2.4   Lembaga Pendidikan
Sebagai salah satu pedoman untuk mengembangkan dan menelaah kembali fenomena-fenomena yang terjadi di sekolah hingga dapat menetapkan pedoman-pedoman baru dalam kegiatan pembelajaran khususnya pada mata pelajaran matematika.
1.5      Lingkup Penelitian
1.5.1   Variabel Penelitian
                    (a).  Variabel bebas:
- variabel perlakuan :  (i)     model pembelajaran dengan metode penemuan terbimbing pada kelas ekperimen.
                                           (ii) model pembelajaran dengan metode ekspositoris pada kelas kontrol.
-  variabel kontrol   :    keadaan ekonomi, kondisi kesehatan, budaya, cara belajar, pendidikan orang tua, dan tempat tinggal siswa.
-  variabel penyerta :  kemampuan awal siswa yang diperoleh dari nilai tes awal.
                     (b). Variabel terikat  :  prestasi belajar siswa setelah diberikan perlakuan.
1.5.2   Lokasi Penelitian
Penelitian ini direncanakan di SMP Negeri 1 Labuapi
1.5.3        Subjek Penelitian
Penelitian ini hanya diperlakukan kepada siswa kelas VIII SMPN 1 Labuapi tahun pelajaran 2008/2009. Tidak dimaksudkan untuk menyimpulkan secara umum untuk siswa kelas VIII SMP. Topik yang diteliti terbatas pada rumus pythagoras.
1.5.4        Objek Penelitian
Studi perbandingan prestasi belajar siswa antara yang diajar dengan metode penemuan terbimbing dan metode ekspositoris topik teorema pythagoras di kelas VIII SMP Negeri 1 Labuapi tahun pelajaran 2008/2009.
1.6      Definisi Operasional
Untuk menghindari perbedaan penafsiran terhadap istilah-istilah yang digunakan pada penelitian ini, perlu diberikan batasan istilah sebagai berikut:

1.6.1        Metode penemuan terbimbing
Metode penemuan terbimbing adalah pembelajaran yang memberikan kesempatan dan menuntut siswa secara aktif di dalam mencapai tujuan pembelajaran dengan memberikan informasi secara singkat.
1.6.2        Pembelajaran
Pembelajaran adalah suatu kegiatan belajar mengajar yang sengaja dilakukan untuk memperoleh pengetahuan dengan memanipulasi simbol-simbol dalam matematika sehingga menyebabkan terjadinya perubahan tingkah laku.
1.6.3        Metode ekspositoris
Metode ekspositoris adalah metode pembelajaran yang dilakukan oleh guru sebagaimana biasanya.
1.6.4        Teorema Pythagoras
Teorema Pythagoras adalah salah satu pokok bahasan di kelas VIII SMP semester 1 yang terdiri dari rumus Pythagoras beserta aplikasinya dalam memecahkan persoalan yang lain (dalam bidang datar atau ruang).
Agar hasil yang didapat dari penelitian ini dapat dipertanggungjawabkan, maka diambil asumsi bahwa setiap tugas yang diberikan kepada siswa secara individual atau kelompok dikerjakan mandiri antar siswa atau antar kelompok.
Faktor-faktor yang menyangkut kebiasaan, adat istiadat atau lingkungan siswa yang tidak dapat teridentifikasi dan tidak terlalu atau relatif kecil pengaruhnya dianggap tidak mengganggu hasil penelitian.


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1   Landasan Teori
2.1.1   Hakekat Matematika
Matematika sebagai salah satu ilmu dasar, dewasa ini telah berkembang amat pesat, baik materi maupun kegunaannya. Dengan demikian, setiap upaya penyusunan kembali atau penyempurnaan kurikulum matematika sekolah perlu mempertimbangkan masa lalu serta kemungkinan masa depan.
Pada hakekatnya, matematika diartikan sebagai cabang ilmu pengetahuan yang eksak dan terorganisasi secara sistematik. Selain itu, matematika merupakan ilmu pengetahuan tentang penalaran yang logis dan masalah yang berhubungan dengan bilangan. (Sujono : 1988). Bahkan ia mengartikan matematika sebagai ilmu bantu dalam menginterprestasikan barbagai ide dan kesimpulan.
Menurut Soedjadi dalam parhaini, tidak ada definisi tunggal tentang matematika yang telah disepakati, namun terdapat beberapa ciri-ciri khusus atau karakteristik matematika yang dapat merangkum pengertian matematika secara umum yaitu : (1) memiliki obyek kajian abstrak, (2) bertumpu pada kesepakatan, (3) berpola pikir deduktif, (4) memiliki simbol yang kosong dari arti, (5) memperhatikan semesta pembicaraan, (6) konsisten dalam sistimnya (Parhaini A, 2005).
Salah satu karakteristik matematika yang mempunyai obyek yang bersifat abstrak, menyebabkan banyak siswa mengalami kesulitan dalam matematika. (Suharta dalam Parhaini A, 2005).
Disamping itu menurut pendapat Bourne dan Ronberg  (dalam Parhaini A, 2005), juga memahami matematika kontruktivissosial dengan penekanannya pada knowing how, yaitu siswa dipandang sebagai makhluk yang aktif dalam mengkontruksi ilmu pengetahuan dengan cara berinteraksi dengan lungkungannya. Hal ini berbeda dengan pengertian knowing that yang dianut oleh kaum absolutis, dimana siswa dipandang sebagai mahluk yang pasif dan semaunya dapat diisi informasi dari tindakan hingga tujuan.
Dari beberapa pengertian tentang matematika di atas, dapat diketahui bahwa matematika merupakan ilmu pengetahuan eksak, terorganisasi secara sistematik yang memiliki obyek yang abstrak. Dengan karakteristik matematika yang seperti ini membuat siswa merasa kesulitan dalam mempelajarinya. Sehingga dibutuhkan suatu cara yang tepat untuk mempelajarinya.

        2.1.2    Metode Penemuan Terbimbing
Suatu pembelajaran dikatakan baik apabila proses pembelajarannya berlangsung efektif sekaligus menggunakan metode yang sesuai dengan materi yang diajarkan, yang pada akhirnya membuahkan hasil sesuai yang diharapkan.
Dalam mencapai suatu tujuan pembelajaran, guru mempunyai peranan yang sangat penting. Guru tidak hanya dituntut menguasai materi pelajaran, tetapi juga diharapkan mampu mengupayakan berbagai cara atau metode mengajar yang dapat menunjang tercapainya tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan.
Salah satu rambu-rambu pelaksanaan GBPP menyatakan bahwa "Dalam pelaksanaan kegiatan belajar mengajar guru hendaknya memilih dan menggunakan strategi yang melibatkan siswa aktif dalam belajar baik secara mental, fisik, maupun sosial". (Depdikbud, 1993: 3).
Hudojo (1998: 105) mengatakan, agar kegiatan belajar mengajar matematika memungkinkan terjadinya belajar secara optimal dilakukan sebagai berikut:
(a)  Mengajar haruslah untuk pengertian terhadap konsep teorema matematika. Ini berarti metode penemuan dan pengorganisasian harus digunakan. Dengan aktifnya peserta didik terlibat memahami konsep.
(b)   Setelah pengertian diperoleh, peserta didik memerlukan latihan yang cukup. Latihan ini diperlukan agar peserta didik mendapat kesempatan mengorganisasikan kembali atau menstruktur kembali pengalaman-pengalaman yang berhubungan dengan konsep atau torema itu. Latihan ini berupa stimulus respon.
Untuk dapat mencapai tujuan pembelajaran matematika, Soedjadi (dalam Tampobolon, 1994: 4) menyarankan untuk memilih suatu strategi yang mengaktifkan siswa belajar. Strategi tersebut bertumpu pada dua hal, yakni optimalisasi interaksi antar semua elemen pembelajaran dan optimalisasi keikutsertaan, indera, emosi, karsa, karya, dan nalar siswa.
Dalil Pengaitan Bruner yang berkaitan dengan pengajaran matematika (dalam Ruseffendi, 1998: 152) mengatakan, dalam matematika setiap konsep itu berkaitan dengan konsep lain. Begitu pula antara yang lainnya, misalnya antara dalil dan dalil, antara teori dan teori, antara topik dan topik antara cabang matematika.
Teorema Konektivitas Bruner (dalam Hudojo, 1988: 58) menyatakan bahwa di dalam matematika setiap konsep, struktur dan keterampilan dihubungkan dengan konsep, struktur dan keterampilan yang lain. Oleh karena itu, agar siswa dalam belajar matematika lebih berhasil maka siswa harus lebih banyak diberi kesempatan untuk melihat kaitan-kaitan atau hubungan-hubungan itu. Pada pembelajaran dalam penelitian ini siswa diberi kesempatan untuk menentukan kaitan-kaitan antara Teorema Pythagoras dengan menghitung panjang garis tinggi suatu segitiga, antara Teorema Pythagoras dengan panjang diagonal sisi suatu persegi atau persegi panjang, antara Teorema Pythagoras dengan diagonal ruang suatu balok atau kubus dan lain sebagainya.
Hudojo (1998 : 58) menyatakan bahwa peserta didik dalam belajar matematika harus berperan aktif, terlibat secara mental yaitu dengan mencari hubungan-hubungan antara konsep-konsep dan struktur-struktur dari matematika yang dipelajari. Peranan aktif ini dapat terlaksana, bila menggunakan cara belajar menemukan.
Pembelajaran penemuan terbimbing adalah suatu prosedur pembelajaran yang menekankan pada proses belajar siswa untuk mencapai tujuan tertentu. Dalam pembelajaran penemuan diatur sedemikian rupa sehingga anak memperoleh pengetahuan yang sebelumnya diketahuinya itu tidak melalui pemberitahuan. Belajar melalui penemuan berpusat pada anak, dan guru sebagai pembimbing dalam proses penemuan.
Selanjutnya Hudojo (1998: 132) mengatakan bahwa metode penemuan merupakan suatu cara untuk menyampaikan ide atau gagasan lewat proses menemukan. Peserta didik menemukan sendiri pola-pola dan struktur matematika melalui sederetan pengalaman belajar yang lampau.
Ruseffendi (1998: 155) menyatakan bahwa dalam belajar matematika siswa harus menemukan sendiri. Menemukan disini terutama adalah menemukan lagi (discovery), bukan menemukan yang sama sekali baru (invention).
Selanjutnya dikatakan bahwa metode penemuan adalah metode mengajar yang mengatur pengajaran sedemikian rupa sehingga anak memperoleh pengetahuan yang sebelumnya belum diketahuinya itu melalui pemberitahuan, sebagian atau seluruhnya ditemukan sendiri.
Dengan metode penemuan, siswa diharapkan dapat menemukan keteraturan dan ketidakteraturan materi yang dipelajari, sehingga pada akhirnya dapat menemukan ide/gagasan atau jawaban masalah yang diberikan oleh guru. Dengan menentukan hubungan-hubungan, keteraturan-keteraturan, siswa menjadi lebih mengerti konsep, struktur atau rumus yang telah ditemukan.
Untuk dapat menemukan ide/gagasan atau jawaban masalah yang diberikan oleh guru. Siswa memerlukan waktu, dan karena kemampuan siswa untuk dapat menemukan ide/gagasan atau jawaban masalah masih kurang, maka perlu adanya bantuan untuk mengembangkan kemampuan untuk menemukan ide/gagasan tersebut dari guru yang berupa petunjuk atau informasi. Dalam hal ini guru dapat menggunakan lembar kerja siswa (LKS) atau tanya jawab. Dengan metode penemuan yang mungkin dapat dilaksanakan adalah metode penemuan terbimbing.
Metode penemuan terbimbing adalah metode pembelajaran yang memberikan kesempatan dan menuntut siswa terlibat secara aktif didalam mencapai tujuan pembelajaran dengan memberikan informasi secara singkat. (Siadari, 2001: 7). Banyak keuntungan yang dapat dipetik dari belajar penemuan, antara lain seperti yang diungkapkan oleh Slavin (1994: 228) belajar penemuan mempunyai beberapa keuntungan. Keuntungan tersebut antara lain adalah:
(1)    Menimbulkan keingintahuan siswa
(2)    Dapat memberikan motivasi kepada mereka untuk melanjutkan tugasnya sampai menemukan jawab.
(3)    Mereka secara bebas belajar memecahkan masalah dan terampil berpikir kritis karena harus menganalisis dan memanipulasi informasi.
    Sesuai dengan peran guru dalam pembelajaran penemuan terbimbing, Dahar (1989: 107) merangkum lima peran guru yang dapat dilaksanakan, yaitu:
(1)          Merencanakan pembelajaran
(2)          Menyajikan materi pelajaran yang diperlukan. Sajian tidak dalam bentuk final.
(3)          Memperhatikan tingkat kognitif siswa. Cara penyajian diantaranya diajukan mengikuti aturan penyajian dari enaktif, ekonik, lalu simbolik.
(4)          Guru hendaknya berperan sebagai seorang pembimbing atau tutor
(5)          Menilai hasil belajar siswa. Bentuk tes dapat berupa obyektif atau esay.
Secara umum Bruner (dalam Dohar, 1988: 126) berpendapat bahwa belajar penemuan dapat meningkatkan penalaran siswa dan kemampuan untuk berfikir secara bebas dan lebih khusus lagi belajar penemuan melatih keterampilan kognitif siswa untuk menemukan dan memecahkan masalah secara mandiri.
          2.1.3   Langkah-Langkah Metode Penemuan Terbimbing
Soedjadi (dalam Siadari, 2001: 21) mengemukakan langkah-langkah dalam pembelajaran metode penemuan terbimbing sebagai berikut:
(a)    Pemberian masalah, siswa diminta memahami masalah tersebut.
(b)    Pengembangan data, siswa diminta mencari/menunjuk kemungkinan-kemungkinan lain.
(c)    Penyusunan data, siswa diminta memasukkan perolehan pada butir (b) dalam suatu tabel.
(d)   Penambahan data (bila masih belum terdapat modelnya, siswa diminta menambah data)
(e)    Prompting (bila masih belum dipandang lengkap, siswa diminta menambah data secara tidak urut)
(f)     Pemeriksaan hasil

Hirdjan (dalam Siadari, 2001: 21) membuat skema langkah-langkah metode pembelajaran dengan metode penemuan terbimbing sebagai berikut:

          2.1.3   Penerapan Pendekatan Pembelajaran  Penemuan Terbimbing
Prasyarat        :    (1)    Siswa telah menerima materi kuadrat dan akar kuadrat       suatu bilangan.
 (2)     Luas persegi dan segitiga siku-siku
Kelengkapan    :     (1)    Siswa      :  penggaris, busur, alat tulis.
                                                     (2) Guru  : potongan-potongan persegi yang berpetak, potongan-potongan persegi yang tidak berpetak dengan ukuran yang berbeda.
Sebelum masuk pada materi Teorema Pythagoras, guru mengingatkan kembali kepada siswa tentang:
a. Kuadrat dan akar kuadrat suatu bilangan
    Contoh:  
     32 = 3 x 3 = 9 ,  9 adalah pangkat dua atau kuadrat dari 3
                 :
(1)  Pemberian soal / masalah, siswa diminta memahami masalah tersebut
           Siswa hendaknya memahami terlebih dahulu tujuan pembelajaran yaitu menemukan teorema pythagoras. Guru menjelaskan bahwa Pythagoras adalah seorang ahli matematika yang menemukan sifat penting dari segitiga siku-siku yang sudut terbesarnya adalah 90. Dari penjelasan ini siswa mengingat tentang segitiga siku-siku.
(2)  Pengembangan data
   Guru membagikan potongan-potongan kertas persegi berpetak dengan ukuran yang berbeda kepada setiap kelompok. Potongan-potongan persegi tersebut diharapkan sebanyak mungkin. Misalnya potongan persegi tersebut berisi dari 9 petak dengan ukuran 3x3 petak atau persegi kecil, sampai persegi yang berisi 400 petak dengan ukuran 20x20 petak. Contohnya tiga buah persegi yang berisi 9 petak dengan ukuran 3x3 petak, 16 petak dengan ukuran 4x4 petak dan 25 petak dengan ukuran 5x5

I
II
III
I + II
32 = 9
42 = 16
52 = 25
25
62 = 36
82 = 64
102 = 100
100
92 = 81
122 = 144
152 = 225
225

(4)    Penambahan Data
Setelah setiap kelompok telah menemukan data seperti pada tabel 2.2, jika siswa belum dapat menyimpulkan hasilnya maka guru dapat memberikan persegi-persegi yang tidak berpetak tentunya dengan ukuran yang berbeda pula. Dan kemudian menyalinnya   Siswa menghitung luas setiap persegi tersebut dan mendapatkan
Luas persegi  I  =  52 = 5 x 5 = 25
Luas persegi II  = 122 = 12 x 12 = 144
Luas persegi III = 132 = 13 x 13 = 169

(5)    Prompting
Guru menyuruh siswa untuk menuliskan data – data seperti langkah 4 dengan bilangan yang tidak urut. Contohnya : 7, 25, 24
(6)    Pemeriksaan hasil
Guru menyuruh siswa untuk mencermati tabel 2 di atas yang telah didapatkan sendiri, juga dari penambahan data. Akhirnya siswa menemukan bahwa luas persegi yang besar sama dengan jumlah luas dua persegi yang lain. Kemudian dari langkah (4) siswa juga menemukan hubungan  169 = 144 + 25  atau  132 = 122  +  52 . Akhirnya siswa menyimpulkan sendiri bahwa kuadrat sisi miring (sisi yang panjang) pada segitiga siku-siku sama dengan jumlah kuadrat panjang sisi yang lain. Setelah setiap kelompok menemukan hubungan tersebut, guru menggeneralisasikan tabel 2 kebentuk yang lebih umum berupa pertanyaan : Perhatikan segitiga siku-siku ACB di bawah ini, jika panjang AB adalah c, panjang BC adalah a dan panjang rusuk AC adalah b, maka apa yang dapat kalian simpul Pythagoras adalah siswa sendiri dan guru sebagai pembimbing. Dalam proses menemukan tersebut dari langkah pertama sampai terakhir, keaktifan siswa benar-benar terjadi baik secara fisik maupun secara mental. Begitu juga interaksi antar siswa dalam suatu kelompok serta antara siswa sendiri dengan guru.
Secara lebih spesifik langkah-langkah metode penemuan terbimbing pada topik Teorema Pythagoras dapat diuraikan sebagai berikut: Sebelum penyampaian materi dengan metode penemuan siswa perlu mempersiapkan antara lain, (1) dengan petunjuk guru siswa membentuk kelompok kecil, (2) setiap kelompok menyiapkan kertas berpetak (kertas panel) secukupnya beserta peralatan alat tulis lainnya. Selanjutnya melalui proses seperti pada tabel berikut:
Tabel 2.3 Langkah pembelajaran metode penemuan terbimbing
Langkah ke
Aktifitas Guru
Aktifitas Siswa
1
Mengajukan persoalan atau pertanyaan pada segitiga siku-siku dengan ukuran sisi yang berbeda



 


Menggambar segitiga siku-siku dengan ukuran sisi-sisinya antara kelompok satu dengan kelompok lain berbeda.
2
Memberikan pertanyaan manakah sisi yang terpanjang dari ketiga sisi yang sudah dibuat
Melakukan pengukuran untuk menentukan sisi yang terpanjang
3












Menyuruh kepada siswa untuk menggambar bujur sangkar dengan ukuran panjang sama dengan ketiga sisi pada segitiga yang sudah dibuat.
Siswa menggambar bujursangkar pada setiap sisi segitiga tersebut






4
Menyuruh siswa menghitung masing-masing luas bujursangkar yang telah dibuat
Dapat mencari sendiri luas masing-masing bujursangkar


Dapat menghitung sendiri panjang sisi miring dengan menggunakan luas bujursangkar
6
Menyuruh untuk menyimpulkan
Menyimpulkan hasil luas dari bujursangkar tersebut

7
Menyimpulkan secara umum, bila ukuran sisi-sisinya a, b dan c dengan c sisi miring


 


         
Siswa menyimpulkan rumus umum dan siswa dapat mencoba untuk segitiga siku-siku yang lain

 

2.2      Kerangka Berpikir
Matematika merupakan salah satu bidang ilmu pengetahuan yang diperoleh dan dikembangkan berdasarkan eksperimen yang mencari jawaban atas pertanyaan darimana dan bagaimana cara menyelesaikan soal-soal, khususnya yang berkaitan dengan pelajaran yang akan dibahas. pembelajaran matematika harus memperhatikan karakteristik ilmu produk dan proses. Oleh karena itu dalam proses belajar mengajar matematika harus dipilih metode pembelajaran yang sesuai.
Metode pembelajaran yang sering digunakan oleh sebagian besar pengajar adalah metode ekspositoris, yakni proses belajar mengajar didominasi oleh guru bidang studi. Namun hasil yang didapat belum mencapai tujuan pendidikan. Dari  itu peneliti mencoba menerapkan metode penemuan terbimbing, dimana Metode penemuan terbimbing adalah pembelajaran yang memberikan kesempatan dan menuntut siswa secara aktif di dalam mencapai tujuan pembelajaran dengan memberikan informasi secara singkat. Melalui penerapan metode ini diharapkan hasil yang dicapai menjadi lebih maksimal khususnya pada pokok bahasan Teorema Pythagoras.
2.3      Hipotesis Penelitian
Pada umumnya setiap penelitian menggunakan hipotesis, demikian juga terhadap problem yang di kemukakan dalam penulisan ini, sebelum mengemukakan hipotesis tersebut ada baiknya dijelaskan arti dan peranan hipotesis tersebut. Dapat di bagi menjadi dua arti :
a.       Hipotesis adalah suatu jawaban yang sifatnya sementara terhadap permasalahan penelitian sampai terbukti melalui data yang terkumpul (Hadi, 1991).
b.      Ahli lain mengatakan hipotesis adalah suatu pernyataan yang belum sepenuhnya di akui kebenarannya, (I.B. Netra, 1974).
Dari pendapat di atas, maka dapat dikatakan hipotesis memang harus ada dalam setiap penelitian. Jadi hipotesis adalah jawaban atau kesimpulan sementara. Pada penelitian ini ada dua macam hipotesis yaitu hipotesis Nihil (H0) dan hipotesis alternatif  (Ha). Adapun yang dimaksud adalah :
1.      Hipotesis Nihil (Ho)
Hipotesis Nihil yaitu hipotesis yang menyatakan prestasi belajar siswa pada topik Teorema Pythagoras yang diajarkan dengan metode penemuan terbimbing sama dengan prestasi belajar siswa yang diajarkan dengan metode ekspositoris.
2.      Hipotesis Alternatif (Ha)
Hipotesis Alternatif yaitu hipotesis yang menyatakan prestasi belajar siswa pada topik Teorema Pythagoras yang diajarkan dengan metode penemuan terbimbing lebih tinggi dengan prestasi belajar siswa yang diajarkan dengan metode ekspositoris.
Dengan pengertian hipotesis di atas dan kemudian disesuaikan dengan problematik yang diteliti. Maka dapat dirumuskan hipotesis yang berupa hipotesis alternatif  (Ha), yaitu :
“ Prestasi belajar siswa pada topik Teorema Pythagoras yang diajarkan dengan metode penemuan terbimbing lebih tinggi dengan prestasi belajar siswa yang diajarkan dengan metode ekspositoris.”

BAB III
METODE PENELITIAN

3.1   Jenis Penelitian
Peneltian ini dikategorikan ke dalam penelitian eksperimen dengan pengembangan perangkat pembelajaran dan instrumen penelitian. Dimana penelitian eksperimen adalah suatu kegiatan yang direncanakan dan dilaksanakan oleh peneliti untuk mengumpulkan bukti-bukti yang ada hubungannya dengan hipotesis. (Arif Furchan, 2004: 337)
3.2   Pendekatan Penelitian
Adapun pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kuantitatif yang digunakan untuk mengolah data hasil belajar. Penelitian dengan pendekatan kuantitatif menekankan analisisnya pada data-data numerikal (angka) yang diolah dengan metode statistik. (Saifudin Azwar, 1997: 5)
3.3      Tempat dan Waktu Penelitian
3.3.1        Tempat Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di kelas VIII SMP Negeri 1 Labuapi
         3.3.2    Waktu Penelitian
Penelitian ini disesuaikan dengan jadwal sekolah, saat pembahasan topik Teorema Pythagoras, yaitu di kelas VIII semester 1,  tahun ajaran 2008/2009.
3.4   Rancangan Penelitian
Rancangan penelitian yang akan digunakan adalah pretest-posttest control group design. Dalam memilih kelas kontrol dan kelas eksperimen, peneliti tetap berusaha memilih kelas-kelas yang mempunyai banyak persamaan. Kedua kelas diberikan tes awal dan tes akhir. Rancangannya adalah sebagai berikut:
          Tabel 2.4. Rancangan Penelitian
Kelompok
Tes
Treatment
Tes
Eksperimen
T1
TMP
T2
Kontrol
T1
TME
T2

Keterangan:
TMP  :  Perlakuan pembelajaran dengan metode penemuan terbimbing
TME  :  Perlakuan pembelajaran dengan metode ekspositoris
T1     :  Tes awal (Tes sebelum dikenai perlakuan)
T2     :  Tes akhir (Tes setelah dikenai perlakuan)
3.5   Populasi dan Sampel
3.5.1  Populasi
 Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas obyek/subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya (Sugiyono, 2008: 61). Populasi peneltian ini adalah semua siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Labuapi yang terdiri atas enam kelas. Jumlah populasi siswa keseluruhan adalah 168 siswa dengan jumlah siswa perkelas adalah 28 siswa.
3.5.2  Sampel
Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi (Sugiyono, 2008: 62). Sampel dalam penelitian ini adalah dipilih dua kelas secara random. Satu kelas sebagai kelas eksperimen (kelas yang dikenai pembelajaran dengan metode penemuan terbimbing) yakni kelas VIIIb dan satu kelas sebagai kelas kontrol (kelas yang dikenai pembelajaran dengan metode ekspositoris) yakni kelas VIIIc.
3.6   Metode dan Instrumen Pengumpulan Data
Metode dan instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode  tes, metode observasi, metode angket. Data prestasi belajar dalam penelitian ini diperoleh melalui tes. Dalam kepentingan ini akan digunakan instrumen yang berupa tes obyektif. Sebelum perangkat tes digunakan diadakan uji coba untuk mengetahui validitas, reliabilitas, daya pembeda, dan derajat kesukaran dari masing-masing item soal.
Validitas item soal adalah dukungan besar sebuah item soal tes terhadap skor totalnya. Dalam penelitian ini digunakan koefisien biserial yang bentuk persamaannya yaitu:
            rpbi =       (Arikunto, 1997)
Dimana:  rpbi = Koefisien korelasi biserial
                         Mp =  Rata-rata skor dari subyek yang menjawab dengan benar
                         Mt  =  Rata-rata skor total
                         St    =  Standar deviasi skor total
                         P    =  Proporsi siswa yang menjawab benar
                         q    =   Proporsi siswa yang menjawab salah
Item soal dikatkan valid apabila rphi > r product momen
Reliabilitas suatu tes adalah taraf sampai dimana tes mampu menunjukkan konsistensi hasil pengukurannya yang diperlihatkan dalam taraf ketepatan dan ketelitian hasil. Rumus yang dipakai dalam penelitian ini adalah rumus (K-R.20) yang persamaannya sebagai berikut:
            r11 =        (Masidjo, 1995)
Dimana:   r11 = Reliabilitas tes       
                 P  = proporsi siswa yang menjawab benar
                          k  = jumlah item soal            
                         q  = proporsi siswa yang menjawab salah
                        St  =  Standar deviasi
            Daya pembeda adalah kemampuan soal untuk membedakan antara siswa yang pandai dan siswa yang kurang pandai. Persamaan yang digunakan:
            V =         (Thoha, 1990) 
Dimana:           V = Daya pembeda soal
Ru = Jumlah jawaban yang betul dari nomor yang bersangkutan  dari kelompok atas
Rl = Jumlah jawaban yang betul dari nomor yang bersangkutan  dari kelompok bawah.
Nu  =  Jumlah siswa yang termasuk kelompok atas
            Derajat kesukaran adalah bilangan yang menyatakan sukar atau mudahnya suatu soal, dapat dirumuskan sebagai berikut:
            Dk =         (Thoha,1990)                 
Dimana:           Dk = Derajat kesukaran
Ru = Jumlah jawaban yang betul dari nomor yang bersangkutan  dari kelompok atas
Rl = Jumlah jawaban yang betul dari nomor yang bersangkutan  dari kelompok bawah.
Nu  =  Jumlah siswa yang termasuk kelompok atas
Nl  =   Jumlah siswa yang termasuk kelompok bawah
3.7   Metode Analisis Data
Data yang didapat dalam penelitian ini dianalisa dengan menggunakan dua teknik analisa data yaitu: (1) analisa statistik deskriptif, mencakup rata-rata, standar deviasi, skor maksimum dan minimum dari data yang berfungsi untuk menjawab masalah penelitian tentang efektivitas pembelajaran dengan metode penemuan. (2) analisis statistik inferensial, mencakup analisis kovarians (Anakova) yang berfungsi untuk menggeneralisasikan hasil penelitian pada sampel atau menjawab hipotesis yang diajukan dalam penelitian.
Langkah-langkah Analisis data
1. Hipotesisnya dirumuskan sebagai berikut
H0 :      Prestasi belajar siswa pada topik Teorema Pythagoras yang diajarkan dengan metode penemuan terbimbing sama dengan prestasi belajar siswa yang diajarkan dengan metode ekspositoris.
Ha :     Prestasi belajar siswa pada topik Teorema Pythagoras yang diajarkan dengan metode penemuan terbimbing lebih tinggi dengan prestasi belajar siswa yang diajarkan dengan metode ekspositoris.
Atau  H0 :           
          Ha :  
Keterangan: : rata-rata  siswa kelompok eksperimen (menggunakan metode penemuan terbimbing)
: rata-rata  siswa kelompok kontrol (menggunakan metode ekspositoris)           
2. Uji Normalitas Data
Diuji dengan menggunakan rumus: 
Dimana:        f0 = frekuensi pengamatan
                                    fh = frekuensi yang diharapkan
Dengan kriteria sebagai berikut
   Bila c2 hitung  c2 tabel  maka data berdistribusi normal
   Bila c2 hitung > c2 tabel  maka data tidak berdistribusi normal
diuji dengan menggunakan   F =             
Kriteria pengujiannya :
Bila  maka kedua kelas tersebut tidak homogen
Bila  maka kedua kelas tersebut homogen
4. Penggunaan Uji t

n2 = banyaknya data kelompok 2 (kelompok kontrol)
                  V1 = varians data kelompok 1 (kelompok eksperimen)
                  V2 = varians data kelompok 2 (kelompok kontrol)

       Rumusnya:  db = n1 + n2 - 2         
           d.  Menentukan  t tabel
                Untuk hipotesis satu ekor,  t tabel = t (1- a) ( db )   
                Untuk hipotesis dua ekor,  t tabel = t (1- 0,5 a) ( db )
Karena hipotesis penelitian ini dirumuskan terarah (satu ekor – ujung  kanan), yaitu kelompok eksperimen lebih baik daripada kelompok kontrol maka t tabel  = t (1- a) ( db ).
           e. Pengujian hipotesis  
               Hipotesis yang diuji adalah:  H0 :          
                                                           Ha :  
               Kriteria pengujiannya:
               "Tolak H0 , jika t hitung > t tabel , dalam hal lain Ha diterima". (Subana, 2005)


BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1    Hasil Penelitian
4.1.1        Pelaksanaan Penelitian
Penelitian dilaksanakan pada tanggal 14 November – 14 Desember 2008 di SMP N 1 Labuapi tahun pelajaran 2008/2009. Secara umum pelaksanaanya dapat dijabarkan sebagai berikut :
4.1.1.1  Tanggal 14 November 2008 peneliti mengambil data dari nilai rapor siswa  kelas VII semester II pada pelajaran matematika (nilai rapor dapat dilihat pada lampiran 6 bagian 1).
4.1.1.2  Tanggal 17 – 19 November 2008 dilakukan pre-test pada kelas VIIIb dan kelas VIIIc (soal pre-test dapat dilihat pada lampiran 3).
4.1.1.3  Tanggal 20 November – 12 Desember 2008 proses belajar mengajar pada kelas VIIIb (Eksperimen) dan kelas VIIIc (Kontrol).(Rencana pelaksanaan pembelajaran dapat dilihat pada lampiran 1 )
4.1.1.4  Tanggal 13 – 14 Desember 2008 dilakukan post-test terhadap materi yang telah disampaikan.(Hasil post-test dapat dilihat pada lampiran 5)

4.1.2        Penentuan Sampel
Sebelum memutuskan sampel dalam penelitian terlebih dahulu dilakukan pengujian homogenitas antara kelas-kelas yang ada.Uji homogenitas dimaksudkan untuk mengetahui apakah populasi penelitian homogen atau tidak. Pengujian homogenitas dilakukan sebelum perlakuan diberikan dengan melakukan uji F dari data nilai rapor kelas VII semester II.(data dan analisisnya dapat dilihat pada lampiran 6)
Setelah diketahui kelas-kelas yang homogen maka dapat dirandom dua kelas yang akan dijadikan sampel. Dari hasil random yang dilakukan didapat kelas VIIIb dan VIIIc. Dimana peneliti menetapkan kelas VIIIb sebagai kelas eksperimen dan kelas VIIIc sebagai kelas kontrol.
4.1.3        Uji coba Instrumen Penelitian
4.1.3.1  Uji Coba Validitas
Setelah dilakukan uji coba validitas dari 25 item soal dengan menggunakan rumus Product moment, diperoleh 17 item soal valid dan 8 item soal tidak valid. ( perhitungan uji validitas dapat dilihat pada lampiran 7 bagian 1)
4.1.3.2  Uji Coba Reliabilitas
Dari hasil perhitungan reliabilitas dengan menggunakan rumus alpha maka semua soal angket dinyatakan reliabel, yakni .(perhitungan uji reliabilitas dapat dilihat pada lampiran 7 bagian 2)
4.1.4        Pengumpulan Data
Untuk memperoleh data yang diperlukan maka antara dua kelas dimana kelas VIIIb sebagai kelas eksperimen proses pembelajarannya menggunakan metode penemuan terbimbing dan kelas VIIIc sebagai kelas kontrol proses pembelajarannya menggunakan metode ekspositoris akan diberikan pre-test dan post-test bertujuan untuk mengukur tingkat penguasaan siswa terhadap materi yang disampaikan.(hasil pre-test dan post-test dapat dilihat pada lampiran 4.1.5        Analisis Data Penelitian
Dari hasil penelitian yang telah dilakukan dapat dideskripsikan bahwa penelitian ini menggunakan penelitian eksperimen, dimana penelitian ini memberikan pre-test dan post-test pada siswa kelas VIII SMP N 1 Labuapi yakni pada kelas kontrol (25 orang) dan kelas eksperimen (25 orang) tahun pelajaran 2008/2009. Setelah dilakukan tes pada siswa selanjutnya data tersebut dikumpulkan, dianalisis dan diuji hipotesisnya serta ditarik kesimpulannya.
Dalam menganalisis data, terlebih dahulu dilakukan pengujian normalitas data untuk data pre-test – post-test kelas eksperimen dan data pre-test – post-test kelas kontrol pada taraf signifikansi 5% (pengujian normalitas data dapat dilihat pada lampiran 8)
Uji normalitas data dimaksudkan apakah data yang diperoleh berdistribusi normal atau tidak. Jika data berdistribusi normal maka uji yang digunakan adalah uji statistik parametriks sedangkan apabila data yang diperoleh tidak berdistribusi normal maka uji yang digunakan adalah uji statistik non-parametriks. Uji normalits data dilakukan dengan rumus Chi-kuadrat (). Dari hasil perhitungan normalitas data diperoleh besar  adalah 1,833885 untuk data kelas eksperimen dan 2,209399 untuk data kelas kontrol. Dimana besar  untuk data kelas eksperimen maupun kelas kontrol adalah 9,488 pada taraf signifikan 5%. (selengkapnya dapat dilihat pada lampiran 8). Adapun langkah-langkahnya sebagai berikut :
4.1.5.1        Membuat kelas-kelas interval dari data yang diperoleh
4.1.5.2        Menentukan batas-batas kelas interval. Untuk batas atas kelas interval yang pertama ditulis pada garis di atas kelas intervalnya dan batas kelas interval berikutnya ditulis di antara kelas interval. Batas bawah kelas interval terakhir ditulis pada garis di bawahnya.
4.1.5.4        Menentukan daerah kurva normal dengan melihat tabel daerah kurva normal.
4.1.5.5        Menetukan daerah untuk kelas yaitu selisih dari batas-batas kurva normalnya.


4.2    Pembahasan
Sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai yaitu untuk mengetahui perbandingan prestasi belajar siswa  antar yang diajar dengan metode penemuan terbimbing dan metode ekspositoris pada topik Teorema Pythagoras, maka pada tanggal 17 – 19 November 2008 dilakukan pre-test dan pada tanggal 13 – 14 Desember 2008 dilakukan post-test yang masing-masing terdiri dari 25 soal dan dikerjakan masing-masing selama 2 jam pelajaran (hasil pre-test dan post-test dilampiri) yang sebelumnya telah dilakukan uji persyaratan analisis yang meliputi uji homogenitas sampel dengan melakukan uji-F dari data nilai rapor siswa kelas VII semester II SMP N 1 Labuapi (data analisis dapat dilihat pada lampiran 6). Dari perhitungan diperoleh , sehingga dapat disimpulkan bahwa sampel penelitian sudah homogen yang selanjutnya bisa dipilih secara random.
Setelah diperoleh data hasil penelitian langkah selanjutnya adalah melakukan pengujian normalitas data dan diperoleh  untuk nilai  kelompok eksperimen maupun kelompok kontrol. Hal ini memberikan indikasi bahwa perolehan skor pre-test dan post-test pada pokok bahasan Pythagoras untuk kelompok eksperimen dan kelompok kontrol berdistribusi normal.
Setelah uji persyratan analisis dilakukan dan data yang diperoleh berdistribusi normal, data selanjutnya dianalisis dengan uji-t, dimana hasil perhitungan uji-t diperoleh nilai  > . Maka hal ini berarti bahwa prestasi belajar siswa pada pokok bahasan Teorema Pythagoras yang diajarkan dengan metode penemuan terbimbing lebih tinggi dengan prestasi belajar siswa yang diajarkan dengan metode ekspositoris.
Dari uraian di atas maka dapat dikatakan pembelajaran dengan menggunakan metode penemuan terbimbing lebih efektif dan mampu meningkatkan prestasi belajar siswa dibandingkan dengan pembelajaran dengan menggunakan metode ekspositoris. Hal ini dikarenakan pada saat proses belajar mengajar berlangsung yang lebih berperan aktif di kelas adalah siswa dan guru hanya berperan sebagai pembimbing dalam proses penemuan.


BAB V
PENUTUP

Suatu kesimpulan bahwa terdapat perbedaan prestasi belajar siswa antara yang diajar dengan metode penemuan terbimbing dan metode ekspositoris topik Teorema Pythagoras di kelas VIII SMP N 1 Labuapi tahun pelajaran 2008/2009. Hal ini dapat dilihat dari nilai rata-rata yang diperoleh yaitu 40,16 untuk kelas eksperimen dan 20,96 untuk kelas kontrol. Jadi prestasi belajar siswa pada topik Teorema Pythagoras yang diajarkan dengan metode penemuan terbimbing lebih tingi dengan prestasi belajar siswa yang diajarkan dengan metode ekspositoris.
5.2    Saran
Dari sebelum melakukan penelitian hingga hasil akhir penelitian diperoleh, peneliti menyarankan bahwa dalam proses pembelajaran hendaknya guru sebagai mediator dalam kelas mampu mengupayakan metode belajar yang bervariasi sesuai dengan karakteristik materi yang disampaikan. Hal ini disebabkan karena masing-masing topik/materi pelajaran memiliki tingkat kecocokan tersendiri yang berbeda-beda penggunaan metode-metode mengajar tertentu untuk meningkatkan prestasi siswa.
Bagi pembaca yang berkecimpung di dunia pendidikan hendaknya mengupayakan metode-metode pembelajaran terbaru yang lebih efektif digunakan demi terwujudnya tujuan pendidikan Indonesia

                                       DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, S. 2006. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta : Rineka Cipta.
Azwar, Saifuddin. 1997. Metode Penelitian. Yogyakarta : Pustaka Belajar.
Dahar, dan Ratna Wilis, 1998. Teori-teori Belajar . Jakarta : Dirjen Dikti, Depdikbud.
Depdikbud. 1993. Kurikulum Pendidikan Dasar Dan Menengah. Jakarta : Depdikbud
Depdikbud. 1993. ”Kurikulum Sekolah Menengah”. Garis-garis Besar Program Pengajaran, Jakarta: Depdikbud.
Furchan, Arif. 2004. Pengantar Penelitian dalam pendidikan. Jakarta : Pustaka Belajar.
Hudojo, Herman. 1988. Mengajar Belajar Matematika. Jakarta : Dirjen Dikti, Depdikbud.
Netra, I.B. 1974. Statistik Inferensial. Surabaya : Usaha Nasional.
Richard, R. Skemp. 1971. The Psycology of Learning Mathematics. New York : Penguin Books.
Ruseffendi. 1998. Pengantar Kepada Membantu Guru Mengembangkan Kompetensinya Dalam Pengajaran Matematika. Bandung : Penerbit Tarsito.
Siadari, Goodman. 2001. ”Penerapan Model Pembelajaran Penemuan Terbimbing Pada Kelas I SMU dengan Bahan Kajian Persamaan Kuadrat”. Tesis PPs, Surabaya : Universitas Negeri Surabaya.
Soedjadi. 1991. ”Penelitian Kualitatif (Pengertian dan Dasar Teori, Metode, Design dan Contoh)”. Makalah. PPs. IKIP Surabaya.
Soedjadi. 1998/1999. Kiat Pendidikan Matematika di Indonesia. Jakarta : Dirjen Dikti, Depdikbud.
Soedjadi. 1996. ”Pokok-Pokok Dasar Pembelajaran” . Hand Out Perkuliahan Pascasarjana, IKIP Surabaya.
Soenarto. 2001. Metode Penelitian Ilmu-ilmu Sosial Dan Pendidikan. Surabaya :, Unesa University Press.
Subana. 2000. Statistik Pendidikan. Bandung : Pustaka Setia.
Sugiyono. 2008. Statistika Untuk Pendidikan. Bandung : Alfabeta.
Tampubolon, Turuly. 2000 . ”Pembelajaran Dengan Metode Penemuan Pada Pokok Bahasan Trigonometri di Kelas I SMU Katolik Sibolga”., Tesis PPs. Surabaya : Universitas Negeri Surabaya.
Zanzawi. 1984. Metode Statistik II. Buku Materi Pokok. Jakarta : Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan, Universitas Terbuka.



1 Response to "kumpulan skripsi matematika STUDI PERBANDINGAN PRESTASI BELAJAR SISWA ANTARA YANG DIAJAR DENGAN METODE PENEMUAN TERBIMBING DAN METODE EKSPOSITORIS TOPIK TEOREMA PYTHAGORAS DI KELAS VIII SMP"

  1. pengen liat lampiran2 pada contoh skripsi ini dmn y?

    ReplyDelete

Agen Bola